Brunei Darussalam: "jenenge sopo, mba?"

By 5:56:00 PM

Melanjutkan cerita soal Brunei di postingan ini :)

Masjid Jame' Asr Hassanal Bolkiah malam hari di bawah guyuran hujan


Mesin informasi di bandara

Akhirnya pergi juga ke Bandar Seri Begawan (BSB) naik mbah AirAsia :) Kalau dulu denger nama ibukota negara Brunei Darussalam ini dari siaran prakiraan cuaca berita di TVRI, kemarin akhirnya berhasil menginjakkan kaki ke negara yang, rasanya, tidak lebih luas dari Wilayah III Cirebon :D

Sebelum pergi, saya sempat kontak seorang teman yang kerja di sana, Mas Ponti namanya, seorang desainer interior dengan tangan yang bisa menghasilkan gambar menakjubkan! Mas Ponti sempet bilang "kayanya Bandar bukan tempat untuk piknik deh" dan memastikan bahwa di sana tidak ada apa-apa. Tapi dasar saya, keukeuh pingin ke sana, secara tiket sudah di tangan :D jadi saya dan Mba Denik berangkat deeh, begini ceritanya.......

Hari 1:

Penerbangan jam 6.45 subuh dilengkapi mata sepet berhasil berjalan mulus dan SELAMAT DATANG DI BRUNEI tepat jam 9 pagi waktu setempat. Airportnya kecil, tidak terlalu menarik hihihi maap lho dan well, disambut dengan hujan. nice! Layaknya (sok) turis, foto-foto di sudut-sudut yang ada tulisan BRUNEI-nya dan tulisan jawi, bagian ini agak membuat saya tampak norak sih ;))

logo toliet perempuan, berhijab :)

Negara monarki Islam ini senantiasa memasang simbol-simbol ke-Islam-an hampir pada setiap penanda, bahkan seperti yang saya jumpai pada penanda toilet perempuan dimana simbol perempuan digambarkan mengenakan hijab. Selain dari itu, tulisan-tulisan latin yang ada juga dilengkapi dengan tulisan jawi-nya.

information booth di depan pintu keluar bandara
Menukar uang, nilai tukar B$ sama dengan Sing$ lho ya, dan kita juga bisa pakai uang Sing$ di sana, begitu juga di Singapore bisa menggunakan B$

Selama dua hari saya keliling di pusat Bandar, untuk mencapai pusat Bandar kita bisa naik taksi seharga B$25 atau bis seharga B$1 dari airport menuju basten pusat Bandar. Bisa naik bis 24 atau 36 yang akan membawa sedikit berkeliling sebelum sampai pusat Bandar. Sebelumnya sudah diberi tahu oleh Mas Ponti bahwa kalau naik bis pasti akan ketemu banyak orang Jawa, ternyata YAP! hampir semua orang yang ada di bis itu adalah orang Jawa. Saya sempat juga ngobrol-ngobrol sama mas-mas yang ada di sebelah saya duduknya, tanya-tanya soal tempat yang bisa dikunjungi.

Saya gak tau ini salah denger atau nggak, tapi sepertinya anak perempuan atau perempuan yang lebih muda dipanggilnya "neng", mba denik waktu di pesawat juga dipanggil "neng" sama bapak yang duduk di sebelahnya. Sebutan "neng" ini juga sering saya denger sepanjang perjalanan dan semoga tidak salah, sepertinya merujuk pada perempuan sama seperti panggilan dalam budaya Sunda. Sejak naik bis itu, saya baru ngeh kalau untuk memanggil orang-orang biasa menggunakan sebutan "mas" dan "mba" ahahah berasa narik pulau Jawa ke Borneo nih :)) Nah setelah cari tau, ternyata bahasa tersebut namanya bahasa Kadayan yaitu bahasa campuran dari Bahasa Jawa dan Melayu Brunei.

Kejadiannya sama seperti bermigrasinya penduduk Indonesia ke Malaysia, di Brunei banyak terdapat lahan pertanian dan perladangan yang tidak tergarap dengan baik, nah orang beretnik Jawa itu sudah memiliki stereotip sebagai suku yang gemar bercocok tanam dan rajin. Maka Raja Brunei ke-5 pada jaman dulu membawa orang-orang Jawa ini untuk menetap di Brunei. Jadilah sehingga sekarang banyak orang Jawa yang sudah beranak cicit di Brunei. Jadi tidak heran kalau nanti datang ke Brunei rasanya seperti datang ke Tegal atau Jepara :)

Orang-orang di dalam bis, si kondektur tampaknya kenal sama semua orang di situ, bahasa yang digunakan rasa-rasanya campuran bahasa Melayu dan Jawa, setiap kalimat sering diakhiri dengan "la" lucu...

