Foto diambil dari sini

Jadi peragu dan penuh pertimbangan yang berujung pada rasa takut adalah hantu yang selalu membayangi saya. Hampir 35 tahun lamanya. Kadang saya berpikir bahwa apa yang ada di dalam pikiran dan pertimbangan saya ini masuk akal. Kadang saya sadar bahwa semua pro dan kontranya sudah terlalu berlebihan.  

Ada kalanya saya menunda mengerjakan karena saya tau saya mampu mengerjakan, dengan baik atau tidak, dalam waktu sekian jam/hari/tahun. Tapi kemudian, terlalu yakin diri kadang membawa pada ketidak sempurnaan yang seharusnya tidak wujud hanya karena menunda mewujudkannya. Sempurna itu relatif, setidaknya kita bisa menciptakan konstruksi kesempurnaan kita sendiri. 

Banyak hal yang ada dalam pikiran saya, sepertinya, briliant. Alih-alih melakukan apa yang diimpikan, saya putuskan untuk berbalik arah dengan alasan A-Z yang saya kira masuk akal. Padahal yang saya lakukan adalah mengurungkan niat membuka pintu yang mungkin akan membawa saya ke satu kondisi tertentu; berhasil atau gagal.

Bicara tentang peluang, keinginan, kemampuan...dan bahkan kemungkinan, sering kali saya perlu didorong, dipaksa masuk ke dalam situasi yang tidak ada jalan kembali, sehingga satu-satunya yang saya harus lakukan adalah terus melangkah ke depan. 

Kadang hanya perlu mengatakan kepada diri sendiri "lakukan saja, tidak ada yang salah", daripada sibuk berpikir bagaimana kalau atau bagaimana nantinya jika...Karena, ketika masih sibuk berkutat dengan segala pertimbangan, pikiran dan upaya melarikan diri dari segala kemungkinan, mengaburkan keinginan dan tidak percaya pada kemampuan diri sendiri, pintu menuju peluang itu telah kembali tertutup. 

Iya, saya harus melawan hantu yang bersarang di kepala saya sejak 35 tahun yang lalu. 

Hampir setiap gadis kecil punya impian tentang acara pernikahannya kelak. Semewah atau sesederhana apapun mimpi itu. Saya, entah sejak kapan, membayangkan menikah di dalam rumah dan mensyukurinya bersama keluarga dan sahabat di ruangan terbuka, di taman atau kebun, dekat dengan alam. Rasanya mimpi ini sudah ada jauh sebelum garden party muncul di mana-mana. 

Sekian belas tahun dari awal mimpi itu dibangun, seorang laki-laki, sebut saja Mas Bromo, yang entah karena alasan apa Tuhan mempertemukannya dengan saya, melamar dan mengamini mimpi kecil saya itu. Mungkin judulnya “yang penting kamu bahagia”, gitu haha. Tapi, lebih dari itu, tentang pernikahan itu sendiri selalu kami bicarakan berdua, setiap waktu. Jadi, mimpi ini adalah hadiah dan pembuka perjalanan panjang yang akan kami jalani bersama-sama.

Sebelum lamaran itu, konsep akad dan syukuran pernikahan sudah mulai dibicarakan; di mana tempatnya, bagaimana akadnya, bagaimana syukurannya, siapa yang diundang dan detil lainnya yang ternyata banyak juga :D Setelah lamaran, makin serius lagi pembahasannya. Kemudian diputuskan untuk mewujudkan mimpi syukuran pernikahan saya di luar rumah. Maksudnya tidak di rumah dan halaman sebelah seperti yang semula saya pikirkan, karena banyak pertimbangan. Tapi konsep tetap sama; alam dan keakraban bersama keluarga dan sahabat.

Saya, yang mungkin introvert ini, selalu ingin pernikahan yang dihadiri orang-orang yang saya kenal; keluarga dan sahabat. Jujur, saya tidak punya banyak teman (dekat), kenalan mungkin iya, banyak. Tapi, tidak semua orang bisa saya bagi berbagai cerita. Dan untuk pernikahan, saya memilih untuk mensyukuri dan merayakannya dengan mereka; keluarga dan sahabat. Tanpa mengurangi rasa hormat kepada teman-teman dan kolega lain, tentunya.  

