Gambar diambil dari sini 
Semua orang memiliki budaya penggunaan waktu yang berbeda-beda. Pindah dari satu kota ke kota lainnya membuat saya belajar banyak tentang budaya orang-orang di daerah itu. Saya sendiri tetap ribet dengan aturan saya--mau ngapain jam berapa lalu dilanjut ngerjain apa.

Sering kali saya datang ke kantor awal bukan karena saya rajin, tetapi saya ingin menggunakan waktu sebelum jam 8 pagi untuk mempersiapkan diri sebelum mulai bekerja. Atau kadang-kadang saya  memang mulai bekerja awal. Ada lagi kalanya saya pulang kerja lambat bukan karena saya betah banget di kantor, tapi lebih karena saya ingin pekerjaan selesai dan tidak membebani to-do-list untuk esok hari. Kadang, eh sering kali sih, di tengah-tengah kerjaan adaaa aja kerjaan lain yang harus saya kerjakan, jadi to-do-list terbengkalai. Makanya kemudian saya memutuskan untuk stay back.

Pagi hari, sering kali saya ingin melakukan konfirmasi ini dan itu di awal waktu kerja. Tetapi sering kali pula tergendala karena orang yang ingin dihubungi belum sampai atau masih sarapan. Kadang ada keselnya juga, sih :D Pace kerja setiap orang beda-beda. Ada yang cepat dan beres, ada yang cepat dan tidak beres, ada yang lama tepat waktu dan ada pula yang gak selesai-selesai kerjaannya :'D 

Ini kali ya namanya adaptasi. Tapi bagaimanapun, saya berusaha untuk memahami budaya tempatan yang ada. Kalau bisa saya ikuti, akan saya ikuti. Kalau tidak, setidaknya saya maklumi. 
Gambar dari sini 
Saya ini jagonya menghilang. Kalau ada orang yang memanfaatkan saya, menyebalkan, tidak menyenangkan, dan lain-lain hal yang tidak membuat nyaman, saya tidak segan-segan mencoret nama dia dari daftar teman atau kenalan saya. Iya, instead of facing them, I prefer to just let go of them. I don't want to waste my energy for that. Tapi...saya akhirnya menuai apa yang selalu saya lakukan. Ketika saya terjebak untuk menghadapi orang yang super menyebalkan, dan tidak ada jalan untuk kabur atau berbalik badan, saya jadi kecapekan sendiri. Tapi pun harus tetap maju ke depan melewati hari-hari. 

Saya terlalu naif mungkin. Daripada ribet bermuka dua, sok peduli, sok sibuk ini itu, sok bersahabat, kalau tidak suka ya sudah, tidak suka saja. Tidak perlu berurusan dengan orang yang memang selalu memberi kesan negatif dan menyusahkan hati. Tapi dalam konteks interaksi tertentu, ternyata saya terjebak dengan permainan be nice in being not nice

Begini. Saya belajar sesuatu ketika mendapati seseorang mampu "menerkam" orang lain di depan para penonton dengan cara yang sangat manis. Namun mematikan. Saya juga belajar sesuatu ketika "dilahap" di meja sidang tetapi dirangkul di luar konteks itu. Bagi saya, itu ja hat. Dan saya tidak tahu bagaiamana seseorang bisa melakukan itu.

Saya naif mungkin. Saya selalu berusaha menjalankan tugas saya dengan baik. Menegur dengan baik. Mengajar dengan baik. Saya elakkan penggunaan kata 'bodoh', 'pemalas', dan sejenisnya karena saya tau mereka-mereka yang sedang belajar itu sedang berproses. Kalau salah, beri tahu kalau memang salah, betulkan. In a good way

Bisakah begitu?

Tidak perlu berpura-pura membela atau peduli ketika sedang berdua tetapi "melumat" bulat-bulat ketika ada penonton bertebaran memerhatikan. It's just not right. Or not nice?

