Image result for timbangan badan
Gambar dari sini
Pernah ada yang coba pola makan ini dan itu yang beredar di media sosial atau yang booming dijalankan banyak orang? Saya pernah! Mulai low carbsno carbsno saltno ini dan no itu :)) 

Pernah ada yang getol olahraga untuk menguruskan badan? Untuk mengecilkan bagian tubuh tertentu? saya sering! NIAT doang :)) 

Well, saya mau cerita sedikit tentang apa yang AKAN saya lakukan di awal 2019 ini, mungkin kalian mau ikutan?

Pengantar Cerita

Sejak awal 2017, pola hidup saya berangsur-angsur bergeser dari pola hidup yang sudah saya yakini memberi manfaat luar biasa pada kualitas kesehatan dan kehidupan saya ke pola hidup yang duh, gak tau harus cerita gimana >.< Dulu saya rutin menjalani yoga dan melakukan pola makan Food Combining dan alhamdulillah hidup saya jauh lebih berkualitas sejak 2014. Ukuran tubuh cakep, dari L ke XS, senang bukan kepalang. Kulit wajah jauh dari jerwat. Siapa yang tidak bahagia?

TAPI, sejak awal 2017 saya mulai lepas kontrol tentang asupan makanan dan kebiasaan melakukan yoga setiap hari. 

Dimulai dari secangkir teh tarik sehari sekali, dua kali sehari, tiga kali sehari. Kopi tarik, ditambah es batu, enak ya? Tentu enak! Kamu suka? Belum lagi makan semaunya. 

Malahan belakangan, seingat saya mulai 2018, asupan sayur dan buah jauuuuuuuh berkurang. 

Hasilnya? Sejak akhir 2018 saya mulai sering sakit-sakitan. Awal 2019 saya menyerah pada tujuh jenis obat untuk flu dan batuk yang saya derita. 

Mungkin ada yang bilang 'ah, cuma flu dan batuk, biasa itu!'
Buat saya tidak!

Coba bayangkan, setelah sekian lama lupa rasanya demam sampai mengigil dan sekujur tubuh sakit, akhirnya saya merasakan lagi. Menelan makanan pun sudah tidak sanggup. Jangankan makanan, minum air pun sakit :( It was awful.

Saya KAPOK sakit. Sangat.

Apa kata timbangan?

Setahun terakhir saya suka pakai celana palazzo yang bagian pinggangnya berkaret. Ukuran celana yang besar dan pinggang elastis membuat saya lambat menyadari bahwa bentuk tubuh saya sudah berubah. Melebar.

Nah, sampai pada satu titik saya beranikan diri menimbang dan timbangan itu menunjukkan angka 58 kilogram.

Seingat saya, tidak pernah saya seberat itu. Pantesan rok batik buatan Ibu saya tidak muat lagi dan kebaya favorit saya juga sempit luar biasa.

Ini sudah alarm tubuh yang bunyinya tidak henti-henti. MAYDAY! 

Apa yang saya lakukan?

Saya tau, untuk keadaan psikologis sekarang, saya perlu support system untuk  melakukan perbaikan pola hidup. Mungkin ini yang disebut A LA SAN. Bodo amat! haha.

1. Support system
Jadi, saya bikinlah gerakan #menujusehat2019 di group WhatsApp geng ngopi dan rumpi :))
Sederhana aja, saya ajak mereka untuk melakukan squat, push up, sit up dan plank setiap hari. 

Hari 1-7 10 x squat, sit up, push up dan 10 detik plank. Cemen? Bodo amat!
Poinnya adalah MULAI. 

Kemudian dua (sampai tiga) kali seminggu saya seret teman saya untuk jalan sore sama-sama. Targetnya juga cetek, dimulai dengan 3000 langkah ;) 

Nah, si squat dan teman-temannya akan terus meningkat jumlahnya di minggu-minggu seterusnya. Setiap anggota group yang partisipasi akan update di group kalau mereka sudah melakukan gerakan-gerakan itu komplit satu paket. 

