Angkutan umum, apa kata kamu?

By 9:06:00 PM


*Sigh*,

Tarik nafas panjang dulu sebelum menulis. Dari dulu, Jakarta menjadi kota yang enggan saya tinggali. Ruwet. Mumet. Menakutkan. Mendengar kata Jakarta itu seperti mendengar kata halilintar yang sepertinya akan membuat saya mual dan enggan. Entah kenapa. Seumur-umur Jakarta hanya jadi tempat transit atau piknik keluarga yang tidak pernah lebih dari satu minggu masa menetap. Lalu kenapa segitunya? Entah. Sungguh, entah.

Sekembali dari negara tetangga, dengan terpaksa, membuat saya dengan terpaksa juga menetap di Jakarta. Beberapa teman memang selalu mengatakan bahwa Jakarta adalah kota impiannya, tempat di mana banyak kesempatan, bisa menemukan banyak teman. Tapi tidak buat saya. Satu-satunya alasan saya di Jakarta adalah... ah tidak tahu pasti. 

Kalau datang ke Jakarta saya selalu memanfaatkan taksi burung biru sebagai moda transportasi, hanya itu yang saya percayai. Karena hanya datang dalam waktu singkat, mengeluarkan uang lebih untuk keamanan tidaklah memberatkan. Waktu itu. Kalau membuat janji dengan teman, biasanya saya pastikan ada yang bisa menjemput atau setidaknya menghantar saya pulang. Bukan manja, saya tidak percaya sama kota ini. Itu saja. Dan itu adalah hal besar, buat saya.

Datang dan memilih satu tempat kost di Jakarta Selatan menjadi langkah besar saya ketika datang ke kota ini. Teman, banyak juga, cukuplah unuk sekedar bersosialisasi. Kakak pun tinggal di Pusat Jakarta. Jadi selalu ada alasan untuk keluar dari kurungan rumah kost dan pergi ke luar. Satu bulan pertama saya hampir menguras tabungan untuk kebutuhan transportasi. Taksi. Yang saya gunakan selalu burung biru, taksi dengan tarif atas. Setelah mulai bekerja, saya meminta seorang teman mengajarkan saya naik angkot, metromini, bis TransJakarta dan Damri. Ya, pengeluaran saya untuk transportasi jauh menurun berbanding sebelumnya. Tapi, jam keluar saya semakin sempit, saya tidak akan berani pergi di atas jam 8, malah pernah saya usahakan sebelum gelap untuk sudah kembali ke sarang, rumah kost. Kenapa? Keselamatan.

Pengalaman dijambret, di Menteng, 7 Januari 2012 lalu membuat saya kembali membenci kota ini, Jakarta.  Saya dijambret ketika saya sedang duduk di dalam bajaj yang sedang jalan. Catat, bajaj sedang jalan. Tas ada di dekapan dengan talinya tersangkut di pundak saya. Kedua-dua talinya tersangkut. Trauma. Bukan masalah apa saja yang hilang dan berapa harganya. Tapi kepercayaan saya, ketakutan saya, trauma saya. Itu yang sampai sekarang tidak hilang dari benak. Sejak itu saya usahakan selalu naik taksi, kali ini saya gunakan beberapa perusahaan lainnya dengan taksi warna hijau lumut atau putih, tarif bawah katanya. Kakak saya yang selalu kesal kalau saya memaksa naik angkutan umum kesal dengan kejadian Menteng itu, dan menyalahkan saya. Saya hanya berusaha realistis, I cannot, yet, afford taxi all the time at the moment. So, angkot et al. are the best choice for me to mobile. Dan ya, dia selalu kesal mendengar jawaban itu. Maaf, I have no choice. 

Beberapa waktu lalu ada insiden pemerkosaan yang menyebut kan angkutan umum C01 sebagai tempat terjadinya, diikuti dengan kejadian baru-baru ini tentang percobaan pemerkosaan, lagi. Oh Dear God, itu adalah angkutan yang sering saya gunakan. Saya takut. Semakin takut. Semakin ingin berusaha segera keluar dari kota ini. 

Saya semakin memendekkan batas aman naik angkutan umum seperti angkot, kopaja dan metromini, jam 8 malam, itu pun kalau isi kendaraan itu terasa aman, setidaknya bagi saya. Selebihnya, saya rela mengurangi jatah makan dan membeli buku untuk bayar taksi. Demi keselamatan. 

Entahlah, entah bagaimana saya harus menggambarkan tidak nyamannya saya dengan kota ini. Saya juga dalam waktu bersamaan tidak tahu harus memberi solusi apa dan berharap apa. Naif kalau saya bilang "please make this town safe". How? itu pertanyaan besar yang akan muncul. Entahlah.

Lebih waspada, selalu percaya Tuhan menjaga, berbuat baik senan tiasa. 
Selamat menikmati Jakarta, hati-hati ya :)

Ini cerita saya, apa katamu?

You Might Also Like

2 komentar