Musium dan Jakarta

By 7:18:00 PM

Anak-anak yang memanfaatkan rumput hijau di depan musium untuk dijadikan tempat bermain, entah mereka tahu atau tidak isi musium itu apa


Musium tampak depan

Ada bunga teratai mengembang sore itu

Meriam yang dahulu gagah perkasa sekarang teronggok renta

Bagian atap dan jendela

Dua jendela berbeda tidak pernah menyatu walau fungsinya sama

Lonceng saksi rindu jaman purba, mungkin

Entah apa artinya, saya pun lupa bertanya

Standar-nya banyak orang yang selalu take it for granted terhadap kekayaan alam dan budaya yang dimiliki oleh negerinya *mengetik sambil berkaca*. Ujaran seperti "Nanti sajalah ke Monas-nya, toh akan seumur hidup tinggal di Jakarta" atau "Lombok? tahun depan kali ya, pengen Singapore nih" atau "keliling Indonesia masih bisa nanti, ini mau keliling Eropa dulu aja". Ujung-ujungnya kita jadi hafal budaya dan sejarah negara tetangga berbanding rumah sendiri. Saya contohnya *tutup muka pake tudung saji*. Karena dulu kesempatan saya untuk jalan-jalan tidak sebanyak sekarang ketika saya tinggal di negeri seberang, saya selalu ber-take it for granted tanpa saya sadari. Kalau disenaraikan, tempat-tempat yang pernah saya kunjungi di tanah air sendiri mungkin sekarang jadi sebanding dengan tempat-tempat yang saya kunjungi selama tinggal di negeri tetangga selama 3 tahun. Padahal saya lahir dan tumbuh di Indonesia sudah sekitar 25 tahun *jangan hitung umur saya berapa*.

Jumlah tempat yang saya kunjungi sendiri, tanpa keluarga, pun masih bisa dihitung jari. Mungkin karena saya tidak punya tradisi piknik akut dalam keluarga jadi kecenderungan untuk meneroka berbagai daerah di Indonesia tidak sebegitunya. Ketika beberapa kali saya nge-trip sendiri, yang hanya hitungan jari dan kurang dari lima itu, barulah saya bisa meneroka alam dengan lebih, namun waktu dan keberanian terbatas. Ah manja mungkin, karena tidak terbiasa pergi jauh dari keluarga untuk berkelana, jadi ketika trip harus punya temen. Cemen. Maklum usia awal 20, takut diculik :D *cari alesan* Ketika saya 5 tahun menetap di Bandung dan dibekali kendaraan roda empat, baru saya rajin ngiter. Entah itu sekedar Tangkuban Parahu, Banten, atau daerah-daerah sekitar Bandung. Setidaknya saya meneroka. Saya menemukan kesenangan baru dan mengetahui bahwa saya suka meneroka.

Selama saya menetap di Indonesia secara penuh, saya tidak pernah suka Jakarta. Seperti postingan sebelumnya, Jakarta itu liar bagi saya. Tidak bersahabat. Tidak hangat. Kalau pun dulu ke Jakarta, itu karena saya ngintil orang tua. Kalau boleh milih sih saya lebih suka menghilang dan muncul di kampung kakek nenek saya tanpa transit di Jakarta terlebih dahulu. Lebih asri. Hijaunya. Hutannya. Sungainya. Gunungnya. Walau sekarang hampir tidak lagi sama wujudnya. Jakarta selalu ingin saya skip. Tapi apa daya, burung raksasa akan mendarat di sana, ya sudahlah kalau kata Bondan :D

Cerita punya cerita, beberapa waktu lalu saya pun kembali mendarat di Jakarta ketika akan pulang ke rumah orang tua. Saya sempat jalan-jalan walau tidak kemana dengan teman. Tujuan utama TIM dan Kotatua. TIM lewat karena waktu tidak cukup untuk berkunjung ke Planetarium idaman saya. Tujuan selanjutnya Kotatua. Di jalan saya menemukan satu Musium Arsip Jakarta, dengan kebaikan sang teman akhirnya mampir dulu lah kami ke musium itu. Bangunan tua. Menarik. Namun dalamnya suram, saya katakan.

