Foto dari sini
Kadang-kadang saya gak ngerti dengan cara Tuhan ngajarin saya sesuatu. Saya dihadapin dengan satu keadaan yang bikin mikir banget atau sakit hati banget. Dalam waktu bersamaan ada aja hambatan buat saya bisa membagi rasa bingung atau sedih dan sakit hati itu kepada orang lain. Termasuk pasangan saya. Sampai akhirnya saya nangis karena bingung, sedih, kesal atau sakit hati. Karena saya gak tau harus gimana. Kadang, malah sering kali, yang saya perlukan hanya bercerita.
This is what happened today.

As an introvert, I hate my self for most of the time for not be able to express my self, my thought even my anger. I hate it when people hurt me and the only thing that I can do is being silent. It of course will lead to a bomb one day. When I explode my anger, my thought, my hurted-feeling into something bad. Shouting. Saying something hurtful. I don’t know. But, most of the time I forgive people and hurt myself at the same time for being permissive and easy to forgive on someone’s fault without they know how hurt my feeling was. It’s bad. Really bad.

I am not sure if this thing happens to all introverts, but it is for me. And I hate it.

The worse, I cannot mad at someone that is not closed with me. I rather avoid them compared to face them and telling the truth; I hate you or I mad at you. But to the ones that I am closed with, usually it takes sometime for me to take a chance to talk and say something regarding that matter; me being hurted or mad. Most of the time, I am exploding without me can handle it. It is because I keep everything in my head for quite long time. I never release it. I am not sure whether I cannot release the pain or feeling, OR I do not want to. I enjoy being hurted. With my own thought. I do not know for sure.

But then, I learn something from my friend. Whenever you have bad feeling, hurted one, or mad, try to release it before you go to sleep. You create a conversation by saying something that you want them (the ones who you thing have hurted you) to say to you OR you say something that you ought to say but you could not voice it out during the event. By doing so, you release the feeling, you give the opportunity for yourself, most importantly, and for other party that you think have hurted you to say something that you wish they said.

So, when I face the situation when I know that God wants to teach me something and during the difficult time I could not make myself release it by telling the story to my trusted ones, I do the exercise. Release the pain before I go to bed. By doing so, I really hope, and it was proofed for several time, that my feeling is getting better once I wake up in the morning. The pain is no longer trapped  and the anger has gone.


And God, thank you for giving me so much surprises. I really appreciate every second of the moment. I took the lesson and I wish to be a better person. Each day.  

Ini bukan postingan pertama di tahun 2018, tapi ini tulisan yang akan membahas what I will do along this year.

Sebelum saya cerita tentang pikiran saya yang membawa ke sederetan rencana yang insyaAllah ingin saya lakukan di tahun 2018, dan berlanjut ke tahun-tahun setelahnya, saya mau cerita dulu tentang metamorfosis www.jinjinger.com 

Iya, sih, ini blog saya. Suka-suka saya mau diapakan. Tapi agak kurang pas rasanya ketika saya menjadikan blog ini sebagai tempat berbagi yang diawali dengan satu tema dan menggiring pembaca (kalau ada hahaha) ke setiap tujuan tulisan dengan destinasi yang sama, eh tiba-tiba isinya gado-gado dan lalu mungkin ada yang bertanya (ya, lagi-lagi kalau ada yang baca hahaha) kenapa kemudian ada curhatannya, ada makanannya dan lain sebagainya. Nah, ini yang ingin saya luruskan. Tjiyeh.

Bagi banyak orang, apalagi yang tidak membaca blog ini, mungkin tidak penting identitas sebuah blog. Tapi bagi saya penting. Setidaknya bagi saya pribadi. Saya tahu tujuan menulis untuk apa, isinya akan bagaimana, sehingga saya bisa berasumsi yang membaca adalah siapa dan apa harapan mereka. Iya, kalau ada yang baca :D

