Beberapa waktu lalu saya ada nulis tentang aktivitas memasak di sini. Masih inget banget gimana senangnya memulai hari dengan turun ke dapur dan memasak menu sarapan buat teman-teman di kantor. Belum lagi ketika melihat semua makanan sudah terhidang, duh, seneng banget! Waktu saya memulai, what so called as business, itu adalah masa-masa kerjaan di kantor tidak terlalu banyak, tidak ada jam mengajar sebab sedang libur semesteran. Nah, saya punya ruang yang luas untuk berekspresi tanpa takut kehabisan waktu karena harus belajar dan mempersiapkan bahan ajar di kelas. Nah, begitu masuk semester baru, dapet jadwal mengajar yang lebih padat berbanding semester sebelumnya, ditambah lagi pekerjaan-pekerjaan administratif, saya angkat tangan >.<

Saya libur dulu jualannya. Ada yang hilang rasanya, rutinitas pulang kantor yang langsung diisi dengan potong-potong bahan masakan, bangun pagi dan memasak, sampai di kampus eh, sudah ditunggu teman-teman yang kelaparan dan penasaran dengan sarapan pagi itu. Belum lagi melihat mereka makan dengan lahap, itu membahagiakan sekali. Di akhir minggu menghitung keuntungan, belanja untuk bahan jualan selanjutnya. Adalah rasa letih, tapi menyenangkan.

Nanti kalau libur semesteran, saya mau mulai jualan lagi :)
Foto diambil dari sini
Teman-teman yang suka iseng bacain tulisan saya di sini mungkin bosan dengan saya yang selalu mulai lagi, mulai lagi dan mulai lagi mencoba hidup lebih baik. Iya, berawal dari beberapa tahun lalu waktu saya bolak balik sakit melulu, kemudian mencoba mencari tahu apa yang salah dari pola hidup saya sehari-hari sampai pada titik saya menemukan AHA! pola makan saya yang bermasalah.

Nah, saya sudah 10 bulan di Kota Kinabalu, lingkungan kerjanya menyenangkan, pola hidupnya juga berbeda dengan pola hidupnya. Belakangan saya merasakan serunya ikut sarapan sama teman-teman di kantor, makan ke kantin sama-sama, pesan teh tarik atau minuman manis lainnya, makan kue tradisional yang beraneka ragam dan rasanya enak-enak. Sehari, dua hari, seminggu, dua minggu, sampailah jadi kebiasaan. Saya masih rutin konsumsi buah sebelum berangkat ke kantor, masih bawa bekal sayuran mentahan atau bahkan bawa bekal makan siang, masih juga rajin bikin jus sayur kala malam untuk menyeimbangkan asupan yang asam dengan yang basa.

Tapi makin hari, kuantitas asupan yang ber-pH asam dan makanan minuman manis makin tidak terkendali dan melebihi kuantitas asupan baiknya. Berat badan saya melesat tajam, 5 kilogram dalam aktu 6 bulan, mungkin? Belum lagi muka berbuah jerawat silih berganti. Baju-baju juga mulai sempit >.< Kacau banget deh. Malah ada satu ketika itu, badan saya berasa digebukin waktu bangun tidur pagi. It was awful!

Sudah dua bulan ini saya paksakan diri untuk melakukan yoga di pagi atau malam hari ketika pulang dari kerja. Saya pastikan dalam seminggu minimal 5 kali saya melakukan yoga. Saya pilih beberapa posisi yang memang sedang diperlukan, mengingat saya terbiasa duduk satu hari penuh dan hampir setiap hari mengenakan sepatu hak tinggi. Selain itu, sebulan terakhir ini saya biasakan jalan sore, biasanya 3 kilometer. Kegiatan jalan sore ini cuma 2-3 kali seminggu, ditemani teman kantor. Kebetulan Kota Kinabalu ini ada beberapa tempat yang asik buat tempat olahraga; lari atau jalan sore.

Sejak mulai rutin berolahraga, badan lebih enak. Selain itu, makan juga lebih saya jaga walaupun masih ngaco; sering kali saya pakai sistem "bayar hutang" :)) Kalau terlalu banyak makan yang aneh-aneh, saya guyur sayur banyak-banyak. Tapi tentu saja itu cara yang salah :P But then, I try myself to get back into my track, slower. 

Semingguan kemarin, sampai hari ini dan insyaAllah seterusnya, saya mulai makan makanan berbasis tumbuh-tumbuhan lagi. Terlalu sering makan protein hewani, terutama ayam yang digoreng, I don't think that's something I really need, nowadays. 

