Entah sudah berapa lama "penyakit" ini kambuh melulu. Tidak karuan rasanya. Seperti terkukung di dalam ruangan kecil dan tidak bisa kemana-mana. Setiap sampai di kota ini, selalu begitu. Tidak ada yang bisa mengobati. Bahkan saya sendiri bingung harus melakukan apa agar rasanya berkurangan. Padahal, sebelum terbang ke kota ini, saya sudah bikin to do list untuk setiap harinya. Tapi kemudian sampai hari ketujuh belum ada yang terselesaikan sempurna. Saya lakukan sesuatu yang lain, tidak sampai selesai. Tukar dengan yang lainnya, mandek di tengah jalan lagi. Heran. Mungkin saya kurang memaksa diri untuk menyelesaikan kerjaan-kerjaan yang sudah saya buat senarainya itu, ya? Tiap hari ketemu orang yang itu dan itu lagi membuat saya bosan dan tidak bisa berpikir lebih luas. Sepertinya informasi hanya seputar yang itu-itu saja. Membaca, kemudian menjadi pilihan. Mencoba menggali apa yang sudah tertinggal. Kemudian saya terpikir untuk menuangkan kata-kata dalam sebuah tulisan. Kemudian, berhenti di tengah jalan. Entah sudah dua atau tiga draft saya tinggal tidur dan tidak dibuka lagi keesokan harinya. Terlalu letih menghadapi kegiatan yang itu-itu saja. Ingin bergerak ke sana-sini, kaki saya tidak cukup. Entah kemauan saya yang tidak cukup. Entahlah.
Foto dari sini

Tujuh tahun menapaki jenjang pendidikan terakhir saya telah membawa saya ke pola kehidupan yang baru. Banyak hal yang saya lalui. Banyak orang yang datang dan pergi. Ada yang kembali, pun tidak pernah wujud lagi. Tujuh kali sekian ratus hari dengan emosi naik dan turun, harapan ada dan tiada, membawa saya pada pengalaman dibutuhkan dan ditinggalkan. Entah diabaikan. Dari setiap detiknya, cuma saya yang tahu bagaimana sepinya kesepian dan bagaimana sakitnya sendirian. Semua hanya akan bilang "lo bisa, kok" atau "ah, lo terlalu sensitif" tanpa paham apa yang saya bisa dan apa wujud kesensitifan saya. Bayangkan bagaimana sakit kebingungan menyeberang dengan penuh kerikil tajam di depan dan jarak pandang yang tidak karuan. Tidak tahu harus kemana berpegang. Sementara orang di ujung jalan saya hanya bisa berteriak "ayo..ayo..ayo" tanpa sungguh-sunggu melihat ke arah saya. 

Ada kala orang datang berbondong-bondong dengan gundukan masalah seolah saya ini tempat pembuangan sampah akhir yang setelah dikosongkan keranjang warna-warninya, mereka bisa meninggalkan begitu saja tempat itu karena bau. Saya ingat beberapa nama (saja) yang datang dengan uraian air mata dan lupa kembali ketika senyumnya sudah menyeringai bahagia. Semua orang sibuk menentukan ingin berbelok ke mana, saya maklumi kebingungan dan kegembiraan mereka menemukan atmosfir dengan warna baru di depannya. Tapi tentu saja mereka tidak lupa untuk membuang sampah-sampah hitam yang mengganjal di hatinya kepada saya. Lagi. Iya, tempat pembuangan terakhirnya. 

Sekitar yang sepi penuh kerikil menyesatkan membuat saya jalan perlahan dengan perisai diri yang tidak bisa dilihat oleh orang lain. Kalau ada yang memaksa mengintip, saya akan berusaha bersembunyi. Tidak nyaman rasanya terlihat secara telanjang penuh kebingungan. Malas saja. Karena toh kalau pun saya berkisah, respon mereka tidak jauh dari kata 'sabar'. Karena mereka semua di jagad raya (merasa) tahu bahwa saya akan mampu melewati semak belukar penuh duri-duri yang bisa menghujam kapan saja. Saya mulai menyimpan rapat-rapat banyak hal, karena toh ketika mulai membuka kancing baju, tidak ada yang benar-benar mau melihat apa isi di balik kain yang mulai compang-camping termakan waktu itu. Karena mereka terlalu sibuk dengan warna-warni atmosfir yang ingin dijelajahi. Saya bisa pahami. Manusiawi.

