Akademi Berbagi: Berbagi Bikin Happy!

By 8:25:00 AM

Lagi, saya memiliki kesempatan untuk bergabung menjadi peserta kelas di Akademi Berbagi. Kali ini lebih istimewa, Ulang tahunnya yang kedua. Selamat! Kelas dihadiri cukup banyak orang ini, more than 200 I guess, diadakan di Teater Bulungan. Semua yang hadir disuguhi goodie bag dari Dulux yang merupakan tas daur ulang berisi catalog dan majalah Sekar. Thank you. Selain itu juga ada jamuan makanan sehat berupa buah-buahan segar seperti pisang, kiwi dan melon. Jarang ada acara yang menjadikan buah sebagai menu utama yang disajikan, sebagai pecinta buah I do thank you for that :) Selain itu juga ada kopi dari Semerbak Coffee  dekat pintu masuk ruangan. Nice!

Kelas kali ini diisi oleh tiga orang guru hebat. Super hebat, I might say. Ada Anies Baswedan, Didi Petet dan Handry Satriago. Guru pertama dan kedua sudah familiar buat saya, yang terakhir I have no idea, but surprisingly, he gave me a great lecture! Saya cerita sedikit mengenai materi yang dibagi hari itu ya...

Anies Baswedan adalah sosok yang saya kenal melalui media sekitar tahun 2009 lalu, and I adore him for every thought he has. He is, to me, a very brilliant person, think two or three steps forward others, caring, dedicated, humble and charismatic. Bertemu beliau, walau tidak benar-benar berbicara secara langsung, selalu membakar semangat saya dan membangkitkan mayat-mayat ide di dalam benak saya. Seperti terbakar. Hari itu Pak Anies berbagi mengenai bagaimana pendidikan, dan pendidik, di Indonesia. Bagaimana sejumlah hampir, atau bahkan lebih, dari 50% anak-anak yang masuk sekolah tidak bisa menyelesaikannya dengan sempurna. Entah karena biaya, entah karena kemampuan fisik, entah karena tekanan psikologis, dan hal lainnya yang membuat mereka tercecer dan tidak dapat menyelesaikannya.

Bahwa pendidikan awal adalah berasal dari rumah kita sendiri, namun sayangnya kadang orang tua tidak punya dasar pemikiran untuk mendidik yang memadai. Poin di sini. Bahwa semua karakter yang kita bawa pada awalnya dibangun di rumah, walau akhirnya lingkungan yang juga berperan membentuk kita sebagai manusia di masa depan, tapi adonan dasar, kalau boleh saya bilang, diramu di rumah, oleh budaya yang ada di rumah. Oleh karena itu, orang tua hendaklah tidak hanya sekedar mengajarkan dan mendidik apa yang baik menurut mereka, namun ada baiknya juga menggali lebih banyak apa yang terbaik bagi seorang anak. Bahwa kekayaan terbesar yang kita punya adalah diri kita, kekayaan terbesar yang Indonesia punya adalah manusianya, sebagai manusia bukan sebagai komoditas. Jepang dengan minim sumber daya alam bahkan bisa menjadi negara kaya dan besar, mengapa kita tidak? Pendidikan menjadi sumber masalahnya. Para pendidik, hargai mereka sesuai peranannya.

Pendidik, memberi dengan sepenuh hati. Tapi kadang ironis juga, IMO, bahwa pendidik telah berdedikasi sedemikian rupa, namun hidupnya secara sosial ekonomi tidak berbanding lurus dengan itu. Kadang saya tidak bisa menyalahkan bahwa ada pendidik yang bekerja di dua sampai tiga tempat untuk memastikan dapurnya tetap berasap dan anak-anaknya bisa mendapat pendidikan yang layak. Namun efeknya adalah kemungkinan bahwa stamina dan kualitasnya mengajar jadi menurun. Lalu harus bagaimana?

