Beberapa waktu lalu saya bertemu teman lama. Tidak lama-lama. Dalam pertemuan yang sebentar itu, si teman menanyakan apa yang harus dipersiapkan kalau mau  melanjutkan sekolah ke jenjang S3. Kira-kira begini jawaban saya:

S3 itu bukan sekolah yang bisa terukur kapan selesai, walaupun bisa direncanakan dan ditargetkan. Tentang kemampuan akademik, saya sih yakin semua orang akan mampu mengatasinya. Tapi ada faktor X, Y dan Z yang tidak bisa ditebak dan kadang kala itu dominan menjadi cobaan dalam perjalanan sekolah. 

Kemudian si teman menjawab "Ya, kaya biaya dan keluarga gitu, ya. Suami, anak. Tapi kan kamu single, emangnya mikirin apa, kok bisa lama gitu?".

Pertanyaan serupa tidak jarang saya dengar. Dari orang yang kenal saya dan orang-orang yang tidak kenal dengan saya. Memangnya single punya masalah apa? mikirin siapa? mikirin apa? 

Saya beneran gak ngerti, bagaimana mungkin beban hidup itu hanya dianggap sebagai beban mereka yang punya pasangan dan anak saja? Sebagai orang yang tidak bersuami dan tidak punya anak, apakah kemudian tidak punya beban hidup? 

Iya, alhamdulillah saya punya orangtua yang masih diberi kecukupan materi oleh Allah, bisa membantu anaknya yang buntu ketika kehilangan pekerjaan dan tidak tahu harus bagaimana memenuhi biaya kuliah. Tapi, di luar urusan finansial, seorang yang single juga tentu punya hal-hal yang harus dipikirkan dan dihadapi. Psikologis? Social challenge? Mind blocking? Love matter? Health issue? Apa lagi? Banyak. Namanya orang hidup, cobaan ya ada saja. Iya, mungkin tidak punya tanggung jawab terhadap insan lain; pasangan dan anak. Tapi bukan berarti yang single tidak punya masalah dan beban. Namanya hidup, ada saja cobaannya. Perlu dipikirkan. 

Saya tidak habis pikir dengan beberapa orang yang meletakkan dirinya di kehidupan paling sulit dan mengecilkan perjuangan kehidupan orang lain. Cuma karena single. Setiap orang punya perjuangan hidup masing-masing. 

Saya salut dengan teman-teman yang sekolah ke luar negeri, punya suami dan beberapa anak, dan mereka tidak memandang saya sebagai "single tanpa masalah". Mereka tahu betapa saya jatuh bangun sekolah. Kami banyak berbagi duka yang kemudian mengajarkan banyak hal. Termasuk bahwa setiap perjalanan S3 itu berbeda-beda cobaannya dan tidak bisa disepelekan. 


Foto diambil dari Google Image

Saya tidak tahu kenapa pesona kopi sungguh susah dilawan. Bahkan melihat gambar kopi di dalam cangkir saja sering kali membawa langkah kaki saya menuju secangkir kopi nyata yang siap dinikmati oleh lidah. Padahal, jujur saja, saya bukan penikmat kopi yang bisa membedakan mana kopi enak dan biasa saja, mana arabica dan robusta, mana kopi yang kualitasnya juara atau biasa saja. Saya penikmat kopi...sachet, hahaha! 

Apakah kopi membuat saya terhindar dari rasa kantuk? Tidak. Sering kali setelah minum kopi, apalagi yang dalam kemasan kaleng atau kotak, saya malah mengantuk dan kemudian benar-benar tidur. Dulu, ya. Kopi pernah jadi teman setia ketika kerja hingga larut malam, bahkan sampai pagi lagi. Tapi itu dulu. Ketika sebungkus kopi dengan krimer dan gula baru saya kenal sedap rasanya. Tapi kemudian, kopi menjadi candu yang tidak bisa saya jelaskan kenapa. Oh, iya. Saya suka merasa pening kalau belum minum kopi. Kemudian kaki ini membawa saya ke tumpukan kopi di lemari atau ke toko serba ada dan membeli satu kotak atau satu kaleng kopi dengan aneka rasa. Kadang saya hanya perlu minum seteguk, lalu sudah, terbayar. Tapi sering kali saya memanjakan lidah, menghabiskan kopi-kopi itu walaupun rasa ingin sudah sirna dalam sekali teguk.

Tiap hari begitu. Begitu lagi. 

Sampai di satu titik saya merasa kecanduan. Kemudian saya berhenti. 