Daftar penduduk di hati saya semakin menyusut. Saya pun semakin banyak menyimpan arsip-arsip kisah kehidupan di laci paling bawah di kamar belakang sehingga tidak mudah terjamah. Jadi, jangan bertanya kenapa dan kenapa dan kenapa karena ketika kamu bertanya kapan dan kapan dan kapan, tidak ada solusi atas pertanyaan itu. 

Saya hargai bahwa setiap orang punya pilihan rasa sesuai selera masing-masing tanpa mau berbagi. Begitu pula dengan saya. Jadi, ketika kalian bisa menyimpan bahagia sendirian, kenapa saya dituntut untuk membuka kotak kebahagian saya? Biarkan saya menikmatinya sendiri, mengunyahnya perlahan dan meresapi setiap ujung rasa di panca indera. Yang jelas, saya tidak memperlakukan kalian sebagai tempat pembuangan akhir. Tapi saya juga enggan untuk terbuka karena ternyata tidak banyak dari kalian yang mampu merasakan kabar bahagia :)

Selamat bersenang-senang dengan piring kebahagian masing-masing, ya. 


Have you ever watched or heard of a film entitled Minggu Pagi di Victoria Park? This film has inspired me, or many Indonesians who visited Hong Kong, to visit the place which mostly occupied by Tenaga Kerja Indonesia (TKI) every weekend. Victoria Park is actually a public place where people can gather, do sport and express their existence through events. When I visited the park in 2012, my knowledge about the activity at the park was enlightened by the view in front of me; on how they dress, what they do, how they speak and interact. I was not really have time to go around and observe well. But when I went back there early of this year, I had opportunity to walk around and have an eye for understand what is going on there.  A good writing by my sharp-thinker friend, Ivan, can give you the illustration about the activity at Victoria Park. 


My mother was very excited to have a walk around the park. We bought some food from the TKI as risoles, bakwan, bakso, mie ayam and pecal. We were not hungry enough to eat or missing hometown for buying Indonesian food. Rather, we were curious to talk with them. Buying foods they sell was the good bargain for having a little chat. The conversation theme was very predictable; as why are they coming here and not to the other countries. From such a question, you can get more than one phrase of story. That's the uniqueness of meeting TKI, you can somehow get an interesting, inspiring and unpredictable stories. 

That was a nice morning to enjoy the city and understand the society in different perspective.
Pic taken from here
Early April this year, I had to renew my student visa. Due to my history of study, I was told that the visa will be valid for the next 6 months only, which due on October 2016. Somehow I got one full year visa up till April 2017. I was excited and relieved that I will have plenty of time to apply for jobs here in Malaysia. Then, God has his own story to tell, I got an offer a month a go, Alhamdulillah. Since my student visa is still active and I have to apply for another visa for professional work permit, so I have to make a cancellation to my student visa. So, today I made an application for visa cancellation. 

For those who are studying at Universiti Kebangsaan Malaysia, here are some requirements you should fulfill for visa cancellation. For other universities, the requirements should be the same, I supposed, for it is based on immigration regulations. Make sure that you come early to the International Student Center (ISC) office and make a registration by writing your name and Matrik Number on the green sheet provided by the officer, otherwise you won't be served. Bring all particular documents needed, make sure that you have made a check list before you come to the ISC office, so that you can proceed the application on the same day. The process will take about two to three weeks, depends. The visa cancellation will cost you RM 53, so provide the amount on your visit. 

So, that's all about the student visa cancellation. Wish me luck! 

'Berdamailah dengan hati', kata-kata itu pertama kali saya dengar entah ratusan tahun lalu ketika saya berada di titik terendah. Sulit untuk bisa paham kata-kata itu. Setidaknya bagi saya. Bahkan sampai sekarang, saya masih berjuang untuk memahaminya.

Belakangan ini, saya kembali dihadapkan dengan 'berdamailah dengan hati' scene. Bisa ditebak, saya yang keras kepala susah payah kembali bergulat tidak hanya dengan kepala, tetapi juga dengan hati. Dua cara menentukan jalan ke mana yang berbeda antara berpikir dan merasa.

