Sejak kecil saya sudah dibiasakan untuk masuk dapur. Ibu saya selalu membawa saya ke dapur setiap kali beliau masak. Sering kali saya hanya duduk saja sambil makan kudapan. Kadang-kadang saya membantu, entah itu bikin berantakan dapur atau literally membantu. Pertama kali diajari memarut kelapa di usia 6 tahun, tangan saya langsung luka. Ibu saya malah ketawa, katanya "kalau sudah luka, artinya nanti akan bisa masak, tuh". The statement that I could not even see the logic haha. Anyway. 

Cara Ibu saya  mengajarkan anak perempuannya memasak juga gak ribet; pakai perasaan aja. Misal' "cabenya segimana, Mah?" dijawab "kira-kira aja, maunya segimana" atau "garemnya segimana, Mah?" jawabannya "dirasa-rasa aja" hahah, iyaa..gitu jawabannya. Jadi sampai sekarang pun saya selalu menggunakan perasaan kalau masak :D Setiap kali ada teman menanyakan resep, saya selalu jawab dengan jenis bahan yang dipakai dengan takaran "bawang merah lebih banyak, cabenya dikit aja" tanpa bisa sebut berapa siung atau berapa buah. 

Hasil masakan saya? Ya, gitu deh :)) Kadang enak, kadang enggak. Kadang bentuknya gak keruan tapi rasanya enak. Kadang bentuknya seksi, tapi rasanya biasa aja haha. Yah, jamak aja :D Perasaan juga hari-hari berubah, kan?

Dari pengalaman diajak ke dapur dan belajar masak pakai perasaan itu, saya jadi suka memasak untuk orang lain. Kadang saya gak bisa nunjukin peduli saya, tapi masakan bisa mengekspresikannya. Dari pacar pertama dulu, saya buatkan dia makanan untuk Valentine's day. Cie banget, kan? Terus temen-temen juga sering saya bikinin makanan. Gak fancy, palingan bakwan, tahu isi. Tapi bikinnya pakai hati. Jadi, saya yakin, temen-temen juga tahu bahwa saya sayang sama mereka.

Kegemaran saya bikin makanan untuk orang, akhirnya saya beranikan diri untuk masak makanan untuk sarapan orang-orang sekantor. Awalnya teman satu ruangan saya yang bolak balik bilang bahwa dia sering ngiler liat bekal makanan saya. Selain itu, saya juga beberapa kali bawakan sarapan untuk temen-temen kantor, mereka bilang suka dan menyarankan saya untuk memasak sarapan untuk mereka. 

Akhirnya, minggu lalu saya buat! Tidak banyak, hanya 5 paket. Tes pasar hahaha. Makanan saya foto, saya kirim melalui WhatsApp ke temen-temen, dan mayoritas dari mereka antusias memesan sarapan ke saya untuk hari-hari berikutnya! Kadang ada 7 orang, 8 orang, bahkan sampai 15 orang. Alhamdulillah.

Seneng rasanya bisa masakin orang pakai hati yang riang. Kadang ada juga terasa capek, tapi begitu berdiri di depan kompor, seneng aja gitu. Ketika semua makanan matang, waktunya menghidangkan..semua kotak terisi rapi dan menyelerakan. Itu kepuasan yang tidak terbayar. Belum lagi setiap kali temen-temen selesai makan, mereka bilang enak. Seneng banget!

Yah, gitu deh :)
Semoga langgeng... 
Foto dari sini

Iya, dulu...sebelum saya mulai mengubah pola makan, saya masuk dalam golongan yang kena "musim sakit" ini. Biasanya waktu pancaroba, waktu musim hujan, waktu musim panas, waktu liburan...eh, semua waktu ya? :D 

Biasanya ada waktu-waktu yang sebagian orang menyebutnya dengan "musim", termasuk ketika banyak yang kena flu, batuk atau diare. Penyakit-penyakit itu kemudian dihubungkan dengan musim; di Indonesia biasanya paling sering dihubungkan dengan musim hujan atau saat pergantian antara musim hujan dan kemarau. 