Mungkin ada yang bohong? Ah, itu sih komitmen masing-masing aja. Mau bohong tiap hari juga silakan aja :)) Khasiatnya kan masing-masing yang akan merasakan. Tapi dengan adanya update setiap hari, dan sharing tentang efeknya, lama-lama semua pada berkomitmen kok. Lihat aja ;)

Begitu juga dengan jalan sore (atau pagi), setiap minggu akan naik 1000 langkah. 

2. Atur asupan dan pola makan
Untuk makanan, saya kembali beli buah dan sayur untuk memastikan 70% asupan harian berbasis kaya serat. 

Saya usahakan kembali lagi ke pola Food Combining. Pelan-pelan mulai dari memisahkan karbohidrat dan protein, plus asupan basa berlimpah.

Sarapan? Iya, pelan-pelan, ya :D 

Selain itu, saya mengurangi makan nasi putih dan gula.
Saya hanya memberi jatah diri makan nasi putih dan minum minuman bergula dua kali seminggu. 
Bukan cheating, tapi memang itu aja  jadwalnya. 

Itulah sedikit dari usaha saya #menujusehat2019 
Kamu mau ikut?

Nanti saya tulis perkembangannya ya ;)

Berapa jumlah lipstik yang kamu punya?
Coba melipir ke sini sebentar, Kak.

Bagi kaum hawa, lipstik itu kadang menjadi camilan yang menjebak. Kenapa menjebak? Terkadang kita, atau mungkin saya tepatnya :)), menemukan shade lipstik yang 'ih, kok lucu banget' atau 'aku belum punya warna ini' dan itu terjadi ratusan kali dengan berbagai merek dan varian harga dari yang sangat terjangkau sampai yang harganya cukup untuk makan dua minggu. 

Kalau mampir ke beberapa toko yang ada kosmetikya, ada aja keisengan yang membawa kaki ke arah etalase berisi lipstik dengan berbagai pilihan. Diambil satu, oles ke tangan, kadang ada juga yang langsung oles ke bibirnya, setelah lipstik itu dicoba oleh beratus bibir sebelumnya >.< Kemudian tulisan 'Diskon' atau 'Beli satu gratis satu' makin membuat tangan dan mata bekerja beriringan mencari dan mencoba lipstik demi lipstik yang terkadang shade-nya beda setengah jengkal dengan lipstik yang sudah ada di rumah dan di dalam tas. 

Gambar di posting-an ini adalah lipstik yang saya punya per hari ini. Sembilan lipstik mungkin jumlah yang sedikit dibanding beberapa teman saya yang hobi nyemil lipstik. Tapi mungkin juga terlalu banyak bagi mereka yang tidak terlalu pusing dengan warna baju dan kerudung harus sesuai dengan warna bibir. Mungkin mereka cenderung membeli lipstick dengan warna natural, mirip warna bibir. Jadi satu pengulas bibir saja akan cukup sampai si lipstik itu habis dan minta diganti. Sementara di kubu lain, bahkan sampai harus mencampur beberapa shades lipstik untuk mendapatkan warna yang sesuai mood hari itu. 

Nah, sebelum hari ini, sebelum bulan lalu atau dua bulan lalu mungkin, jumlah lipstick yang saya punya lebih dari ini. Bahkan ada yang hanya dipakai sekali sejak dibeli. Sejak mulai belajar tentang minimalism, saya belajar untuk lebih berkesadaran dalam melakukan sesuatu, termasuk keputusan membeli dan menggunakan sesuatu. Salah satunya tentang alat make up.

Beberpa kali sebelum mulai belajar tentang minimalism, saya sudah biasa melakukan penyortiran barang-barang di rumah; baju, sepatu, make up, dan bahkan hadiah pernikahan yang sudah dua tahun tidak pernah tersentuh sama sekali (tanpa mengurangi rasa hormat terhadap yang memberi). Nah, dari proses penyortiran itu, ada yang saya jual atau diberikan ke teman. Baik banget deh teman-teman yang mau menerima barang saya dan memakainya. Jadi lebih bermanfaat. Nah, ini juga yang saya lakukan dengan lipstik .