Nah, setelah kata sepakat bahwa kami akan  menikah dengan konsep yang saya impikan itu, mulailah saya dan Mas Bromo keliling mencari tempat yang bisa mewakili imajinasi saya. Cari di dalam kota dan di luar kota Cirebon. Sampailah kami pada satu tempat yang memiliki lapangan hijau luas di bagian belakangnya, dilengkapi pemandangan maha cantik; Gunung Ciremai. Begitu lihat tempat ini, saya langsung pegang tangan Mas Bromo dan berbisik “ini, Mas!” sambil tersenyum lebar dan penuh harap di dada. Hotel Horison Tirta Sanita, di kawasan pariwisata Sangkan Hurip, Kuningan, tempatnya.

Beruntung waktu itu berkesempatan bertemu dengan pegawai hotel bagian marketingnya, Mbak Aliya, dan sempat ngobrol ini itu mengenai kemungkinan melakukan akad dan resepsi di pelataran hijau itu, dan bertanya mengenai harga paket dan lain sebagainya. Harga paket pernikahan yang mereka tawarkan masuk dalam anggaran dana kami :D Saya masih ingat, Mbak Aliya, yang waktu itu membantu saya untuk semua persiapan acara pernikahan ini, berkata “kalau pakai paket kami ini, Mbak cuma perlu bawa perias aja, sudah bisa jalan nih pestanya”, lebih kurang begitu. Makin bersinarlah mata saya :) Kemudian ngobrol naninu dengan keluarga, dan yap! Kami sepakat mengadakan acara pernikahan di sana. Yeay!

Jadi, saya ambil paket yang, bagi saya sih, lengkap; dekorasi standar untuk akad dan resepsi, 2 kamar standar untuk 1 malam, 1 honeymoon suite untuk 1 malam, voucher spa untuk pengantin,  hiburan (boleh pilih antara band atau akustik), makanan prasmanan untuk 500 orang, 4 gubug/food stalls, dan fasilitas lainnya seperti diskon sampai dengan 40% untuk pemesanan kamar dan cottage. Cakep! Dalam perkembangan persiapan acara pernikahan ini, saya memesan tambahan menu gubug, mengkonversi minuman berkarbonasi menjadi menu lain dan mengkonversi kamar standar yang ada dalam paket jadi 1 malam lagi menginap di honeymoon suite.

Kerjasama dari pihak hotel sangat baik, menurut saya. Mbak Aliya dan tim sangat responsif dan berusaha untuk mewujudkan keinginan client sesuai dengan budget yang ada. Konversi fasilitas yang kami ajukan disetujui, tim hotel tidak kaku dalam berkomunikasi. Hanya saja, bertemu dan diskusi secara langsung sepertinya lebih efektif dalam proses mematangkan konsep acara pada waktu itu untuk meminimalisir salah faham.

Jujur, saya tidak sempat mencicipi makanan waktu acara haha, terlalu sibuk haha hihi dan berfoto sana sini. Karena konsep acara pernikahannya adalah mingling, jadilah jadi pengantin yang pecicilan. Tapi menurut keluarga sih makanan yang disediakan enak dan berlimpah, alhamdulillah. Saya selalu takut makanan kurang, karena menurut saya good food will lead to good mood, jadi makanan enak dengan jumlah yang mencukupi dan rasanya itu harus banget! Hanya saja makanan yang bersisa tidak semuanya diperbolehkan dibawa pulang.  Sayang, masih banyak bersisa. Eh, ini entah peraturan di semua hotel atau bagaimana, saya kurang paham :D Tapi kami diperkenankan membawa pulang beberapa kotak makanan, terima kasih ;)

Sarapan di hotel, ini waktu yang paling menyenangkan. Karena keluarga berkumpul semua di sana. Makanan yang disajikan bervariasi dan rasanya cukup memuaskan. Ada makanan dan minuman tradisional juga seperti serabi dan jamu. Makanan a la barat juga tersedia, tinggal pilih mau makan apa. Saya suka sarapan di pelataran luar restoran karena menghadap ke halaman belakang yang hijau dengan gemericik air kolam. Kalau beruntung, kita bisa melihat gunung Ciremai juga di kala pagi.