Well, iya mungkin. Saya naif. 
Foto dari Google Image
Semakin tua, saya semakin sering mencari tau tentang personaliti diri sendiri. Semakin saya paham, semakin saya sebel dengan diri saya :)) Gak lah, becanda. Tapi, setiap kali saya mengalami ini itu dalam hidup, terutama yang kurang menyenangkan atau kurang menguntungkan, ini menjadi titik di mana saya kembali membuka catatan-catatan lama tentang bagaimana diri saya sebenarnya. Iya, saya tau, saya ini bukan orang yang menyenangkan. Sering disebut judes, ketus dan lain sebagainya. Tapi di sisi lain, orang-orang yang selalu enggan menemani hari-hari saya akan datang satu per satu di kala mereka butuh orang yang akan dengan rela mendengarkan cerita mereka berulang-ulang dan berhari-hari; iya, saya.

Banyak catatan saya tentang diri yang introvert dan melankolis ini. Saya penyendiri, suka bekerja sendiri, berpikir analitik dan mendalam, suka membuat rencana, suka rutin, tidak suka ada dalam keriuhan, tidak bisa menyampaikan pendapat dalam forum besar, tidak suka menjadi sorotan. Di sisi lain saya akan dengan mudah mengingat hal-hal yang sifatnya spesial seperti hari lahir dan momen-momen yang saya anggap penting. Banyak poin-poin tentang orang introvert dan melankolis yang nyata ada dalam diri saya. Semakin hari, semakin saya ketar ketir mengatasi diri sendiri karena kendala yang saya hadapi di depan mata semakin kompleks.

Pernah ada yang bertanya kepada saya “nanti kamu mau jadi pemimpin yang seperti apa?”. Tidak pun terbayang dalam diri saya akan jadi pemimpin. Apalagi memikirkan jadi pemimpin yang seperti apa. Yang saya tau, saya akan kerjakan semua pekerjaan yang diberikan kepada saya dengan baik. Sebaik yang saya bisa lakukan. Itu saja. Makanya, ketika ada di posisi di mana saya harus berhadapan dengan banyak orang dengan posisi tinggi, saya terkunci. Kepala saya beku, bibir saya kelu, badan saya entah apa rasanya. Saya paksakan diri menghadapi hari demi hari, tantangan demi tantangan.

Kebayang kan ketika saya terpaksa “memimpin” dan berada di antara para pemimpin dan mengeluarkan segala isi kepala yang disebut usulan dan gagasan? Mau pingsan aja rasanya. Tidak jarang saya berpikir untuk lari. Berhenti. Menghilang. Tapi saya bukan pengecut. Mungkin pemalu. Mungkin tidak percaya diri. Tapi saya bukan pengecut. Saya selesaikan apa yang saya mulai. Saya kerjakan kewajiban saya walau terseok.


Betapa si melankoli ini tersiksa dengan apa yang menghimpit hari-harinya. Tapi saya harus berdiri tegak. Raut muka mungkin tidak disembunyikan. Tapi saya tidak boleh patah semangat, apalagi hati. Saya harus berjalan terus sampai garis finish. 
Gambar dari sini
Saya selalu dipertemukan dengan orang yang dominan, agresif dan cenderung mengendalikan. Ibaratkan gelas dengan tutupnya, orang dominan seperti itu "cocok" dengan saya yang permisif dan cenderung mengakomodir keinginan dan kebutuhan orang di atas kepentingan saya. Selama ini saya selalu bisa lari. Menjauh dari tipe orang seperti itu. Tapi kali ini, saya terperangkap. I have to deal with this person.

Dalam perjalanan karir, saya  mendapat kesempatan untuk belajar banyak di posisi saya sekarang ini. Kalau bicara otoritas dan kuasa, saya punya. Tapi ketika kembali lagi ke kepribadian yang saya miliki, dalam banyak kesempatan saya malah seperti kehilangan kedua hal itu; otoritas dan kuasa. Satu sosok dominan, karena senioritas dan titel, kerap kari menghantui hari-hari saya. 

