Kotatua

By 7:31:00 AM

Sepeda onthel

CiloX isi, gerobak biru dan aci yang semoga seksi ahh.

Es Jeruk, Motor, Box dan pemikiran masa depan

Es krim, seperti komedi putar untuk gadis kecil itu

Es Potong dan masa depan *berat sungguh, Mang*

Ketoprak

Tukang jual mainan *semoga dia selalu bahagia*

Kalau kita lihat jaman sekarang, hampir semua orang memilih mall atau cafe ternama sebagai tempat untuk bertemu (assembly point) ketika membuat temu janji. Tempat yang penuh dengan kesan kapitalis, borjuis dan tetek bengek yang mengandung angka dan nilai sosial yang dikonstruksikan masyarakat (dengan atau tanpa disadari) itu secara terang-terangan tidak bisa lagi kita hindari sebagai tempat mengangkat status sosial. Tapi apa tidak bosan tiap hari bertemu merk, makanan cepat saji, harga-harga sinting untuk sehelai singlet bolong-bolong dan atau bahkan butuh waktu lebih dari satu jam untuk bersolek dan sasak jambul sebelum pergi hanya demi harga diri? Lalu esensi pertemuan dengan teman atau kerabat atau siapalah itu menjadi tersisihkan hanya demi status sosial. Oh no!

Ada seorang teman yang berstatus arsitek bercerita tentang penelitiannya di suatu lembah di daerah Sungai Nil sana akan membangun sebuah kota, konon, entah berisi mall atau apalah yang katanya bisa menjadi satu daerah baru tanpa wujud kapitalisme dan modernisme. Katanya sih potensinya bagus, tetep ada tempat nonton, jangan sebut bioskop ya, ada tempat keramaian yang menyerupai kota tapi tetap jauh dari jamahan sel-sel kapitalis. How Come?! Tapi mungkin untuk kurun waktu tertentu masih ada ya. MUNGKIN. Who knows. Tapi toh kampung-kampung jaman sekarang berusaha meng-kota agar tidak dibilang udik. Coba kalau ke desa-desa, ada berapa banyak rumah gubuk? sumur air? sepeda onthel? bahkan di kampung saya yang cukup jauh dari pusat kota, sekitar 2 jam, hampir tidak ada lagi orang berumah jerami seperti 20 tahun lalu. TV sudah merajalela dan bahkan HP menjadi aksesori sosial yang mutlak dimiliki. Lalu, apakabar alun-alun? Kalau kita lihat struktur sebuah kota, akan ada gedung pemerintah daerah, entah lurah, camat atau apalah bersanding dengan mesjid dan lapangan luas yang disebut alun-alun. Tempat berkumpulnya warga, tempat bermainnya anak-anak tanpa merasa takut diculik, tempat para pedagang gerobak dengan suka ria menjajakan dagangannya dan ibu-ibu berbagi resep masakan dan rahasia kuali. Pada masa itu. Apa kabar sekarang?

Beberapa waktu lalu, akhirnya, saya bisa mengunjungi sebagian kecil dari Kotatua. Satu tempat di sudut kota Jakarta. Saya tidak pernah suka Jakarta sebetulnya, mendengar namanya saya akan membayangkan hutan beton, banyak serangga bernama motor dan mobil, ada mammoth berjejer bernama bis, belum lagi tarzan-tarzan berkedok preman. Ah, bikin gila. Tapi entah kenapa belakangan menjadi tertarik untuk menggali apa saja yang ada di kota ini. Bermula dari Kotatua. Tidak banyak yang saya teroka, hanya beberapa sudut yang saya rasa "aman" untuk dijelajah sendirian. Tapi saya mendapati bahwa tempat ini seperti mall tapi dalam wujud tradisional, kuno dan seksi.