Naik bis 24 Northen Line ke basten Bandar seharga B$ 1, bisa juga naik bis nomer 36

Supir dan kondektur juga adalah orang Jawa. Kondektur bis di BSB kebanyakan perempuan dan mayoritas adalah orang Jawa. Kondektur pertama yang saya temui ternyata orang Indramayu, jaaah deket bener dari tempat tinggal orang tua saya di Cirebon. Sempet ditanya mau ngapain ke Brunei, dan ketika saya bilang "jalan-jalan" si mbaknya pasang tampang heran ;))

Waktu akan naik bis sudah diberi tahu oleh sang kondektur bahwa bis ini akan muter-muter dulu, saya dan mba denik sih malah seneng, jadi sekalian aja jalan-jalan. Bisnya menyusuri komplek-komplek perumahan yang menurut saya sih tidak terlalu mewah, tapi setiap rumah minimal punya mobil dua hingga enam (ini show room atau rental ya?). Bahkan ada beberapa rumah yang di halaman rumahnya parkirlah sebuah perahu :)) :)) Konsep rumah-rumah di BSB ini adalah rumah tanpa pagar, sepertinya sih daerahnya aman (mungkin gak kalo orang-orang juga udah gak perlu ngerampok??). Daerah yang dilewatin cenderung gersang dan sepi se-sepi-sepinya heuh..

Setelah keliling selama sejam, akhirnya sampe juga di basten, bangunan Yayasan, terminal bis pusat kota Bandar. Jalan kaki melihat sekitar sambil mencari makan karena waktu menunjukkan pukul 11. Makan siang pertama di BSB adalah nasi goreng ayam di rumah makan Seri Mama Express tempat makan yang jual makanan cepat saji dan nasi katok juga beberapa menu makanan lainnya termasuk nasi goreng. Karena laper, saya dan teman masing-masing memesan satu porsi yang ternyata banyak benerrr sampe gak habis selain karena kenyang juga karena seret, kering bener ;)) *ahh tidak bersyukur plaaak* Oh ya, nasi katok ini adalah makanan paling murah di Brunei, konon demikian, isinya ayam goreng, nasi putih dan sambal tomat.

Selesai makan, keliling cari tempat nginep, dan berhasil menemukan PUSAT BELIA yang terletak di jalan Sungai Kianggeh. Sebelumnya saya dapet info bahwa alamatnya di Jalan Kebangsaan, tapi waktu liat di Peta malah tempat ini tidak ditemukan sampai akhirnya tahu bahwa alamatnya adalah di Jalan Kianggeh. Jaraknya dari basten tidak terlalu jauh, sekitar 15 menit jalan kaki. Harga per malam adalah B$10 per gundul. Kamarnya di pisah antara laki-laki dan perempuan. Setiap kamar ada dua tempat tidur double decker, empat lemari pakaian yang besar dan tinggi, dan kamar dilengkapi dengan AC. Kamar mandi di ruangan yang berbeda dan dipisah antara wc dan kamar mandi, masing-masingnya ada tiga. Kondisi tempat ini bersih, terawat dan aman. Di Pusat Belia ini juga ada kolam renang andai pada mau berenang :)

Kamar mandi di hostel

Kolam renang di hostel, dewasa B$1.50

Ini adalah pengalaman jalan-jalan yang unik karena saya sempat tidur siang :)) satu adalah karena saya dan teman saya kurang tidur dan kedua adalah karena waktu itu hujan! what a perfect condition...

Sore-sorean akhirnya jalan-jalan di bawah rintik hujan, berpayung dan gelap mendung. Dapetlah foto-foto sekitar terutama Masjid Jame' Asr Hassanal Bolkiah walau sambil diguyur hujan. Malam itu hujannya gak cihuy, karena sebetulnya rencananya sore hingga malam ingin keliling kota sampe gempor, tapi apa daya, setelah jam 7 hujan makin gak ketolong derasnya :( Sambil gerimis mengundang sambil jalan menyusuri jalan, ketemulah kantor Stasiun Televisi dan Radio Brunei, ketemu juga dewan Sekretariatnya, ketemu juga beberapa bangunan pemerintahan lainnya.