Saya lihat satu-satu setiap lipstick yang ada, dibuka, dan dicoba sembari bertanya kepada diri sendiri kamu suka warnanya? kapan terakhir kamu pakai lipstik ini? apakah akan dipakai lagi? apakah warna ini bisa diwakilkan lipstik yang lain? Sampai akhirnya saya putuskan lipstik ini tetap ada di meja rias saya dan yang itu harus dilungsurkan. Saatnya mencari orang yang mau menampung dan segera eksekusi niatnya, jangan sampai lipstik-lipstik itu kembali ke meja rias saya. 

Nah, setelah proses penyortiran dan perpisahan dengan lipstik-lipstik itu, sekarang proses yang menurut saya lebih berat; re-set mindset. Membeli barang dengan berkesadaran itu kadang mudah dan kadang sangat berat karena melibatkan emosi 'aku suka banget', misalnya. Tapi saya cukup bangga dengan diri ini, ada satu set lipstik yang buat saya sih harganya lumayan tapi shade-nya saya sukaaaa banget. Sejak pertama lihat lipstik itu, mungkin tiga atau empat bulan lalu, saya selalu mengalihkan pikiran dengan 'bulan depan aja, deh'.  Ketika mulai sering membaca tentang minimalism, ditambah lagi getol belajar financial planning lagi, saya berpikir secara berbeda, tidak mengalihkan tapi mencoba memutuskan dengan berkesadaran. Lipstik saya masih banyak, warna ini memang bagus dan mungkin lebih tahan lama, tapi lipstik yang di rumah juga warnanya mirip, habiskan dulu, nanti beli lipstik itu kalau memang sudah tidak punya lipstik lagi. 

Kadang harga lipstik yang menurut saya ada di kategori murah, makanya kaya cemilan >.<, dulu bisa aja beli sekaligus dua, dan minggu depannya ada shade lain kemudian beli lagi. Tapi apa yang terjadi? Kebanyakan hari-hari saya akan pakai lipstik yang itu lagi, itu lagi. Dan jumlah lipstik yang ada di rumah mulai tidak lucu lagi. Walaupun, lagi-lagi, tidak sebanyak kamu punya, mungkin. Nah, keputusan membeli karena warna lucu dan harga murah ini mulai saya olah lebih baik lagi sehingga berujung pada keputusan yang lebih berkesadaran. 

Beberapa hari lalu teman kantor bikin pengumuman bahwa W*tson sedang ada diskon sampai 50%. Para wanita di kantor saya bersorak riang dan heboh menyusun rencana untuk ke sana melihat 'camilan' yang bisa dibeli. Kepala saya langsung berproses, saya tidak perlu apa-apa, walaupun diskon, saya tidak perlu barang apa-apa. Tidak perlu ke sana. Nah, salah satu teman minta saya antar ke sana, mau  beli lipstik katanya. Pergilah kami. Sampai di sana, proses melihat, memilih, mencoba masih berlangsung. Tapi setiap kali mencoba, kepala saya kembali mengingat tiga lipstik di dalam tas dan enam lainnya yang tersimpan manis di rumah. Jadi tidak sampai ada pergolakan batin antara 'duh, lucunya, murah pula, beli gak ya?'.

Selain itu, kalau dihitung-hitung, misal aja satu lipstik harganya Rp. 100.000, kalau sebulan kamu membeli 4 lipstik, pernah kah terpikir bahwa uang sebanyak itu bisa kamu investasikan untuk hari tuamu? Nah, jadi lebih mikir untuk nyemil lipstik, kan? 

Jadi, berapa jumlah lipstik yang kamu punya? kamu suka semuanya? kapan terakhir kamu pakai? Yuk, kita sama-sama menjadi individu yang berkesadaran dalam mengambil keputusan jangan sampai terjebak sama shade lipstik atau diskon lagi ;) karena warna yang lucu saja tidak cukup untuk memutuskan membeli lipstik :D
Picture is taken from here

Hallo!

Akhirnya nulis lagi. Di draft ada beberapa calon posting-an yang tersimpan rapi lebih dari setahun lamanya. Satu tulisan penuh tentang usia 35 pun tidak dipublikasikan. Masih saya simpan di draft. Okay, biarkan saja begitu adanya. Mari memulai hal baik di 2019! 

