Hong Kong: Hari Pertama

By 2:34:00 AM


Dari TST menuju Central
Cartridge pun dijual di vending machine :D
Beli tiket, yuk!
MTR map; source google

Tidak banyak kegiatan di hari pertama. Sampai di Ferry Terminal sekitar pukul 11.55 dan langsung melesat menuju MTR station membeli tiket ke Fortress Hill seharga 6 HKD dari Seung Wan. Di dalam MTR dapet kabar dari parter akademik bahwa dia tertahan di imigrasi karena entahlah, mari kita tunggu cerita dari si empunya pengalaman. Yang jelas saya mengirit untuk menghabiskan coklat panas dan muffin seharga 34 HKD selama kurang lebih dua jam agar tidak diusir dari McD Fortress Hill :)) Kira punya kira urusan beres, eh taunya si beliau datang hanya dengan baju di badan dan tas slempang. Bingung waktu itu, harus sedih atau geli. Karena di benak saya sudah tidak ada kekhawatiran sejak sms terakhir diterima "udah di kereta" tanpa ada embel-embel informasi lainnya. Waktu datang, ternyata si koper masih entah dimana keberadaannya, pengalaman yang sungguh sangat anu....... 

Setelah ketemu di McD, kami langsung menuju YesInn Hotel untuk check in dan membayar sisa biaya sewa kamar untuk tiga hari. Lokasi hotel ini tepat di sebelah SevenEleven (7E/Sevel). Agak bingung memang karena ternyata hotel ini adalah bagian dari bangunan tinggi yang isinya adalah beberapa unit flat. Jadi kalau tidak jeli, akan sangat bingung untuk masuk ke hotel, naik liftnya, buka pintunya dan bengong bahwa ada bentuk hotel seperti ini :D Hotel ini ada di lantai 5 dan 6, Resepsionis ada di lantai 5 dan kebetulan kami pun mendapat kamar di lantai 5. Di satu lantai ada beberapa pintu, yang kalau dibuka, ternyata sudah diberi beberapa sekat yang membentuk kamar. Begitulah kondisi hotel ini. Tapi kenyamanannya terbeli, kok! Warna dinding yang penuh warna warni, bersih, ada kulkas tempat kita meletakkan makanan/minuman, disediakan dispenser, kamar ukuran alakadarnya tanpa lemari dengan lantai kayu yang nyaman, tempat tidur dan perabotan IKEA, AC, TV dan kamar mandi yang dilengkapi dengan water heater. Kurang apa? Harga 399 HKD itu terbayar dengan kenyamanan yang kami dapat. Memang, mungkin ada hostel yang lebih murah, tapi apakah fasilitasnya akan sama seperti yang ada di YesInn? hihihi macem promosi :)

Cengar cengir berdua di kamar karena AC yang tidak akan berfungsi secara waktu itu dinginnya minta ampun, TV yang programnya semua menggunakan bahasa Mandarin/Cantonese saya tidak bisa membedakan dan kamar mandi yang dilengkapi dengan air panas! Selalu saya cari sebuah kamar mungil, nyaman, murah yang dilengkapi air panas di kamar mandi karena setelah jalan seharian, badan sangat butuh disiram oleh air hangat agar bisa tidur dengan nyaman.

Kowloon Mosque & Islamic Center:
Secuil dari Masjid yang bisa tertangkap kamera dari sebrang jalan
Setelah sejenak istirahat, kami bergerak keluar dan menuju TST (Tsim Sha Tsui) dengan menggunakan MTR. Pertama kami membeli tiket MTR seharga 5 HKD menuju Admiralty kemudian lanjut 8.50 HKD menuju TST. Kesalahan pertama adalah bahwa sebetulnya kami bisa langsung membeli tiket dari Fortress Hill menuju TST, tapi karena entahlah waktu itu hahahah akhirnya kami mengeja perjalanan :D Ketika akan menuju TST ini kami memutuskan tidak membeli Octopus Card karena saya tidak suka gurita :)) bukan deng, karena itung-itungan kami waktu itu sepertinya sok tau bahwa kami tidak akan memerlukannya...ternyataaaa...tunggu sampai akhir cerita ya :)

Sampai di TST, di sana pertama kali bertemu dengan Masjid Kowloon. Belok ke kanan dan menyusuri pertokoan berharap menemukan tempat makan. Pilihan jatuh pada sebuah rumah makan a la Arab yang dikenal dari selebaran yang kami terima di jalan. Bingung mau makan apa, akhirnya Nasi briyani seharga 64 HKD mendarat ke dalam perut dengan mulus. Untung saja kami hanya membeli satu porsi, karena sesuai pengalaman, nasi briyani yang di jual di rumah makan Arab itu porsinya gak ketulungan banyaknya, dan benar saja :) Sempat juga membeli jajanan di depan Masjid seharga 10 HKD berisi gorengan samosa dan nugget yang kami santap bersama dengan nasi briyani. 

Di rumah makan ini, saya lupa namanya, sempat bertemu dengan seorang TKW yang sudah lama bekerja di HK dan bahkan menikah di sana. Jodoh memang tidak tahu dimana adanya, dia bertemu dengan orang berkewarganegaraan Inggris di sana dan baru saja menikah di Bali. Bali menjadi pilihan karena tempatnya yang romantis, menurut si mbak. Bahasa yang digunakan bercampur antara Indonesia, Jawa dan bahasa Inggris yang fasih. Pakaian yang modis dengan coat berbulu tidak menampakkan bahwa dia pernah bekerja sebagai domestic helper. Sementara stereotype yang selalu muncul mengenai domestic helper adalah kucel dan bodoh. Tapi di HK, saya saja yang konon sekolah tinggi hanya fasih berbahasa Indonesia dan gagap berbahasa Inggris, sementara mereka setidaknya fasih dalam 2 bahasa asing yaitu Inggris dan Cantonese. *geleng-geleng kepala*. 

Setelah makan kami lanjutkan perjalanan ke sebelah kanan :)) saya lupa arahnya, nama jalannya dan detilnya, parah ingatan ini :D akhirnya menemukan Space museum dan Heritage 1881. Tapi malam itu kami tidak mengunjungi salah satu diantaranya karena sudah pukul 9 dan kami sudah memutuskan untuk pulang karena esok pagi harus pergi pagi-pagi untuk conference. Ade, teman seperjalanan saya, membeli sedikit perlengkapan dadakan untuk malam itu karena dia tidak membawa apa-apa di dalam tas orange yang melintang di badannya itu. 

Pulang menggunakan ferry dan mendapat pemandangan yang indah, sungguh indah dari dalam kapal :) dengan hanya membayar 2.50 HKD, sampailah kami di Central kemudian naik MTR seharga 5 HKD menuju Fortress Hill. Naik ferry ke TST lebih murah dan lebih cepat berbanding naik MTR yang harus bertukar kereta lagi untuk dapat menyebrang ke TST. Pemandangan yang didapat kala malam pun tidak terbayar :) 

Malam itu diakhiri dengan hmmm bingung mau presentasi bagaimana besok pagi :D 

Sampai bertemu di hari kedua ya :)

You Might Also Like

0 komentar