Nah, jadi begini. Jinjinger itu kata dasarnya adalah jinjing. Nama ini berawal dari saya yang mulai suka jalan-jalan dan menikmati setiap daerah yang saya kunjungi, entah budayanya atau makanannya atau sekadar pengalaman berjalan dan melihat-lihat tempat itu. Sekitar tahun 2007, sewaktu banyak teman saya berkejar-kejaran menyebut dirinya ‘backpacker’ dan bertubi-tubi melakukan perjalanan, saya juga melakukan hal yang sama. Tapi, saya tidak punya tas punggung alias backpack. Saya bawa satu traveling bag coklat milik ibu saya. Cukuplah untuk wadah baju selama jalan-jalan kurang dari satu minggu. Tas itu saya jinjing. Bahkan ketika belum check in atau harus check out awal dari hotel, tetapi itinerary masih panjang, tas itu saya jinjing dibawa jalan-jalan. Pegel? BANGET! :))

Nah, selain dari suka jalan-jalan dan kebetulan ada kesempatannya pada tahun-tahun itu, di kala muda belia, saya juga suka menulis. Blog pertama saya isinya curhatan patah hati. Sehari bisa posting ribuan puisi atau cerita yang bisa dijadikan cerpen :)) Malu sih kalau ingat :D Begitu juga sejak suka jalan-jalan, saya berkeinginan untuk menulis. Sekadar berbagi informasi bagaimana cara pergi ke tempat tujuan, ke mana saja selama di sana, makan apa dan di mana, beli oleh-oleh di mana, menginap di hotel apa yang bisa masuk anggaran anak kuliahan dengan modal jalan-jalan seadanya dan informasi lainnya yang mungkin penting untuk siapapun yang ingin mengunjungi tempat yang sama tetapi bingung harus bagaimana. Dari dua kesukaan saya jalan-jalan dan menulis itulah makanya diputuskan buat satu blog khusus, biar terarah idenya. Nama Jinjinger pun ada di urutan paling atas dari daftar calon nama. Diawali dengan menggunakan Blogspot sampai akhirnya punya dot kom sendiri. Jinjinger telah menjadi wadah saya menyalurkan hobi menulis. 

Seiring waktu, kesibukan dan kesempatan membuat saya semakin jarang jalan-jalan. Ada waktu, tidak punya uang untuk jalan-jalan. Punya uang, tidak punya waktu untuk jalan-jalan. Ada waktu dan ada uang, eh akomodasi gak lucu harganya atau cuaca tidak mendukung :)) Adaaa aja alasan. Sebagai akibatnya, saya jadi jarang jalan-jalan. Jadi tidak tahu harus berbagi apa. Blog pun sempat penuh debu saking jarangnya saya kunjungi.

Kemudian sampailah satu ketika saya sering sakit-sakitan. Saya mengubah pola hidup untuk menjadi sehat kembali. Saya ubah pola makan dengan pola Food Combining dan saya kenal yoga. Dua hal ini mengubah hidup saya di tahun 2014. Seiring waktu dan disiplin dalam menjalankannya, saya mendapatkan manfaat yang luar biasa dari perubahan pola hidup ini. Saya terpikir untuk berbagi. Tidak ada salahnya, saya pikir. Pun sama bermanfaatnya dengan informasi tentang perjalanan piknik saya sebelumnya. Dengan bantuan OmBisot, saya punya menu bar di bagian atas blog yang akan mengarahkan ke tulisan-tulisan yang menjadi rujukan para pembaca berdasarkan tag posting-an. Bisa tentang jalan-jalan, makanan atau pola hidup. Saya juga memberi satu tag untuk postingan yang berisi curahan hati atau sekedar berbagi cerita tentang pengalaman hidup pribadi. Kalau buka www.jinjinger.com dari web, menu bar akan terlihat di bagian atas tepat di bawah tulisan Jinjinger. Tapi kalau buka pakai versi mobile, tidak bisa kelihatan.

Nah, dari bergesernya postingan-postingan saya di blog Jinjinger, saya ingin meluruskan niat saya menulis. Nama blog Jinjinger saya perluas definisinya tidak hanya sebatas saya membawa tas pergi jalan-jalan yang sifatnya piknik saja. Saya perluas lagi definisi jalan-jalan menjadi perjalanan hidup saya. Mungkin tidak semua orang mau tahu, tapi mungkin juga bagi sebagian orang ada cerita yang bisa dijadikan hiburan atau bahkan pelajaran. Tapi intinya, Jinjinger ini adalah wadah saya bercerita membawa tas yang kosong maupun berisi menelusuri jalan hidup entah itu belok untuk piknik, tersandung sedikit, atau ke kanan menuju harapan-harapan baru, bisa juga ke kiri ketika mendapat pengalaman yang memberikan banyak pelajaran. Jinjinger juga menjadi tempat untuk saya mengingaat betapa saya pernah muda, pernah sakit-sakitan, pernah mencoba sedaya upaya untuk sehat, pernah juga selingkuh dari pola hidup yang membawa saya pada keadaan paling bugar, dan hal lainnya.

