Foto dari sini
Semakin hari, intensitas saya berolahraga semakin berkurang. Ingat betul tahun 2014-2015 rajin banget yoga, entah itu melakukannya sendiri di rumah atau pergi ke yoga studio. Karena excited dengan perkembangan kemampuan tubuh saya, yoga dilakukan hampir sepanjang hari. Ketika sedang bekerja, lalu dilanda bosan, saya akan melakukan satu atau dua posisi yoga yang membuat saya senang dan menambah semangat untuk bekerja kembali. Begitu terus. Ketika sedang getol-getolnya beryoga ria, badan saya singset, walaupun berat badan ya segitu aja. Tidur pun lebih nyenyak. 

Nah, semakin ke sini, ada saja alasan saya untuk tidak melakukan latihan harian. Pagi-pagi dari bangun saja sudah sibuk dengan memasak, bebersih rumah dan bersiap-siap berangkat ke kantor. Sore hari, kadang-kadang saya lakukan juga beberapa posisi yoga sesampainya di rumah setelah pulang kerja. Tapi, sering kali saya pulang kerja lewat maghrib, pun badan sudah sangat lelah. Kadang makan pun saya malas-malasan karena terlalu lelah.

Begitu terus. Sampai akhirnya teman saya memberi tahu satu tempat olahraga yang cukup menyenangkan, Perdana Park. Lokasinya dekat Tanjung Aru di Kota Kinabalu, dekat dari kantor maupun rumah saya. Nah, saya mulai membiasakan bawa pakaian olahraga setiap hari ke kantor. Datang ke kantor lebih awal, dan mengusahakan pulang tenggo--jam 5 teng, langsung go. Kalau pun tidak bisa tenggo, saya biasanya mengusahakan pulang jam 5.30 sore, masih sempat mengejar sunset dan mengejar shalat maghrib di rumah. 

Tapi, sejak punya tanggung jawab baru di kantor, saya geser kegiatan olahraga saya di hari Sabtu dan Minggu. Biasanya saya olahraga di pagi hari, biar hari libur itu dimulai dengan kegiatan yang bermanfaat--cieh! Sering kali saya pergi olahraga sendiri, dan karena Perdana Park itu rame, jadi seru-seru aja. Seneng banget lihat orang-orang yang sudah berusia lanjut ikut olahraga sama-sama di sana. Ada anak-anak dan orang-orang seumuran saya juga, entah itu jogging, jalan santai atau bersenam. Suasananya memang mendukung banget buat bersemangat. 

Biasanya saya jalan cepat saja, tidak kuat lari, pun badan yang gendats bikin lutut sakit kalau lari. Jadilah jalan cepat yang saya pilih, dengan kedua tangan digerakkan sewaktu berjalan. Biasanya saya set untuk jalan lima putaran, satu putarannya sekitar 800m. Biasanya semangat kendor di putaran ketiga karena mulai terasa lelah. Kalau sudah begitu, saya perlambat jalannya, yang penting jalan, bergerak. 

Setelah selesai jalan, saya pendinginan. Kadang melakukan beberapa posisi yoga yang bisa membantu memperbaiki postur. Saya kerja satu harian, kebanyakan duduk. Tulang belakang sering terasa sakit. Beberapa posisi yoga cukup membantu meredakan dan sebagai upaya agar postur tubuh tidak ngaco karena posisi duduk seharian, apalagi posisi duduk yang salah.

Jadi, menjelang 2018 ini, saya ingin memacu diri saya untuk bergerak lebih banyak, mudah-mudahan saya lebih sehat, lebih bugar. Aamiin. 
Pic taken from here

It's tiring to fulfill what other people expect from you. To satisfied and pleased everyone. When you yourself is not okay about doing it. You sometimes to tired to think about everyone else. Yet forgot about your own self.

I learn to accept that it is okay to be not okay once in a while. I do whatever I could possibly do, and learn from the mistake that I made. I wish I never did. 


