Loncatan perjalanan: cerita tentang hati, pikiran dan langkah kaki

By 12:53:00 PM

Pagi ini saya menulis dari kota bernama Kajang, di belahan Selangor Darul Ehsan, Malaysia. Udaranya tidak membuat tubuh bergidik segar. Tidak membuat mata membulat, penuh. Tapi satu, dua malam tidur di sini membawa saya terbang memindik ke sebuah halaman besar bernama perjalanan. 

*

Belakangan ini, ya..baru-baru ini, saya tersadar bahwa hidup saya penuh dengan sikap meloncat-loncat dari satu tempat ke tempat lainnya. Dari satu lorong waktu ke lorong waktu lainnya. Dari satu halaman ke halaman lainnya. Entah kapan awal mulanya, tapi saya suka berlari. Berlari dari keanyataan bahwa saya tidak bisa lari kemana-mana. 

Entah kapan saya mulai menyadari bahwa saya adalah tipe penyendiri sekaligus butuh sosialisasi tingkat tinggi (jika dibutuhkan badut pada waktu-waktu tertentu). Saya bisa menjadi orang paling muram karena butuh sunyi. Saya bisa juga menjadi orang cerewet ketika sedang mencinta. Ya, ini tentang cinta. Sungguh mudah mencintai orang-orang di sekitar saya. Sungguh mudah memberikan perhatian ekstra. Sungguh mudah menabur cinta. Ya, ini tentang cinta.

Seorang sahabat, mantan pacar kakak saya, sekali berkata "sungguh mudah untuk sayang padamu, dek, sungguh mudah karena kamu selalu penuh sayang itu". Entah apa maknanya. Tapi saya sadar bahwa saya punya banyak rasa cinta untuk kamu, kamu dan kamu. Tapi berbeda untuk #kamu. Refleksi masa lalu itu membawa saya pada pemikiran hari ini. Pagi ini. Tentang saya dan piknik dan segala alasan disebaliknya.

*

Ini masih tentang perjalanan. Tapi cinta. Judulnya. Kenapa bermula di Kajang? Karena saya berbalik ke titik nol untuk pertama kali di kota ini. 2007. Tahun pertama saya memulai loncatan baru menjadi warga negara asing (tidak permanen karena visa) untuk tujuan belajar. Dan. Berlari. Ya, berlari. Kemudian loncatan ke titik nol lagi, tidak, itu bahkan minus sekian, pada akhir tahun berikutnya. 2008. Loncatan yang saya tidak pernah tahu kapan mulanya. Bagaimana berakhirnya. Yang saya ingat adalah entah gelap entah hancur. Berkeping. Saya yakin tidak ada yang tahu rasa sebenarnya. Walau banyak yang berusaha menginterpretasikan perasaan sok meng-getir. Tapi siapalah yang tahu. Kecuali yang terluka.

*

Berawal dari 2008 loncatan demi loncatan impulsif berkelanjutan hingga sekarang. Penang, Malaka, Tioman, Sabah, Sarawak, Kamboja, Vietnam, Cina, Hong Kong dan beberapa tempat lainnya dilakukan atas dasar rasa. Cinta. Ya, cinta. Entah berbunga. Entah lara. Tapi semuanya menjadi dasar perjalanan.

Saya melankolis, ya. Saya perfeksionis, ya. Saya penuh ambisi, ya. Saya penuh mimpi, ya. Saya penuh cita-cita, ya. Saya merajut banyak asa, ya. Saya gegabah, ya. Saya menyebalkan, ya. Namun, rasanya, dua hal pertama yang membuat saya menjadi kutu loncat seperti ini. Kabur-kaburan ketika terlalu sedih dan bahagia.

Saya mengejar perjalanan pertama saya ke Penang karena saya jenuh dengan rasa patah hati yang membuat badan saya kurus, kepala saya dungu. Saya jenuh dengan bekerja Senin-Jumat pukul 8.30 - 5.30. Saya jenuh dengan kegiatan akademik kampus. Saya jenuh dengan pertemanan yang itu-itu saja. Padahal hanya mereka keluarga yang saya punya. Tapi rasa jenuh itu akut. Saya lari 3 hari ke Penang dengan seorang teman. Perjalanan pertama (lagi) setelah 4 tahun.

