Kabayan Jadi Presiden

By 1:32:00 PM


Ini cerita tertunda juga :))

Ceritanya pada waktu itu saya ingin menghabiskan akhir pekan dengan menonton teater. Di perjalanan menuju kampus, pagi-pagi buta membaca beberapa spanduk tentang pementasan teater yang dipajang di pinggir jalan. Awalnya saya tertarik dengan "Dharma Gita Maha Guru" yang diperankan oleh Anjasmara, tapi sepertinya akan agak berat ceritanya, ditambah ada simbol dari partai politik yang tersembunyi di sana. Akhirnya saya urungkan niat. Dekat dengan daerah Kebayoran Lama ada spanduk lainnya tentang pementasan "Kabayan Jadi Presiden", sepertinya menarik. Mungkin karena saya beretnis Sunda, jadi Kabayan dengan stereotipe kesederhanaan dan keSundaannya langsung membuat saya tertarik. Browsinglah, nemu tiket yang murah dan ternyata masih available! Dengan IDR 100.000 saya bisa ketawa sampe jungkir balik ketika pementasan itu. 

Ceritanya lebih tentang bagaimana kritik kehidupan politik dan bernegara dikemas dalam kemasan lelucon namun menggigit antara Kabayan dan Nyi Iteung, istrinya. Sindiran-sindiran membangun ditumpahkan di atas panggung tentang pendidikan, korupsi, penghargaan guru dan banyak lagi. Ada juga di bagian akhir bagaimana banyak partai politik menjalankan money politic untuk memenangkan pemilu dan menjadi penguasa negeri. Di bagian akhir sebetulnya sudah agak membosankan, ketika partai politik berkampanye. Mungkin karena perut saya sudah terlalu laris dikocok di bagian satu jam pertama, sehingga ada bagian yang menjadi agak membosankan dan terlalu panjang. Tidurlah saya hehe. Tapi saya tidak ketinggalan bagian akhir-akhir yang mengusung kebenaran pasti akan menang. Good performance, though. Me like it. 

Pementasan ini diperankan oleh Peggy Melati Sukma, Didi Petet, Joe P-Project, Meriam Bellina, ada Butet dan Djaduk sebagai penggagas dan yang lainnya.

Tiket Balkon yang saya kira akan menjadi tempat seadanya karena harganya yang paling murah itu ternyata telah memberikan posisi yang sangat tepat karena leher saya tidak lelah ketika menonton :) Harga tidak selalu berbanding terbalik dengan rasa ternyata hehe

Ada penonton yang tidak mengerti bahasa Sunda sempat berteriak "Roaming" namun kemudian hening. Kasihan. Dia tidak sadar bahwa icon Kabayan adalah icon Jawa Barat, Sunda, sehingga kata "Roaming" itu sepertinya tidak tepat diteriakkan ketika dia tidak bisa paham bahasanya. Saya, ketika menonton pementasan yang banyak menggunakan Bahasa Jawa, Kromo Inggil malah, berusaha untuk menikmati esensi dari pementasan. Kadang kita tidak perlu paham kata per kata, kok. Karena simbol yang ada di panggung pun bisa kita artikan, kalau kita memang ingin menikmatinya :) Jadi, kalau lain kali menonton dan tidak mengerti bahasanya, jangan rese ya ;) 

Anyway, bulan September akan ada pementasan "Maling Kondang", sepertinya akan bagus juga. Ada yang mau nonton sama saya? jom!

Terima kasih Neng Ika yang mau menemani :)

You Might Also Like

0 komentar