Sudah sebulanan ini saya lagi keranjingan buat green smoothie. Tapi bukan dalam koridor eksklusif buah atau sayur, tapi saya campur.

Ide ini awalnya muncul sejak saya mulai banyak baca tentang menu-menu vegetarian dan vegan, sering ubek-ubek instagram untuk cari ide menu berbasis sayur dan buah, sampai di satu titik saya baca bab sayur boleh di campur dengan buah di salah satu buku panduan menjalankan Food Combining. Selain perjalanan mempelajari hidup dengan mengkonsumsi makanan berbasis tumbuhan, saya juga mulai kebablasan cheating  saya nakal!

Nah, alasan terakhir itu menjadi penguat niat saya untuk menambah asupan sayur dan buah dalam menu harian. Saya putuskan untuk mencoba konsumsi green smoothie yang terbuat dari kombinasi sayuran dan buah.
Awalnya agak khawatir kalau-kalau pencernaan saya sensitif. Setelah dicoba beberapa hari, saya perhatikan aman-aman saja. Alhamdulillah. Jadi, saya teruskan deh misi ini.
Saya biasanya bikin dengan perbandingan 80-90% sayuran, diutamakan yang hijau, dan 10-20% buah. Biasanya saya hanya menggunakan satu jenis buah untuk campuran, cuma supaya rasanya tidak terlalu langu aja. Pun saya tetap konsumsi buah-buahan untuk sarapan, jadi kombinasi asupan sayur dan buah, saya upayakan, seimbang jumlahnya.

Sejauh ini, saya ngerasa badan lebih segar. Di tengah-tengah kenakalan minum teh tarik setiap hari, iya saya nakal banget, saya pastikan minimal dua kali minum green smoothie dan tetap sarapan eksklusif buah di pagi hari. Ya...adalah dua kali seminggu atau sekali seminggu saya cuma sarapan satu ronde langsung lanjut roti canai haha ini jangan ditiru deh  

Jadi, gitu deh perjalanan saya sekarang. Si green smoothie ini membawa saya pada hobi baru: beli berbagai jenis sayuran hijau yang belum pernah saya coba 

Ke depannya, saya berharap bisa jadi pengkonsumsi 80% sayur dan buah untuk konsumsi sehari-haru. Selain itu, saya mau benar-benar potong penggunaan gula untuk kebutuhan harian. Iya, ini berat haha But I done it before, I am sure I can do it again.

Doakan semakin banyak saya baca, semakin kenceng niat, semakin istiqamah menjalani pola hidup yang lebih sehat. Aamiin.

Kalian mau ikutan juga nge-green smoothie? Yuk, follow akun instagram saya @bebydebear  
Foto dari sini

Baru baca artikel QM Financial yang ini, terpikir mau cerita sedikit tentang literasi finansial dan kepelitan saya hahaha. Sejak kelas 2 SD saya sudah dapat uang jajan bulanan. Inget banget tuh, segepok uang seratusan (Rupiah, perak, bukan ribu. LOL) masih cakep dikasih oleh orangtua setiap tanggal 1. Terserah uangnya mau diapakan; jadi uang saku ke sekolah atau ditabung. Dari pengalaman itu, saya diajarkan mengatur keuangan. Selain itu, dari kecil, Ibu saya selalu bawa saya ke mana-mana, termasuk bolak balik masuk dan keluar bank untuk menabung atau mengambil produk investasi yang ditawarkan oleh bank itu. Gaji ayah saya tidak besar, tapi mereka selalu berusaha untuk hidup cukup; cukup itu termasuk menabung dan investasi.

Awal mula kehidupan rumah tangga mereka, sistem amplop yang digunakan. Menabung? masih angan-angan. Gaji ayah saya kecil waktu itu. Jadi, uang dibagikan ke dalam beberapa amplop untuk keperluan makan mingguan, sewa rumah, bayar air dan listrik. Ingat betul, ibu saya rela tidak beli bakso waktu ngidam karena uangnya tidak akan cukup. Kebayang ya, lagi hamil, ingin makanan tertentu, bukan pun sering beli, tapi tidak mampu beli. Iya, alhamdulillah orangtua saya masih bisa makan. Mungkin ada orang-orang lainnya yang makan saja memang tidak sanggup karena tidak punya uang. 

