Gatot Kaca Kembar: The Evil Within

By 2:54:00 AM

Satu lagi kiprah Mirwan Suwarso dalam memberikan nuansa modern terhadap kecintaannya kepada wayang dengan konsep pagelaran drama sinema kali ini hadir dengan judul “Gatotkaca Kembar – The Evil Within” yang akan diselenggarakan pada hari Sabtu, 2 Juni 2012 di The Hall, Senayan City. Pertunjukan kali ini merupakan wujud dukungan dan kelanjutkan komitmen dari Djarum Apresiasi Budaya dan MSP Entertainment serta Mirwan Suwarso yang telah sukses memberikan gebrakan dunia pertunjukan Indonesia melalui tiga lakon “Jabang Tetuko” di tahun 2011 dan di tahun 2012 sudah ada 2 pertunjukan yaitu, “Gatotkaca Jadi Raja” dan “Arjuna Wiwaha”.

”Di tahun ini Drama Sinema kami rencanakan 5 cerita dan ”Gatotkaca Kembar” adalah cerita yang ke-tiga. Sesuai dengan misi Djarum Apresiasi Budaya untuk mengajak masyarakat agar mencintai budaya asli Indonesia, pertunjukan ‘Gatotkaca Kembar’ ini tentunya akan menjadi sebuah sarana pengenalan tokoh pewayangan Indonesia sekaligus tontonan yang sangat menghibur”, ujar Renitasari, Program Director Bakti Budaya – Djarum Foundation.

Gatotkaca Kembar mengisahkan kedengkian seorang putra dewa kepada putra Pandawa yang menyebabkan Gatotkaca harus memerangi seorang lawan tak terduga, yaitu sisi buruk dirinya sendiri yang menjelma menjadi sosok kembarnya. Gatotkaca Kembar mengetengahkan sebuah perspektif pemikiran bahwa setiap orang mempunyai sisi buruk dan tidak akan bisa dihilangkan namun kita bisa berusaha untuk mengendalikan sisi buruk tersebut dan mengasah sisi baik.

“Saya senang bahwa ketiga pertunjukan drama sinema sebelumnya mendapatkan apresiasi yang cukup baik sehingga memotivasi saya untuk menghadirkan Gatotkaca Kembar,” Kata Mirwan Suwarso, sutradara Gatotkaca Kembar. “Gatotkaca adalah tokoh wayang ikonik yang selalu menarik untuk diangkat baik dari sisi karakter maupun profil heroiknya kemudian ditambah dengan nilai-nilai moral pewayangan secara keseluruhan.”


Salah satu unsur penting dalam konsep pertunjukan drama sinema, tak terkecuali Gatotkaca Kembar adalah musik. Dibawah arahan Aksan Sjuman, Gatotkaca Kembar disajikan dalam sebuah aransemen musik simfoni metal nan megah dan memukau untuk merekatkan nuansa dan suasana Gatotkaca Kembar sehingga membantu memberikan kesatuan pemahaman cerita kepada penonton.

“Saya tertantang untuk memberikan sebuah konsep musik bagi Gatotkaca Kembar yang berbeda dari pertunjukan sebelumnya,” kata Aksan Sjuman, penata musik Gatotkaca Kembar. “Menyadari bahwa musik adalah bahasa umum yang dapat dipahami oleh semua orang, saya menciptakan aransemen musik yang akan dapat memberikan semacam informasi dan impresi universal kepada penonton akan jalan cerita Gatotkaca Kembar.”


Gatotkaca Kembar didukung oleh artis-artis ternama yang juga pernah bermain dalam tiga pertunjukan sebelumnya seperti Tora Sudiro yang berperan sebagai Gatotkaca, Aqi Alexa  yang berperan sebagai kembaran Gatotkaca, Titi DJ yang berperan sebagai Arimbi dan Volland Humonggio sebagai Arjuna. Selain itu Gatotkaca Kembar juga mendapatkan dukungan pemain luar negeri seperti Max Morgan dan Camille Guaty yang populer melalui serial “Prison Break”. Kedua artis asal Amerika tersebut mengajukan diri untuk turut ambil bagian dalam ‘Gatotkaca Kembar’ karena tertarik dengan karya Mirwan yang memadukan kebudayaan asli Indonesia dengan unsur sinema, teater musikal, wayang kulit dan seni tari dalam kesatuan yang unik dan artistik. 