Dari setiap tugas yang saya terima, tidak ada keluhan yang berarti selain capek. Manusiawi, kan? Tapi ini, tidak pun bagian dari tugas saya, tapi menghadapi si dominan ini membayangi setiap langkah saya setiap hari. Setiap hari. Letihnya luar biasa. 

Mungkin saya  mengada-ada. Tapi sungguh, tenaga dan pikiran saya boleh dikuras untuk pekerjaan. Saya bersedia mengerjakan sesuai kemampuan saya. Tapi berhadapan dengan si dominan ini, lahir batin saya rontok rasanya. Capek. Letih.

Tapi satu hal yang saya tau, saya tidak boleh menyerah dan mengalah. Pun ini bukan tentang memenangkan apa-apa. Tapi memperjuangkan martabat diri sendiri.  
Gambar diambil dari sini
Saya selalu berusaha memisahkan kriteria teman kerja, kenalan dan teman dekat. Keputusan saya sebetulnya sudah tepat, tidak menyatukan teman main hari-hari dengan teman kerja. Apapun, konflik pasti saja ada. Entah urusan kerja yang berefek ke hubungan pertemanan hari-hari, atau urusan pribadi yang terbawa-bawa ke urusan pekerjaan. Namanya manusia, ada saja kemungkinan itu, kan?

Di sosial media pun saya tidak berteman dengan rekan kerja, baik rekan kerja sekarang ataupun di tempat kerja saya dulu. Saya tidak mau image saya sebagai pribadi dan dalam kapasitas profesional dicampur aduk. Pun tidak mau ada yang menghakimi kredibilitas saya cuma karena saya pecicilan di dunia pertemanan saya, di luar kantor.

Tapi kemudian saya agak longgar tentang hal ini, tentang keputusan yang sudah saya buat sendiri. Dan hari ini, saya menyesali kelonggaran itu. Bagaimanapun, diding pemisah antara teman kerja dan teman main hari-hari tetap harus saya bangun. Demi kebaikan. Setidaknya kebaikan saya sendiri. 
Foto diambil dari sini

Jadi peragu dan penuh pertimbangan yang berujung pada rasa takut adalah hantu yang selalu membayangi saya. Hampir 35 tahun lamanya. Kadang saya berpikir bahwa apa yang ada di dalam pikiran dan pertimbangan saya ini masuk akal. Kadang saya sadar bahwa semua pro dan kontranya sudah terlalu berlebihan.  

Ada kalanya saya menunda mengerjakan karena saya tau saya mampu mengerjakan, dengan baik atau tidak, dalam waktu sekian jam/hari/tahun. Tapi kemudian, terlalu yakin diri kadang membawa pada ketidak sempurnaan yang seharusnya tidak wujud hanya karena menunda mewujudkannya. Sempurna itu relatif, setidaknya kita bisa menciptakan konstruksi kesempurnaan kita sendiri. 

Banyak hal yang ada dalam pikiran saya, sepertinya, briliant. Alih-alih melakukan apa yang diimpikan, saya putuskan untuk berbalik arah dengan alasan A-Z yang saya kira masuk akal. Padahal yang saya lakukan adalah mengurungkan niat membuka pintu yang mungkin akan membawa saya ke satu kondisi tertentu; berhasil atau gagal.

Bicara tentang peluang, keinginan, kemampuan...dan bahkan kemungkinan, sering kali saya perlu didorong, dipaksa masuk ke dalam situasi yang tidak ada jalan kembali, sehingga satu-satunya yang saya harus lakukan adalah terus melangkah ke depan. 

Kadang hanya perlu mengatakan kepada diri sendiri "lakukan saja, tidak ada yang salah", daripada sibuk berpikir bagaimana kalau atau bagaimana nantinya jika...Karena, ketika masih sibuk berkutat dengan segala pertimbangan, pikiran dan upaya melarikan diri dari segala kemungkinan, mengaburkan keinginan dan tidak percaya pada kemampuan diri sendiri, pintu menuju peluang itu telah kembali tertutup. 

