Setahun lalu Mas Bromo sempet nyepik bahwa tahun ini insyaAllah kami akan bisa ibadah puasa sama-sama. Alhamdulillah doa Mas Bromo, dan saya, terkabul. Awal bulan Mei ini alhamdulillah kami melangsungkan pernikahan. Empat tahun lebih menjalani peran sebagai sepasang kekasih, tjailah, sudah memberi banyak pelajaran melalui pengalaman ketawa, marah, bahagia, gundah dan lainnya sama-sama. Tepat 6 Mei 2017 lalu, kami memulai peran baru sebagai sepasang suami-istri, insyaAllah sampai maut memisahkan. 

Saya hanya mampu membaca bismillah dan bismillah dan terus bismillah di setiap langkah kami berdua. Tidak pernah ada yang sempurna, tapi insyaAllah barokah. Aamiin.

Jadi, gimana rasanya dimasakin istri, Mas? Seneng, dong :D 



Living in a new place, moving into a new house, staying in a new environment have made me a stranger. Few number of acquaintances, going here and there alone most of the time and trying to survive without any pain in the ass is a combo of being a sojourner. But then, we have to find a way to survive during the sojourn.

What I do is throwing an idea of gathering with people I barely know in the office for a potluck. I love cooking and serve my friends with whatever I have made. As long as it can be eaten, so it is entitled as food :)) I propose a lottery potluck, what so called as arisan in Indonesia, as one of the ways to mingle with the new milieu. 


So, Arisan is part of my environment here, now. It's fun yet full of drama! 
Foto dari Google Image
Jarang ada teman yang percaya kalau saya ini introvert. Orang yang pertama kali ketemu akan mengira saya extrovert karena bisa banyak berbicara dan (katanya) peramah. Tapi di lain kesempatan, saya dikira judes tak terkira karena cenderung diam tidak bersuara. Tidak banyak teman, atau orang, yang bisa menangkap atau mengerti bahwa saya ini introvert. Bahkan teman dekat dan keluarga saya sendiri. 

Tidak jarang saya ditodong untuk mengemukakan pendapat di dalam forum dan saya kelabakan mengeluarkan apa yang ada di dalam pikiran. Kemudian dianggap pemalu dan tidak bisa berpikir hanya karena waktu itu saya tidak bisa menyampaikan apa yang saya pikirkan. Di lain waktu, saya bisa jadi penceramah hebat tentang A, B atau C dengan satu orang teman yang bisa membuat saya nyaman untuk berbicara.
Foto dari Google Image
Ketika saya diam atau tidak aktif dalam berinteraksi, banyak alasannya. Tidak melulu tentang tidak nyaman atau kesal. Ada kalanya energi saya habis terserap orang-orang di sekitar yang sangat aktif. Bisa juga karena terlalu banyak orang, sehingga saya tidak bisa mengemukakan pendapat apa-apa. Tapi bukan berarti saya tidak peduli. Bahkan sering kali saya terlalu detil memperhatikan orang-orang di sekitar sampai kelelahan. Saya jaraaang bisa menunjukkan rasa sayang dan kangen atau cinta saya kepada orang-orang di sekitar. Cara saya menunjukkannya biasanya dengan membuatkan makanan, menyiapkan bekal dan perlengkapan yang dibutuhkan, ingat hari ulang tahun bahkan setelah bertahun-tahun tidak bertemu, kirim text untuk menanyakan apa kabar di waktu-waktu yang tidak disangka-sangka. 

Tidak jarang juga saya dianggap tidak peduli karena jarang menelepon atau melakukan video calling. Saya tidak nyaman melakukannya, saya gugup tidak tahu harus bercerita apa dan bersikap bagaimana. Jadi, kurangnya aktivitas menelepon dan video calling itu bukan karena saya tidak peduli. Tapi karena saya tidak bisa. Pernah saya mencoba, lebih dari dua minggu juga berlangsungnya. Saya setiap hari menelepon. Normatif saja. Tapi jadinya aneh. Bahkan dengan pacar sendiri pun, kalau bertelepon banyakan diam daripada berbicara. Mungkin nyamannya begitu. 
Foto dari Google Image
Ada kalanya saya hanya tidak mau berbicara dengan siapa pun. Ketika ada yang menelepon, saya biarkan telepon itu berbunyi hingga mati, karena saya yakin nanti orang itu akan kirim text kepada saya. Kalau memang sangat penting, dia pasti akan menyampaikan bahwa ada hal urgent dan sangat penting, tidak bisa melalui text. Kemudian saya akan siap untuk menerima panggilan itu. Other than that, if you can text, just text since I have no energy to talk with you. I don't hate you or ignore you, I just cannot talk to people at the moment. 