Hotel Horison Tirta Sanita ini sebelumnya bernama Hotel Tirta Sanita, kemudian bergabung dengan Horison group, kemudian namanya menjadi Horison Tirta Sanita pada tahun 2015 kalau tidak salah. Dalam perjalanannya, yang saya tahu, sudah dibangun kamar-kamar baru dan function hall. Nah, untuk acara saya, keluarga inti menginap di cottage yang mengelilingi halaman tempat dilangsungkannya acara. Sementara keluarga besar dan beberapa sahabat menginap di kamar hotel di bangunan baru di bagian samping. Untuk honeymoon suite pula lokasinya di bangunan lama, di bagian depan hotel, menghadap ke jalan.

Ulasan sedikit tentang fasilitas kamar ini, ya. Untuk cottage, bangunan ini cukup luas dan nyaman untuk menginap satu keluarga. Ada cottage yang berukuran besar dan kecil, cukup sampai 10 orang atau bahkan lebih. Hanya saja, bangunan ini lama, jadi agak kusam tampilannya, dan pengalaman saya, ada kamar yang telefon dan AC-nya tidak berfungsi baik. Selain dari itu, cukup oke sih untuk menginap di sana. Gedung baru, bagi saya kece. Yah, namanya masih bau baru, tampilan cakep, fasilitas juga sesuai dengan harga yang ditawarkan. Untuk honeymoon suite, ini merupakan bagian dari bangunan lama, kebetulan kamar mandi saya agak tersumbat bathtub-nya, jadi kurang nyaman. Tapi bisa dipahami bahwa hotel ini dalam proses peremajaan, menurut informasi yang saya dengar, secara bertahap fasilitas mereka akan diperbaiki dan ditingkatkan kualitasnya. Semoga semakin baik, ya!

Nah, untuk mewujudkan suasana yang saya impikan itu, saya juga ambil dekorasi dari luar untuk melengkapi dekorasi standar yang didapat dari hotel. Walaupun pada kenyataannya dekorasi hotel melebihi ekspektasi standar saya, terima kasih! Dekorasi ini satu paket dengan foto dan perias. Untuk keperluan ini, saya menggunakan jasa Bu Nannydari Komplek Pilang Perdana, Cirebon. Harga yang ditawarkan oleh Bu Nanny, menurut saya, masuk akal dan hasil riasan juga cakep. Iya, saya cerewet soal riasan, karena saya tidak mau nanti orang-orang tidak ada yang mengenali wajah saya karena terlalu manglingi :D 


Pertama kali saya ketemu Bu Nany sekitar bulan Oktober 2016, kemudian bulan Desember sudah terbang ke Malaysia untuk mulai bekerja. Kembali lagi ke Cirebon seminggu menjelang hari pernikahan. Selama Desember sampai April 2017 itu, Bu Nany dan Mbak Desty, anaknya, sering saya gangguin karena sampai satu minggu sebelum hari pernikahan, saya belum tau mau pakai baju apa :D Sebetulnya saya mau pakai gaun, tapi koleksi pakaian di Bu Nany tidak terlalu banyak pilihan gaun, dan kalaupun ada, entah itu kekecilan atau terlalu besar dan tidak bisa dikecilkan. My bad. Akhirnya pilihan jatuh pada kebaya modern putih :)

Saya gak mau ribet ganti baju berkali-kali pada saat acara, jadi saya mengenakan kebaya putih yang berpasangan dengan bawahannya yang senada untuk resepsi. Nah, untuk akad, bawahan putih itu diganti dengan kain batik cokelat. Sementara Mas Bromo pakai jas milik sendiri; kemeja putih tanpa dasi untuk akad, dan berdasi pada saat resepsi. It was simple yet elegant. Just nice.

Untuk keluarga, pakaian para Ibu hajat, saudara kandung (tidak semua) dan pagar ayu disediakan dari pihak perias. Karena pernikahan saya asik-asik aja, para bapak dan kakak-kakak pakai baju punya sendiri dengan warna senada. Mencoba baju, mengukur dan mencocokkan ini urusan ribet. Jadi, diputuskan untuk pakaian tidak terlalu ribet juga. Yang penting kami sekeluarga bisa kumpul sama-sama, berbahagia. Cukup.