Beberapa waktu lalu sempat ngobrol dengan seorang teman, saya mengutarakan bahwa sudah sekitar 2 tahun ini hidup saya sibuk dengan pekerjaan. Saya sampai lupa mengurus diri sendiri. Saya sampai lupa untuk punya pencapaian. Selain pekerjaan, tentunya. 

Tahun-tahun sebelumnya tujuan saya adalah menyelesaikan studi S3. Setiap awal tahun punya harapan bahwa studi saya akan selesai. Sampai akhirnya benar-benar selesai di awal tahun 2016 dan secara resmi lulus pada bulan Juni 2016. 

Pada saat menyelesaikan studi, saya pun sempat kehilangan motivasi. Melakukan hal yang sama setiap hari selama beberapa tahun membuat kreativitas saya buntu. Sampai satu titik saya menemukan pola hidup Food Combining dan Yoga yang membawa saya pada satu tujuan hidup; sehat.

Sekolah selesai, kemudian saya dapat rejeki pekerjaan di Kota Kinabalu, alhamdulillah. Kemudian tenggelam dengan segala deadline setiap harinya. Banyak pekerjaan yang numpuk seperti pakaian belum disetrika *LOL. Sampai pada titik saya dipercaya untuk duduk di satu posisi yang membutuhkan komitmen tinggi, kedisiplinan, dan segala derivasinya untuk dapat menyelesaikan semua pekerjaan dan dalam waktu bersamaan memimpin pasukan kerja. Sangat melelahkan, terutama psikologis. 

Tepatnya sebulan lalu, saya tidak lagi menduduki posisi panas itu. Alhamdulillah. Tapi, walaupun ini adalah hal yang sangat saya inginkan, lepas dari jabatan itu, ternyata Post Power Syndrome juga mampir di diri saya. Tidak parah, tapi ada. Kebiasaan bangun tengah malam membuka e-mail, tidur tanpa berhenti berpikir, cuti dengan masih bekerja, selalu dipanggil untuk rapat ini dan itu, selalu harus "tampil" yang hilang dari hari-hari saya ternyata sempat membuat saya mengalami disorientasi seketika. Ada rasa sedih ketika rutinitas setahun ke belakang hilang. Ditambah saya tidak punya teman bercerita di sini (saya tinggal berjauhan dengan suami), jadi untuk bisa cerita bertatap muka atau sekedar duduk sama-sama untuk menikmati secangkir kopi usai kerja itu tidak ada. 

Kemudian saya bangkit dengan segenap tenaga dan rencana akademik saya. Cita-cita lama yang terkubur karena kesibukan mulai saya gali semula. Menata rencana di 2019 harus menghasilkan apa saja. Tapi kemudian ada yang hilang, diri saya. Saya kehilangan diri saya. 

Beberapa bulan terakhir sering kali saya merasa nyasar entah ke mana. Bukan saya yang biasa. Saya biarkan rumah tidak disapu, pakaian tidak disetrika, diam seharian di atas kasur menikmati video-video YouTube di kala libur akhir pekan. Samapai-sampai saya kesal sendiri. Karena saya tau, rumah rapi dan bersih itu adalah surga buat saya. Pulang kerja dengan rumah rapi dan tidak berdebu itu bikin hati nyaman. Tapi kemarin itu ada masanya saya sangat jauh dari diri saya yang begitu. Saya jarang masak, beli makan di luar, makan semaunya. Kemudian mudah sakit, mudah capek dan tidak bergairah melakukan ini dan itu. I was in a mess situation. 

Nah, kembali ke obrolan dengan teman, saya mengatakan "Kayanya udah beberapa waktu ke belakang ini saya gak pernah belajar hal baru, saya gak ada tambahan ilmu. Yuk, kita belajar sesuatu sama-sama, biar semangat. Sharing tiap hari." Sempat ingin kembali menekuni lagi ilmu kesehatan holistik, tapi saya ini sok tau. Mentang-mentang sudah sempat mendalami ilmu itu, mau ngulang lagi dari nol kok males :)) Walaupun dalam kepala saya masih ada konsep itu; percaya bahwa tubuh dapat menyembuhkan dirinya sendiri, maka perlakukanlah dengan baik, saya memilih pola hidup Food Combining untuk itu. Kemudian dari obrolan dengan teman itu, saya mulai cari-cari hal yang bisa mulai saya pelajari dan dalami, tapi tidak mengesampingkan apa yang sudah saya lakukan sebelumnya; menjalankan pola hidup Food Combining dan melakukan Yoga secara rutin. Sampailah saya pada postingan-postingan dan tulisan-tulisan tentang #minimalism dan mulai mempelajarinya. Beruntungnya, teman saya ternyata sudah lebih dulu baca-baca tentang #minimalism ini, jadi saya banyak belajar dari dia. 