Kemudian ada piknik impulsif yang tidak terencana, Langkawi. Dengan harga tiket yang termasuk tidak murah, keimpulsifan itu pun berbuah kebahagiaan berjalan-jalan dengan 5 orang lainnya. Berteriak "TESIS" di Pantai Cenang.

Perjalanan besar berikutnya saya dedikasikan untuk Tesis master yang sudah diserahkan untuk kemudian menunggu sidang. Ditemani kamera baru hasil keringat sendiri, saya bersama 5 teman lainnya menebar tawa di sepanjang Vietnam dan Kamboja. Menyenangkan.

Main ke Kuala Lumpur yang ditempuh sekitar 1 jam dari tempat saya tinggal bisa dilakukan hampir tiap hari bersama keluarga saya di sini. Entah untuk sekedar nyamil canai. Makan malam. Menonton. Atau berfoto di spot-spot yang sudah basi untuk orang yang sudah tinggal di Malaysia lebih dari 2 tahun. Tapi itu cara saya lari dari keadaan yang memaksa saya tidak bisa lari. Kenyataan.

Perjalanan selanjutnya diwarnai dengan kegiatan akademik, conference. Saya jadi pembicara di salah satu conference di Guangzhou. Sendiri. Saya tipe penakut sekaligus pemberani dalam waktu bersamaan. Kalau hati sudah ingin, saya keukeuh. Keras kepala kalau kata orang tua. Ya, saya keras kepala. Guangzhou itu negara penuh tanda tanya pertama yang saya kunjungi sendiri. Tulisan yang tidak dipahami. Bahasa yang tidak dimengerti. Namun sangat bersemangat untuk ke sana. Usaha mengikuti international conference di luar Malaysia dan Indonesia untuk pertama kali. Usaha sendiri. Perjalanan itu saya ditemani seorang lelaki, ya itu #kamu. Dari jarak ribuan kilometer. Beda negara. Hal paling berat selama di sana adalah mencari kopi titipannya. Tapi mencarinya menjadi bagian terindah dari perjalanan Cina pertama saya. Akapiknik tidak terlupakan. Persiapannya. Pengurusan Visanya. Pembuatan makalahnya. Semuanya.

Berhenti di Cina untuk saat itu, dilanjutkan dengan paket tiket dan hotel murah ke Phuket. Bersama 2 teman lainnya akhirnya bisa juga menginjakkan kaki di Phuket yang pernah saya idam-idamkan untuk jadi tempat berlibur bersama seorang laki-laki yang pernah sangat saya puja. Mantan pacar. Tapi begitu bersyukur dan bahagia bahwa saya tidak pergi bersamanya. Karena rasanya pasti tidak sebahagia waktu saya melihat matahari terbenam di  salah satu pantai di Phuket waktu itu dengan tawa bodoh dengan teman-teman :) Perjalanan 3 hari penuh rasa bahagia. Biru. Angin. Matahari. Semua membuat bahagia.

Perjalanan tidak berhenti di pantai. Kehidupan semakin sulit karena teman-teman seperjuangan satu-satu sudah pulang ke tanah air. Keuangan sudah mulai menipis. Keluarga sudah mulai menipis. Digantikan keluarga baru yang belum saya kenal dekat. Ditambah #kamu yang mulai entah pergi kemana. Hilang dan timbul alakadarnya. Saya mulai sering berkelana sendiri. Kota Bharu. Kuching. Kota Kinabalu. Andai #kamu tahu dan membaca, di setiap perjalanan saya selalu ada doa untuk #kamu. Selalu ada harap bahwa lain waktu bisa ke sana lagi dengan #kamu. Pelarian sendirian itu membuat saya banyak berpikir dan berdoa.  Menelaah perjalanan hidup. Episode demi episode. Membuat rencana baru. Menumbuhkan semangat lagi sebanyak sepuluh pangkat tujuh.