Riasan, saya suka dengan Mbak Herna, anak Bu Nany yang mendandani saya. Mbak Herna bukan tipikal perias yang ini-yang-bagus-untuk-kamu-terima-aja. Mbak Herna benar-benar mendengarkan maunya saya apa, mau riasan yang bagaimana. Saya minta riasan yang tipis, tidak menor, manglingi in a very minimu level. Saya minta warna nude dan alami. Saya puas :)

Oia, dalam paket riasan ada luluran sehari sebelum acara hahaha. I was surprised about this. Pertama, saya tidak pernah dilulur oleh orang lain. Kedua, I was not aware that I will get this service at the first place. Jadi, saya sempet nolak tuh :)) Malah mau dikasih ke Mama aja, biar Mama yang dilulur :D Ibu hajat kan juga harus kece, bukan? Haha. Tapi akhirnya saya menyerah dengan ‘sekali seumur hidup, gak apa-apa’. Baiklah. And it was my very first experience. Lama juga tuh lulurannya, di kepala saya ribet “kapan kelarnya ini?”. I just don’t like people touching my body. I don’t even do creambath or cut my hair in the saloon. My Mom is my hairstylist haha. Can you imagine how I “enjoyed” that luluran thing back then? :D

Untuk dekorasi, saya meminta bunga segar dari Bu Nany supaya lebih hidup suasananya. Perpaduan konsep dari hotel dan Bu Nany jadi cakep! Bunga-bunganya cantik. Nuansa warna putih, pink dan hijau mendominasi suasana. Hanya saja hari itu pukul 12 hujan deras banget, venue basah. Walhasil para tamu blepotan sepatunya pada saat resepsi. Saya sendiri, mengotori baju Bu Nanny dengan tanah :)) Selalu ada hal menarik dari setiap perayaan yang bisa diingat, kan? Sore hari gunung Ciremai menampakkan dirinya pada saat akad berlangsung. Begitu selesai akad, wujudnya jelas gagah sempurna terlihat. Subhanallah! Jadi foto-foto setelah akad dilakukan berlatar gunung Ciremai, what about that? Awesome! ;)

Nothing is perfect, btw. Karena paket perias ini juga sekalian WO, pada saat acara agak sedikit tidak halus jalan acaranya. Diawali dengan perias yang datang terlambat, sehingga proses merias molor dan waktu akad pun akhirnya molor. Pun sempat ada kepanikan pada proses merias. Koordinasi antara penanggung jawab acara agak kurang baik juga sehingga sempat idle dalam proses transisi acara dari akad ke saweran. Hantaran untuk pengantin pria pun tertinggal di cottage :D Padahal udah cakep banget dihias, eh tidak terbawa. Pun hiasan mobil tidak sempat dipasang.

Sebagai client yang baik, pihak saya menyampaikan terima kasih dan pujian atas pelayanan yang memuaskan, dan menyampaikan kritikan dan saran bagi kekurangan. Demi kebaikan pelayanan di masa mendatang. Semoga ke depannya Bu Nany dan tim semakin baik lagi pelayanannya :)

Jadi, berdasarkan pengalaman saya, Hotel Horison Tirta Sanita bisa jadi pilihan untuk melangsungkan pernikahan dengan konsep alam di kawasan Cirebon/Kuningan. Dan, Bu Nany bisa jadi pilihan sebagai perias dengan paket yang cakep ;)






Beberapa waktu lalu saya ada nulis tentang aktivitas memasak di sini. Masih inget banget gimana senangnya memulai hari dengan turun ke dapur dan memasak menu sarapan buat teman-teman di kantor. Belum lagi ketika melihat semua makanan sudah terhidang, duh, seneng banget! Waktu saya memulai, what so called as business, itu adalah masa-masa kerjaan di kantor tidak terlalu banyak, tidak ada jam mengajar sebab sedang libur semesteran. Nah, saya punya ruang yang luas untuk berekspresi tanpa takut kehabisan waktu karena harus belajar dan mempersiapkan bahan ajar di kelas. Nah, begitu masuk semester baru, dapet jadwal mengajar yang lebih padat berbanding semester sebelumnya, ditambah lagi pekerjaan-pekerjaan administratif, saya angkat tangan >.<

Saya libur dulu jualannya. Ada yang hilang rasanya, rutinitas pulang kantor yang langsung diisi dengan potong-potong bahan masakan, bangun pagi dan memasak, sampai di kampus eh, sudah ditunggu teman-teman yang kelaparan dan penasaran dengan sarapan pagi itu. Belum lagi melihat mereka makan dengan lahap, itu membahagiakan sekali. Di akhir minggu menghitung keuntungan, belanja untuk bahan jualan selanjutnya. Adalah rasa letih, tapi menyenangkan.