"Minimalism is a tool that can assist you in finding freedom" kutipan ini saya ambil dari   https://www.theminimalists.com/minimalism/, bisa dirujuk di sana. Nah, ketika berbicara tentang minimalism, hal yang ada dalam pikiran saya adalah kesehatan, keuangan dan kenyamanan. 

Kesehatan:
Seperti saya sampaikan tadi bahwa di kepala saya masih melekat konsep Food Combining dan Yoga sebagai bentuk latihan harian yang sangat bermanfaat bagi kesehatan. Dengan menjaga diet dan mengolah tubuh secara rutin dan benar, tubuh lebih sehat dan psikologis juga lebih baik. Kenapa minimalis? Karena dengan menjadi mindful dalam menjalankan pola hidup sehat, sesuai yang saya paham, konsumsi makanan di luar konsep sehat akan jauh lebih berkurang. Ber-yoga pun bisa dilakukan di rumah saja. Ujungnya bukan hanya menyehatkan tubuh dan mental, tetapi juga keuangan. Nah, 2019 ini saya akan pelan-pelan kembali kepada pola hidup Food Combining dan melakukan Yoga secara rutin demi tujuan hidup lebih sehat dan bebas dari biaya rumah sakit/obat-obatan. 

Keuangan:
Lebih mindful memilah mana yang keinginan dan keperluan dapat membantu dalam menekan pengeluaran yang bocor tidak karuan. Ngopi-ngopi pulang kerja, walau cuma di kedai kopi, adalah salah satu bocor halus dalam kasus saya, selain camilan >.< Nah, ada lagi! Impulsive shopping. Err..Alasan stress dan lelah bekerja atau memanjakan diri setelah bekerja bagai quda sudah tidak boleh lagi dipakai untuk beli barang-barang yang tidak dibutuhkan; baju, sepatu, tas. STOP!

Dengan begitu, menentukan tujuan finansial sangat penting untuk memastikan pengaturan keuangan sudah benar sesuai keperluan. Tujuan utama saya tahun ini adalah memenuhi Dana Darurat dan lebih fokus dalam persiapan Dana Pensiun. Jadi, tahun ini akan dimulai dengan memperbaiki bocor-bocor halus pengeluaran bulanan supaya dananya bisa dialokasikan ke dua tujuan finansial ini. Impulsive shopping, bye!

Kenyamanan:
Berhubungan dengan impulsive shopping di atas, jadi saya mulai melakukan decluttering di rumah. Dimulai dengan lemari pakaian. Saya coba menerapkan Konmari Method. Dalam Konmari Method ini ada beberapa kategori untuk dirapikan; (1) pakaian, (2) buku, (3) kertas-kertas, (4) lain-lain, dan (5) barang-barang yang punya nilai sentimental. Dengan merapikan barang-barang tersebut, kita akan lebih mindful dalam memahami barang mana yang dibutuhkan dan mana yang tidak. Berawal dari situ, rumah akan berisi barang-barang yang memang akan kita pakai atau barang-barang yang memberikan kesenangan/kenyamanan. Ini butuh waktu untuk mewujudkannya. Makanya, ini adalah salah satu target yang ingin saya capai di 2019. 

Bagaimana proses saya menjalani ketiga hal di atas? Tidak tahu. Ya, tidak tahu. Hari ini adalah tanggal 8 Januari 2019, sejauh ini saya sudah memulai semuanya, pelan-pelan. Nanti, di tulisan berikutnya saya akan berbagi bagaimana proses saya menjadi lebih minimalis seiring dengan waktu. Saya juga ingin berkomitmen untuk nulis minimal satu postingan setiap bulannya untuk berbagi tentang proses belajar saya menuju pribadi yang lebih minimalis. 