Gambar diambil dari sini 
Semua orang memiliki budaya penggunaan waktu yang berbeda-beda. Pindah dari satu kota ke kota lainnya membuat saya belajar banyak tentang budaya orang-orang di daerah itu. Saya sendiri tetap ribet dengan aturan saya--mau ngapain jam berapa lalu dilanjut ngerjain apa.

Sering kali saya datang ke kantor awal bukan karena saya rajin, tetapi saya ingin menggunakan waktu sebelum jam 8 pagi untuk mempersiapkan diri sebelum mulai bekerja. Atau kadang-kadang saya  memang mulai bekerja awal. Ada lagi kalanya saya pulang kerja lambat bukan karena saya betah banget di kantor, tapi lebih karena saya ingin pekerjaan selesai dan tidak membebani to-do-list untuk esok hari. Kadang, eh sering kali sih, di tengah-tengah kerjaan adaaa aja kerjaan lain yang harus saya kerjakan, jadi to-do-list terbengkalai. Makanya kemudian saya memutuskan untuk stay back.

Pagi hari, sering kali saya ingin melakukan konfirmasi ini dan itu di awal waktu kerja. Tetapi sering kali pula tergendala karena orang yang ingin dihubungi belum sampai atau masih sarapan. Kadang ada keselnya juga, sih :D Pace kerja setiap orang beda-beda. Ada yang cepat dan beres, ada yang cepat dan tidak beres, ada yang lama tepat waktu dan ada pula yang gak selesai-selesai kerjaannya :'D 

Ini kali ya namanya adaptasi. Tapi bagaimanapun, saya berusaha untuk memahami budaya tempatan yang ada. Kalau bisa saya ikuti, akan saya ikuti. Kalau tidak, setidaknya saya maklumi. 
Gambar dari sini 
Saya ini jagonya menghilang. Kalau ada orang yang memanfaatkan saya, menyebalkan, tidak menyenangkan, dan lain-lain hal yang tidak membuat nyaman, saya tidak segan-segan mencoret nama dia dari daftar teman atau kenalan saya. Iya, instead of facing them, I prefer to just let go of them. I don't want to waste my energy for that. Tapi...saya akhirnya menuai apa yang selalu saya lakukan. Ketika saya terjebak untuk menghadapi orang yang super menyebalkan, dan tidak ada jalan untuk kabur atau berbalik badan, saya jadi kecapekan sendiri. Tapi pun harus tetap maju ke depan melewati hari-hari. 

Saya terlalu naif mungkin. Daripada ribet bermuka dua, sok peduli, sok sibuk ini itu, sok bersahabat, kalau tidak suka ya sudah, tidak suka saja. Tidak perlu berurusan dengan orang yang memang selalu memberi kesan negatif dan menyusahkan hati. Tapi dalam konteks interaksi tertentu, ternyata saya terjebak dengan permainan be nice in being not nice

Begini. Saya belajar sesuatu ketika mendapati seseorang mampu "menerkam" orang lain di depan para penonton dengan cara yang sangat manis. Namun mematikan. Saya juga belajar sesuatu ketika "dilahap" di meja sidang tetapi dirangkul di luar konteks itu. Bagi saya, itu ja hat. Dan saya tidak tahu bagaiamana seseorang bisa melakukan itu.

Saya naif mungkin. Saya selalu berusaha menjalankan tugas saya dengan baik. Menegur dengan baik. Mengajar dengan baik. Saya elakkan penggunaan kata 'bodoh', 'pemalas', dan sejenisnya karena saya tau mereka-mereka yang sedang belajar itu sedang berproses. Kalau salah, beri tahu kalau memang salah, betulkan. In a good way

Bisakah begitu?

Tidak perlu berpura-pura membela atau peduli ketika sedang berdua tetapi "melumat" bulat-bulat ketika ada penonton bertebaran memerhatikan. It's just not right. Or not nice?