Saya suka ketemu orang. Bahkan biasanya saya yang mengusulkan untuk bertemu dan berkumpul bersama-sama. Walaupun saya tahu, setengah pertemuan itu saya akan sangat letih menyerap energi-energi orang di sekitar. Walau bahagia, saya tidak bisa membohongi diri saya bahwa durasi sekian jam itu terlalu lama untuk berkumpul dengan ramai orang. Bahkan beberapa waktu lalu ada business trip selama 7 hari, saya kelelahan di hari ke-4. Saya sekamar dengan 2 kolega lainnya, pergi ke seminar yang sama, pergi makan sama-sama dan satu hari penuh kegiatan dilakukan bersama selama 7 hari. What I was thinking is laying on my bed and watch an old movie in my own room without anyone else there. Terlalu sering dan terlalu lama berinteraksi dengan banyak orang itu melelahkan. Belum lagi kalau energi negatif yang beterbangan :(

Foto dari Google Image
Believe me, I can live alone in my home without talking (to people). I once stayed in 5th floor apartment, I mostly just stay home during off time. I experienced the whole week not texting, not calling, not talking. I was just spending my time alone, peacefully. Watching old movies which I have watched for hundred of times. Cooked and ate anything I have in the fridge. And it was a OK.  
Foto dari Google Image
Dan tidak apa-apa kalau tidak semua orang paham apa yang saya rasakan ini. Tapi juga sama halnya bukan masalah menjadi orang yang seperti saya. 

Jadi, sejak beberapa bulan terakhir ini, pola makan saya acak-acakan. Begitu gak enak tenggorokan, saya balik ke pola makan yang sebetulnya harus saya jalani setiap hari tanpa terkecuali. Tapi kemudian tergoda lagi dengan makanan-makanan baru dan jajanan-jajanan kantin, jadilah makan lagi. Malahan saya sampai berani-beraninya melanggar aturan bahwa segimana pun keinginan untuk cheating, sarapan tetap harus buah. Padahal saya tau betul, sekali saja saya melanggar aturan itu, badan saya ngiuk-ngiuk alarm-nya; begah, mual, pusing, mengantuk. 

Belum lagi saya sekarang lebih sering makan protein hewani berbanding nabati. Sepele sih, protein hewani lebih mudah dicari. Kadang mau makan siang atau malam tapi bingung makan apa, yang ada ayam penyet lagi, ayam goreng lagi, gitu terus. Sayur andalan saya ya buatan rumah, karena sering kali tidak ketemu dengan sayur (yang belum dimasak) untuk penyeimbang basa. Bahkan sayur yang sudah dimasak pun tidak terlalu banyak pilihan dan bahkan tidak semua warung makan menyediakan. 

Akhirnya, seminggu yang lalu saya buat satu challenge, #14daysplantbasedchallenge. Tujuannya sih memotivasi diri sendiri untuk kembali ke jalan yang benar haha. Akhirnya adalah satu orang teman yang ikut, lumayan. Jadi, setiap hari kami akan tulis dan posting makanan dan minuman apa saja yang kami makan, sebanyak apa cheating-nya, dan makanan diusahakan betul berbasis dari tumbuhan. 

Di hari ke-5 saya harus berangkat ke luar kota untuk mengikuti seminar. Waduh, ini bakalan kacau. Walaupun saya sudah meminta panitia untuk menyediakan makanan vegetarian, nyatanya yang disajikan tidak terlalu bersahabat. Saya bawa beberapa butir apel untuk sarapan selama di sana. Minimal sarapan pertama saya buah deh. Lanjut di seminar disediakan sarapan berat, super berat malah; nasi goreng, bihun goreng, mie goreng, telur goreng, aneka kue, teh, kopi dan air minum (RO). Biasanya saya ambi bihun atau nasi goreng, cukup untuk ganjel sampai ketemu coffee break. Saya selalu nyolong air minum botolan sebanyak yang bisa saya bawa. Hotel saya hanya menyediakan 1 botol, di sekitar hotel maupun tempat seminar tidak ada warung, transportasi yang bisa kami gunakan untuk mobile dari hotel ke tempat seminar adalah shuttle van yang tidak bisa fleksibel bawa kami ke sana ke mari. Jadi, ambil beberapa botol air minum untuk persediaan adalah ide yang cemerlang :D Kalau ada kesempatan makan di luar, saya pastikan yang dimakan adalah makanan berbasis tumbuhan. Teman-teman juga sudah tau apa yang akan saya cari untuk makan; sayuran. 