Semoga istiqamah. Aamiin!
Cheeers!


Foto dari sini
Semakin hari, intensitas saya berolahraga semakin berkurang. Ingat betul tahun 2014-2015 rajin banget yoga, entah itu melakukannya sendiri di rumah atau pergi ke yoga studio. Karena excited dengan perkembangan kemampuan tubuh saya, yoga dilakukan hampir sepanjang hari. Ketika sedang bekerja, lalu dilanda bosan, saya akan melakukan satu atau dua posisi yoga yang membuat saya senang dan menambah semangat untuk bekerja kembali. Begitu terus. Ketika sedang getol-getolnya beryoga ria, badan saya singset, walaupun berat badan ya segitu aja. Tidur pun lebih nyenyak. 

Nah, semakin ke sini, ada saja alasan saya untuk tidak melakukan latihan harian. Pagi-pagi dari bangun saja sudah sibuk dengan memasak, bebersih rumah dan bersiap-siap berangkat ke kantor. Sore hari, kadang-kadang saya lakukan juga beberapa posisi yoga sesampainya di rumah setelah pulang kerja. Tapi, sering kali saya pulang kerja lewat maghrib, pun badan sudah sangat lelah. Kadang makan pun saya malas-malasan karena terlalu lelah.

Begitu terus. Sampai akhirnya teman saya memberi tahu satu tempat olahraga yang cukup menyenangkan, Perdana Park. Lokasinya dekat Tanjung Aru di Kota Kinabalu, dekat dari kantor maupun rumah saya. Nah, saya mulai membiasakan bawa pakaian olahraga setiap hari ke kantor. Datang ke kantor lebih awal, dan mengusahakan pulang tenggo--jam 5 teng, langsung go. Kalau pun tidak bisa tenggo, saya biasanya mengusahakan pulang jam 5.30 sore, masih sempat mengejar sunset dan mengejar shalat maghrib di rumah. 

Tapi, sejak punya tanggung jawab baru di kantor, saya geser kegiatan olahraga saya di hari Sabtu dan Minggu. Biasanya saya olahraga di pagi hari, biar hari libur itu dimulai dengan kegiatan yang bermanfaat--cieh! Sering kali saya pergi olahraga sendiri, dan karena Perdana Park itu rame, jadi seru-seru aja. Seneng banget lihat orang-orang yang sudah berusia lanjut ikut olahraga sama-sama di sana. Ada anak-anak dan orang-orang seumuran saya juga, entah itu jogging, jalan santai atau bersenam. Suasananya memang mendukung banget buat bersemangat. 

Biasanya saya jalan cepat saja, tidak kuat lari, pun badan yang gendats bikin lutut sakit kalau lari. Jadilah jalan cepat yang saya pilih, dengan kedua tangan digerakkan sewaktu berjalan. Biasanya saya set untuk jalan lima putaran, satu putarannya sekitar 800m. Biasanya semangat kendor di putaran ketiga karena mulai terasa lelah. Kalau sudah begitu, saya perlambat jalannya, yang penting jalan, bergerak. 

Setelah selesai jalan, saya pendinginan. Kadang melakukan beberapa posisi yoga yang bisa membantu memperbaiki postur. Saya kerja satu harian, kebanyakan duduk. Tulang belakang sering terasa sakit. Beberapa posisi yoga cukup membantu meredakan dan sebagai upaya agar postur tubuh tidak ngaco karena posisi duduk seharian, apalagi posisi duduk yang salah.

Jadi, menjelang 2018 ini, saya ingin memacu diri saya untuk bergerak lebih banyak, mudah-mudahan saya lebih sehat, lebih bugar. Aamiin. 
Gambar diambil dari sini 
Semua orang memiliki budaya penggunaan waktu yang berbeda-beda. Pindah dari satu kota ke kota lainnya membuat saya belajar banyak tentang budaya orang-orang di daerah itu. Saya sendiri tetap ribet dengan aturan saya--mau ngapain jam berapa lalu dilanjut ngerjain apa.