Iya, saya harus melawan hantu yang bersarang di kepala saya sejak 35 tahun yang lalu. 

Hampir setiap gadis kecil punya impian tentang acara pernikahannya kelak. Semewah atau sesederhana apapun mimpi itu. Saya, entah sejak kapan, membayangkan menikah di dalam rumah dan mensyukurinya bersama keluarga dan sahabat di ruangan terbuka, di taman atau kebun, dekat dengan alam. Rasanya mimpi ini sudah ada jauh sebelum garden party muncul di mana-mana. 

Sekian belas tahun dari awal mimpi itu dibangun, seorang laki-laki, sebut saja Mas Bromo, yang entah karena alasan apa Tuhan mempertemukannya dengan saya, melamar dan mengamini mimpi kecil saya itu. Mungkin judulnya “yang penting kamu bahagia”, gitu haha. Tapi, lebih dari itu, tentang pernikahan itu sendiri selalu kami bicarakan berdua, setiap waktu. Jadi, mimpi ini adalah hadiah dan pembuka perjalanan panjang yang akan kami jalani bersama-sama.

Sebelum lamaran itu, konsep akad dan syukuran pernikahan sudah mulai dibicarakan; di mana tempatnya, bagaimana akadnya, bagaimana syukurannya, siapa yang diundang dan detil lainnya yang ternyata banyak juga :D Setelah lamaran, makin serius lagi pembahasannya. Kemudian diputuskan untuk mewujudkan mimpi syukuran pernikahan saya di luar rumah. Maksudnya tidak di rumah dan halaman sebelah seperti yang semula saya pikirkan, karena banyak pertimbangan. Tapi konsep tetap sama; alam dan keakraban bersama keluarga dan sahabat.

Saya, yang mungkin introvert ini, selalu ingin pernikahan yang dihadiri orang-orang yang saya kenal; keluarga dan sahabat. Jujur, saya tidak punya banyak teman (dekat), kenalan mungkin iya, banyak. Tapi, tidak semua orang bisa saya bagi berbagai cerita. Dan untuk pernikahan, saya memilih untuk mensyukuri dan merayakannya dengan mereka; keluarga dan sahabat. Tanpa mengurangi rasa hormat kepada teman-teman dan kolega lain, tentunya.  

Nah, setelah kata sepakat bahwa kami akan  menikah dengan konsep yang saya impikan itu, mulailah saya dan Mas Bromo keliling mencari tempat yang bisa mewakili imajinasi saya. Cari di dalam kota dan di luar kota Cirebon. Sampailah kami pada satu tempat yang memiliki lapangan hijau luas di bagian belakangnya, dilengkapi pemandangan maha cantik; Gunung Ciremai. Begitu lihat tempat ini, saya langsung pegang tangan Mas Bromo dan berbisik “ini, Mas!” sambil tersenyum lebar dan penuh harap di dada. Hotel Horison Tirta Sanita, di kawasan pariwisata Sangkan Hurip, Kuningan, tempatnya.

Beruntung waktu itu berkesempatan bertemu dengan pegawai hotel bagian marketingnya, Mbak Aliya, dan sempat ngobrol ini itu mengenai kemungkinan melakukan akad dan resepsi di pelataran hijau itu, dan bertanya mengenai harga paket dan lain sebagainya. Harga paket pernikahan yang mereka tawarkan masuk dalam anggaran dana kami :D Saya masih ingat, Mbak Aliya, yang waktu itu membantu saya untuk semua persiapan acara pernikahan ini, berkata “kalau pakai paket kami ini, Mbak cuma perlu bawa perias aja, sudah bisa jalan nih pestanya”, lebih kurang begitu. Makin bersinarlah mata saya :) Kemudian ngobrol naninu dengan keluarga, dan yap! Kami sepakat mengadakan acara pernikahan di sana. Yeay!