Jadi, di 2018 ini saya berharap bisa berbagi lebih banyak lagi melalui Jinjinger menceritakan banyak hal yang bisa dibagi; mungkin untuk orang lain atau untuk diri sendiri yang kemudian tulisan itu akan saya baca lagi entah sepuluh atau dua puluh tahun kemudian. Semoga Jinjinger bisa menjadi wadah bagi saya untuk mengukir kisah yang saya alami, mengingatnya untuk dipelajari dan disyukuri, dan mungkin menjadi ruang berbagi bagi siapa saja yang mampir untuk sekadar membuka halaman muka blog ini. Aamiin.

Seterusnya, saya ingin bercerita tentang apa yang ingin saya lakukan di tahun 2018. Tapi saya akan bercerita di postingan berikutnya, ya :D

Cheers!


Foto dari sini

Bersyukur. Sering kali saya lupa mensyukuri apa yang diberi dan diambil kembali oleh sang pencipta. Sering kali saya selalu meminta dan berharap permintaan saya selalu terpenuhi tanpa terkecuali. Sering kali saya lupa bahwa apapun yang saya minta dan saya miliki adalah milikNya. Dan setiap yang diambil kembali olehNya adalah akan meninggalkan makna di sebaliknya. 

Beberapa minggu terakhir ini menjadi minggu-minggu yang sangat kompleks untuk dicerna, untuk dirasa. Rasa bingung, bimbang dan bahagia campur aduk jadi satu. Kemudian saya mencoba memahami mengapa Tuhan memberi saya anugerah itu. Saya mulai mengarahkan rasa dan pikiran dalam diri saya ke satu titik. Bersyukur. 

Kemudian, ketika saya mulai beradaptasi dengan apapun perubahan yang terjadi dalam diri saya, dalam hari-hari saya, ternyata saya harus kembali ke titik semula. Bingung, bimbang. Dan hal lainnya. Kehilangan. 

Saya menerka apa maksud Tuhan dengan perjalanan hidup ini. Di beberapa minggu ke belakang ini. Mengapa saya ada di titik di mana saya tidak tahu harus merasakan apa. Tapi satu hal yang saya tahu, bahwa Tuhan punya maksud. Apapun itu. Dan dengan begitu, berbaik sangkalah. Bersyukur. Bahwa Tuhan memberi rasa, memberi kesempatan menikmati anugerahnya. Dan ketika Tuhan mengambil kembali rasa itu, ada maksud baik di sebaliknya. 

Saya belajar banyak dari beberapa minggu kemarin. Saya belajar berdiri. Sendiri. Menghadapi kejutan-kejutan yang terjadi. Mengendalikan rasa dan pikir dalam diri. Dan bersyukur. Mensyukuri apapun yang Tuhan berikan. Dan ketika Dia mengambilnya lagi, saya pun bersyukur. Tuhan lebih tahu kapan waktu yang paling tepat saya menerima anugerah itu.


Pic taken from here
When experiencing anxiety, 
your body, your soul may be shutting down. 
The energy is too much spent.

Foto dari sini

Foto di atas adalah scene Carrie duduk sendirian di restoran menunggu teman-temannya datang untuk merayakan ulang tahunnya yang ke-35. Kebetulan pula hari itu ada saja yang membuat teman-temannya tidak dapat datang atau terlambat datang. Membayar sendiri kue ulang tahunnya, jalan pulang dengan penuh rasa sedih. Tidak punya seseorang yang bisa jadi sandaran untuk kesedihan. Di episode lain pula, Carrie dihadapkan dengan keadaan tidak punya uang, (hampir) tidak punya tempat tinggal dan sendirian. Di usia 35. 

Carrie telah "menemani" saya cukup lama, lebih dari 5 tahun sepertinya. Banyak hal yang saya pelajari dari serial ini. Tentang hidup, pertemanan, cinta--cieh, dan banyak hal lainnya. Di sisi lain, banyak hal tentng Carrie yang (dipaksakan) sesuai dengan saya; tentang sepatu, tentang pertemanan, tentang pekerjaan dan beberapa hal lainnya. Scene Carrie di usia 35 pun menjadi salah satu yang jadi sorotan saya. 