Sering kali saya datang ke kantor awal bukan karena saya rajin, tetapi saya ingin menggunakan waktu sebelum jam 8 pagi untuk mempersiapkan diri sebelum mulai bekerja. Atau kadang-kadang saya  memang mulai bekerja awal. Ada lagi kalanya saya pulang kerja lambat bukan karena saya betah banget di kantor, tapi lebih karena saya ingin pekerjaan selesai dan tidak membebani to-do-list untuk esok hari. Kadang, eh sering kali sih, di tengah-tengah kerjaan adaaa aja kerjaan lain yang harus saya kerjakan, jadi to-do-list terbengkalai. Makanya kemudian saya memutuskan untuk stay back.

Pagi hari, sering kali saya ingin melakukan konfirmasi ini dan itu di awal waktu kerja. Tetapi sering kali pula tergendala karena orang yang ingin dihubungi belum sampai atau masih sarapan. Kadang ada keselnya juga, sih :D Pace kerja setiap orang beda-beda. Ada yang cepat dan beres, ada yang cepat dan tidak beres, ada yang lama tepat waktu dan ada pula yang gak selesai-selesai kerjaannya :'D 

Ini kali ya namanya adaptasi. Tapi bagaimanapun, saya berusaha untuk memahami budaya tempatan yang ada. Kalau bisa saya ikuti, akan saya ikuti. Kalau tidak, setidaknya saya maklumi. 
Gambar dari sini 
Saya ini jagonya menghilang. Kalau ada orang yang memanfaatkan saya, menyebalkan, tidak menyenangkan, dan lain-lain hal yang tidak membuat nyaman, saya tidak segan-segan mencoret nama dia dari daftar teman atau kenalan saya. Iya, instead of facing them, I prefer to just let go of them. I don't want to waste my energy for that. Tapi...saya akhirnya menuai apa yang selalu saya lakukan. Ketika saya terjebak untuk menghadapi orang yang super menyebalkan, dan tidak ada jalan untuk kabur atau berbalik badan, saya jadi kecapekan sendiri. Tapi pun harus tetap maju ke depan melewati hari-hari. 

Saya terlalu naif mungkin. Daripada ribet bermuka dua, sok peduli, sok sibuk ini itu, sok bersahabat, kalau tidak suka ya sudah, tidak suka saja. Tidak perlu berurusan dengan orang yang memang selalu memberi kesan negatif dan menyusahkan hati. Tapi dalam konteks interaksi tertentu, ternyata saya terjebak dengan permainan be nice in being not nice

Begini. Saya belajar sesuatu ketika mendapati seseorang mampu "menerkam" orang lain di depan para penonton dengan cara yang sangat manis. Namun mematikan. Saya juga belajar sesuatu ketika "dilahap" di meja sidang tetapi dirangkul di luar konteks itu. Bagi saya, itu ja hat. Dan saya tidak tahu bagaiamana seseorang bisa melakukan itu.

Saya naif mungkin. Saya selalu berusaha menjalankan tugas saya dengan baik. Menegur dengan baik. Mengajar dengan baik. Saya elakkan penggunaan kata 'bodoh', 'pemalas', dan sejenisnya karena saya tau mereka-mereka yang sedang belajar itu sedang berproses. Kalau salah, beri tahu kalau memang salah, betulkan. In a good way

Bisakah begitu?

Tidak perlu berpura-pura membela atau peduli ketika sedang berdua tetapi "melumat" bulat-bulat ketika ada penonton bertebaran memerhatikan. It's just not right. Or not nice?

Well, iya mungkin. Saya naif. 
Foto dari Google Image
Semakin tua, saya semakin sering mencari tau tentang personaliti diri sendiri. Semakin saya paham, semakin saya sebel dengan diri saya :)) Gak lah, becanda. Tapi, setiap kali saya mengalami ini itu dalam hidup, terutama yang kurang menyenangkan atau kurang menguntungkan, ini menjadi titik di mana saya kembali membuka catatan-catatan lama tentang bagaimana diri saya sebenarnya. Iya, saya tau, saya ini bukan orang yang menyenangkan. Sering disebut judes, ketus dan lain sebagainya. Tapi di sisi lain, orang-orang yang selalu enggan menemani hari-hari saya akan datang satu per satu di kala mereka butuh orang yang akan dengan rela mendengarkan cerita mereka berulang-ulang dan berhari-hari; iya, saya.