Dulu, setiap kali "musim sakit" itu datang, saya jadi anggota di dalamnya. Saya biasa kena flu dan batuk bisa dua bulan sekali, malah terakhir sebelum memulai pola hidup baru, saya sakit setiap bulan. Orang flu, saya udah gemeteran tuh. Pasti langsung heboh minum vitamin, beli minuman yang konon tinggi kandungan vitamin C-nya, makan sayur banyak-banyak, minum minuman hangat, biasanya teh, dan minum air putih. Akhirnya? Tetep sakit juga. Kemudian saya selalu bertanya "gue ini kenapa, sih?"

Suara hilang? Bisa dua bulan sekali. Itu udah kaya pengalaman rutin aja. Belum lagi kalau terserang flu, saya pasti lemas, jadi akan ada dua sampai tiga hari tidur saja. Gemes, kan? Kamu mengalami hari-hari di mana tubuhmu tidak berdaya beraktivitas seperti biasa karena sakit.

Beberapa hari ini di kantor, orang-orang mulai banyak yang mengenakan masker. Satu per satu teman kantor saya kena batuk dan flu. Kebetulan memang sudah masuk musim hujan, setiap sore akan hujan deras sekali. Teman seruangan saya akhirnya kemarin tumbang, kena demam tinggi dan batuk kering. Ternyata dia sudah menjangkitkan penyakit yang sama ke teman di ruangan sebelah. 

Kalau kejadian ini terjadinya dulu, rekan seruangan sakit, saya akan siap-siap dengan segala amunisi, tuh. Pasti pulang kantor langsung beli mutivitamin dan lain-lain yang saya kira akan membantu tubuh buat bertahan dari virus. Tapi sekarang, alhamdulillah tidak lagi begitu. Saya melakukan kebiasaan preventif hampir sepanjang tahun, walau ada main curang juga hahaha. Tapi kondisi kesehatan saya jauuuh lebih baik. Terutama yang saya sadar adalah tidak lagi ketakutan terjangkit sakit dari orang-orang di sekitar. Karena pada saat orang-orang sakit, tubuh saya dalam kondisi cukup basa untuk menolak virus-virus yang berterbangan ingin menghinggapi badan.

Jadi, sekarang saya alhamdulillah tidak masuk dalam golongan "musim sakit" lagi, semoga bisa lebih baik ke depannya. Gimana caranya? Coba ublek-ublek label ini, deh :D


Gitu dulu, ya!

Samantha: Well, relationships are not always about being happy, right? I mean, how often do you feel happy in your relationship?
Charlotte: Every day.
Samantha: You feel happy every day?
Charlotte: Not all day every day, but every day.
(one beautiful scene in Sex and the City series)

I once asking myself what did Charlotte mean by saying that. But then I know what is the meaning of that statement. Once I have Mas Bromo here with me, I know I will no longer be alone facing every thing; happiness, sadness, bluntness, stupidity and all. I know how it feels to be happy every single day, yet not the whole day every day. But, yes. I am happy. I always have something to be laughed at, have things to be argued about in a good or silly way and can even feel love in the resentful feeling, every single day. Even this morning, I smiled at his glasses which unexpectedly hung somewhere there :)  Anyway. 

I really wish we can do good everyday, take care of each other and respect one another. 


dari Instagram @bebydebear

Ini tahun kesekian saya berpuasa dengan pola Food Combining. Jujur, semakin ke sini komitmen saya semakin menurun terhadap pola makan yang sebetulnya sudah terpatri di benak saya sebagai pola makan yang tepat, setidaknya bagi kesehatan saya sendiri. Tahun ini saya sudah minum obat batuk karena sebelumnya makanan saya kacau parah dengan pembelaan "mumpung lagi mudik". Tapi karena saya sampai tidak bisa tidur nyenyak akibat si batuk, jadilah minum obat. Obat pertama yang saya minum di 2017. Baagi saya, ketika sudah sampai tahap minum obat, artinya saya betul-betul tidak komitmen menjaga kesehatan tubuh. Tahun lalu, saya sekali minum obat flu waktu sedang liburan ke Hong Kong dan lagi-lagi saya makan segala jenis makanan, sementara sebelumnya saya kurang tidur akibat kejar setoran kerjaan, dan si flu ini pun menang. Ish. Tapi, sejak FC, saya sudah tidak pernah lagi tuh minum obat secara rutin; terutama obat maag. Dulu kala, tiap hari saya minum obat maag, dan tiap bulan saya belanja obat-obatan. Di tahun 2015 kalau tidak salah, saya menemukan tas obat saya di lemari, di pojokan dan  rata-rata sudah expired!