Pulang dari seminar badan saya lelah sekali, belum lagi jerawat nongol di sana sini. Sampai saja di kota tempat saya tinggal, saya langsung melesat ke swalayan terdekat untuk membeli stock sayuran dan buah. Sampai saja di rumah, langsung saya eksekusi jus sebelum tidur. Esok harinya saya berniat juice fasting, saya bawa 1 botol 350mL, 1 botol 450mL, 1 botol 250mL dan 1 botol 150mL. Ternyata jumlah itu kurang untuk kebutuhan saya dari pagi sampai pulang lagi ke rumah. Akhirnya makan juga :)) Tapi saya usahakan makan makanan yang tetap berbasih tumbuhan. Sampai di rumah saya bikin jus satu porsi lagi. Hari berikutnya juga begitu, saya minum 4 porsi jus. Jus ini saya campur antara sayur dan buah. Badan saya cepat pulih dari rasa letih, rasa kantuk tiap pagi yang sering datang juga sudah kabur dan jerawat pada kering! 

Karena sudah pernah mengalami diare dan demam tahun lalu yang pengobatannya hanya saya serahkan pada sayur dan buah segar, ternyata sembuhnya jauh lebih cepat. Untuk jerawat, saya sudah mulai tau bahwa setiap kali saya minum/makan manis-manis (yang bukan alami) dan makan gluten, pasti jerawat datang. Obatnya? Perbanyak asupan basa! Dulu, saya kalau jerawatan bisa lama radangnya. Nyut-nyutan. Belum lagi hilang bekasnya entah kapan. Tapi sekarang, perbanyak asupan basa, maka si jerawat nakal langsung kabur semua.

Saya percaya bahwa makanan hidup (dibaca: sayur dan buah segar) sangat membantu kita untuk hidup lebih sehat secara utuh, bukan artifisial saja. Kulit mau mulus? Kurangi makan makanan yang teroksidasi dan prothew. Saya pernah tuh ngerasain kulit mulus lus lus waktu saya menjalani pola hidup vegetarian. Gak lama, dua mingguan gitu deh. Tergoda sama ayam goreng doang tuh jadinya tumbang hahaha. 

Nah, rencananya saya mau lanjutin plant based eating-nya sampai satu bulan ke depan. Kalau bisa ya lebih panjang lagi. Tapi di sela-selanya juga adalah saya kasih kesempatan untuk cheating :D Tapi dalam satu minggu saya usahakan untuk makan 90% buah dan sayur/tumbuhan.

Semoga sehat ya!

Sudah sebulanan ini saya lagi keranjingan buat green smoothie. Tapi bukan dalam koridor eksklusif buah atau sayur, tapi saya campur.

Ide ini awalnya muncul sejak saya mulai banyak baca tentang menu-menu vegetarian dan vegan, sering ubek-ubek instagram untuk cari ide menu berbasis sayur dan buah, sampai di satu titik saya baca bab sayur boleh di campur dengan buah di salah satu buku panduan menjalankan Food Combining. Selain perjalanan mempelajari hidup dengan mengkonsumsi makanan berbasis tumbuhan, saya juga mulai kebablasan cheating  saya nakal!

Nah, alasan terakhir itu menjadi penguat niat saya untuk menambah asupan sayur dan buah dalam menu harian. Saya putuskan untuk mencoba konsumsi green smoothie yang terbuat dari kombinasi sayuran dan buah.
Awalnya agak khawatir kalau-kalau pencernaan saya sensitif. Setelah dicoba beberapa hari, saya perhatikan aman-aman saja. Alhamdulillah. Jadi, saya teruskan deh misi ini.
Saya biasanya bikin dengan perbandingan 80-90% sayuran, diutamakan yang hijau, dan 10-20% buah. Biasanya saya hanya menggunakan satu jenis buah untuk campuran, cuma supaya rasanya tidak terlalu langu aja. Pun saya tetap konsumsi buah-buahan untuk sarapan, jadi kombinasi asupan sayur dan buah, saya upayakan, seimbang jumlahnya.