Banyak catatan saya tentang diri yang introvert dan melankolis ini. Saya penyendiri, suka bekerja sendiri, berpikir analitik dan mendalam, suka membuat rencana, suka rutin, tidak suka ada dalam keriuhan, tidak bisa menyampaikan pendapat dalam forum besar, tidak suka menjadi sorotan. Di sisi lain saya akan dengan mudah mengingat hal-hal yang sifatnya spesial seperti hari lahir dan momen-momen yang saya anggap penting. Banyak poin-poin tentang orang introvert dan melankolis yang nyata ada dalam diri saya. Semakin hari, semakin saya ketar ketir mengatasi diri sendiri karena kendala yang saya hadapi di depan mata semakin kompleks.

Pernah ada yang bertanya kepada saya “nanti kamu mau jadi pemimpin yang seperti apa?”. Tidak pun terbayang dalam diri saya akan jadi pemimpin. Apalagi memikirkan jadi pemimpin yang seperti apa. Yang saya tau, saya akan kerjakan semua pekerjaan yang diberikan kepada saya dengan baik. Sebaik yang saya bisa lakukan. Itu saja. Makanya, ketika ada di posisi di mana saya harus berhadapan dengan banyak orang dengan posisi tinggi, saya terkunci. Kepala saya beku, bibir saya kelu, badan saya entah apa rasanya. Saya paksakan diri menghadapi hari demi hari, tantangan demi tantangan.

Kebayang kan ketika saya terpaksa “memimpin” dan berada di antara para pemimpin dan mengeluarkan segala isi kepala yang disebut usulan dan gagasan? Mau pingsan aja rasanya. Tidak jarang saya berpikir untuk lari. Berhenti. Menghilang. Tapi saya bukan pengecut. Mungkin pemalu. Mungkin tidak percaya diri. Tapi saya bukan pengecut. Saya selesaikan apa yang saya mulai. Saya kerjakan kewajiban saya walau terseok.


Betapa si melankoli ini tersiksa dengan apa yang menghimpit hari-harinya. Tapi saya harus berdiri tegak. Raut muka mungkin tidak bisa disembunyikan. Tapi saya tidak boleh patah semangat, apalagi hati. Saya harus berjalan terus sampai garis finish. 
Gambar dari sini
Saya selalu dipertemukan dengan orang yang dominan, agresif dan cenderung mengendalikan. Ibaratkan gelas dengan tutupnya, orang dominan seperti itu "cocok" dengan saya yang permisif dan cenderung mengakomodir keinginan dan kebutuhan orang di atas kepentingan saya. Selama ini saya selalu bisa lari. Menjauh dari tipe orang seperti itu. Tapi kali ini, saya terperangkap. I have to deal with this person.

Dalam perjalanan karir, saya  mendapat kesempatan untuk belajar banyak di posisi saya sekarang ini. Kalau bicara otoritas dan kuasa, saya punya. Tapi ketika kembali lagi ke kepribadian yang saya miliki, dalam banyak kesempatan saya malah seperti kehilangan kedua hal itu; otoritas dan kuasa. Satu sosok dominan, karena senioritas dan titel, kerap kari menghantui hari-hari saya. 

Dari setiap tugas yang saya terima, tidak ada keluhan yang berarti selain capek. Manusiawi, kan? Tapi ini, tidak pun bagian dari tugas saya, tapi menghadapi si dominan ini membayangi setiap langkah saya setiap hari. Setiap hari. Letihnya luar biasa. 

Mungkin saya  mengada-ada. Tapi sungguh, tenaga dan pikiran saya boleh dikuras untuk pekerjaan. Saya bersedia mengerjakan sesuai kemampuan saya. Tapi berhadapan dengan si dominan ini, lahir batin saya rontok rasanya. Capek. Letih.

Tapi satu hal yang saya tau, saya tidak boleh menyerah dan mengalah. Pun ini bukan tentang memenangkan apa-apa. Tapi memperjuangkan martabat diri sendiri.