Jalan mulai sepi tuh jam 6an, sebelumnya Mas Ponti juga sempet ngasih tau bahwa jam 9 itu Bandar sudah sepi dan puncaknya jam 10, sementara bis biasanya habis jam 6an jadi kalau jalan jangan jauh-jauh. Begitu pesannya. Karena kebetulan Pusat Belia itu ada di tengah kota, dan dari situ kemana-mana dekat (secara memang kotanya cuma sejengkal ya bok) jadi saya gak terlalu khawatir, pleus memang berdua juga. Waktu masuk hostel, si bapak pengurusnya juga sudah bilang bahwa Bandar ini aman, jangan takut dengan hal-hal yang berbau kriminal, gak ada di situ. Jadilah lebih merasa aman kecuali tidak bisa membayangkan seberapa sepi kota ini pada pukul sembilan malam :D

Semboyannya seperti Sumpah Pemuda ya :)

Foto Masjid Jame' Asr Hassanal Bolkiah

Ada jalan Elizabeth juga, ciri peninggalan jajahan kerajaan Inggris

Kampong Ayer

Keliling keliling keliling, sampailah di satu gedung hmm seperti mall tapi tidak terlalu besar, bangunannya disebut bangunan Yayasan Sultan Hassanal Bolkiah. Di dalamnya ada supermarket dan pusat belanja, ada juga medan selera seperti pujasera yang menjual aneka makanan. Di depan bangunan ini terbentang sungai yang di seberangnya adalah Kampong Ayer. Satu kampung yang terapung di atas air dan menuju ke sana mesti naik perahu. Karena hujan, akhirnya saya cuma foto aja :)

Karena hujan semakin ciamik dan perut laper lagi *elus perut* akhirnya kita memutuskan makan di salah satu tempat makan di depan Seri Mama Express tempat makan waktu siang. Malam ini hanya memesan bihun goreng dan kwetiaw karena sudah mati gaya tidak tahu mau makan apa. Setelah makan baru ngeh bahwa di tempat itu ada jual ambuyat makanan yang terbuat dari sagu yang dibuat seperti bubur (agak lengket seperti lem katanya) dimakan dengan sambal dan lauk. Karena sudah kenyang jadi kepikiran untuk makan esok harinya.

Hujan jam 7 semakin deras, kota semakin sepi, karena sudah mulai bosan nunggu hujan reda yang tampaknya tidak juga reda, akhirnya kami memutuskan untuk pulang aja ke hostel. Kegiatan selanjutnya? ngerumpi dan tidur sangat sangat sangat pulas. Sebetulnya jalan-jalan kali ini merupakan jalan-jalan pelarian saya dan teman saya yang sama-sama tercekik sama urusan akademik dan kampus :D dan tidur malam itu rasanya seperti bayi *tidak mau menyebut kebluk apalagi kebo*

Hari 2

Si temen jalan belum bangun, saya udah rapi bedakan dan jambulan jalan-jalan keliling sambil pemanasan. Mampir ke pasar yang ada di depan basten berharap ada camilan tradisional tapi ternyata isinya pasar basah yang menjual sayur dan ikan saja. Ah! misi nyamil-nyamil gagal.

Pasar di depan basten

Saya suka dengan traffic behavior orang-orang di BSB yang menghargai pejalan kaki. Saya mengalami beberapa kali pengalaman ketika saya akan menyebrang jalan menggunakan zebra cross dimana mobil akan berhenti ketika melihat ada orang yang akan menyebrang walaupun kecepatannya lumayan. Bahkan ketika saya mencoba menyebrang sambil menunggu kendaraan agak sepi, eh si pengendara mobil berhenti dan mempersilakan saya lewat. Tapi kejadian ini hanya ketika menyebrang di zebra cross ya, kalau menyebrang sembarangan ya ditabrak juga kali ya :D but anyway, itu sopan sekali..bahkan bis yang lagi ngeeeeeng laju saja berhenti lho, takjub sayah.

Partner udah siap, jalanlah mulai, foto-foto tidak penting dan memutuskan untuk ke Museum dengan nama Bangunan Alat Kebesaran yang cuma sejengkal dari Pusat Belia. Kami sampai di situ pukul 8.45 dan ternyata museum baru buka pukul 9. Nunggu deh :D Begitu jam 9 teng, kami dipersilakan masuk. Sepatu harus dibuka dan ditinggalkan di luar, tas dan kamera bahkan handphone dimasukkan ke dalam loker :( padahal udah niat pingin foto-foto.