Jadi, mari kembali ke jalan yang sebenar! :D
Instagram: @omduta 
Foto di atas diambil oleh Mas Bromo, pagi hari sebelum kami bergerak ke arah Sembulan. Pemandangan setiap pagi mungkin tidak sama. Ada kalanya gunung itu malu-malu dan bahkan bersembunyi di balik awan. Ada kalanya sangat dramatis, dengan sorotan sinar matahari, konturnya jelas terlihat. Setiap pagi, keluar saja dari rumah, saya langsung mengecek bagaimana pemandangan gunung Kinabalu dari depan rumah. Pagi itu, hari di mana Mas Bromo saya panggil untuk memotret pemandangan indah ini, merupakan salah satu pagi yang indah bagi saya. Ingat betul, saya keluar rumah lebih dulu, sementara Mas Bromo masih siap-siap, dari depan saya lari ke dalam rumah dan memintanya untuk bawa kamera dan memotret gunung itu. Hasilnya mendekati yang saya lihat dengan mata telanjang. Cantik. 

Begitulah pemandangan saya setiap pagi. Lihat alam membentang di depan mata selalu bikin semangat untuk memulai hari :) 

Saya selalu melihat hadiah berupa buku sebagai hadiah yang "mahal", romantis, dan selalu touchy karena sangat personal. Di hari ulang tahun saya, beberapa teman pernah membelikan saya buku. Ada juga beberapa kali saya dan beberapa teman saling membelikan buku yang kami pikir sangat menarik dan akan bermanfaat di kemudian hari bagi satu sama lain. Pernah lagi, waktu dosen pembimbing saya menjelang masa pensiun, dia memberi saya satu buku Qualitative Methodology. Saya bukan main senangnya waktu itu. Nah, beberapa hari lalu atasan saya juga mewariskan tiga buku miliknya. Beliau akan pensiun bulan depan, semua orang di kantor saya dapet jatah warisan. Waktu dia menyerahkan ketiga buku itu kepada saya, dijelaskan kenapa dia pilih buku-buku itu untuk diwariskan kepada saya; sebab ini bidang saya. Dari alasan itu saja sudah terlihat bahwa hadiah buku itu sangat personal karena si pemberi tau apa yang dibutuhkan atau disukai oleh orang yang diberi. Karena, saya yakin bahwa mereka memberi kita sesuatu yang kita butuhkan dan akan kita baca. Sementara membaca adalah proses yang bukan hanya kamu bisa membaca saja, tapi kamu mengolah informasi, memahami suatu konteks. Aktivitas membaca ini kompleks dan kamu harus mendalami proses itu supaya tidak buang-buang waktu. Karea itu bagi saya, buku itu sangat personal.

Selain itu, dengan adanya tiga buku baru di rak saya, seperti tamparan berulang-ulang yang mengatakan "it's time for you to start reading and do it as a routine."
Foto diambil dari sini
Saya sudah tinggal di Malaysia sejak Agustus 2007. Sampai 2016 saya menetap di Semenanjung, di Bangi tepatnya. Penerbangan dari Kuala Lumpur International Airport ke Jakarta banyak setiap harinya, jadi kalau perlu pulang atau teringin pulang ke Indonesia, lebih mudah akesnya, harga tiket pun terjangkau. Pengalaman pulang kampung ini berbeda ketika saya pindah ke Kota Kinabalu. Sejak Januari 2017, penerbangan langsung Kota Kinabalu (BKI) - Jakarta (CGK) sudah tidak ada lagi. Dengan begitu, pulang kampung tidak lagi menjadi mudah, pun tidak lagi murah. Walaupun penerbangan langsung BKI - CGK tidak tersedia setiap hari, paling tidak dalam satu minggu itu adalah beberapa hari yang bisa dipilih untuk jadwal pulang kampung; penerbangan langsung, cepat dan harga terjangkau. Sejak Januari itu, mau atau tidak, harus transit dahulu di Kuala Lumpur atau Singapura sebelum terbang ke Jakarta. Selain waktu yang lebih panjang, biaya yang dibutuhkan untuk pulang kampung juga jadi dua kali lipat *nangis di pojokan*.