Sejak mengenal FC, apapun asupan saya selalu saya analisis, entah itu makanan baik atau tidak. Ketika asupannya makanan baik, biasanya ketika makan saya berbicara kepada tubuh sendiri "semoga kamu sehat ya" dan saya tahu asupan itu adalah yang terbaik, minimal yang bisa saya berikan untuk tubuh. Tapi, ketika asupannya yang cuma enak sampai di lidah saja, biasanya rasa bersalah itu selalu ada, selalu. Tidak jarang dalam diam saya meminta maaf pada tubuh "sekali ini saja ya, saya sedang pingin", walaupun diulang lagi dan lagi. Iya, saya bandel. Tapi semua kenakalan biasanya dibayar kontan.

Bagaimana tidak, setiap kali saya melenceng dari pola makan sehat ini, saya kemudian akan dibayar dengan sakit/rasa tidak nyaman yang sepadan; minimal tidak bisa tidur nyenyak atau tidak lancar buang air. Kalau dulu buang air besar itu tidak rutin tiap pagi, selama masih bisa dilakukan tiap hari, saya anggap itu wajar. Sama seperti batuk dan flu di "musim"nya, saya anggap itu hal biasa, orang lain juga pada batuk-flu, kok. Tapi sejak saya memahami pola hidup Food Combining berikut cara kerja tubuh, saya tahu kenapa saya sakit. Sejak itu pula, saya tidak lagi menyalahkan hal lain, termasuk cuaca, melainkan menyalahkan diri sendiri yang alpa dalam memperlakukan tubuh dengan baik. 

Walaupun saya bandel, di kepala saya tetap menerapkan konsep hidup Food Combining. Minimal, jeleknya, saya "bayar hutang" setiap kali sudah menyiksa diri dengan mengkonsumsi makanan dan minuman yang sulit cerna dan berdampak buruk bagi tubuh saya; teh tarik, kopi susu, roti-rotian dan makanan minuman enak lainnya. Bagaimana saya bayar hutang? Biasanya saya akan minum jus sayur yang dibuat dengan 4-6 jenis sayuran, atau menambah asupan lalaban saya sebagai penebus segala kenikmatan lidah semata itu. Di pagi hari, sebisa mungkin saya selalu memulai sarapan dengan buah, walaupun kemudian saya ingin nakal dengan sarapan nasi lemak, misalnya.

Nah, bulan puasa kali ini bagaimana? Masih nakal? Dikiiiit hahaha. Tapi saya berusahaa banget untuk sahur eksklusif buah-buahan dan berbuka diawali dengan buah (potong atau dibuat smoothie) atau jus sayur. Minimal, aktivitas harian saya tidak terganggu dengan proses cerna yang berat dan ketika berbuka, perut tidak kaget tiba-tiba menerima asupan yang sulit/berat cerna.

Saya cerita dulu tentang manfaat sahur buah secara eksklusif, ya. Ini menurut pemahaman saya yang dangkal aja, sih. Mudah-mudahan tidak salah dalam menyampaikan, ya. 

Jadi, sepengetahuan saya, tubuh itu selalu perlu nutrisi baik. Selalu. Dengan begitu, kita harus selalu bisa memastikan asupan makanan kita ya kaya nutrisi, sesuai yang dibutuhkan tubuh. Dalam piring ada nasi, ayam atau ikan dengan aneka sayuran, baik? Iya, baik. Semua kebutuhan nutrisi ada. Tapi kemudian kita lupa, bahwa untuk menyerap nutrisi itu, tubuh harus mengolah makanan dan minuman yang kita asup, kan? Jadi, selain mencukupkan nutrisi untuk tubuh, pastikan juga sistem cerna bekerja tidak terlalu berat karena satu harian dalam bulan puasa kita hanya akan dapat asupan makanan di pagi hari di kala sahur dan baru kemudian dapat pasokan lagi saat berbuka. Selama jeda yang panjang itu, kita tidak mungkin diam saja, kan? Jadi, kebayang tidak, kalau tubuh kita sibuk mengalokasikan energinya untuk mengolah makanan sahur yang memberatkan sistem cerna, sementara seharian kita juga butuh energi untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan lain? Bisa tekor energi! Cepet lemas. 