Tapi seiring berjalan usia, which I do not care at all, except I have to make sure that every inch of my age I would be beneficial in so many ways, banyak kekhawatiran saya di masa-masa sebelumnya mulai terurai. Entah karena saya tahu jalan keluarnya atau saya sudah bisa mengatasinya atau saya kemudian berpikir bahwa it doesn't matter at all

Saya pernah ada di titik tidak menyenangkan, walaupun tidak menyedihkan. Saya selalu menghadapi jalan yang berliku berbatu untuk sampai tujuan, dan apapun itu, saya sangat menghargai waktu dan tenaga yang terpakai. Saya tahu, untuk menjadi apa yang kita impikan, tidak ada jalan pintas kalau ingin impian itu kekal. Setidaknya itu yang saya paham.

Jadi, ketika ada di usia ini, saya tahu bahwa saya hanya perlu lebih kuat, lebih sabar, dan dengan telaten menata hidup saya untuk mencapai tujuan hidup saya. Tidak perlu sempurna, menjadi cukup saja sudah lebih dari sempurna. Dan saya tahu bahwa saya tidak sendiri.

Semoga saya semakin dewasa dalam berpikir dan bertindak. 
Foto dari sini
Semakin hari, intensitas saya berolahraga semakin berkurang. Ingat betul tahun 2014-2015 rajin banget yoga, entah itu melakukannya sendiri di rumah atau pergi ke yoga studio. Karena excited dengan perkembangan kemampuan tubuh saya, yoga dilakukan hampir sepanjang hari. Ketika sedang bekerja, lalu dilanda bosan, saya akan melakukan satu atau dua posisi yoga yang membuat saya senang dan menambah semangat untuk bekerja kembali. Begitu terus. Ketika sedang getol-getolnya beryoga ria, badan saya singset, walaupun berat badan ya segitu aja. Tidur pun lebih nyenyak. 

Nah, semakin ke sini, ada saja alasan saya untuk tidak melakukan latihan harian. Pagi-pagi dari bangun saja sudah sibuk dengan memasak, bebersih rumah dan bersiap-siap berangkat ke kantor. Sore hari, kadang-kadang saya lakukan juga beberapa posisi yoga sesampainya di rumah setelah pulang kerja. Tapi, sering kali saya pulang kerja lewat maghrib, pun badan sudah sangat lelah. Kadang makan pun saya malas-malasan karena terlalu lelah.

Begitu terus. Sampai akhirnya teman saya memberi tahu satu tempat olahraga yang cukup menyenangkan, Perdana Park. Lokasinya dekat Tanjung Aru di Kota Kinabalu, dekat dari kantor maupun rumah saya. Nah, saya mulai membiasakan bawa pakaian olahraga setiap hari ke kantor. Datang ke kantor lebih awal, dan mengusahakan pulang tenggo--jam 5 teng, langsung go. Kalau pun tidak bisa tenggo, saya biasanya mengusahakan pulang jam 5.30 sore, masih sempat mengejar sunset dan mengejar shalat maghrib di rumah. 

Tapi, sejak punya tanggung jawab baru di kantor, saya geser kegiatan olahraga saya di hari Sabtu dan Minggu. Biasanya saya olahraga di pagi hari, biar hari libur itu dimulai dengan kegiatan yang bermanfaat--cieh! Sering kali saya pergi olahraga sendiri, dan karena Perdana Park itu rame, jadi seru-seru aja. Seneng banget lihat orang-orang yang sudah berusia lanjut ikut olahraga sama-sama di sana. Ada anak-anak dan orang-orang seumuran saya juga, entah itu jogging, jalan santai atau bersenam. Suasananya memang mendukung banget buat bersemangat. 

Biasanya saya jalan cepat saja, tidak kuat lari, pun badan yang gendats bikin lutut sakit kalau lari. Jadilah jalan cepat yang saya pilih, dengan kedua tangan digerakkan sewaktu berjalan. Biasanya saya set untuk jalan lima putaran, satu putarannya sekitar 800m. Biasanya semangat kendor di putaran ketiga karena mulai terasa lelah. Kalau sudah begitu, saya perlambat jalannya, yang penting jalan, bergerak. 