Kalau teman saya pernah bilang "sekarang sudah tidak ada lagi ya tempat berkumpul selain mall", saya bisa mengatakan tidak. Walau persentase tempat seperti itu mungkin masih nol koma sekian. Tapi tempat seperti itu masih ada. Seperti alun-alun Kotatua ini contohnya. Disitu bisa dilihat banyak golongan usia meluangkan waktunya untuk berkumpul, tertawa, berbagi cerita namun tidak perlu terlalu peduli dengan wujud luarnya. Sendal jepit yang super duper nikmat dipakai itu bisa bertebaran dimana-mana, tidak perlu wujud highheel atau kulit ular menyelimuti jempol yang tidak ramah alam itu. Penjaja makanan pun banyak dengan gerobaknya, tidak perlu sofa untuk duduk, pun outlet dengan lampu yang menghabiskan puluhan watt. es krim? ada. makanan ringan? ada. bahkan super ringan seperti arum manis contohnya, ringan bukan? *nyengir*. cari aksesori? banyak. gelang, kalung, slayer, kacamata, sendal, pin, dan lainnya. merk? ah tidak butuh. yang penting gaya, bukan? *nyengir* ada beberapa sudut yang berisi jejeran sepeda onthel jaman purba *ber le bi han* yang disewakan per-jam untuk digunakan pleus bonus pinjeman topi jaman kolonial. Kembali ke jaman penjajahan? no problemo, asal bukan untuk dijajah. bukan begitu?

Bangunan tua di sekelilingnya bikin kita berpikir, apa yang terjadi disini dulu. Otak kita secara otomatis mind-mapping mengenai sejarah kota Jakarta. Inilah yang saya suka dari kunjungan ke tempat-tempat bersejarah. Bagi saya yang bukan orang sejarah, tidak suka baca buku tebal dan cenderung sok tahu tentang peninggalan-peninggalan bisa berpetualan dengan waktu. Tiba-tiba dibawa ke entah 100 atau 200 tahun lalu dan mind-mapping semua kejadian itu sendiri. Itu seru! Konon Kotatua ini menjadi salah satu saksi sejarah Kota Jakarta dimana perkembangan ibu kota Negara Indonesia bermula di sini sekitar abad 14 dengan berbagai bangunan bergaya a la Eropa. Mungkin ini efek dari penjajahan juga ya sehingga wujud bangunannya tidak berupa rumah joglo atau rumah gadang :D

Karena waktu yang mefet, saya tidak sempat meneroka banyak, tapi lain waktu kalau memang ada kesempatan, dengan senang hati saya akan keliling kota ini lagi. Konon Kotatua ini meliputi Sunda Kelapa, Pasar Ikan, Luar Batang, Kali Besar, Taman Fatahillah dan Glodok. Sayonara sampai jumpa kalau begitu :)

Situs yang berhubungan dengan Kotatua bisa diklik di sini, atau yang ini dan yang ini juga boleh.

*foto koleksi pribadi, seadanya*

Selamat Piknik ;)

You Might Also Like

3 komentar

  1. tapi seperti yang pernah kamu bilang beb, sepertinya kapitalisme tidak akan pernah menyerah. jadi skrg bagaimana kita gandeng kapitalisme untuk mendukung fungsi publik kita. hubungan timbal balik, kapitalisme membangun prasarana publik kita, dan kita membantu kapitalisme mengakses berbagai kalangan. sebut itu "social mall" - ini harus izin sama empunya riset beneran dari SHAU, Rotterdam - tapi, tanpa filter sendal jepit, black berry dan strata sosial. tapi ini masih hipotesa, harus dibuktikan untuk tau keberhasilannya.

    kualitas kota semacam itu harus dipertahankan. dan kita (semua pihak) harus lebih inovatif dalam menawarkan ruang publik, ga melulu harus shopping mall.

    wah, menanti pulang ke Jakarta nih, biar bisa berkunjung ke kotatua nya.. nice review!

    ReplyDelete
  2. tapi kotatua menjadi sebuah alternatif menarik untuk bertemu juga. kalau ini menjadi populer dan menjadi hip, kita akan tau tahap selanjutnya: gentrifikasi.. heheheheh.. tapi yah disitu menariknya, toh sejarah kota terbangun dari tumpukan layer2 yang bisa harmonis atau malah bertolak belakang.. perhaps lil bit chaos is beautiful.. ;)

    ReplyDelete
  3. kita jualan sate padang aja di situ Van ahahaha
    *tetep usaha*

    ReplyDelete