Nanti kalau libur semesteran, saya mau mulai jualan lagi :)
Foto diambil dari sini
Teman-teman yang suka iseng bacain tulisan saya di sini mungkin bosan dengan saya yang selalu mulai lagi, mulai lagi dan mulai lagi mencoba hidup lebih baik. Iya, berawal dari beberapa tahun lalu waktu saya bolak balik sakit melulu, kemudian mencoba mencari tahu apa yang salah dari pola hidup saya sehari-hari sampai pada titik saya menemukan AHA! pola makan saya yang bermasalah.

Nah, saya sudah 10 bulan di Kota Kinabalu, lingkungan kerjanya menyenangkan, pola hidupnya juga berbeda dengan pola hidupnya. Belakangan saya merasakan serunya ikut sarapan sama teman-teman di kantor, makan ke kantin sama-sama, pesan teh tarik atau minuman manis lainnya, makan kue tradisional yang beraneka ragam dan rasanya enak-enak. Sehari, dua hari, seminggu, dua minggu, sampailah jadi kebiasaan. Saya masih rutin konsumsi buah sebelum berangkat ke kantor, masih bawa bekal sayuran mentahan atau bahkan bawa bekal makan siang, masih juga rajin bikin jus sayur kala malam untuk menyeimbangkan asupan yang asam dengan yang basa.

Tapi makin hari, kuantitas asupan yang ber-pH asam dan makanan minuman manis makin tidak terkendali dan melebihi kuantitas asupan baiknya. Berat badan saya melesat tajam, 5 kilogram dalam aktu 6 bulan, mungkin? Belum lagi muka berbuah jerawat silih berganti. Baju-baju juga mulai sempit >.< Kacau banget deh. Malah ada satu ketika itu, badan saya berasa digebukin waktu bangun tidur pagi. It was awful!

Sudah dua bulan ini saya paksakan diri untuk melakukan yoga di pagi atau malam hari ketika pulang dari kerja. Saya pastikan dalam seminggu minimal 5 kali saya melakukan yoga. Saya pilih beberapa posisi yang memang sedang diperlukan, mengingat saya terbiasa duduk satu hari penuh dan hampir setiap hari mengenakan sepatu hak tinggi. Selain itu, sebulan terakhir ini saya biasakan jalan sore, biasanya 3 kilometer. Kegiatan jalan sore ini cuma 2-3 kali seminggu, ditemani teman kantor. Kebetulan Kota Kinabalu ini ada beberapa tempat yang asik buat tempat olahraga; lari atau jalan sore.

Sejak mulai rutin berolahraga, badan lebih enak. Selain itu, makan juga lebih saya jaga walaupun masih ngaco; sering kali saya pakai sistem "bayar hutang" :)) Kalau terlalu banyak makan yang aneh-aneh, saya guyur sayur banyak-banyak. Tapi tentu saja itu cara yang salah :P But then, I try myself to get back into my track, slower. 

Semingguan kemarin, sampai hari ini dan insyaAllah seterusnya, saya mulai makan makanan berbasis tumbuh-tumbuhan lagi. Terlalu sering makan protein hewani, terutama ayam yang digoreng, I don't think that's something I really need, nowadays. 

Jadi, mari kembali ke jalan yang sebenar! :D
Instagram: @omduta 
Foto di atas diambil oleh Mas Bromo, pagi hari sebelum kami bergerak ke arah Sembulan. Pemandangan setiap pagi mungkin tidak sama. Ada kalanya gunung itu malu-malu dan bahkan bersembunyi di balik awan. Ada kalanya sangat dramatis, dengan sorotan sinar matahari, konturnya jelas terlihat. Setiap pagi, keluar saja dari rumah, saya langsung mengecek bagaimana pemandangan gunung Kinabalu dari depan rumah. Pagi itu, hari di mana Mas Bromo saya panggil untuk memotret pemandangan indah ini, merupakan salah satu pagi yang indah bagi saya. Ingat betul, saya keluar rumah lebih dulu, sementara Mas Bromo masih siap-siap, dari depan saya lari ke dalam rumah dan memintanya untuk bawa kamera dan memotret gunung itu. Hasilnya mendekati yang saya lihat dengan mata telanjang. Cantik. 