Well, iya mungkin. Saya naif. 
Foto dari Google Image
Semakin tua, saya semakin sering mencari tau tentang personaliti diri sendiri. Semakin saya paham, semakin saya sebel dengan diri saya :)) Gak lah, becanda. Tapi, setiap kali saya mengalami ini itu dalam hidup, terutama yang kurang menyenangkan atau kurang menguntungkan, ini menjadi titik di mana saya kembali membuka catatan-catatan lama tentang bagaimana diri saya sebenarnya. Iya, saya tau, saya ini bukan orang yang menyenangkan. Sering disebut judes, ketus dan lain sebagainya. Tapi di sisi lain, orang-orang yang selalu enggan menemani hari-hari saya akan datang satu per satu di kala mereka butuh orang yang akan dengan rela mendengarkan cerita mereka berulang-ulang dan berhari-hari; iya, saya.

Banyak catatan saya tentang diri yang introvert dan melankolis ini. Saya penyendiri, suka bekerja sendiri, berpikir analitik dan mendalam, suka membuat rencana, suka rutin, tidak suka ada dalam keriuhan, tidak bisa menyampaikan pendapat dalam forum besar, tidak suka menjadi sorotan. Di sisi lain saya akan dengan mudah mengingat hal-hal yang sifatnya spesial seperti hari lahir dan momen-momen yang saya anggap penting. Banyak poin-poin tentang orang introvert dan melankolis yang nyata ada dalam diri saya. Semakin hari, semakin saya ketar ketir mengatasi diri sendiri karena kendala yang saya hadapi di depan mata semakin kompleks.

Pernah ada yang bertanya kepada saya “nanti kamu mau jadi pemimpin yang seperti apa?”. Tidak pun terbayang dalam diri saya akan jadi pemimpin. Apalagi memikirkan jadi pemimpin yang seperti apa. Yang saya tau, saya akan kerjakan semua pekerjaan yang diberikan kepada saya dengan baik. Sebaik yang saya bisa lakukan. Itu saja. Makanya, ketika ada di posisi di mana saya harus berhadapan dengan banyak orang dengan posisi tinggi, saya terkunci. Kepala saya beku, bibir saya kelu, badan saya entah apa rasanya. Saya paksakan diri menghadapi hari demi hari, tantangan demi tantangan.

Kebayang kan ketika saya terpaksa “memimpin” dan berada di antara para pemimpin dan mengeluarkan segala isi kepala yang disebut usulan dan gagasan? Mau pingsan aja rasanya. Tidak jarang saya berpikir untuk lari. Berhenti. Menghilang. Tapi saya bukan pengecut. Mungkin pemalu. Mungkin tidak percaya diri. Tapi saya bukan pengecut. Saya selesaikan apa yang saya mulai. Saya kerjakan kewajiban saya walau terseok.


Betapa si melankoli ini tersiksa dengan apa yang menghimpit hari-harinya. Tapi saya harus berdiri tegak. Raut muka mungkin tidak bisa disembunyikan. Tapi saya tidak boleh patah semangat, apalagi hati. Saya harus berjalan terus sampai garis finish. 
Gambar dari sini
Saya selalu dipertemukan dengan orang yang dominan, agresif dan cenderung mengendalikan. Ibaratkan gelas dengan tutupnya, orang dominan seperti itu "cocok" dengan saya yang permisif dan cenderung mengakomodir keinginan dan kebutuhan orang di atas kepentingan saya. Selama ini saya selalu bisa lari. Menjauh dari tipe orang seperti itu. Tapi kali ini, saya terperangkap. I have to deal with this person.

Dalam perjalanan karir, saya  mendapat kesempatan untuk belajar banyak di posisi saya sekarang ini. Kalau bicara otoritas dan kuasa, saya punya. Tapi ketika kembali lagi ke kepribadian yang saya miliki, dalam banyak kesempatan saya malah seperti kehilangan kedua hal itu; otoritas dan kuasa. Satu sosok dominan, karena senioritas dan titel, kerap kari menghantui hari-hari saya. 