Sejauh ini, saya ngerasa badan lebih segar. Di tengah-tengah kenakalan minum teh tarik setiap hari, iya saya nakal banget, saya pastikan minimal dua kali minum green smoothie dan tetap sarapan eksklusif buah di pagi hari. Ya...adalah dua kali seminggu atau sekali seminggu saya cuma sarapan satu ronde langsung lanjut roti canai haha ini jangan ditiru deh  

Jadi, gitu deh perjalanan saya sekarang. Si green smoothie ini membawa saya pada hobi baru: beli berbagai jenis sayuran hijau yang belum pernah saya coba 

Ke depannya, saya berharap bisa jadi pengkonsumsi 80% sayur dan buah untuk konsumsi sehari-haru. Selain itu, saya mau benar-benar potong penggunaan gula untuk kebutuhan harian. Iya, ini berat haha But I done it before, I am sure I can do it again.

Doakan semakin banyak saya baca, semakin kenceng niat, semakin istiqamah menjalani pola hidup yang lebih sehat. Aamiin.

Kalian mau ikutan juga nge-green smoothie? Yuk, follow akun instagram saya @bebydebear  
Foto dari sini

Baru baca artikel QM Financial yang ini, terpikir mau cerita sedikit tentang literasi finansial dan kepelitan saya hahaha. Sejak kelas 2 SD saya sudah dapat uang jajan bulanan. Inget banget tuh, segepok uang seratusan (Rupiah, perak, bukan ribu. LOL) masih cakep dikasih oleh orangtua setiap tanggal 1. Terserah uangnya mau diapakan; jadi uang saku ke sekolah atau ditabung. Dari pengalaman itu, saya diajarkan mengatur keuangan. Selain itu, dari kecil, Ibu saya selalu bawa saya ke mana-mana, termasuk bolak balik masuk dan keluar bank untuk menabung atau mengambil produk investasi yang ditawarkan oleh bank itu. Gaji ayah saya tidak besar, tapi mereka selalu berusaha untuk hidup cukup; cukup itu termasuk menabung dan investasi.

Awal mula kehidupan rumah tangga mereka, sistem amplop yang digunakan. Menabung? masih angan-angan. Gaji ayah saya kecil waktu itu. Jadi, uang dibagikan ke dalam beberapa amplop untuk keperluan makan mingguan, sewa rumah, bayar air dan listrik. Ingat betul, ibu saya rela tidak beli bakso waktu ngidam karena uangnya tidak akan cukup. Kebayang ya, lagi hamil, ingin makanan tertentu, bukan pun sering beli, tapi tidak mampu beli. Iya, alhamdulillah orangtua saya masih bisa makan. Mungkin ada orang-orang lainnya yang makan saja memang tidak sanggup karena tidak punya uang. 

Nah, dari pelajaran-pelajaran kecil yang disamaikan melalui cerita atau pengalaman pergi ke bank dan sebagainya, termasuk diajarkan baca slip gaji haha, saya jadi banyak berhitung. Bukan pelit, ya. Berhitung. Berapa pun uang yang saya dapat dari orang tua atau saya dapat karena bekerja, saya betul-betul hitung pemakaiannya. Pernah juga memang kecolongan, karena beli A, B atau C jadi makan mie instant atau nasi putih sama gorengan di seminggu terakhir sebelum menuju tanggal 1 bulan berikutnya hahah. Resiko!

Tahun 2010 lalu, saya pertama kali dikenalkan dengan literasi finansial. Saya dibelikan bukunya Ligwinan Hananto. Baca buku itu, seperti ditampar-tampar! Hahaha. Betapa saya tidak tahu apa-apa mengenai finansial selain menabung dan membagi uang sampai cukup hingga gajian berikutnya. Saya baru ngerti, sedikiiiiit, tentang persiapan dana pensiun untuk hari tua, membagikan uang bulanan ke persenan tertentu supaya kita tetap terpenuhi kebutuhan bulanan dan menabung, bahkan berinvestasi. Ukuran yang selalu saya ingat adalah; pengeluaran rutin tidak lebih dari 60%, hutang tidak lebih dari 30% dan tabungan MINIMAL 10%. Hutang ini bisa apa saja, tapi sebisa mungkin tidak berhutang sih, apalagi Kartu Kredit. Kalau tidak ada hutang, angka 30% ini bisa ditarik untuk menambah jumlah tabungan. Atau, bisa 15% untuk main dan sisanya ditambahkan untuk menabung. Jika memungkinkan. Ukuran ini adalah yang ideal, tapi bisa diutak-atik asalkan mental menabung (dan berinvestasi) jangan sampai luntur. Pastikan alokasi itu ada di atas kertas. 