Dulu, waktu masih tinggal di Semenanjung, saya jarang pulang untuk merayakan Idul Adha. Biasanya karena sebelumnya sudah pulang lama untuk merayakan Idul Fitri dengan keluarga, selain itu juga karena memang tidak ada libur yang panjang pada perayaan Idul Adha. Tapi ada jugalah sesekali saya pulang. Nah, sekarang pengalamannya berbeda. Karena Mas Bromo belum bisa punya visa tanggungan, jadilah kami masih tinggal terpisah. Perayaan-perayaan atau kalau ada hari libur yang agak panjang ini bikin hati galau; ingin pulang, bisa atau tidak, ya? Seperti akhir bulan ini, tanggal 31 Agustus yang jatuh pada hari Kamis adalah hari kemerdekaan Malaysia, sementara 1 September yang jatuh pada hari Jumat adalah hari raya Idul Adha, nah! Kebayang dong bagaimana berbinarnya setiap generasi pekerja Senin-Jumat melihat tanggalan berwarna merah di hari Kamis dan Jumat? Tapi kemudian, selain kerjaan memang sedang menumpuk, tiket pulang di tanggal cantik itu pun selangit harganya. Barulah merasakan 'aku ingin pulang, tapi apa dayaku tidak mungkin mewujudkan', ini. Gitu deh, nasib perantau...

Inti dari postingan ini sebenernya cuma mau curhat menye-menye aja dikit :))
Lagi pingin pulang, kangen sama suami XD 
foto diambil dari sini
Semua bibit kalau tidak ditanam memang tidak akan tumbuh. Dulu selalu meratapi ide-ide yang tidak pernah wujud jadi apa-apa, bahkan rencana pun tidak tampak. Inget betul, sejak kecil, di kepala saya banyak ide bertebaran. Dari sekedar kotak tidak terpakai yang di kepala saya berubah wujud menjadi pajangan atau sesuatu yang lebih berguna berbanding nasibnya yang kemudian hanya di tempat sampah. Tentang keinginan punya rak yang berisi buku banyak dan di kepala menjadi sebuah ide membuat satu tempat yang nyaman dijadikan tempat untuk berjumpa, berbincang dan duduk diam membaca. Dan tentang banyak hal yang tidak pernah saya wujudkan jadi apa-apa selain dari 'andai saja'. 

Ketika si A, B atau C mulai terlihat berdiri di sebelah tanaman yang perlahan tumbuh tinggi, saya kemudian berpikir, dan tidak jarang meratapi, kenapa saya tidak lakukan apa yang ada di pikiran saya selama ini? kenapa sibuk saja berpikir 'bagaimana kalau?' yang berakar berkuadrat menutup ide dan keinginan itu sendiri.

Saya tahu bahwa tidak ada jalan yang mudah. Bahkan perjalanan sekolah saya yang tujuh tahun lamanya itu, pun berbeda cara menyiramnya dengan pengalaman orang lain. Tapi apalah gunanya membandingkan, kan? Terpenting adalah bibit yang ada ditanam, dirawat, biarkan tumbuh dan kelak kamu akan bisa berteduh di bawahnya.

Memulai usaha kecil yang berawal dari hobi, tidak pernah terbayang bahwa saya akan ada di jalan itu. Sudah sejak seribu tahun lalu keinginan itu ada. Tapi kemudian kebingungan; saya punya hobi apa? Akhirnya bulan lalu, dengan modal seadanya, gak meneruskan pemikiran-pemikiran 'bagaimana kalau?' saya memulai usaha kecil saya; menyediakan makanan sarapan untuk orang-orang kantor

Masih ingat, waktu itu hari Sabtu, saya dibantu oleh suami, kami belanja kotak makan, sendok, karet, tissue dan bahan-bahan baku untuk memasak sarapan. Tidak banyak yang dibeli, hanya menghitung untuk pesanan tiga hari. Pun ketika membeli kotak makanan, yang harus dibeli satu bungkus isi 100 kotak, saya agak pesimis; bisa kejual semua, kah? Tapi kemudian pikiran itu saya buang jauh-jauh dan tidak berusaha menjawab. Karena saya sudah janji: saya mau mulai melangkah.

Ingat betul, seorang teman yang mendukung saya untuk jualan pernah bilang "pasti mereka mau beli lah, kebantu banget tuh ada sarapan di kantor, tapi nanti jangan patah semangat kalau pesanan makin surut, namanya manusia, ada juga bosannya." Di dua minggu pertama masa berjualan, sehari pesanan bisa sampai 12 porsi. Senang? PASTI! Tapi kemudian saya tidak mau melambung tinggi-tinggi, karena saya tau, yang namanya jualan pasti ada naik dan turunnya. Saya tidak mau ketika pesanan hanya sedikit, kemudian saya sedih dan menduga macam-macam.