Begitulah pemandangan saya setiap pagi. Lihat alam membentang di depan mata selalu bikin semangat untuk memulai hari :) 

Saya selalu melihat hadiah berupa buku sebagai hadiah yang "mahal", romantis, dan selalu touchy karena sangat personal. Di hari ulang tahun saya, beberapa teman pernah membelikan saya buku. Ada juga beberapa kali saya dan beberapa teman saling membelikan buku yang kami pikir sangat menarik dan akan bermanfaat di kemudian hari bagi satu sama lain. Pernah lagi, waktu dosen pembimbing saya menjelang masa pensiun, dia memberi saya satu buku Qualitative Methodology. Saya bukan main senangnya waktu itu. Nah, beberapa hari lalu atasan saya juga mewariskan tiga buku miliknya. Beliau akan pensiun bulan depan, semua orang di kantor saya dapet jatah warisan. Waktu dia menyerahkan ketiga buku itu kepada saya, dijelaskan kenapa dia pilih buku-buku itu untuk diwariskan kepada saya; sebab ini bidang saya. Dari alasan itu saja sudah terlihat bahwa hadiah buku itu sangat personal karena si pemberi tau apa yang dibutuhkan atau disukai oleh orang yang diberi. Karena, saya yakin bahwa mereka memberi kita sesuatu yang kita butuhkan dan akan kita baca. Sementara membaca adalah proses yang bukan hanya kamu bisa membaca saja, tapi kamu mengolah informasi, memahami suatu konteks. Aktivitas membaca ini kompleks dan kamu harus mendalami proses itu supaya tidak buang-buang waktu. Karea itu bagi saya, buku itu sangat personal.

Selain itu, dengan adanya tiga buku baru di rak saya, seperti tamparan berulang-ulang yang mengatakan "it's time for you to start reading and do it as a routine."
Foto diambil dari sini
Saya sudah tinggal di Malaysia sejak Agustus 2007. Sampai 2016 saya menetap di Semenanjung, di Bangi tepatnya. Penerbangan dari Kuala Lumpur International Airport ke Jakarta banyak setiap harinya, jadi kalau perlu pulang atau teringin pulang ke Indonesia, lebih mudah akesnya, harga tiket pun terjangkau. Pengalaman pulang kampung ini berbeda ketika saya pindah ke Kota Kinabalu. Sejak Januari 2017, penerbangan langsung Kota Kinabalu (BKI) - Jakarta (CGK) sudah tidak ada lagi. Dengan begitu, pulang kampung tidak lagi menjadi mudah, pun tidak lagi murah. Walaupun penerbangan langsung BKI - CGK tidak tersedia setiap hari, paling tidak dalam satu minggu itu adalah beberapa hari yang bisa dipilih untuk jadwal pulang kampung; penerbangan langsung, cepat dan harga terjangkau. Sejak Januari itu, mau atau tidak, harus transit dahulu di Kuala Lumpur atau Singapura sebelum terbang ke Jakarta. Selain waktu yang lebih panjang, biaya yang dibutuhkan untuk pulang kampung juga jadi dua kali lipat *nangis di pojokan*.

Dulu, waktu masih tinggal di Semenanjung, saya jarang pulang untuk merayakan Idul Adha. Biasanya karena sebelumnya sudah pulang lama untuk merayakan Idul Fitri dengan keluarga, selain itu juga karena memang tidak ada libur yang panjang pada perayaan Idul Adha. Tapi ada jugalah sesekali saya pulang. Nah, sekarang pengalamannya berbeda. Karena Mas Bromo belum bisa punya visa tanggungan, jadilah kami masih tinggal terpisah. Perayaan-perayaan atau kalau ada hari libur yang agak panjang ini bikin hati galau; ingin pulang, bisa atau tidak, ya? Seperti akhir bulan ini, tanggal 31 Agustus yang jatuh pada hari Kamis adalah hari kemerdekaan Malaysia, sementara 1 September yang jatuh pada hari Jumat adalah hari raya Idul Adha, nah! Kebayang dong bagaimana berbinarnya setiap generasi pekerja Senin-Jumat melihat tanggalan berwarna merah di hari Kamis dan Jumat? Tapi kemudian, selain kerjaan memang sedang menumpuk, tiket pulang di tanggal cantik itu pun selangit harganya. Barulah merasakan 'aku ingin pulang, tapi apa dayaku tidak mungkin mewujudkan', ini. Gitu deh, nasib perantau...

