Karna

By 6:01:00 PM

Beberapa hari lalu saya menonton sebuah pementasan teater berjudul 'Karna' pada hari Sabtu, 19 November 2011 lalu di Jalan Salihara 16, Pasar Minggu.

Pementasan yang naskahnya ditulis oleh Goenawan Mohamad ini sangat sangat sangat bagus untuk ditonton oleh semua kalangan. Pada pementasan ini beliau mencoba untuk melihat sosok Karna dari kaca mata Ibu kandungnya, Kunti; dari kaca mata Ibu yang membesarkannya, Radha yang menamainya Radhea; Gurunya, Parasurama dan dialog antara Karna dan istrinya Surtikanti. Pelakon dalam pementasan ini adalah Sitok Srengenge, Sita Nursanti, Niniek L. Karim, Whani Darmawan dan Putri Ayudya.

Isi cerita, pentas, visual efek, suara dan para pelakon memerankan wataknya dengan luar biasa dari setiap bagian-bagiannya. Bagaimana mata berbicara banyak melebihi kata-kata yang diucapkan. Bagaimana rintihan tangis menggambarkan suasana sedih dan duka. Bagaimana gerak tubuh menggambarkan perasaan. Semua menjadi satu dalam pementasan. Membuat hati bergetar.

Bagaimana kasta dan kedudukan juga nama menjadi alasan dibuangnya seorang bayi mungil tak berdosa atas nama tidak ingin darah keluarga tercemar oleh birahi semata. Bagaimana seorang ibu buta aksara melafalkan isi surat terakhir anaknya yang sempat dibacakan oleh adiknya dengan hati penuh getar. Bagaimana seorang guru mengajarkan, memarahi, mendidik dan merasa kehilangan sekaligus marah pada anak didiknya. Bagaimana seorang istri merintih menahan rindu dan perih atas kepergian cinta dan wujud seorang suami. Bagaimana seorang anak, adik, suami, murid mengekspresikan apa yang ada di benaknya atas nama cinta, kebenaran dan perjuangan. Bagaimana perang antar saudara menghilangkan kentalnya darah atas nama keluarga. Semua terangkum dalam pementasan ini diiringi efek suara dan gemuruh petir di luar gedung pertunjukkan.

Dengan membayar Rp. 150.000 untuk umum dan Rp. 50.000 untuk pelajar, harga itu terbayar dengan lipatan ganda akan apa yang dipentaskan. Superb!

Salut kepada semuanya, panggungnya, efeknya, suasananya yang mati namun menghidupkan. Naskahnya yang lebih dari sekedar brilian. Pemainnya yang luar biasa tak dapat digambarkan. Semuanya! Salut!

Saking banyaknya orang yang tertarik, terbius, terhipnotis dengan cerita ini, pementasan yang semula berakhir pada 20 November akhirnya ditambahkan satu hari pada tanggal 21-nya. Bukan main. Good Job!

Saya sempat memuji Sita Nursanti melalui media Twitter malam itu atas matanya yang berbicara banyak mengenai rasa. Bukan main! Bukan main!


Rujukan:

You Might Also Like

0 komentar