Padahal, saat berpuasa itu adalah kesempatan baik banget buat tubuh "beristirahat" dan "memperbaiki diri". Konon, saat tubuh berpuasa terjadi perbaikan sel-sel tubuh dan detoksifikasi terjadi. Proses ini butuh asupan yang baik, sangat baik malahan. Dalam masa bersamaan juga butuh energi untuk proses itu. Jadi, kita si pemilik tubuh, sebisa mungkin memenuhi keperluan tubuh; penuhi nutrisinya dan ringankan kerja sistem cernanya. Makanan apa yang bisa memenuhi kedua hal tersebut dalam waktu bersamaan? Makanan hidup! Buah dan sayuran segar, jawabannya. 

Untuk pencernaan di pagi hari yang sedang bekerja keras setelah proses metabolisme dan dilanjut dengan proses pembuangan, buah adalah pilihan yang paling tepat. Karena buah lebih mudah dicerna, sementara kandungan nutrisinya cukup untuk kebutuhan tubuh, seratnya sudah tentu sangat diperlukan dan gula buah  baik sebagai sumber energi. Untuk memastikan asupan kita cukup untuk kebutuhan harian tubuh, pastikan konsumsi buah minimal 3 jenis dengan warna yang berbeda untuk memastikan keberagaman unsur di dalamnya. Makan sampai kenyang atau sesuai porsi tubuh masing-masing. 

Kalau buah tidak ada? Bisa diganti makanan tingkat kedua yaitu sayuran. Buat salad dengan aneka sayuran segar juga sangat baik untuk tubuh. Hanya saja, serat sayuran lebih kasar berbanding serat buah-buahan sehingga proses cernanya agak lebih berat, walaupun jauuuuuh lebih ringan berbanding makan makanan berat seperti nasi dan lauk-pauknya. 

Buah dan sayur sedang tidak ada? Bisa ganti dengan telur rebus. Masa cerna telur rebus sekitar 1,5 jam, tidak terlalu memberatkan sistem cerna dan kandungannya juga cukup untuk kebutuhan energi. Ingat, hanya direbus tanpa diberi apa-apa lagi, ya. 

Tapi, dari ketiga pilihan menu sahur (dan sarapan) di atas, buah adalah yang terbaik. Kembali lagi ke dua keperluan dasar tubuh; makanan bernutrisi dan sistem cerna yang ringan kerjanya. 

Dulu, waktu masih tinggal dengan keluarga, saya sahur lengkap menu karbohidraat + protein + sayuran dan kadang diakhiri dengan susu. Saya rasakan setiap puasa, badan saya mudah lemas. Bangun tidur capek, bau mulut tidak segar dan jam 2 siang sudah mulai nyeret-nyeret kaki saking lemasnya. 

Kemudian jadi anak kostan, males beli atau menyiapkan makanan sahur, kadang saya hanya minum susu atau bahkan minum air putih saja. Saya merasa bahwa kalau saya tidak makan banyak, kok badan jadi lebih enak. Walaupun kemudian biasanya ada saja sariawan atau batuk uhuk uhuk. Kenapa? Sepemikiran saya sih, sistem cerna saya ringan karena tidak ada asupan kompleks, tapi di lain sisi, nutrisi tidak terpenuhi. Jadi, pada akhirnya badan mudah sakit. Buka puasa? Kalap! 