Mba Tisi dan Tiketnya :)
Tiket Gatotkaca Kembar. A bunch of thanks to Mba Thrisi :)
Kamis saya melihat iklan tentang pementasan Gatot Kaca kembar ini di daerah Tendean. Membaca sekilas dari dalam Kopaja membuat hati saya berteriak "andai bisa menonton". Iseng menulis sebarisan kalimat pendek di Twitter tentang pementasan ini dan ternyata seorang teman menyaut yang memberikan janji mengupayakan mendapatkan tiket untuk menonton. Ternyata eh ternyata kakaknya adalah bagian dari Djarum Foundation yang bekerja menjadi PR di sana. Dijanjikan begitu saja membuat saya senang, seolah gumam tiada arti tersaut kalimat Tuhan :) Sabtu pagi, tepat di hari Gatot Kaca ini akan pentas, saya mendapat pesan pendek yang mengatakan bahwa ada dua tiket gratis menonton Gatot Kaca. Saya sontak girang! sungguh, girang. :) Tiket nonton jam 7 malam pun dinikmati dengan wajah berbinar, I might say :) Saya dapet tiket yang standar seharga Rp. 300.000, duduk di L27 :)

Saya kurang paham tentang cerita pewayangan, tapi cerita ini berkisah tentang Gatot Kaca yang sempat ditawan dan kemudian muncul kebarannya yang dirasuki untuk memerintah perang dengan para Kurawa. Kemudian dengan bantuan Pandawa Lima, akhirnya Gatot Kaca bisa dibebaskan, dan para penjahat bisa dikalahkan. Perang dengan Kurawa pun tidak jadi terlaksana. Secara keseluruhan ceritanya tidak terlalu mengigit, menurut saya, mungkin karena saya juga tidak terlalu paham pewayangan ya. Tapi dengan pemeran-pemeran yang berakting dengan cukup bagus, memuaskan, ditambah tatanan panggung, lighting dan musik yang luar biasa menjadikan pertunjukan ini istimewa. Tora Sudiro (Gatot Kaca) dan Volland Humonggio (Arjuna) menjadi tokoh yang membawa tawa cukup menghibur ketika semua kening mengkerut menunggu apa lagi adegan selanjutnya. Menarik.

Musik yang disajikan bukan main...sungguh bukan main...Wong Aksan bermain drum bak terasuki entah apa namanya tapi membangkitkan adrenalin, sungguh. Suara-suara yang ditimbulkan dari para penyanyi latar membuat badan bergidik. Suara-suara penyanyi pemeran di panggung sandiwara yang sungguh tidak disangka akan sedemikian bagus setelah mereka pentas tiga kali pada pukul 13.00, 15.00 dan 17.00 tetap terjaga dengan baik. Saya puas. Sungguh puas. Max Morgan dan Camille Guaty bermain sangat bagus...entah bagaimana definisi bagus itu..tapi saya terpuaskan. Sangat. Bahwa mereka bukan orang Indonesia tidak melunturkan esensi peran mereka di pementasan ini. Dialog lucu di luar konteks serius kisah Pandawa menjadikan panggung tidak setegang sebelumnya.

Seperti yang dijelaskan pada laman Djarum Foundation bahwa pementasan ini bukan sekedar pemaparan cerita, namun pertunjukan sinema dan musik dalam satu paket ciamik. Saya suka! Hal lainnya adalah bahwa saya suka bagaimana Djarum Foundation ini selalu menjadi sponsor acara-acara yang bersifat budaya. Salah satunya yang saya tahu adalah pementasa Diponegoro beberapa waktu lalu di TIM. Bagaimana penjualan tembakau mampu mendekati para konsumen dan calon korban asapnya dengan pendekatan humanis, mendasar. Budaya dan alam. Sungguh luar biasa. Tapi sebagai pembenci rokok dan korban dari asap-asap yang bertebaran di sekeliling, saya tetap salut dengan bagaimana Djarum Foundation ini mampu mengusung dan menjadi ikon pelestarian budaya Indonesia.

September ini ada pementasan lagi, Hanoman kalau tidak salah. Mau? 

You Might Also Like

0 komentar