Mungkin kita bisa membantu, kita lakukan hal terkecil yang kita bisa. Berbagi. Saya, ilmu saya cetek, tapi apapun itu, saya dengan senang hati untuk berbagi. Tidak perlu memangdang titel dan jabatan. Tidak lantas saya ragu untuk mengajarkan seorang Doktor bahkan Professor untuk membuat tahu isi. I did that. Professor juga manusia, banyak hal yang mereka juga tidak tahu. Seperti pengalaman Mba Ainun Chomsun (@pasarsapi) ketika ke Amerika, mengetahui bahwa banyak orang pintar di sana yang bahkan tidak tahu Indonesia atau tidak menggunakan sosial media. Bukan karena mereka bodoh, tapi mereka memang belum tahu. Pemandangan ini selalu mengajarkan saya untuk tidak memandang orang terlalu tinggi atau memandang diri saya terlalu rendah. Karena berbagi itu adalah interaksi sosial yang selalu ada manfaatnya dan selalu dibutuhkan dimana-mana. Dari dan kepada siapapun itu. Jadi, mengutip kata Pak Anies, lakukan hal yang paling kecil untuk pendidikan, maka berbagi pengetahuan yang saya pilih :)

Didi Petet merupakan sesosok artis yang saya kagumi, mungkin karena beliau sering memerankan sosok orang Sunda, yang mana adalah, konon, darah moyang saya :) Saya pernah melihat beliau bermain teater beberapa kali. Untuk urusan seni, beliau ini patut diacungi jempol. Seorang Jawa yang besar di ranah Sunda dengan segudang talenta di dunia seni. Kali ini beliau mengantar kelas dengan pembacaan sajak karya Taufik Ismail, berikut ini sajaknya:


Sajak Anak Muda Serba Sebelah

Si Toni dicabut kupingnya satu yang kanan
Maka suara masuk kuping kiri tembus ke otak
Dikirim balik dan jatuh di kuping kiri lagi
Si Toni dipotong tangannya satu yang kanan
Maka dia belajar menulis dengan tangan kiri
Si Toni diambil satu matanya yang kanan
Maka air matanya tetes ke sebelah kiri
Si Toni dipetik jantungnya lewat rongga kanan
Tapi gagal karena jantung itu mengelak ke kiri
Si Toni dipotong ginjalnya satu yang kanan
Tak gagal karena sesuai secara faali
Si Toni diambil kakinya satu yang kanan
Maka dia main bola cuma dengan kaki kiri

Lama-lama si Toni jadi kidal
Kupingnya yang bisa dengar kuping kiri
Tangannya yang main gitar tangan kiri
Air matanya menetes di mata kiri
Ginjalnya menyaring di sebelah kiri
Dia tendang bola dengan kaki kiri

Lama-lama si Toni ingin kerja
Cita-citanya lumayan sederhana
Dia mau jadi sopir saja
Tapi tak ada lowongan baginya
Karena kendaraan setir kanan semua

Hai tunggu dulu, Toni ini anak saya kah
Atau anak saudara kah?
Atau barangkali kemenakan kita?
Keadaan ini memang aneh
Sore ini jam empat tepat
Dengarlah dia sedang mengocok gitarnya
Dengan cara anak muda bergaya kidal
Dan itu bukan suara gerimis, bukan
Itu air matanya
Memukul-mukul lantai beranda.

1977 
(diambil dari sini)

Bahwa dengan segala serba sebelah pun, manusia masih tetap bercita-cita. Bahwa dengan segala serba sebelah pun, manusia tetap berkarya. Bahwa dengan segala serba sebelah pun, manusia masih berhak untuk hidup. Layak.

Pada sesi-nya, beliau bercerita bagaimana pentingnya kita memahami budaya. Bagaimana keberagaman budaya di Indonesia bukan malah memersatu, namun selalu menjadikan ricuh. Dilontarkan oleh Didi Petet bahwa keberagaman di Indonesia ini adalah anugerah yang harus disyukuri. Kita sekarang terkadang menjadi seperti robot, dikuasai televisi. Televisi sumber informasi. Gambar bergerak. Suara dari kotak elektronik yang hebat. Tetapi televisi bukan guru yang bijaksana. Televisi sekarang sudah menjadi panglima di rumah kita sendiri, sahut Om Didi Petet.

Saya mengkaji budaya, saya selalu heran mengapa perbedaan selalu diperdebatkan. Budaya itu kan memang berbeda-beda. Di rumah saya, di rumah mu, di rumah siapa saja. Masing-masing kepala pasti punya konstruksi budaya yang berbeda-beda, dan pastinya selama tinggal bersama bertahun-tahun dengan orang tua, kakak, adik, om, tante, kakek dan nenek, apakah kalian berusaha menyamakan budaya itu? Saya rasa tidak. Kalau pun ada budaya yang dijalankan, tidak lebih karena itu adalah budaya turun temurun, bukan budaya yang Anda konstruksikan. Sungkeman, mungkin ini merupakan sesuatu yang wajib buat saya, dalam artinya. Buat beberapa teman yang saya kenal, budaya sungkeman ini merepotkan. Ini hanya masalah sungkeman.