Nah, ketika mulai belajar tentang sistem kerja tubuh, sitem Sirkadian, saya mulai paham kenapa saya mengalami ini dan itu. Pertama kali saya sahur buah, saya agak pesimis, tapi saya pastikan bahwa saya paham tujuan pola makan ini apa. Eh, saya jauh lebih segar sepanjang hari! Bahkan masih bisa yoga segala tuh selama puasa :D Tidak ada tuh nyeret-nyeret kaki sampai menjelang buka puasa. Paling ada rasa haus, lapar tidak terlalu mengganggu. Mulut beraroma segar. Bangun tidur tidak lemas. 

Jadi, gitu deh sedikit cerita tentang sahur eksklusif buah dari saya. Bahasa yang gampang aja, ya. Kalau mau mencoba, jangan lupa pastikan buah yang dimakan beraneka ragam, ya! Semoga selalu sehat..

Selamat puasa!


Setahun lalu Mas Bromo sempet nyepik bahwa tahun ini insyaAllah kami akan bisa ibadah puasa sama-sama. Alhamdulillah doa Mas Bromo, dan saya, terkabul. Awal bulan Mei ini alhamdulillah kami melangsungkan pernikahan. Empat tahun lebih menjalani peran sebagai sepasang kekasih, tjailah, sudah memberi banyak pelajaran melalui pengalaman ketawa, marah, bahagia, gundah dan lainnya sama-sama. Tepat 6 Mei 2017 lalu, kami memulai peran baru sebagai sepasang suami-istri, insyaAllah sampai maut memisahkan. 

Saya hanya mampu membaca bismillah dan bismillah dan terus bismillah di setiap langkah kami berdua. Tidak pernah ada yang sempurna, tapi insyaAllah barokah. Aamiin.

Jadi, gimana rasanya dimasakin istri, Mas? Seneng, dong :D 



Living in a new place, moving into a new house, staying in a new environment have made me a stranger. Few number of acquaintances, going here and there alone most of the time and trying to survive without any pain in the ass is a combo of being a sojourner. But then, we have to find a way to survive during the sojourn.

What I do is throwing an idea of gathering with people I barely know in the office for a potluck. I love cooking and serve my friends with whatever I have made. As long as it can be eaten, so it is entitled as food :)) I propose a lottery potluck, what so called as arisan in Indonesia, as one of the ways to mingle with the new milieu. 


So, Arisan is part of my environment here, now. It's fun yet full of drama! 
Foto dari Google Image
Jarang ada teman yang percaya kalau saya ini introvert. Orang yang pertama kali ketemu akan mengira saya extrovert karena bisa banyak berbicara dan (katanya) peramah. Tapi di lain kesempatan, saya dikira judes tak terkira karena cenderung diam tidak bersuara. Tidak banyak teman, atau orang, yang bisa menangkap atau mengerti bahwa saya ini introvert. Bahkan teman dekat dan keluarga saya sendiri. 

Tidak jarang saya ditodong untuk mengemukakan pendapat di dalam forum dan saya kelabakan mengeluarkan apa yang ada di dalam pikiran. Kemudian dianggap pemalu dan tidak bisa berpikir hanya karena waktu itu saya tidak bisa menyampaikan apa yang saya pikirkan. Di lain waktu, saya bisa jadi penceramah hebat tentang A, B atau C dengan satu orang teman yang bisa membuat saya nyaman untuk berbicara.
Foto dari Google Image
Ketika saya diam atau tidak aktif dalam berinteraksi, banyak alasannya. Tidak melulu tentang tidak nyaman atau kesal. Ada kalanya energi saya habis terserap orang-orang di sekitar yang sangat aktif. Bisa juga karena terlalu banyak orang, sehingga saya tidak bisa mengemukakan pendapat apa-apa. Tapi bukan berarti saya tidak peduli. Bahkan sering kali saya terlalu detil memperhatikan orang-orang di sekitar sampai kelelahan. Saya jaraaang bisa menunjukkan rasa sayang dan kangen atau cinta saya kepada orang-orang di sekitar. Cara saya menunjukkannya biasanya dengan membuatkan makanan, menyiapkan bekal dan perlengkapan yang dibutuhkan, ingat hari ulang tahun bahkan setelah bertahun-tahun tidak bertemu, kirim text untuk menanyakan apa kabar di waktu-waktu yang tidak disangka-sangka. 