Hari-hari pertama melepaskan kopi itu rasanya seperti sedang putus cinta. Sakit kepala. Mual. Merindu. Mencari. Namun tidak boleh mencari. Dilarang merindu. Candu. Saya tahan hingga rasa yang membuat diri tidak nyaman itu hilang. Kemudian mulai saya bisa hidup normal. Tidak dihantui rasa mencari-cari. Bisa tidur lebih nyenyak tanpa banyak mengigau. Bruxism yang saya derita pun konon banyak berkurang.  

Tapi, jika sekali saja saya kembali lagi kepada cinta lama. Saya terperangkap. Kejadian serupa berulang lagi. Saya mencari. Saya merasa butuh. Saya merindu aroma yang penuh candu itu. 

Lucu. Benar-benar seperti patah hati, jatuh hati lagi, patah hati lagi. Begitu terus.

Sampai suatu hari, saya menemukan candu yang murah dan menyenangkan. Kopi buatan toko serba ada dengan harga murah namun cita rasanya tidak kalah dengan secangkir kopi di kedai waralaba. Enak. Bikin kangen. Manis. Meninggalkan kenangan di lidah. Candu. Membuat kembali lagi membeli keesokan harinya. 

Sampai hari kelima, saya menyerah. Tubuh saya tidak lagi berbisik, tapi berteriak. Ternyata kopi sungguhan yang biji-bijinya terlihat di bagian atas mesin itu tidak kuat saya cerna berlebihan. Alarm tubuh menjerit. Bibir saya kering. Kulit kering. Sariawan. Dan sakit kepala yang tak tertahan jika tidak mengulangi kenikmatan rasa kopi itu di hari esok. 

Saya putuskan berhenti (lagi). Kali ini, pengalaman lepas dari kopi yang paling berat. Serius. Hari pertama lepas dari kopi itu saya mengalami sakit kepala yang cukup mengganggu. Bahkan hari itu saya sampai muntah akibat rasa pening dan mual. Seperti pengalaman proses melepas kopi sebelum-sebelumnya, saya mudah mengantuk. Biasanya pukul 19 saya sudah mulai merasakan kantuk yang tidak tertahan. Kali ini, rasa itu saya alami tidak hanya malam hari, tapi juga pagi hari sekitar pukul 10 atau 11, dan ini berlangsung selama 5 hari. Iya, saya banyak tidur dan badan lemas sekali. Hari ke-6 mulai saya merasakan badan lebih segar ketika bangun tidur. Saya juga sudah tidak lagi mengantuk di pagi hari. Kantuk malam juga mulai bergeser ke pukul 20-an. Kualitas tidur sangat baik. 

Sampai hari ini sih saya masih agak ketakutan mengingat sakit kepala hebat di hari pertama melepas kopi itu. Sampai-sampai, kalau melihat kopi saya beberapa kali memalingkan muka haha. Lebay. Semoga aja pengalaman melawan pesona kopi kali ini benar-benar memutus keinginan saya untuk kembali minum kopi sebagai konsumsi harian. Padahal, kalau mau dibilang kecanduan, harusnya saya lebih kecanduan dengan teh. Sejak kecil, air yang disajikan di rumah saya adalah air teh tawar. Jadi, minum teh itu ya sudah jadi kebiasaan. Tapi melepas minum teh itu jauuuuh lebih mudah daripada melepas kebiasaan minum kopi. Kenapa, ya?

Iya, sih..ada yang bilang, asalkan tidak berlebihan, kan tidak apa-apa mengkonsumsi teh dan kopi. Tapi, saya mulai paham tubuh ini. Saya mulai sering bisa mendengar alarm-nya berbunyi. Jadi ukuran banyak atau sedikitnya kopi, tetap saya hindari apabila itu sudah menjadi rutin; misal harian, dua hari sekali, tiga hari sekali. Saya lebih suka menjadikannya minuman rekreasional yang sama seperti jadwal rekreasi saya; jarang. 

Jadi, ya begitulah. Perjalanan saya cinta dan keputusan menjauhkan diri dari pesona kopi. Semoga tetap sehat. Aamiin. 

Pertama kali ke Semarang dua tahun lalu, kalau tidak salah :D Waktu itu Semarang diguyur hujan, saya lebih banyak menikmati hahahihi bersama keluarga, dari #MasBromo, ketimbang bepergian. Yang saya ingat, waktu itu kami sempat makan Tahu Gimbal di kawasan Simpang Lima, foto-foto di depan Lawang Sewu dan Kota Tua. Selain itu, saya makan, makan dan makan :)) Mulai dari jajanan pasar yang dibeli di Pasar Johar, makanan setengah berat seperti soto sampai ayam goreng Bang Mus. 