Dari setiap tugas yang saya terima, tidak ada keluhan yang berarti selain capek. Manusiawi, kan? Tapi ini, tidak pun bagian dari tugas saya, tapi menghadapi si dominan ini membayangi setiap langkah saya setiap hari. Setiap hari. Letihnya luar biasa. 

Mungkin saya  mengada-ada. Tapi sungguh, tenaga dan pikiran saya boleh dikuras untuk pekerjaan. Saya bersedia mengerjakan sesuai kemampuan saya. Tapi berhadapan dengan si dominan ini, lahir batin saya rontok rasanya. Capek. Letih.

Tapi satu hal yang saya tau, saya tidak boleh menyerah dan mengalah. Pun ini bukan tentang memenangkan apa-apa. Tapi memperjuangkan martabat diri sendiri.  
Gambar diambil dari sini
Saya selalu berusaha memisahkan kriteria teman kerja, kenalan dan teman dekat. Keputusan saya sebetulnya sudah tepat, tidak menyatukan teman main hari-hari dengan teman kerja. Apapun, konflik pasti saja ada. Entah urusan kerja yang berefek ke hubungan pertemanan hari-hari, atau urusan pribadi yang terbawa-bawa ke urusan pekerjaan. Namanya manusia, ada saja kemungkinan itu, kan?

Di sosial media pun saya tidak berteman dengan rekan kerja, baik rekan kerja sekarang ataupun di tempat kerja saya dulu. Saya tidak mau image saya sebagai pribadi dan dalam kapasitas profesional dicampur aduk. Pun tidak mau ada yang menghakimi kredibilitas saya cuma karena saya pecicilan di dunia pertemanan saya, di luar kantor.

Tapi kemudian saya agak longgar tentang hal ini, tentang keputusan yang sudah saya buat sendiri. Dan hari ini, saya menyesali kelonggaran itu. Bagaimanapun, diding pemisah antara teman kerja dan teman main hari-hari tetap harus saya bangun. Demi kebaikan. Setidaknya kebaikan saya sendiri. 
Foto diambil dari sini

Jadi peragu dan penuh pertimbangan yang berujung pada rasa takut adalah hantu yang selalu membayangi saya. Hampir 35 tahun lamanya. Kadang saya berpikir bahwa apa yang ada di dalam pikiran dan pertimbangan saya ini masuk akal. Kadang saya sadar bahwa semua pro dan kontranya sudah terlalu berlebihan.  

Ada kalanya saya menunda mengerjakan karena saya tau saya mampu mengerjakan, dengan baik atau tidak, dalam waktu sekian jam/hari/tahun. Tapi kemudian, terlalu yakin diri kadang membawa pada ketidak sempurnaan yang seharusnya tidak wujud hanya karena menunda mewujudkannya. Sempurna itu relatif, setidaknya kita bisa menciptakan konstruksi kesempurnaan kita sendiri. 

Banyak hal yang ada dalam pikiran saya, sepertinya, briliant. Alih-alih melakukan apa yang diimpikan, saya putuskan untuk berbalik arah dengan alasan A-Z yang saya kira masuk akal. Padahal yang saya lakukan adalah mengurungkan niat membuka pintu yang mungkin akan membawa saya ke satu kondisi tertentu; berhasil atau gagal.

Bicara tentang peluang, keinginan, kemampuan...dan bahkan kemungkinan, sering kali saya perlu didorong, dipaksa masuk ke dalam situasi yang tidak ada jalan kembali, sehingga satu-satunya yang saya harus lakukan adalah terus melangkah ke depan. 

Kadang hanya perlu mengatakan kepada diri sendiri "lakukan saja, tidak ada yang salah", daripada sibuk berpikir bagaimana kalau atau bagaimana nantinya jika...Karena, ketika masih sibuk berkutat dengan segala pertimbangan, pikiran dan upaya melarikan diri dari segala kemungkinan, mengaburkan keinginan dan tidak percaya pada kemampuan diri sendiri, pintu menuju peluang itu telah kembali tertutup. 

Iya, saya harus melawan hantu yang bersarang di kepala saya sejak 35 tahun yang lalu.