Jadi, saya ambil paket yang, bagi saya sih, lengkap; dekorasi standar untuk akad dan resepsi, 2 kamar standar untuk 1 malam, 1 honeymoon suite untuk 1 malam, voucher spa untuk pengantin,  hiburan (boleh pilih antara band atau akustik), makanan prasmanan untuk 500 orang, 4 gubug/food stalls, dan fasilitas lainnya seperti diskon sampai dengan 40% untuk pemesanan kamar dan cottage. Cakep! Dalam perkembangan persiapan acara pernikahan ini, saya memesan tambahan menu gubug, mengkonversi minuman berkarbonasi menjadi menu lain dan mengkonversi kamar standar yang ada dalam paket jadi 1 malam lagi menginap di honeymoon suite.

Kerjasama dari pihak hotel sangat baik, menurut saya. Mbak Aliya dan tim sangat responsif dan berusaha untuk mewujudkan keinginan client sesuai dengan budget yang ada. Konversi fasilitas yang kami ajukan disetujui, tim hotel tidak kaku dalam berkomunikasi. Hanya saja, bertemu dan diskusi secara langsung sepertinya lebih efektif dalam proses mematangkan konsep acara pada waktu itu untuk meminimalisir salah faham.

Jujur, saya tidak sempat mencicipi makanan waktu acara haha, terlalu sibuk haha hihi dan berfoto sana sini. Karena konsep acara pernikahannya adalah mingling, jadilah jadi pengantin yang pecicilan. Tapi menurut keluarga sih makanan yang disediakan enak dan berlimpah, alhamdulillah. Saya selalu takut makanan kurang, karena menurut saya good food will lead to good mood, jadi makanan enak dengan jumlah yang mencukupi dan rasanya itu harus banget! Hanya saja makanan yang bersisa tidak semuanya diperbolehkan dibawa pulang.  Sayang, masih banyak bersisa. Eh, ini entah peraturan di semua hotel atau bagaimana, saya kurang paham :D Tapi kami diperkenankan membawa pulang beberapa kotak makanan, terima kasih ;)

Sarapan di hotel, ini waktu yang paling menyenangkan. Karena keluarga berkumpul semua di sana. Makanan yang disajikan bervariasi dan rasanya cukup memuaskan. Ada makanan dan minuman tradisional juga seperti serabi dan jamu. Makanan a la barat juga tersedia, tinggal pilih mau makan apa. Saya suka sarapan di pelataran luar restoran karena menghadap ke halaman belakang yang hijau dengan gemericik air kolam. Kalau beruntung, kita bisa melihat gunung Ciremai juga di kala pagi.

Hotel Horison Tirta Sanita ini sebelumnya bernama Hotel Tirta Sanita, kemudian bergabung dengan Horison group, kemudian namanya menjadi Horison Tirta Sanita pada tahun 2015 kalau tidak salah. Dalam perjalanannya, yang saya tahu, sudah dibangun kamar-kamar baru dan function hall. Nah, untuk acara saya, keluarga inti menginap di cottage yang mengelilingi halaman tempat dilangsungkannya acara. Sementara keluarga besar dan beberapa sahabat menginap di kamar hotel di bangunan baru di bagian samping. Untuk honeymoon suite pula lokasinya di bangunan lama, di bagian depan hotel, menghadap ke jalan.