Tidak jarang juga saya dianggap tidak peduli karena jarang menelepon atau melakukan video calling. Saya tidak nyaman melakukannya, saya gugup tidak tahu harus bercerita apa dan bersikap bagaimana. Jadi, kurangnya aktivitas menelepon dan video calling itu bukan karena saya tidak peduli. Tapi karena saya tidak bisa. Pernah saya mencoba, lebih dari dua minggu juga berlangsungnya. Saya setiap hari menelepon. Normatif saja. Tapi jadinya aneh. Bahkan dengan pacar sendiri pun, kalau bertelepon banyakan diam daripada berbicara. Mungkin nyamannya begitu. 
Foto dari Google Image
Ada kalanya saya hanya tidak mau berbicara dengan siapa pun. Ketika ada yang menelepon, saya biarkan telepon itu berbunyi hingga mati, karena saya yakin nanti orang itu akan kirim text kepada saya. Kalau memang sangat penting, dia pasti akan menyampaikan bahwa ada hal urgent dan sangat penting, tidak bisa melalui text. Kemudian saya akan siap untuk menerima panggilan itu. Other than that, if you can text, just text since I have no energy to talk with you. I don't hate you or ignore you, I just cannot talk to people at the moment. 

Saya suka ketemu orang. Bahkan biasanya saya yang mengusulkan untuk bertemu dan berkumpul bersama-sama. Walaupun saya tahu, setengah pertemuan itu saya akan sangat letih menyerap energi-energi orang di sekitar. Walau bahagia, saya tidak bisa membohongi diri saya bahwa durasi sekian jam itu terlalu lama untuk berkumpul dengan ramai orang. Bahkan beberapa waktu lalu ada business trip selama 7 hari, saya kelelahan di hari ke-4. Saya sekamar dengan 2 kolega lainnya, pergi ke seminar yang sama, pergi makan sama-sama dan satu hari penuh kegiatan dilakukan bersama selama 7 hari. What I was thinking is laying on my bed and watch an old movie in my own room without anyone else there. Terlalu sering dan terlalu lama berinteraksi dengan banyak orang itu melelahkan. Belum lagi kalau energi negatif yang beterbangan :(

Foto dari Google Image
Believe me, I can live alone in my home without talking (to people). I once stayed in 5th floor apartment, I mostly just stay home during off time. I experienced the whole week not texting, not calling, not talking. I was just spending my time alone, peacefully. Watching old movies which I have watched for hundred of times. Cooked and ate anything I have in the fridge. And it was a OK.  
Foto dari Google Image
Dan tidak apa-apa kalau tidak semua orang paham apa yang saya rasakan ini. Tapi juga sama halnya bukan masalah menjadi orang yang seperti saya. 

Jadi, sejak beberapa bulan terakhir ini, pola makan saya acak-acakan. Begitu gak enak tenggorokan, saya balik ke pola makan yang sebetulnya harus saya jalani setiap hari tanpa terkecuali. Tapi kemudian tergoda lagi dengan makanan-makanan baru dan jajanan-jajanan kantin, jadilah makan lagi. Malahan saya sampai berani-beraninya melanggar aturan bahwa segimana pun keinginan untuk cheating, sarapan tetap harus buah. Padahal saya tau betul, sekali saja saya melanggar aturan itu, badan saya ngiuk-ngiuk alarm-nya; begah, mual, pusing, mengantuk. 

Belum lagi saya sekarang lebih sering makan protein hewani berbanding nabati. Sepele sih, protein hewani lebih mudah dicari. Kadang mau makan siang atau malam tapi bingung makan apa, yang ada ayam penyet lagi, ayam goreng lagi, gitu terus. Sayur andalan saya ya buatan rumah, karena sering kali tidak ketemu dengan sayur (yang belum dimasak) untuk penyeimbang basa. Bahkan sayur yang sudah dimasak pun tidak terlalu banyak pilihan dan bahkan tidak semua warung makan menyediakan. 