Saya ingat masa kecil saya, tinggal di satu daerah di Riau sana. Teman-teman saya dari berbagai suku dan agama. Kami bermain bersama. Makan dari tempat makan yang sama. Minum dari tempat minum yang sama. Tidak ada yang aneh dengan itu. Suatu saat, saya harus pindah ke tanah Jawa. Di sana keanehan saya alami. Saya diingatkan beberapa teman untuk tidak bermain dengan si anu karena beda agamanya. Kelas saya isinya orang-orang yang berasal dari satu suku. Pindah lagi ke sekolah lainnya, pemandangan sama. Kelas agama hanya ada untuk agama mayoritas, sementara yang lainnya di kantin. What a school, heh? Di Riau sana, semua anak belajar agama pada saat yang sama. Apa pun agamanya. Semua berlari di padang rumput yang sama. Itulah Bhineka Tunggal Ika. Itulah wujudnya bahwa Indonesia satu. Kenapa konstruksinya semakin bergeser ketika saya dewasa?

Om Didi Petet kemudian berujar, mempelajari sejarah itu penting. Mengapa. Mengapa. dan Mengapa. Semua mengapa itu akan terjawab dari sejarah yang kita pelajari. Budaya itu bukan hanya atribut yang terlihat. Budaya itu diri kita. Kepercayaan kita. Tidak perlu sama atau disamakan satu dan lainnya. Kita hanya perlu memahami yang lainnya dan bertoleransi :)

Handry Satriago, seorang Indonesia pertama yang menjadi CEO di General Electric. Awalnya saya tidak mengira beliau akan semudah itu mengeluarkan setiap rangkai kata dari mulutnya. Kalau dilihat sepintas, tampak akan menjadi orang yang sangat pendiam dan kaku. Tapi oh tapi, saya men-judge orang terlalu cepat. He did great! Semua orang seperti terhipnotis oleh setiap kata yang dirangkainya. Dia orang besar, karena kepribadian yang besar. Really. Terlepas dari beliau adalah orang yang pintar, namun di atas segalanya beliau memiliki jiwa yang besar.

Beliau berujar bahwa mandirilah sebelum berbagi. Ya, kita saja masih mengais belas kasihan dan dukungan, bagaimana kita bisa dengan luwes berbagi segala yang kita punya :) Pendidikan itu merupakan tugas dan tanggung jawab masing-masing individu. Benar! Saya sangat setuju. Ada kok orang pintar yang malas untuk upgrade ilmunya karena merasa cukup. Ada kok orang yang kaya dalam finansial memilih untuk diam saja dan tidak membelanjakan uangnya untuk pengetahuan. Ada kok orang yang tidak sekolah karena malas sekolah. Tapi banyak kok orang yang belajar tidak di bangku sekolah tapi belajar dari lingkungan dan dia tetap belajar. Banyak kok orang yang bersusah payah sekolah sambil bekerja atau bekerja sambil sekolah untuk memenuhi haus pengetahuannya. Banyak kok orang yang terus terus dan terus sekolah karena masih merasa bodoh saja, dan jangan tanya apakah mereka bosan atau tidak. Banyak kok yang berjuang demi beasiswa untuk memenuhi rasa lapar akan ilmu pengetahuan. Dan semua itu kembali ke diri masing-masing. Beruntung saya dari kecil hidup di keluarga yang tahu bahwa pendidikan itu penting walaupun kedua orang tua saya bukanlah individu-individu yang memiliki kesempatan belajar dan sekolah seperti saya sekarang. But they keep on learning.

Berbicara mengenai pendidikan, berbicara mengenai perekonomian dan berbicara mengenai kepemimpinan. Mengapa kita merangkak dalam ekonomi? Karena tidak banyak dari pengusaha kita yang bermental global. Tidak banyak dari pemimpin kita yang kepalanya terbuka ke ranah global. Amerika, walau banyak usaha yang dikategorikan kecil, namun mereka berani untuk compete dengan dunia global, sama seperti China. Mengapa banyak pemimpin yang tidak berani bergerak bebas? Karena mereka cenderung terkukung dengan budaya Timur untuk sulit mengatakan 'tidak'. Tidak setuju. Tidak sependapat. Tidak mau. Salah satu alasan seorang Handry terpilih menjadi CEO adalah karena dia berani bilang Tidak ketika itu memang diperlukan.