Nah, dari pelajaran-pelajaran kecil yang disamaikan melalui cerita atau pengalaman pergi ke bank dan sebagainya, termasuk diajarkan baca slip gaji haha, saya jadi banyak berhitung. Bukan pelit, ya. Berhitung. Berapa pun uang yang saya dapat dari orang tua atau saya dapat karena bekerja, saya betul-betul hitung pemakaiannya. Pernah juga memang kecolongan, karena beli A, B atau C jadi makan mie instant atau nasi putih sama gorengan di seminggu terakhir sebelum menuju tanggal 1 bulan berikutnya hahah. Resiko!

Tahun 2010 lalu, saya pertama kali dikenalkan dengan literasi finansial. Saya dibelikan bukunya Ligwinan Hananto. Baca buku itu, seperti ditampar-tampar! Hahaha. Betapa saya tidak tahu apa-apa mengenai finansial selain menabung dan membagi uang sampai cukup hingga gajian berikutnya. Saya baru ngerti, sedikiiiiit, tentang persiapan dana pensiun untuk hari tua, membagikan uang bulanan ke persenan tertentu supaya kita tetap terpenuhi kebutuhan bulanan dan menabung, bahkan berinvestasi. Ukuran yang selalu saya ingat adalah; pengeluaran rutin tidak lebih dari 60%, hutang tidak lebih dari 30% dan tabungan MINIMAL 10%. Hutang ini bisa apa saja, tapi sebisa mungkin tidak berhutang sih, apalagi Kartu Kredit. Kalau tidak ada hutang, angka 30% ini bisa ditarik untuk menambah jumlah tabungan. Atau, bisa 15% untuk main dan sisanya ditambahkan untuk menabung. Jika memungkinkan. Ukuran ini adalah yang ideal, tapi bisa diutak-atik asalkan mental menabung (dan berinvestasi) jangan sampai luntur. Pastikan alokasi itu ada di atas kertas. 

Sejak mulai bekerja, biasanya saya buru-buru pisahkan uang untuk ditabung dan segera bayar semua tagihan. Sisanya saya bagi-bagi untuk sekian minggu dalam satu bulan dan kadang-kadang, kalau gaji lumayan, saya alokasikan untuk senang-senang; belanja atau jalan-jalan. 

Saya pernah kerja dengan gaji tetap, pernah juga kerja dengan pendapatan yang berbeda-beda setiap bulaln. Cara saya memperlakukan uang tetap sama. Begitu uang masuk rekening, terus aja saya kasih label semuanya. Jadi tau bahwa kamu punya uang sekian atau kamu tidak punya uang untuk main, tapi kamu tetap bisa makan. Saya selalu mengusahakan untuk tidak utak atik uang tabungan, sebisa mungkin, sampai ketemu titik di  mana saya memang tidak punya uang lagi dan harus mencangkul isi tabungan, bahkan sampai habis. Ada aja masa-masa seperti itu. 

Tapi bersyukur juga bahwa saya cukup disiplin dengan keuangan, jadi saya tetap bisa bertahan walau sedang terjepit. Yah, ada juga sih beberapa kali akhirnya pakai emergency call :)) Pinjam uang ke teman atau malah minta ke orangtua. Biasanya kalau sampai minta, kondisi saya memang sedang tidak bisa menghasilkan uang. 

Membaca artikel QM Financial itu, saya setuju banget dengan langkah-langkah yang disarankan. Sekarang saya sudah mulai bekerja lagi, ada penghasilan tetap setiap bulan. Begitu gaji masuk ke rekening, saya langsung pisahkan alokasi untuk menabung, investasi dan sadaqah. Pulsa handphone diisi di awal bulan, langsung dalam jumlah tertentu yang bisa akomodir keperluan saya selama sebulan. Setelah itu, begitu awal bulan, saya bayar sewa-sewa. Begitu tagihan air dan listrik datang, saya langsung bayar juga. Sisanya, saya bagi-bagi untuk keperluan bulanan dan groceries. Biasanya saya ambil uang seminggu sekali dari ATM untuk keperluan selama satu minggu; makan, transportasi dan belanja di pasar. Kalau uang minggu itu ada sisa, saya bisa main di akhir pekan. Kalau tidak, ya sudah di rumah saja. 