Ulasan sedikit tentang fasilitas kamar ini, ya. Untuk cottage, bangunan ini cukup luas dan nyaman untuk menginap satu keluarga. Ada cottage yang berukuran besar dan kecil, cukup sampai 10 orang atau bahkan lebih. Hanya saja, bangunan ini lama, jadi agak kusam tampilannya, dan pengalaman saya, ada kamar yang telefon dan AC-nya tidak berfungsi baik. Selain dari itu, cukup oke sih untuk menginap di sana. Gedung baru, bagi saya kece. Yah, namanya masih bau baru, tampilan cakep, fasilitas juga sesuai dengan harga yang ditawarkan. Untuk honeymoon suite, ini merupakan bagian dari bangunan lama, kebetulan kamar mandi saya agak tersumbat bathtub-nya, jadi kurang nyaman. Tapi bisa dipahami bahwa hotel ini dalam proses peremajaan, menurut informasi yang saya dengar, secara bertahap fasilitas mereka akan diperbaiki dan ditingkatkan kualitasnya. Semoga semakin baik, ya!

Nah, untuk mewujudkan suasana yang saya impikan itu, saya juga ambil dekorasi dari luar untuk melengkapi dekorasi standar yang didapat dari hotel. Walaupun pada kenyataannya dekorasi hotel melebihi ekspektasi standar saya, terima kasih! Dekorasi ini satu paket dengan foto dan perias. Untuk keperluan ini, saya menggunakan jasa Bu Nannydari Komplek Pilang Perdana, Cirebon. Harga yang ditawarkan oleh Bu Nanny, menurut saya, masuk akal dan hasil riasan juga cakep. Iya, saya cerewet soal riasan, karena saya tidak mau nanti orang-orang tidak ada yang mengenali wajah saya karena terlalu manglingi :D 


Pertama kali saya ketemu Bu Nany sekitar bulan Oktober 2016, kemudian bulan Desember sudah terbang ke Malaysia untuk mulai bekerja. Kembali lagi ke Cirebon seminggu menjelang hari pernikahan. Selama Desember sampai April 2017 itu, Bu Nany dan Mbak Desty, anaknya, sering saya gangguin karena sampai satu minggu sebelum hari pernikahan, saya belum tau mau pakai baju apa :D Sebetulnya saya mau pakai gaun, tapi koleksi pakaian di Bu Nany tidak terlalu banyak pilihan gaun, dan kalaupun ada, entah itu kekecilan atau terlalu besar dan tidak bisa dikecilkan. My bad. Akhirnya pilihan jatuh pada kebaya modern putih :)

Saya gak mau ribet ganti baju berkali-kali pada saat acara, jadi saya mengenakan kebaya putih yang berpasangan dengan bawahannya yang senada untuk resepsi. Nah, untuk akad, bawahan putih itu diganti dengan kain batik cokelat. Sementara Mas Bromo pakai jas milik sendiri; kemeja putih tanpa dasi untuk akad, dan berdasi pada saat resepsi. It was simple yet elegant. Just nice.

Untuk keluarga, pakaian para Ibu hajat, saudara kandung (tidak semua) dan pagar ayu disediakan dari pihak perias. Karena pernikahan saya asik-asik aja, para bapak dan kakak-kakak pakai baju punya sendiri dengan warna senada. Mencoba baju, mengukur dan mencocokkan ini urusan ribet. Jadi, diputuskan untuk pakaian tidak terlalu ribet juga. Yang penting kami sekeluarga bisa kumpul sama-sama, berbahagia. Cukup.

Riasan, saya suka dengan Mbak Herna, anak Bu Nany yang mendandani saya. Mbak Herna bukan tipikal perias yang ini-yang-bagus-untuk-kamu-terima-aja. Mbak Herna benar-benar mendengarkan maunya saya apa, mau riasan yang bagaimana. Saya minta riasan yang tipis, tidak menor, manglingi in a very minimu level. Saya minta warna nude dan alami. Saya puas :)

Oia, dalam paket riasan ada luluran sehari sebelum acara hahaha. I was surprised about this. Pertama, saya tidak pernah dilulur oleh orang lain. Kedua, I was not aware that I will get this service at the first place. Jadi, saya sempet nolak tuh :)) Malah mau dikasih ke Mama aja, biar Mama yang dilulur :D Ibu hajat kan juga harus kece, bukan? Haha. Tapi akhirnya saya menyerah dengan ‘sekali seumur hidup, gak apa-apa’. Baiklah. And it was my very first experience. Lama juga tuh lulurannya, di kepala saya ribet “kapan kelarnya ini?”. I just don’t like people touching my body. I don’t even do creambath or cut my hair in the saloon. My Mom is my hairstylist haha. Can you imagine how I “enjoyed” that luluran thing back then? :D