Minggu lalu tiba-tiba saya diajak #MasBromo ke Semarang, saya samber dengan jawaban "mau!". Karena waktu berdekatan dengan keperluan ke Semarang itu #MasBromo sedang ada di Cirebon, jadilah kami naik kereta dari Cirebon menuju Semarang menggunakan kereta Ciremai Express. Duduk di kursi kelas bisnis, dengan AC split sepoi-sepoi, perjalanan sekitar 3,5 jam itu berlangsung dengan nyaman. Sampai di Stasiun Semarang Tawang, saya todong #MasBromo untuk berfoto dulu :P Dese manut aja hihi.


Keluar dari stasiun, matahari berasa ada tiga di atas kepala, udara pun tak kalah panas dari Cirebon. Wuih! Saya tidak menduga bahwa Semarang sepanas itu, karena pengalaman pertama saya pertama kali adalah sejuk karena guyuran hujan sepanjang hari selama tiga hari saya berkunjung. Saya menginap di rumah keluarga #MasBromo, di dekat Stasiun Poncol. Sesampai di rumah, saya langsung menyeret #MasBromo untuk ke kedai makan Bang Mus yang tidak jauh dari rumah di kawasan Jalan Patriot. Saya memesan babat gongso, sementara si Mas memesan ayam goreng. Babat gongsonya lumayan, tapi tidak pedas. Mungkin lain kali kalau makan babat gongso lagi, saya bisa meminta khusus diberi cabai.  


Menariknya ayam goreng Bang Mus ini digoreng dengan baluran telur, jadi gurih. Sambal di atas meja bisa dimakan sepuasnya, agak manis, pedasnya kurang berasa juga. Ternyata bisa juga pesan ke Ibu penjualnya untuk dibuatkan sambal yang lebih pedas. 


Menurut teman saya, dekat rumah ada Nasi Goreng Padang Bang Jo yang konon terkenal. Hari kedua di Semarang saya sambangi, tapi masih terlalu pagi ternyata huhu. Jadi tidak sempat mencoba, deh. Jadi, kembali mengulang makan ayam goreng Bang Mus untuk sarapan menjelang makan siang :)

Sebelum berangkat ke Semarang, saya menghubungi seorang teman yang sudah wanti-wanti sejak jaman purba agar saya mengabari kalau datang ke Semarang. Kami pun janjian. Akhirnya diputuskan si teman datang ke rumah, supaya bisa ngobrol lebih lama dan leluasa. Saya minta tolong dibawakan lumpia dan tahu petis, dan dibawakan untuk makan tiga hari :)) Makasih, Ondy ;)


Obrolan pun mengalir selama empat jam. Itu pun rasanya masih kurang saja, banyak hal yang gak penting ingin dibicarakan dengan ketawa ketiwi :)) Seperti sering saya cerita dalam blog ini, saya tidak punya banyak teman, tapi teman-teman di sekitar saya ya yang begitu...sekali bertemu bisa mengulas seluruh dunia dan setiap harinya mereka ada walau tidak tampak batang hidungnya :)

Di Semarang 26 jam, menyenangkan dan melelahkan sebetulnya. Renta. Kembali ke Ibukota naik kereta Argo Muria selama 6 jam, puas tidur di sepanjang jalan :) Semoga kapan-kapan bisa ke Semarang lagi ;)
Di TKP dengan Mimi dan Mama
Menemukan serabi Emak ini sejak 1996, dua tahun setelah keluarga saya pindah ke Cirebon. Berawal dari rasa pertama, lidah pun tertaut dengan rasa serabi Emak yang ciamik menusuk sampai dada. Jatuh cinta judulnya. Disimpan sampai sore pun masih saja empuk dan gurih rasa kelapa terasa enak di mulut. 

Serabi dage
Emak berjualan sehabis subuh, jam 5 pagi biasanya sudah mulai memanggang serabi pertamanya. Serabinya berbagai rasa; polosan rasa original, tambahan topping oreg tempe, dage atau telur dan ada juga serabi manis. Harga serabi polosan Rp. 2.000, serabi dengan topping dan serabi manis Rp. 3.000, sementara serabi telur Rp. 5.000. 
Serabi asin dan gorengan tempe
Makan serabi Emak ini enaknya ditemani gorengan tempe atau dage. Gorengan bikinan Bapak, suami Emak, ini enak bingit. Satu gorengan harganya Rp. 1.000, mursida! Kadang saya bisa habiskan 3 gorengan dengan 1 serabi :)) Serius, enak banget.