Setelah selesai jalan, saya pendinginan. Kadang melakukan beberapa posisi yoga yang bisa membantu memperbaiki postur. Saya kerja satu harian, kebanyakan duduk. Tulang belakang sering terasa sakit. Beberapa posisi yoga cukup membantu meredakan dan sebagai upaya agar postur tubuh tidak ngaco karena posisi duduk seharian, apalagi posisi duduk yang salah.

Jadi, menjelang 2018 ini, saya ingin memacu diri saya untuk bergerak lebih banyak, mudah-mudahan saya lebih sehat, lebih bugar. Aamiin. 
Pic taken from here

It's tiring to fulfill what other people expect from you. To satisfied and pleased everyone. When you yourself is not okay about doing it. You sometimes to tired to think about everyone else. Yet forgot about your own self.

I learn to accept that it is okay to be not okay once in a while. I do whatever I could possibly do, and learn from the mistake that I made. I wish I never did. 


Foto dari sini
Seiring waktu, saya banyak belajar. Terutama tentang diri sendiri. Betapa saya begini dan begitu. Kalau lagi kumat ngaconya, saya akan jadi makhluk paling menyebalkan dan mengesalkan. Bahkan saya sendiri pun sering kali marah dengan diri sendiri. Tapi kalau lagi bener, saya selalu berusaha berkontemplasi; apa yang sudah saya lalui, apa yang sudah saya lakukan, apa yang bisa saya lakukan, apa yang sudah saya dapat dan lain sebagainya. 

Ada kalanya saya berbicara sendiri ketika sedang ngaco, energi negatif semakin besar saya rasakan. Capek sendiri. Biasanya saya alihkan. Kadang betul caranya, sering kali salah. Salah satu kesalahan saya adalah membiarkan saya masuk ke swalayan dan membeli banyak coklat, snack dan bahkan es krim. Kemudian saya makan semuanya sekaligus. Habis makanan satu, dilanjutkan ke makanan lainnya. Cara buruk mengalihkan pikiran supaya tidak terbawa keadaan. 

Kalau lagi bener, saya biasanya manfaatkan waktu itu untuk menulis rencana dan target-target saya. Saya menuliskan apa saja yang sudah saya capai dan akan saya lakukan. Tiba-tiba akan muncul banyak ide; tentang pekerjaan, tentang target diri sendiri, tentang membahagiakan orang di sekitar, tentang berbuat baik. Kemudian yang jadi masalah adalah eksekusi. Sedetik saja saya cuekin energi positif yang sedang ada, maka rencana-rencana itu akan terlaksana entah bila. 

Beberapa waktu terakhir ini saya mulai membiasakan diri untuk menuliskan atau mengingat apa yang sudah saya lakukan hari ini. Saya syukuri bahwa to-do-list sudah terpenuhi semua atau sudah terpenuhi separuhnya. Saya syukuri bahwa saya sampai rumah dengan selamat. Saya syukuri bahwa bisa membuat orang tertawa. Saya syukuri bahwa bisa membantu rekan kerja menyelesaikan tugasnya, dan lain sebagainya. 

Kadang saya lupa juga untuk melakukannya. Lupa mengingat. Lupa menulis. Kemudian di pagi berikutnya, sebelum memulai kegiatan hari itu, saya mencoba mengingat semua hal yang sudah saya lakukan di hari sebelumnya. Saya syukuri bahwa bisa melewati hari itu. Dengan begitu, saya mencoba membiasakan memulai hari dengan rasa syukur dan penuh harap.

Ada kalanya kenyataan tidak seperti harapan. Sebagaimana pun saya membuat diri saya percaya bahwa hari ini akan baik-baik saja, ternyata harinya tidak sebaik harapan saya. Saya coba ambil kejadian-kejadian yang saya alami untuk bahan belajar, memperbaiki diri di langkah berikutnya. 

Iya, saya masih jauh dari rasa syukur itu. Bahkan sering kali lupa berterima kasih dan bersyukur karena masih diberi umur dan kesempatan untuk melakukan sesuatu dan memperbaiki diri. Tapi  saya bersyukur Tuhan amat sangat baik, sengaco apapun saya, Dia beri ruang untuk saya untuk berbenah diri. Alhamdulillah.