Sejak mulai bekerja, biasanya saya buru-buru pisahkan uang untuk ditabung dan segera bayar semua tagihan. Sisanya saya bagi-bagi untuk sekian minggu dalam satu bulan dan kadang-kadang, kalau gaji lumayan, saya alokasikan untuk senang-senang; belanja atau jalan-jalan. 

Saya pernah kerja dengan gaji tetap, pernah juga kerja dengan pendapatan yang berbeda-beda setiap bulaln. Cara saya memperlakukan uang tetap sama. Begitu uang masuk rekening, terus aja saya kasih label semuanya. Jadi tau bahwa kamu punya uang sekian atau kamu tidak punya uang untuk main, tapi kamu tetap bisa makan. Saya selalu mengusahakan untuk tidak utak atik uang tabungan, sebisa mungkin, sampai ketemu titik di  mana saya memang tidak punya uang lagi dan harus mencangkul isi tabungan, bahkan sampai habis. Ada aja masa-masa seperti itu. 

Tapi bersyukur juga bahwa saya cukup disiplin dengan keuangan, jadi saya tetap bisa bertahan walau sedang terjepit. Yah, ada juga sih beberapa kali akhirnya pakai emergency call :)) Pinjam uang ke teman atau malah minta ke orangtua. Biasanya kalau sampai minta, kondisi saya memang sedang tidak bisa menghasilkan uang. 

Membaca artikel QM Financial itu, saya setuju banget dengan langkah-langkah yang disarankan. Sekarang saya sudah mulai bekerja lagi, ada penghasilan tetap setiap bulan. Begitu gaji masuk ke rekening, saya langsung pisahkan alokasi untuk menabung, investasi dan sadaqah. Pulsa handphone diisi di awal bulan, langsung dalam jumlah tertentu yang bisa akomodir keperluan saya selama sebulan. Setelah itu, begitu awal bulan, saya bayar sewa-sewa. Begitu tagihan air dan listrik datang, saya langsung bayar juga. Sisanya, saya bagi-bagi untuk keperluan bulanan dan groceries. Biasanya saya ambil uang seminggu sekali dari ATM untuk keperluan selama satu minggu; makan, transportasi dan belanja di pasar. Kalau uang minggu itu ada sisa, saya bisa main di akhir pekan. Kalau tidak, ya sudah di rumah saja. 

Untuk makan, saya tricky. Biasanya saya bawa sarapan dari rumah. Kadang-kadang ikut sarapan di kantin kantor, tapi jarang. Makan siang, karena ini waktu untuk sosialisasi, biasanya tiga kali dalam seminggu saya ikut makan ke luar sama teman sekantor. Hari lainnya saya akan bawa bekal dan makan di kantor. Kadang ada juga teman kantor yang bawa bekal, jadi bisa makan sama-sama. Kadang malah saya bawa bekal setiap hari. Dengan begitu, ada saja uang bersisa yang bisa dipakai untuk main atau beli sesuatu yang saya perlu atau untuk keperluan lainnya di luar rutin. Ada kalanya juga saya lagi malas, bisa tiap hari saya makan siang di luar. Agak costy sebetulnya kalau makan di luar, tapi makan dengan kolega itu kadang tidak terbeli juga, kan? Bisa diskusi, tau perkembangan berita terbaru dan lainnya. 

Kalau minggu terakhir menjelang gajian rada mepet nih, pasti ada kebocoran yang saya lakukan! Biasanya terlalu banyak nyemil atau ada kegiatan yang memerlukan dana dan itu saya ambil dari dana mingguan. Tapi, saya selalu berusaha menggunakan jatah bulanan sesuai jumlahnya. Jadi sebisa mungkin tidak mengganggu uang tabungan. Karena uang tabungan berada di akun terpisah, jadi lebih aman. 

Mungkin pengalaman saya ini ya sama saja dengan orang lain. Tapi saya terpikir aja untuk cerita, barang kali ada yang masih bingung atur keuangan ;) 

Banyak yang bertanya kepada saya mengenai resep membuat jus/smoothie sayur dan buah. Di artikel saya yang ini ada contekan padu padan sayur dan buah yang biasanya saya konsumsi sehari-hari. Baca, yuk! 

Artikel saya di www.jejamo.com tentang tips jalan-jalan sendiri, bisa dibaca di sini.