Inti dari postingan ini sebenernya cuma mau curhat menye-menye aja dikit :))
Lagi pingin pulang, kangen sama suami XD 
foto diambil dari sini
Semua bibit kalau tidak ditanam memang tidak akan tumbuh. Dulu selalu meratapi ide-ide yang tidak pernah wujud jadi apa-apa, bahkan rencana pun tidak tampak. Inget betul, sejak kecil, di kepala saya banyak ide bertebaran. Dari sekedar kotak tidak terpakai yang di kepala saya berubah wujud menjadi pajangan atau sesuatu yang lebih berguna berbanding nasibnya yang kemudian hanya di tempat sampah. Tentang keinginan punya rak yang berisi buku banyak dan di kepala menjadi sebuah ide membuat satu tempat yang nyaman dijadikan tempat untuk berjumpa, berbincang dan duduk diam membaca. Dan tentang banyak hal yang tidak pernah saya wujudkan jadi apa-apa selain dari 'andai saja'. 

Ketika si A, B atau C mulai terlihat berdiri di sebelah tanaman yang perlahan tumbuh tinggi, saya kemudian berpikir, dan tidak jarang meratapi, kenapa saya tidak lakukan apa yang ada di pikiran saya selama ini? kenapa sibuk saja berpikir 'bagaimana kalau?' yang berakar berkuadrat menutup ide dan keinginan itu sendiri.

Saya tahu bahwa tidak ada jalan yang mudah. Bahkan perjalanan sekolah saya yang tujuh tahun lamanya itu, pun berbeda cara menyiramnya dengan pengalaman orang lain. Tapi apalah gunanya membandingkan, kan? Terpenting adalah bibit yang ada ditanam, dirawat, biarkan tumbuh dan kelak kamu akan bisa berteduh di bawahnya.

Memulai usaha kecil yang berawal dari hobi, tidak pernah terbayang bahwa saya akan ada di jalan itu. Sudah sejak seribu tahun lalu keinginan itu ada. Tapi kemudian kebingungan; saya punya hobi apa? Akhirnya bulan lalu, dengan modal seadanya, gak meneruskan pemikiran-pemikiran 'bagaimana kalau?' saya memulai usaha kecil saya; menyediakan makanan sarapan untuk orang-orang kantor

Masih ingat, waktu itu hari Sabtu, saya dibantu oleh suami, kami belanja kotak makan, sendok, karet, tissue dan bahan-bahan baku untuk memasak sarapan. Tidak banyak yang dibeli, hanya menghitung untuk pesanan tiga hari. Pun ketika membeli kotak makanan, yang harus dibeli satu bungkus isi 100 kotak, saya agak pesimis; bisa kejual semua, kah? Tapi kemudian pikiran itu saya buang jauh-jauh dan tidak berusaha menjawab. Karena saya sudah janji: saya mau mulai melangkah.

Ingat betul, seorang teman yang mendukung saya untuk jualan pernah bilang "pasti mereka mau beli lah, kebantu banget tuh ada sarapan di kantor, tapi nanti jangan patah semangat kalau pesanan makin surut, namanya manusia, ada juga bosannya." Di dua minggu pertama masa berjualan, sehari pesanan bisa sampai 12 porsi. Senang? PASTI! Tapi kemudian saya tidak mau melambung tinggi-tinggi, karena saya tau, yang namanya jualan pasti ada naik dan turunnya. Saya tidak mau ketika pesanan hanya sedikit, kemudian saya sedih dan menduga macam-macam.

Dari proses melepaskan diri dari ketakutan, keraguan kemudian menjadi sebuah langkah kecil, tuh, bagi saya hal yang luar biasa. Punya suami, keluarga dan teman yang mendukung juga tidak kalah pentingnya dan bersyukurnya saya. Jarang saya melangkah ketika semua pertanyaan "bagaimana kalau?" belum terjawab semua. Karena saya selalu melangkah dengan antisipasi; kalau gini, harus melakukan itu. Selalu harus tau apa yang akan saya lakukan kalau ada hambatan di kemudian hari. Tapi kali ini, dan mungkin ada beberapa kali keputusan serupa saya buat, saya cukup lega karena sedikit keberanian yang saya punya telah membawa ke arah yang lebih baik.

Saya lupa mau cerita apa lagi :'D
Segitu dulu, deh.

Intinya sih: kalau punya potensi, ide, niat...jalankan!