Yang saya suka dari kunjungan ke tempat lama, seperti musium contohnya, adalah belajar. Mind Mapping kejadian yang sudah lewat. Saya cukup terbiasa membuat cerita dari bukti-bukti yang tidak banyak dan merangkainya jadi satu cerita atau fakta. Menarik. Bisa belajar atau mengetahui sesuatu yang tidak kita ketahui sebelumnya. Seperti ke Musium, banyaknya tulisan yang tidak dimengerti, gambar yang tidak dikenal dan artefak yang tidak pernah dipegang sebelumnya membuat kita menerawang ke ratusan tahun sebelumnya. Mengandai apa yang terjadi pada masa itu. Terakhir sebelum ke Musium Arsip ini saya ke Beberapa musium dan Mansion di Penang, Malaysia. Terkesima saya dibuatnya karena penginggalan semua dirawat dengan baik dan semua orang dibiarkan belajar dari apa yang mereka lihat. Bukan hanya dari cerita. Kemudian agak sedih dan terkejut dengan Musium Arsip yang saya temukan ini. Barang di dalamnya sedikit sekali. Bahkan teman saya berlelucon bahwa kipas angin di dalam musium itu adalah peninggalan Cina *toyor*. Tapi saya tidak bisa menemukan cerita apa-apa di tempat itu. Menurut teman saya, keadaan musium itu "lumayan". Entah apa yang dia maksud dengan kata "lumayan" karena menurut saya itu jauh dari "lumayan". Saya tidak bisa benar-benar tahu apa yang ingin disampaikan sang Musium. Kapal jaman VOC, tempat sirih, brankas, baju baja untuk perang, porselain dan meja kursi yang menurut saya tidak terkait cerita satu dan lainnya. Mungkin karena saya terlalu bodoh sehingga tidak bisa merangkai cerita dari peninggalan yang ada.

Kemudian saya baru tahu bahwa di Jakarta ada banyak musium yang bisa dikunjungi seperti Musium Gajah, Musium Bank Indonesia dan lainnya. Bahkan Lubang Buaya pun saya belum pernah kesana. Menyedihkan! *lap air mata*. Kalau kata Parang Jati "Jika kita belum menemukan, maka kita belum menemukannya. Begitu saja" (Manjali dan Cakrabirawa, Ayu Utami: 118) Dan mungkin itu yang terjadi, karena saya belum menemukan informasi yang banyak, jadi artinya bukan tidak ada tetapi saya belum menemukannya. Begitu saja. Mulai sekarang, setiap pulang ke Tanah Air saya akan usahakan mengunjungi setidaknya satu tempat bersejarah di Ibu kota atau tempat lainnya. Masa saya tahu apa yang dilindungi UNESCO di negara tetangga sementara 3 budaya di negara sendiri saya mikir sampai jungkir balik. Itu menyedihkan.

Musium ini sekarang dikelola oleh sebuah yayasan yang diketuai oleh salah satu keluarga Alisjahbana. Semoga terus terawat dan bermanfaat ya :)

Kepulangan kali ini saya dihadiahi buku terbaru Ayu Utami berjudul Manjali dan Cakrabirawa. Buku 251 halaman ini membuat saya semakin tertarik mengetahui sejarah Indonesia. Walau saya tahu saya tidak suka membaca, tidak suka sejarah, tidak suka berpikir. Tapi buku ini seperti menghipnotis bahwa sejarah itu harus kita yang mencari, merangkai dan memahami. Jangan melulu terbodohi oleh stereotype cerita yang ada. Ini menarik!

Mari kita mulai mengenal sejarah dan budaya bangsa sendiri :)
Selamat Piknik!

*foto koleksi pribadi*

You Might Also Like

0 komentar