Entah bagaimana ceritanya, saya selalu dapat titipan mobil dari teman-teman. Saya semakin sering pergi sendiri. Kopitiam. Sudut taman. Perpustakaan hingga malam. Menonton 3 film dalam satu hari di bioskop. Sendirian. Memasak dan berkunjung ke teman-teman untuk membunuh rasa sendiri. Hari-hari dilewati dengan kebimbangan. Takut menangis di hari berikutnya.

Melipir pulang ke tanah air. Tinggal di ibu kota. Rasanya? Seperti makan sup keasinan. Tidak enak. Ya, karena saya selalu menolak untuk tinggal di ibu kota. Hingga sadar bahwa #kamu ada di sana. Saya bertahan. Berusaha bahagia. Menikmati setiap titik keringat di kopaja. Loncatan kali ini membuat merana sebetulnya. Terpaksa pulang karena keadaan itu tidak enak.

Di ibu kota saya semakin sering menyendiri. Pergi sendiri. Nonton ke bioskop sendiri. Nonton teater sendiri. Menghadiri talkshow sendiri. Bukan tidak punya teman, tapi perasaan ingin sendiri itu semakin besar. Bisa menikmati tinggal di rumah beberapa hari tanpa bertemu orang dan berbicara tatap muka. Menikmati? Tidak juga. Tapi itu adalah loncatan perjalanan lainnya. Diam di tempat. Sambil berloncat-loncat.

Akhir tahun lalu rasanya ada di titik paling bawah kehidupan. Memulai hidup baru. Memulai pekerjaan baru. Masih dengan disertasi yang sama diamnya. Menata hati. Dan terburuk adalah tidak bisa bepergian. Bukan saya itu. Aneh sekali.

Tahun ini entah bagaimana ceritanya, tapi loncatan perjalanan saya berderet banyak. Entah bagaimana ceritanya. Perjalanan rohani ke tanah suci. Mampir di Dubai. Melipir ke Macau sendirian dilanjutkan dengan akapiknik ke Hong Kong bersama seorang teman untuk (lagi-lagi) conference. Tidak lama kemudian bergerak ke atas dari tanah Malaysia mengunjungi dua kota bersama #kamu. Dilanjutkan dengan Krabi dua minggu kemudian. Ini belum setengah dari tahun 2012 dan hati saya sudah loncat-loncat dibawa langkah kaki.

Setiap perjalanan membawa cerita. Tahun lalu saya bergumam dalam hati, andai Tuhan mengizinkan, saya ingin sekali bersimpuh di depan kotak hitam besar di tanah suci. Awal tahun tiba-tiba orang tua saya melontarkan niatnya untuk kami sekeluarga berangkat ke sana. Subhanallah. Saya tidak pernah berpikir bahwa saya bisa pergi ke Hong Kong dalam waktu dekat, finansial tidak mendukung. Entah bagaimana saya awalnya bisa berkenalan dengan seorang wanita mulia yang selalu menjadi penolong di saat saya membutuhkan, bahkan tanpa diminta :')

Saya hampir tidak ingin ikut dengan teman-teman ke Krabi waktu tahun lalu tiket dipesan. Sederhana, keuangan. Seorang teman mau membelikan dulu tiket dan membayarkan hotel baru kemudian saya mencicilnya. Ya, perjalanan pertama saya dengan mencicil. Sedih sekaligus merasa beruntung karena ternyata saya membutuhkan perjalanan Krabi itu. Untuk apa? Mengobati luka :)

Begitulah loncatan perjalanan saya. Selalu ada nilai sentimentil di dalamnya. Hati. Cinta. Asa. Begitu terus.

*

Loncatan perjalanan ini sepertinya akan berlanjut. Entah sampai bila. 
Cerita tentang loncatan perjalanan saya. hati saya. pikiran saya. dan kaki saya. 
adios.

fin.


You Might Also Like

0 komentar