Masuk tuh dimulai dari pintu samping pusat informasi dan DINGIN! marmer yang ditiup udara dingin dari AC bikin reumatik! haiyoo...jalan pelan-pelan dimulai dengan perkenalan keluarga Sultan Hassanal Bolkiah, jaman beliau muda, ada pakaian kebesaran beliau dan istri, ada cenderamata dari negara-negara lain yang berkunjung dan lain sebagainya. Bangunan ini tampak kecil, tapi sekali masuk seperti jebakan batman, ada saja tangga, pintu dan belokan yang membuat bangunan ini tampak besar.

Museum ini terdiri dari beberapa bagian, ada yang khusus tentang kehidupan Sultan, ada yang tentang perjanjian-perjanjian kerajaan, ada tentang cenderamata, ada tentang simulasi upacara kebesaran dan beberapa bagian lainnya. Bersih, rapi, elegan, terawat dan hmm gak tau harus pake kata apa untuk menggambarkannya.

alat kerajaan

alat kerajaan

Bagian dalam memang tidak boleh difoto, tapi bagian atrium utama bisa kita foto yang isinya adalah seperti hmm kereta yang dipakai untuk membawa raja keliling ketika ada upacara, ada juga payung, pedang, perisai dan bendera yang dijejer dalam jumlah yang banyak untuk para pengawal sepertinya. Di atrium utama juga ada penjual souvenir dan kami ketemu dengan mba Kasih asal Pati yang sudah tinggal di BSB selama 11 tahun.

Sempet ngobrol sebentar sama mbae itu dan kami bertanya rasa ambuyat itu seperti apa. Raut muka dan penjelasannya menggambarkan bahwa makanan itu biasa banget dan tidak terlalu enak. Saya pun bilang "ah kalau gitu gak jadi makan deh" tapi dia langsung nyaut "Eh gak boleh, kalau udah niat makan ambuyat ya harus makan nanti kenapa-kenapa lho, harus makan" waaaah paniklah tu...Jam sudah menunjukkan jam 11, jam 2 siang kita udah harus ada di Bandara, tujuan selanjutnya adalah The Mall sekalian mengisi perut. Akhirnya tanya-tanya dimana ada jual ambuyat di dekat The Mall itu. Pelayan di tempat makan semalam sempet bilang kalau di BSB susah cari ambuyat, di area kami menginap aja hanya ada dua tempat yang jual. Panik dong ya. Akhirnya si mbae kasih tau kalau ada satu rumah makan di depan The Mall yang jual ambuyat.

Setelah puas liat museum, kami jalan ke basten dan cari bis no 1 untuk ke The Mall yang konon 'lawa' (cantik, bagus). Perjalanan ke The Mall yang terletak di Gadong ternyata lama aje, hampir 45 menitan. Di jalan gak ada apa-apa yang bisa diliat juga :)) Sampai The Mall kami langsung jalan cari rumah makan yang dikasih tau tadi, dan gak nemu! akhirnya dengan mengucap Basmallah, kami cari makanan lain, udah laper bet! The Mall itu seperti apa? mirip ITC hihihihi

Masjid Biru yang ditemukan pada perjalanan menuju Gadong

Karena jam sudah mepet jam 1, kami kembali ke basten dan ambil bis nomer 38 menuju Airport. Agak nyesel karena gak sempet ke Istana :') padahal kan Brunei terkenal sama masjid dan istananya. Soalnya bis di Brunei itu rata-rata gak bisa satu bis jreng ke beberapa tempat tujuan. Kalau pun mau maksain ke istana, gak akan sempet ngejar waktu check in endesbre :) Saya bergumam "andai hari pertama tidak hujan, pasti sempat ke istana".

Sampai bandara tepat waktu, check in dan lain-lain kemudian terbang deh :) sampai di Malaysia dijemput teman dan dia bertanya "jadi makan ambuyat?" ya kita jawab dengan alasan-alasan yang terjadi di sana, lalu dia jawab "itulah aku lupa kasih tau, kalian harusnya paksain makan lho mitosnya kalo gak jadi makan nanti kejadian apa-apa atau kalian harus balik ke sana lagi" haiyoo makinlah merasa dihantui ambuyat ini. Jadi, perlukah kita balik lagi?

duo pikniker
kali ini saya bawa backpack, terima kasih ya Teguh buat hadiah ulang tahunnya :)

Selamat piknik!