Untuk dekorasi, saya meminta bunga segar dari Bu Nany supaya lebih hidup suasananya. Perpaduan konsep dari hotel dan Bu Nany jadi cakep! Bunga-bunganya cantik. Nuansa warna putih, pink dan hijau mendominasi suasana. Hanya saja hari itu pukul 12 hujan deras banget, venue basah. Walhasil para tamu blepotan sepatunya pada saat resepsi. Saya sendiri, mengotori baju Bu Nanny dengan tanah :)) Selalu ada hal menarik dari setiap perayaan yang bisa diingat, kan? Sore hari gunung Ciremai menampakkan dirinya pada saat akad berlangsung. Begitu selesai akad, wujudnya jelas gagah sempurna terlihat. Subhanallah! Jadi foto-foto setelah akad dilakukan berlatar gunung Ciremai, what about that? Awesome! ;)

Nothing is perfect, btw. Karena paket perias ini juga sekalian WO, pada saat acara agak sedikit tidak halus jalan acaranya. Diawali dengan perias yang datang terlambat, sehingga proses merias molor dan waktu akad pun akhirnya molor. Pun sempat ada kepanikan pada proses merias. Koordinasi antara penanggung jawab acara agak kurang baik juga sehingga sempat idle dalam proses transisi acara dari akad ke saweran. Hantaran untuk pengantin pria pun tertinggal di cottage :D Padahal udah cakep banget dihias, eh tidak terbawa. Pun hiasan mobil tidak sempat dipasang.

Sebagai client yang baik, pihak saya menyampaikan terima kasih dan pujian atas pelayanan yang memuaskan, dan menyampaikan kritikan dan saran bagi kekurangan. Demi kebaikan pelayanan di masa mendatang. Semoga ke depannya Bu Nany dan tim semakin baik lagi pelayanannya :)

Jadi, berdasarkan pengalaman saya, Hotel Horison Tirta Sanita bisa jadi pilihan untuk melangsungkan pernikahan dengan konsep alam di kawasan Cirebon/Kuningan. Dan, Bu Nany bisa jadi pilihan sebagai perias dengan paket yang cakep ;)






Beberapa waktu lalu saya ada nulis tentang aktivitas memasak di sini. Masih inget banget gimana senangnya memulai hari dengan turun ke dapur dan memasak menu sarapan buat teman-teman di kantor. Belum lagi ketika melihat semua makanan sudah terhidang, duh, seneng banget! Waktu saya memulai, what so called as business, itu adalah masa-masa kerjaan di kantor tidak terlalu banyak, tidak ada jam mengajar sebab sedang libur semesteran. Nah, saya punya ruang yang luas untuk berekspresi tanpa takut kehabisan waktu karena harus belajar dan mempersiapkan bahan ajar di kelas. Nah, begitu masuk semester baru, dapet jadwal mengajar yang lebih padat berbanding semester sebelumnya, ditambah lagi pekerjaan-pekerjaan administratif, saya angkat tangan >.<

Saya libur dulu jualannya. Ada yang hilang rasanya, rutinitas pulang kantor yang langsung diisi dengan potong-potong bahan masakan, bangun pagi dan memasak, sampai di kampus eh, sudah ditunggu teman-teman yang kelaparan dan penasaran dengan sarapan pagi itu. Belum lagi melihat mereka makan dengan lahap, itu membahagiakan sekali. Di akhir minggu menghitung keuntungan, belanja untuk bahan jualan selanjutnya. Adalah rasa letih, tapi menyenangkan.

Nanti kalau libur semesteran, saya mau mulai jualan lagi :)