Lokasinya di Jalan Aria Kemuning, setelah Alfa dan sebelum jembatan, di sebelah kanan jalan kalau masuk dari arah Jalan Cipto. Kalau ke Cirebon, cobain ya!


Sebagai anak perempuan, pernah suatu ketika memimpikan ada seorang laki-laki yang jatuh cinta pada saya dan menjanjikan sebuah istana sederhana namun penuh bahagia di dalamnya. Sang pria dengan hati nya berlutut dan mengajak saya membangun istana itu sama-sama dengan menyodorkan bebatuan mengkilat penuh harga untuk dilingkarkan di jari manis. Semakin dewasa, kalau tidak mau dikatakan tua, mimpi-mimpi lucu bak Cinderella itu mulai bergeser kisahnya. Sampai pada suatu ketika, seorang laki-laki duduk di hadapan mengajukan niatnya untuk sama-sama mencari tempat untuk membangun istana itu. Rumah, kata kuncinya

Tiga tahun berlalu, fondasi pelan-pelan terus dibangunnya, pun oleh saya, setiap hari. Kepercayaan, bahan bakunya. Pada satu titik di mana fondasi itu mulai siap untuk terus ditanami dinding, si pria bertanya bahan baku apa yang saya inginkan untuk kami sama-sama terus membangun rumah itu hingga atapnya. Batu berkilau itu sudah lama tidak ada di benak saya. Dengan hati-hati saya bertanya "Tafsir Al Mishbah, boleh?", dengan yakin ia mengangguk dan kemudian memenuhinya sebulan  yang lalu. 

Saya menerima bahan baku untuk membangun rumah impian saya, rumah impian kami. Semoga bisa berdiri kokoh dengan rahmat Illahi dan dikaruniai kebahagiaan berlimpah sehingga rumah itu kelak nyaman untuk ditempati. Ini tugas besar, untuk sama-sama memanfaatkan bahan yang sudah tersedia untuk menjadi dinding, jendela, pintu dan atap yang melindungi kami. Semoga selalu dalam ridha Allah. Semoga ketidak sempurnaan kita selalu disempurnakan dalam niat baik berdua. 

Bismillah, semoga dilancarkan dan dimudahkan.

Entah sudah berapa lama "penyakit" ini kambuh melulu. Tidak karuan rasanya. Seperti terkukung di dalam ruangan kecil dan tidak bisa kemana-mana. Setiap sampai di kota ini, selalu begitu. Tidak ada yang bisa mengobati. Bahkan saya sendiri bingung harus melakukan apa agar rasanya berkurangan. Padahal, sebelum terbang ke kota ini, saya sudah bikin to do list untuk setiap harinya. Tapi kemudian sampai hari ketujuh belum ada yang terselesaikan sempurna. Saya lakukan sesuatu yang lain, tidak sampai selesai. Tukar dengan yang lainnya, mandek di tengah jalan lagi. Heran. Mungkin saya kurang memaksa diri untuk menyelesaikan kerjaan-kerjaan yang sudah saya buat senarainya itu, ya? Tiap hari ketemu orang yang itu dan itu lagi membuat saya bosan dan tidak bisa berpikir lebih luas. Sepertinya informasi hanya seputar yang itu-itu saja. Membaca, kemudian menjadi pilihan. Mencoba menggali apa yang sudah tertinggal. Kemudian saya terpikir untuk menuangkan kata-kata dalam sebuah tulisan. Kemudian, berhenti di tengah jalan. Entah sudah dua atau tiga draft saya tinggal tidur dan tidak dibuka lagi keesokan harinya. Terlalu letih menghadapi kegiatan yang itu-itu saja. Ingin bergerak ke sana-sini, kaki saya tidak cukup. Entah kemauan saya yang tidak cukup. Entahlah.
Foto dari sini

Tujuh tahun menapaki jenjang pendidikan terakhir saya telah membawa saya ke pola kehidupan yang baru. Banyak hal yang saya lalui. Banyak orang yang datang dan pergi. Ada yang kembali, pun tidak pernah wujud lagi. Tujuh kali sekian ratus hari dengan emosi naik dan turun, harapan ada dan tiada, membawa saya pada pengalaman dibutuhkan dan ditinggalkan. Entah diabaikan. Dari setiap detiknya, cuma saya yang tahu bagaimana sepinya kesepian dan bagaimana sakitnya sendirian. Semua hanya akan bilang "lo bisa, kok" atau "ah, lo terlalu sensitif" tanpa paham apa yang saya bisa dan apa wujud kesensitifan saya. Bayangkan bagaimana sakit kebingungan menyeberang dengan penuh kerikil tajam di depan dan jarak pandang yang tidak karuan. Tidak tahu harus kemana berpegang. Sementara orang di ujung jalan saya hanya bisa berteriak "ayo..ayo..ayo" tanpa sungguh-sunggu melihat ke arah saya. 