You Might Also Like

20 komentar

  1. hooo...jadi intinya mo bilang dapet hadiah backpack dari mas teguh tooh.. *melencengdaritopik *kabur

    ReplyDelete
  2. salam kenal, nginep di mana mba yg murah ?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Saya menginap di Pusat Belia, di pusat kota. Semalam hanya $ 10. Lumayan kok. Satu kamar ada 4-6 tempat tidur. Kamar mandi bersih. AC dingin. Boleh lah untuk istirahat :)

      Delete
  3. salam kenal mbk:)
    kebetulan mei nanti saya juga mau kebrunei, browsing punya browsing, sampailah saya ke blog mbk ini:) jadi seneng cos dapet bahan referensi utk mei nanti :)
    oya mbk, utk pusat belia hostel itu, kita perlu buat reservasi dulu atau bisa datang langsung?

    warm regards, Lintang:)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Dear Lintang,
      Bisa datang langsung ke sana kok, waktu itu saya juga langsung datang saja :)
      Plenty of rooms, dont worry. Dan kamarnya terpisah antara laki-laki dan perempuan.

      Delete
    2. suwun infonya, mbk :)
      maaf baru smpt balas..
      oya mbk, apakah susah mencari Pusat belia hostel itu? rute dr bandara seperti apa dan naik angkutan apa ya mbk?
      salam, Lintang :)

      Delete
    3. Dear lintang,
      Ke Pusat Belia itu saya jalan kaki dari Terminal. Sebelumnya naik Bis 24 dari Bandara menuju Terminal. Katanya sih bisa juga naik Bis 36 agar tidak muter-muter.

      Delete
    4. siap mbk :)
      trimakasih bnyk utk infonya :))
      dan trimakasih bnyk sudah membahas perjalanan ke brunei berikut objek wisata & info terkait lainnya. insyaallah saya jadi punya bayangan saat kesana.
      15-17 mei ini saya mau tes 'peruntungan' saya dlm 'menjajal' brunei... wish me luck mbk ! :)
      warmest regards, lintang.

      Delete
  4. Dear Lintang,

    3 hari bisa tuh kelilingi Bandar sampe puas, kecil kok hehe. Semangat jalan-jalan ya :)

    ReplyDelete
  5. trimakasih yaaa utk info2nya yg helpfullll bgt, mbk :)
    alhmdulillah sy bisa keliling bandar 'n around dgn aman sentosa kemarin, stay di pusat belia dgn bnyk traveler jg :), naik turun purple bus ampe puas, hehehe, (dari situ kita lanjut ke langkawi&penang), sampe akhirnya kita pulang dgn aman :)
    matur nuwun :)
    keep traveling & ditunggu review jalan2 berikutnya :)
    warmest regards, lintang.

    ReplyDelete
  6. Alhamdulillah...
    senang sekaliii :)
    Aku suka banget sama Penang, sukaaaa banget!
    Ayo bagi-bagi ceritanya ya Lintang :)

    ReplyDelete
  7. Akhirnya nemu banget liputan jalan-jalan ke BSB. Asa nggak ada travelblogger yang pernah ke Brunei. Mbak ke sana bulan apa? Biar saya juga nggak dapet pas musim hujan :)

    ReplyDelete
  8. Seinget saya Maret Mas :)
    Iyaa..jangan sampe kena hujan hehe
    Selamat jalan2 yaa

    ReplyDelete
  9. kira2 airline yg mrah untuk ke brunei itu naik apa ya?btw biaya hidup disana lebih murah dr jakarta/ sama saja? terima kasih mba jk mau berbagi infonya :))

    -Idelia-

    ReplyDelete
    Replies
    1. Waktu itu saya naik AirAsia dari Kuala Lumpur. Biaya hidup hmm sebetulnya agak lupa :D karena cuma semalem, jadi gak terlalu ngeh hhehe tapi kayanya lebih kurang aja deh. Cuma kalau ngomongin biaya hidup as in tinggal di sana, saya gak tau pasti :)

      Delete
  10. saya belum pernah makan ambuyat sih, tapi sekilas liat bentuknya hampir sama dengan papeda, lengkap dgn sup ikannya. susah nelennya, hehehe.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, Om, sama seperti Papeda. Kebayang sih susah nelen, bentuknya kaya lem gitu ya :))) Tapi saya masih punya hutang makan Ambuyat ini nih, duh.

      Delete
  11. Wah...referensi yg bagus...kebetulan saya akan ke brunei jumat besok, bisa diinfo nomor bus direct dr airport ke gadong, tepatnya traders inn?

    ReplyDelete
  12. Jarang banget ada yang mengulas tentang Negara ini, keren deh. Minimal tahu sedikit tentang Brunei :-)

    ReplyDelete