Pak Handry bercerita bagaimana manusia Indonesia sekarang banyak yang nyaman di zona-nya. Kemudian disampaikan oleh beliau kepada semua peserta kelas, THINK GLOBAL! SET A GLOBAL MINDSET! Untuk mahasiswa, gampang..selain KTP, miliki passport, kuasai Bahasa Inggris and GO TRAVEL! I TOTALLY AGREE WITH THAT! 

Saya belum pernah kemana-mana, tapi saya pernah tinggal di negeri jiran selama empat tahun. Negeri jiran yang selalu dicibir oleh banyak orang itu telah mengajarkan saya banyak. Walau belum sepenuhnya bisa membuka global mindset saya, namun Malaysia telah mengajarkan itu kepada saya. Cara berjalan di sana setidaknya satu langkah lebih cepat dari negara saya. Cara mereka belajar di sana, bagi saya, cukup berbeda dari cara belajar di sini. Cara mereka berpikir di sana, dua sampai tiga langkah lebih depan dari cara orang di negara saya berpikir. About the competition, saya rasakan gairahnya. Then, think globally itu saya amini sebagai langkah besar seseorang untuk menjadi sesuatu sesuai, atau melebihi, keinginannya.

Setengah jam pertama saya geleng-geleng mendengarkan seorang Handry yang CEO GE itu berbicara. Kemudian saya menampar-nampar diri saya ketika beliau bercerita mengenai his lowest point of his life and how he overcome it. Beliau harus duduk di kursi roda sejak usia 17 tahun, ketika tiba-tiba mengetahui bahwa beliau terkena kanker yang dalam waktu kurang dari tiga bulan sudah melumpuhkan kedua kakinya. Sempat beliau mengurung diri di kamar. Bagaimana tidak terasa seperti jatuh tersungkur. Beliau dikisahkan sebagai seorang yang aktif. Berolah raga, teater, mencari kupu-kupu dan lain sebagainya. Namun ada satu titik di mana beliau tidak bisa melakukan semua itu dengan kedua kakinya. Kamar dibuatnya gelap dan hanya ibunya yang berani masuk.

Suatu hari ayahnya masuk, berkata bahwa dia boleh saja diam dan berhenti di situ, itu pilihan, namun ketika sudah memilih jangan kemudian membandingkan dengan kehidupan orang lain di luar. Ilustrasinya begini, ketika seorang sudah memilih menjadi ibu rumah tangga, jangan kemudian membandingkan dengan teman lainnya yang menjadi wanita karir. Di situ kita akan membangun masalah kita sendiri. Pilihan lainnya selain diam dan berhenti adalah seperti ketika mobil mereka yang selalu mogok ketika hujan. Mogok di tanjakan. Pak Handry dan ibunya akan mendorong mobil itu hingga jalanan rata. Analoginya, kalau mau hidup terus berjalan, teruslah mendorongnya, pelan-pelan tapi teruslah didorong. Akhirnya Pak Handry memutuskan untuk mendorong mobilnya hingga sekarang.

What a life!

Beliau selalu mengusung misi untuk membakar semangat orang-orang muda untuk menjadi pemimpin yang berjiwa dan berpikiran global. Memberikan presentasi yang singkat padat namun tepat sasaran. Selalu bertanya 'mengapa' dan 'mengapa tidak'. Selalu kritis dan berpikiran maju. Tidak berhenti belajar.

Kadang kita memang lupa. Lupa bahwa dunia itu luas. Lupa bahwa ilmu pengetahuan itu tak hingga jumlahnya. Kalau CEO kelas dunia saja selalu punya waktu untuk upgrade pengetahuannya melalui membaca, mengapa iPad hanya digunakan untuk games? Ketika bertemu teman-teman lama, kenapa tidak digunakan untuk upgrade pengetahuan dengan gratis? Selalu banyak cara untuk belajar. Pengetahuan itu ada di mana-mana.

Maka, jangan berhenti belajar.

Terima kasih @akademiberbagi untuk kesempatan yang diberikan. Berbagi memang bikin happy!

You Might Also Like

0 komentar