Kadang merasa disudutkan dengan 'berdamailah dengan hati'. Kadang merasa disiram penyegar jiwa. Kadang berpikir bahwa 'hey, kamu egois'. Kadang berpikir bahwa 'kapan lagi saya memikirkan diri sendiri'.

Ingin bisa mengolah kerusuhan di depan mata dengan memadukan hati dan pikiran dalam satu hasil tenunan cantik nan nyaman dikenakan oleh siapa saja. Tapi, toh menyenangkan hati semua orang itu tidak selalu bisa dilakukan, bukan?

Kadang ingin tutup mata dan telinga saja, masa bodoh dengan perasaan orang lain. Tetapi ketika pintu tega saya tutup, kemudian sang rasa bertanya 'apa iya, kamu bisa?'. Nyata-nyata sesakit-sakitnya tusukan di dada akibat sang bambu runcing, pada akhirnya saya menyerah untuk rela disiksa. Pasti logika sudah mengutuk kebodohan empati yang diasah terlalu tajam sehingga mengalahkan isi kepala.

Saya lunglai. Tak berdaya.
Sudah terbaca akhir kisahnya. Saya menyerah.
Atas nama 'demi kebahagiaan bersama'.
Padahal saya terluka.


Picture taken from here

After accomplish my Ph.D journey, what's next?

I have number of plans to deepen my knowledge by doing these:

  1. I will start from my own thesis. I have split the thesis into several themes and will write them into articles for journal. 
  2. I plan to build an outline based on my data and make it into a book. I wish to at least finish the outline by end of this year. 
  3. I will explore my knowledge based on current issue and regularly make it into research project. 
  4. In the next couple of years, I will apply for fellowship somewhere with Intercultural Studies *fingers crossed*
Four points with tough tasks, but I will make it possible.
You can, if you think that you can!




He was a perfect grandfather with all his imperfections. He was a handsome-wise-cynical-man who ever raised me. I remember how he looked with safari suit walking closer to me after a long tiring working day, with a packet of chocolate for his little grand daughter. I can still fell the happy feeling when he lift the little me with his two firm hands. I might remember many things and forgot some as well. But one thing for sure, I will always remember that he loved me.

Earlier this year, I noticed that he was getting weaker and weaker. One day when he got his heart attack, I sat beside him, rested my head on his shoulder, he was saying "Ade sekolah yang bener ya, doain Aki bisa ketemu Ade lagi, ya". And, yes..I managed to see him after. Every time I met him, I always whispering to myself a simple wish "Allah, give me a chance to see him again, please". My wish came true once, twice but not for the third times. Allah has taken him back, Allah has taken all his pains. Even though I could not have a chance to say a proper goodbye, but my prayer always be with him.

I love you, Aki. You are in a perfect place, now.
Foto dari sini
Hari ini masuk ke Perpustakaan Tun Seri Lanang dengan sentimentil. Tiba-tiba ingatan melayang ke sekian tahun lalu ketika saya pertama kali menjadi mahasiswa, takjub dengan gedung enam lantai penuh rak dan buku. Penyejuk ruangan selalu menjadi alasan kenapa banyak pelajar duduk nyaman sampai waktu menjelang perpustakaan tutup. Kemudian saya tiba-tiba sedih. Menyadari bahwa saya mulai membereskan barang-barang di rumah sewa, urusan akademik pun hampir rampung dan akan ada waktu di mana saya berstatus alumni. Kalau sudah begitu, pengalaman rutin harian kerja di perpus jadi kenangan. 

Saya ingat, ada masa di mana saya muak dengan rutinitas pergi pagi dan pulang malam. Seharian duduk di sudut yang sama di lantai lima. Mengerjakan hal yang itu-itu saja. Tapi seolah tidak berujung. Ketika ujung lorong perjuangan sudah di depan mata, ujung mata saya pun mulai basah, sedih entah terharu. Saya akan sangat merindukan setiap sudut di perpustakaan itu. Bau buku yang khas membuat saya sangat nyaman berada di sana. 

Terima kasih telah menjadi tempat saya tertawa, menangis dan berdoa. InsyaAllah cita-cita saya tercapai, satu. Saya siap mengejar yang lainnya.