Ada kala orang datang berbondong-bondong dengan gundukan masalah seolah saya ini tempat pembuangan sampah akhir yang setelah dikosongkan keranjang warna-warninya, mereka bisa meninggalkan begitu saja tempat itu karena bau. Saya ingat beberapa nama (saja) yang datang dengan uraian air mata dan lupa kembali ketika senyumnya sudah menyeringai bahagia. Semua orang sibuk menentukan ingin berbelok ke mana, saya maklumi kebingungan dan kegembiraan mereka menemukan atmosfir dengan warna baru di depannya. Tapi tentu saja mereka tidak lupa untuk membuang sampah-sampah hitam yang mengganjal di hatinya kepada saya. Lagi. Iya, tempat pembuangan terakhirnya. 

Sekitar yang sepi penuh kerikil menyesatkan membuat saya jalan perlahan dengan perisai diri yang tidak bisa dilihat oleh orang lain. Kalau ada yang memaksa mengintip, saya akan berusaha bersembunyi. Tidak nyaman rasanya terlihat secara telanjang penuh kebingungan. Malas saja. Karena toh kalau pun saya berkisah, respon mereka tidak jauh dari kata 'sabar'. Karena mereka semua di jagad raya (merasa) tahu bahwa saya akan mampu melewati semak belukar penuh duri-duri yang bisa menghujam kapan saja. Saya mulai menyimpan rapat-rapat banyak hal, karena toh ketika mulai membuka kancing baju, tidak ada yang benar-benar mau melihat apa isi di balik kain yang mulai compang-camping termakan waktu itu. Karena mereka terlalu sibuk dengan warna-warni atmosfir yang ingin dijelajahi. Saya bisa pahami. Manusiawi.

Daftar penduduk di hati saya semakin menyusut. Saya pun semakin banyak menyimpan arsip-arsip kisah kehidupan di laci paling bawah di kamar belakang sehingga tidak mudah terjamah. Jadi, jangan bertanya kenapa dan kenapa dan kenapa karena ketika kamu bertanya kapan dan kapan dan kapan, tidak ada solusi atas pertanyaan itu. 

Saya hargai bahwa setiap orang punya pilihan rasa sesuai selera masing-masing tanpa mau berbagi. Begitu pula dengan saya. Jadi, ketika kalian bisa menyimpan bahagia sendirian, kenapa saya dituntut untuk membuka kotak kebahagian saya? Biarkan saya menikmatinya sendiri, mengunyahnya perlahan dan meresapi setiap ujung rasa di panca indera. Yang jelas, saya tidak memperlakukan kalian sebagai tempat pembuangan akhir. Tapi saya juga enggan untuk terbuka karena ternyata tidak banyak dari kalian yang mampu merasakan kabar bahagia :)

Selamat bersenang-senang dengan piring kebahagian masing-masing, ya. 


Have you ever watched or heard of a film entitled Minggu Pagi di Victoria Park? This film has inspired me, or many Indonesians who visited Hong Kong, to visit the place which mostly occupied by Tenaga Kerja Indonesia (TKI) every weekend. Victoria Park is actually a public place where people can gather, do sport and express their existence through events. When I visited the park in 2012, my knowledge about the activity at the park was enlightened by the view in front of me; on how they dress, what they do, how they speak and interact. I was not really have time to go around and observe well. But when I went back there early of this year, I had opportunity to walk around and have an eye for understand what is going on there.  A good writing by my sharp-thinker friend, Ivan, can give you the illustration about the activity at Victoria Park. 


My mother was very excited to have a walk around the park. We bought some food from the TKI as risoles, bakwan, bakso, mie ayam and pecal. We were not hungry enough to eat or missing hometown for buying Indonesian food. Rather, we were curious to talk with them. Buying foods they sell was the good bargain for having a little chat. The conversation theme was very predictable; as why are they coming here and not to the other countries. From such a question, you can get more than one phrase of story. That's the uniqueness of meeting TKI, you can somehow get an interesting, inspiring and unpredictable stories. 

That was a nice morning to enjoy the city and understand the society in different perspective.