Untuk makan, saya tricky. Biasanya saya bawa sarapan dari rumah. Kadang-kadang ikut sarapan di kantin kantor, tapi jarang. Makan siang, karena ini waktu untuk sosialisasi, biasanya tiga kali dalam seminggu saya ikut makan ke luar sama teman sekantor. Hari lainnya saya akan bawa bekal dan makan di kantor. Kadang ada juga teman kantor yang bawa bekal, jadi bisa makan sama-sama. Kadang malah saya bawa bekal setiap hari. Dengan begitu, ada saja uang bersisa yang bisa dipakai untuk main atau beli sesuatu yang saya perlu atau untuk keperluan lainnya di luar rutin. Ada kalanya juga saya lagi malas, bisa tiap hari saya makan siang di luar. Agak costy sebetulnya kalau makan di luar, tapi makan dengan kolega itu kadang tidak terbeli juga, kan? Bisa diskusi, tau perkembangan berita terbaru dan lainnya. 

Kalau minggu terakhir menjelang gajian rada mepet nih, pasti ada kebocoran yang saya lakukan! Biasanya terlalu banyak nyemil atau ada kegiatan yang memerlukan dana dan itu saya ambil dari dana mingguan. Tapi, saya selalu berusaha menggunakan jatah bulanan sesuai jumlahnya. Jadi sebisa mungkin tidak mengganggu uang tabungan. Karena uang tabungan berada di akun terpisah, jadi lebih aman. 

Mungkin pengalaman saya ini ya sama saja dengan orang lain. Tapi saya terpikir aja untuk cerita, barang kali ada yang masih bingung atur keuangan ;) 

Banyak yang bertanya kepada saya mengenai resep membuat jus/smoothie sayur dan buah. Di artikel saya yang ini ada contekan padu padan sayur dan buah yang biasanya saya konsumsi sehari-hari. Baca, yuk! 

Artikel saya di www.jejamo.com tentang tips jalan-jalan sendiri, bisa dibaca di sini.
Photo is taken from here

What I like about this city, Kota Kinabalu, is that I can still open my car window and feel the fresh cool air. I rarely switch on my air conditioner in my house. It's not because I want to save money or what, it's because I don't really need it. I can even use two blankets at night and it's with no aircond!

Well, a good weather will give you a great life experience, right. At least you inhale something good.

Good morning, everyone!
Photo is taken from here 

My first class was last week. I taught Science student for Foundation Programme. I have been thinking few weeks back about how to teach science student. I cannot even talk smoothly about research with a-quantitative-perspective-person since I am thinking qualitatively. I was so nervous before the class. Yet the class went well, the student (seemed) happy and I was happy. 

Yesterday was tutorial class with them, we talked a lot. I talked a lot more. We discussed regarding the subject and relate it to their experience. I dragged them to think the way social scientist think. Then they were starting to tell me that actually it was difficult for them to imagine of what happening outside in the social life. They live in the lab, with the nature and with exact thought. Meanwhile, social thinker see things differently. 



I came to KK early on December 2016, I did not realize that December is the month of massive taking leave :)) I mean, December is school holiday, so most of parents/workers taking leave for vacation with their family. Other thing that there were three mondays-off, so lot of holidays on that month that I have to spend either alone or alone :)) It was even worse at the end of the month, people seemed go do not know where and my office was a total empty. 

It's just like my new year, I was staying at home for the whole three days. Not really staying la, I went to market and some other more places to buy foods or something. But most of the time, I sat at home. Re-watching movies, eating and having more sleeps. Well, I did yoga. Yeaaay! A bit sad actually since my body seems cannot cooperate to do some poses. I struggled enough, especially to do forward fold pose. But, that's the price I should pay for taking off yoga for full year, last year. Sad. 

Anyway, picture above is my living room, where I spend most of my time during staying at home. I try not to spend a lot of time in bedroom for I do not want to much sleeping. This year, I wish to be more productive, in so many ways. Therefore, bedroom is forbidden place during the day. In fact I spent lot of time to watch movie in the living room hahaha what a lazy girl! 

I just bought the sofa cover, I really hate when my sofa is dirty let alone this is rented one. I do not want to disappoint the owner by returning the house dirty. I, myself felt sad and mad at the same time knowing my apartment left dirty with broken sofa and bed. They were cruel. I have no idea how they use the property in the house. Huft. 

That's all for now. 

Kotak Merah ini yang akan menemani saya ke sana ke sini selama di KK. Sehat-sehat, ya Komer!