Ibu kota dan Jambret mania

By 2:51:00 PM

*tarik nafas dalam*

The most frightening about Jakarta is the criminality, and I experienced one, yesterday.

Saya tidak pernah menyukai Jakarta sampai akhirnya harus tinggal di sini dan berusaha untuk beradaptasi. Namun, kemarin saya mengalami sendiri hal-hal menakutkan yang selama ini saya dengar ceritanya dari mulut-mulut orang.

Pagi-pagi perhalanan menuju kampus di daerah Menteng, saya memutuskan naik bajaj dari Stasiun Gondangdia dengan pertimbangan keamanan. Hari itu memang sedang diberi cobaan oleh Tuhan, atas nama apapun. Naik bajaj, duduk manis, dan mendapati bajaj tidak jalan di jalanan yang biasanya dilalui, saya pun mulai complaint, dan si supir berkata "nanti bisa muter di depan", kemudian putar balik di dekat Gambir. Jalan kembali setelah menikmati lampu merah, mendekati Tugu Tani sang bajaj malah merapat ke kiri, saya langsung koreksi bahwa seharusnya ke kanan dan putar balik di bunderan Tugu Tani.

Mendekati kampus, bajaj berjalan pelan karena akan menurunkan saya, tapi sebelum mencapai pintu gerbang kampus, ada motor yang lewat di sebelah kiri bajaj, stang menyenggol spion bajaj. Saya sempat kaget dan bilang "eh" maksud meminta supir bajaj hati-hati, dalam hitungan seper sekian detik orang yang dibonceng di sepeda motor itu merampas tas saya. 

Saya menggunakan tas hitam dengan dua tali untuk disandang, satu tali tersangkut di bahu kanan sementara yang satu lagi bebas karena saya lagi merogoh tas untuk mengambil uang untuk bayar bajaj. Tas ditarik, saya pun sempat menahan dengan menarik tali tas yang agak terlilit di tangan saya, tapi memang bukan jodoh, tali tas lepas, dan motor melaju kencang. Saya teriak dan memukul bahu supir bajaj "pak tas saya itu tas saya" dan tebak apa reaksi supir bajaj? dia tenang, tidak ada reaksi kaget atau semacamnya sambil bertanya "turunnya di sebelah mana bu" WHAT THE! saya langsung bilang "di sini" sambil melempar uang yang sempat saya ambil dari dalam tas. 

Saya gemetar sambil naik ke gedung biru dan berusaha menenangkan diri. Saya hanya berusaha istighfar sambil mengatur nafas agar tenang. Ketika tas ditarik, di benak saya memutar kembali cerita penjambretan di bajaj yang pernah beberapa kali saya dengar dan saya sadar I am not safe. Saya mengucap syukur, pada akhirnya, bahwa penjambret tidak menyodorkan pisau atau sejenisnya sehingga menyakiti saya. Masih bisa berdoa agar apa yang ada di tas itu bermanfaat termasuk buku diktat perkuliahan pinjaman :)

Sampai di gedung saya langsung menelepon Ibu saya untuk minta dijemput oleh kakak saya, kebetulan saya tidak hafal nomer telepon kakak yang tinggal di Jakarta. Karena kakak saya lama menjemput, yang kemudian baru diketahui dia menjemput saya ke kampus yang satu lagi yang mana itu jauh sekali, maap ya :D akhirnya saya memutuskan untuk masuk kelas dan mengajar. Mahasiswa di kelas hari itu sangat menyenangkan, saya dibuat ketawa walau sambil berseliweran adegan tas dijambret yang bak sinetron itu :) Sempat juga diberi pinjaman telepon mahasiswa untuk blokir kartu ATM dan menelepon teman saya yang kebetulan nomernya saya hafal. 

Entah kenapa, ketika kejadian itu suara saya seperti tidak terdengar oleh siapa pun. Jalan Menteng Raya hari itu betul-betul sepi, disamping beberapa bangunan di sebelah kampus saya itu memang tutup pada hari Sabtu sehingga tidak ada satpam berjaga-jaga di luar. Saya pun mengalami kejadian ini tepat sebelum gerbang kampus sehingga memang tidak ada yang melihat. 

Pulang mengajar saya duduk di depan kampus menunggu kakak saya menjemput, eh saudara ipar saya, Vina, yang biasanya tidak pernah ketemu malah hari itu seperti bidadari yang membantu saya merasa nyaman. Saya diantar Vina melapor ke Kantor Polisi kecil di jalan Cut Meutiah, 6 lembar surat laporan dicetak oleh Pak Polisi, terima kasih Pak :)

Punya PR baru, membuat KTP, SIM, KTM; mengurus kartu yang sudah diblokir :) Sim telepon saya sudah dengan cepat bisa diurus pada malam harinya, ada gerai Indosat yang buka sampai malam di Sarinah, sangat membantu :) Terima kasih Neng Via sudah mengantar. Saya agak sedikit paranoid untuk naik angkutan umum, walau harus secepatnya dibuang si paranoid itu karena saya bergantung pada alat angkutan umum selama di Jakarta. 

Itulah, cerita yang kadang masih lewat saja di benak saya. Seperti tidak percaya. Lagi, semoga yang diambil itu mengandung manfaat :)

Padahal pagi-pagi sebelum berangkat ke kampus saya sempat berpikir untuk naik taksi saja karena sempat hujan deras, namun ketika waktunya berangkat saya masih menimbang naik taksi atau kereta dan keputusan adalah naik kereta. Apapun, naik apapun, ketika memang diharuskan mendapatkan pengalaman berharga, ya akan mengalami saja, tidak ada tawar menawar, kan? 

Tangan kanan saya agak memar, tapi bisa dikategorikan "saya baik-baik saja" :) Alhamdulillah. Saya hanya berharap semoga ini ujian yang hanya berlaku sekali, traumanya itu lho...

Jadi, yang tinggal di Jakarta, atau akan ke Jakarta, lebih hati-hati lagi ya :)

You Might Also Like

0 komentar