Dari proses melepaskan diri dari ketakutan, keraguan kemudian menjadi sebuah langkah kecil, tuh, bagi saya hal yang luar biasa. Punya suami, keluarga dan teman yang mendukung juga tidak kalah pentingnya dan bersyukurnya saya. Jarang saya melangkah ketika semua pertanyaan "bagaimana kalau?" belum terjawab semua. Karena saya selalu melangkah dengan antisipasi; kalau gini, harus melakukan itu. Selalu harus tau apa yang akan saya lakukan kalau ada hambatan di kemudian hari. Tapi kali ini, dan mungkin ada beberapa kali keputusan serupa saya buat, saya cukup lega karena sedikit keberanian yang saya punya telah membawa ke arah yang lebih baik.

Saya lupa mau cerita apa lagi :'D
Segitu dulu, deh.

Intinya sih: kalau punya potensi, ide, niat...jalankan!
Pic taken from here
If there is an opportunity for you to learn, go for it!
Never doubt of yourself for people surround you believe in your capability, why can't you?
Foto (c) jinjinger
Dari jaman SMP, sejauh yang saya ingat, saya sering membawa bekal atau biasa disebut orang bontotan. Dari kebiasaan itu, teman-teman di kelas ikutan bawa bekal juga. Jadilah jam makan siang kami ramai-ramai di kelas membuka kotak makan dan kadang-kadang saling mencicip bekal masing-masing. Kebiasaan membawa bekal ini pun saya lakukan ketika sudah bekerja. 

Waktu sekolah di Malaysia, kebiasaan membawa bekal ini sangat membantu. Saya sekolah lama, dibiayai orang tua pula. Uang yang ada harus dimanfaatkan semaksimal mungkin. Membawa bekal ini sangat, sangat, sangat membantu; dari segi kreativitas, keuangan dan dari segi kesehatan.

Dari segi kreativitas:
Sejak masak sendiri, saya jadi rajin cari resep-resep baru atau kalau lagi kangen makanan ini itu, saya coba masak makanan itu sendiri. Pengalaman ini bikin saya makin kreatif berkreasi dengan bahan-bahan; bumbu-bumbu, bahan pati, sayuran dan protein (hewani dan nabati).

Penyajian pun diupayakan menarik, entah itu dari penyusunan makanan di dalam kotak bekal atau bentuk makanan dimasak dengan tampilan yang menyelerakan. Dari sini, kadang-kadang  kalau kesambet, saya belajar plating, belajar padu padan warna makanan dan belajar membuat hiasan dari sayuran.

Dari segi keuangan:
Dengan membawa bekal, saya malah bisa nabung! Seporsi makanan untuk menu makan siang atau makan malam biasa saya beli dengan harga RM 5 - RM 7. Untuk sarapan biasanya sekitar RM 2 - RM 4. Nah, dengan jumlah uang segitu bisa saya pakai untuk belanja sayuran satu minggu :'D sayuran aja, lho. Biasanya ke pasar malam saya mengeluarkan uang RM 20 - RM 30 paling banyak untuk kebutuhan sayur mayur, buah-buahan dan protein. 

Dari belanja mingguan aja udah keliatan betapa masak sendiri itu lebih irit. Di awal bulan biasanya saya belanja beras dan bumbu dapur, itu pun tidak pernah lebih dari RM 50. Jadi kalau dihitung-hitung, sebulan menghabiskan uang sekitar RM 200 - RM 250. Sementara itu, kalau selalu beli di luar, hitung-hitungannya bisa dua kali lipat. Menghemat dari sisi ini bisa membantu keuangan kita; dari yang ngepas menjadi cukup; dari yang tidak bisa menabung, jadi bisa menabung :)

Dari segi kesehatan:
Sejak saya mengikuti pola makan Food Combining, membawa bekal sendiri itu sangat membantu. Setidaknya saya tahu bahan-bahan yang digunakan untuk memasak. Tidak ada MSG dan gula. Menggunakan garam yang baik. Minim oksidasi walaupun masih terpapar panas. Saya juga tahu bahan-bahan yang saya pilih adalah yang terbaik yang bisa saya temukan. Dari poin-poin itu, saya bisa yakin bahwa apa yang saya makan lebih baik dari sebelumnya. 

Nah, gimana? Banyak ya manfaat membawa bekal sendiri dari rumah?
Bawa bekal, yuk!