Akhirnya, seminggu yang lalu saya buat satu challenge, #14daysplantbasedchallenge. Tujuannya sih memotivasi diri sendiri untuk kembali ke jalan yang benar haha. Akhirnya adalah satu orang teman yang ikut, lumayan. Jadi, setiap hari kami akan tulis dan posting makanan dan minuman apa saja yang kami makan, sebanyak apa cheating-nya, dan makanan diusahakan betul berbasis dari tumbuhan. 

Di hari ke-5 saya harus berangkat ke luar kota untuk mengikuti seminar. Waduh, ini bakalan kacau. Walaupun saya sudah meminta panitia untuk menyediakan makanan vegetarian, nyatanya yang disajikan tidak terlalu bersahabat. Saya bawa beberapa butir apel untuk sarapan selama di sana. Minimal sarapan pertama saya buah deh. Lanjut di seminar disediakan sarapan berat, super berat malah; nasi goreng, bihun goreng, mie goreng, telur goreng, aneka kue, teh, kopi dan air minum (RO). Biasanya saya ambi bihun atau nasi goreng, cukup untuk ganjel sampai ketemu coffee break. Saya selalu nyolong air minum botolan sebanyak yang bisa saya bawa. Hotel saya hanya menyediakan 1 botol, di sekitar hotel maupun tempat seminar tidak ada warung, transportasi yang bisa kami gunakan untuk mobile dari hotel ke tempat seminar adalah shuttle van yang tidak bisa fleksibel bawa kami ke sana ke mari. Jadi, ambil beberapa botol air minum untuk persediaan adalah ide yang cemerlang :D Kalau ada kesempatan makan di luar, saya pastikan yang dimakan adalah makanan berbasis tumbuhan. Teman-teman juga sudah tau apa yang akan saya cari untuk makan; sayuran. 

Pulang dari seminar badan saya lelah sekali, belum lagi jerawat nongol di sana sini. Sampai saja di kota tempat saya tinggal, saya langsung melesat ke swalayan terdekat untuk membeli stock sayuran dan buah. Sampai saja di rumah, langsung saya eksekusi jus sebelum tidur. Esok harinya saya berniat juice fasting, saya bawa 1 botol 350mL, 1 botol 450mL, 1 botol 250mL dan 1 botol 150mL. Ternyata jumlah itu kurang untuk kebutuhan saya dari pagi sampai pulang lagi ke rumah. Akhirnya makan juga :)) Tapi saya usahakan makan makanan yang tetap berbasih tumbuhan. Sampai di rumah saya bikin jus satu porsi lagi. Hari berikutnya juga begitu, saya minum 4 porsi jus. Jus ini saya campur antara sayur dan buah. Badan saya cepat pulih dari rasa letih, rasa kantuk tiap pagi yang sering datang juga sudah kabur dan jerawat pada kering! 

Karena sudah pernah mengalami diare dan demam tahun lalu yang pengobatannya hanya saya serahkan pada sayur dan buah segar, ternyata sembuhnya jauh lebih cepat. Untuk jerawat, saya sudah mulai tau bahwa setiap kali saya minum/makan manis-manis (yang bukan alami) dan makan gluten, pasti jerawat datang. Obatnya? Perbanyak asupan basa! Dulu, saya kalau jerawatan bisa lama radangnya. Nyut-nyutan. Belum lagi hilang bekasnya entah kapan. Tapi sekarang, perbanyak asupan basa, maka si jerawat nakal langsung kabur semua.

Saya percaya bahwa makanan hidup (dibaca: sayur dan buah segar) sangat membantu kita untuk hidup lebih sehat secara utuh, bukan artifisial saja. Kulit mau mulus? Kurangi makan makanan yang teroksidasi dan prothew. Saya pernah tuh ngerasain kulit mulus lus lus waktu saya menjalani pola hidup vegetarian. Gak lama, dua mingguan gitu deh. Tergoda sama ayam goreng doang tuh jadinya tumbang hahaha. 

Nah, rencananya saya mau lanjutin plant based eating-nya sampai satu bulan ke depan. Kalau bisa ya lebih panjang lagi. Tapi di sela-selanya juga adalah saya kasih kesempatan untuk cheating :D Tapi dalam satu minggu saya usahakan untuk makan 90% buah dan sayur/tumbuhan.

Semoga sehat ya!