Bandar Lampung: menyeberang untuk berbagi cerita

By 9:22:00 PM

Hari 1. Museum Lampung. Menjelang siang setelah tidur pulas melepas lelah lebih dari tujuh jam dalam bis malam, piknik dimulai dari menjelajah Universitas Lampung tempat sang teman pernah menimba ilmu, lanjut Museum Lampung yang memberikan serangkaian cerita bukan saja melalui kata, namun artefak, gambar dan peninggalan lainnya. Bayangkan, bagaimana batu dan kulit pohon bisa menjadi wadah untuk menuangkan pesan. Sekarang kertas dengan mudah dibuang-buang. Tulisan lama serupa Hanacaraka coba untuk dibaca, namun gagal. Ah. Tapi perjalanan selangkah demi selangkah menyusuri koridor melihat hal yang belum pernah dilihat, merangkai informasi yang pernah diketahui sebelumnya, kemudian mengangguk-angguk seolah paham akan sejarah yang pernah terbentang itu mengasyikkan. Sungguh. 
Hari 1. Senja menanti malam. Di sana tampak bukit, lautan dan lampu kota. Ada jarak pandang yang jauh. Kalau diartikan, bisa dua malam nanti bercerita, jadi sudahkan saja pada kata-kata; malam itu indah.
Hari 1. Cerita BAB II di dataran tinggi Waroeng Diggers. Tiga gelas minuman. Satu pinggan kudapan. Sejuta kalimat berisi cerita yang tidak kunjung usai. Tawa bodoh dan bahagia. Saling mencela. Tiga, empat jam bersama senja tidak pernah cukup untuk membuka semua kartu berisi cerita yang belum pernah diungkapkan.
Hari 1. Beberapa Landmark yang dengan susah payah dibidik untuk  dikenang dan dibagi :) Terima kasih @ade_stark sudah memutar dua entah tiga kali untuk gambar yang sebetulnya masih tidak fokus ini :p
Hari 1. Apalagi yang akan dilakukan perempuan-perempuan ketika berkumpul bersama. Bercerita. Tertawa. Menangis. Meringis. dan berfoto :) Teman lama yang pernah sama-sama berjuang untuk menyelesaikan perkuliahan yang mematikan di negara tetangga, kemudian berjanji lagi untuk tidur bertiga satu ranjang dan berbagi cerita sebelum dan sesudah bermimpi atau tidur dalam arti sesungguhnya. Namun kenyataannya tiga mulut ini nyaris tidak pernah diam. Asyik. Seperti yang diujarkan oleh pengamen di 44 ketika entah menyanyikan lagu apa selama dua jam perjalanan :)
Hari 2. Klara. Kelapa Rapet. Pantai sepi yang seperti hanya dihuni oleh kami bertiga. Ada yang suka berendam. Ada pula yang tidak nyaman bermain dengan air pantai. Asin, rasa yang tidak bisa dipisahkan dari laut itu menyakitkan mata. Tapi tawa tetap terukir di setiap tendangan air atau cipratannya. Mengukir nama, orang lain, di dasar pasir, yang syukurnya, kemudian terhapus oleh omba kecil yang melayang ke daratan. Melihat air pasang hingga surut. Menikmati bagaimana angin meniup air asin yang membangkitkan bunyi. Damai. Tenang. Ada yang memejamkan mata. Ada yang berjalan sejauh yang dia bisa. Tiga bungkus makan siang dilahap dengan hening. Entah lapar. Terlalu cepat makan. Atau tidak ada pilihan. Daripada sendu, lebih baik makan dan merintih karena pedas. Piknik pantai ditutup hujan badai. Langit seketika gelap. Untung tidak lama. Tidak seperti malam sebelumnya ketika Bandar Lampung seolah diacak-acak oleh shower yang memancarkan air yang dahsyat diiringi kipas angin raksasa yang berputar pada kecepatan lima. Ya, lima. Kencang sekali. Hari itu menyenangkan dan menenangkan. Terlepas dari badan yang terbakar dan muka kemerahan bukan karena pewarna. 
Hari 2. Saya selalu suka temple. Selalu saya bilang begitu, kan? Menemukan satu temple di tengah kota, letaknya di sebelah toko oleh-oleh Yen Yen di kota itu. Terus saja turun dari berkendara dan memandang setiap sudut, gambar, tulisan dan ukiran di dalamnya. Mencoba memahami apa maknanya. Menebak-nebak maksud dari gambar pada dindingnya. Merah, kuning, biru, emas dan berbagai warna pada sebuah temple itu sungguh telah berhasil merangkai pesona. Suka. 
Hari 2. Badan lelah diterpa angin laut, diselimuti asin garam dari airnya dan letih bercerita mulai terasa. Keinginan untuk mencicipi makanan khas bernama Pindang tidak ikut terengah.  Makan di Rumah Makan Pindang Riu, saya memesan pindang ikan Baung. Kenapa? Karena saya tidak tahu ikan Baung itu apa rasanya :) Semangkuk pindang dilahap dengan rasa penasaran bercampur lapar dan penuh upaya menahan rasa pedas asam yang dihasilkan bumbu pada kuahnya. Segar. Udara hari itu sangat dingin. Sejuk tepatnya. Lilitan shawl tosca pun tidak banyak membantu. Kami makan dengan sedikit tenang. Sedikit saja. Tenang artinya tidak banyak bicara. Mungkin terlalu lelah. Mungkin menyimpan cerita lainnya untuk nanti malam. Mungkin sedang memilah cerita mana yang akan disampaikan. Air teh yang kemanisan pun membuyarkan konsentrasi makan. Santap malam diakhiri dengan "yuk, kita ke atas". Perjalanan selanjutnya ditempuh. Tujuan: melihat lampu kota. 
Hari 2. Sebuah hotel yang harus ditempuh dengan menginjak gas dengan gear 1 karena letaknya di atas bukit itu membuat kami semangat ingin segera menikmati cahaya lampu. Kira-kira akan seperti apa rupanya. Hotel Bukit Randu. Itu namanya. Untuk hotel yang terbilang mewah, kafe yang dimilikinya terbilang mengecewakan. Tapi pemandangan yang dengan sengaja, atau tidak, disuguhkan cukup memesona. Entah berapa jam kami di atas sana. Dua, tiga atau enam episode cerita bergulir di atas meja. Sampai lelah. Sampai tahu diri bahwa ini terlalu malam untuk pulang ke rumah orang tua :)

Kami akhiri cerita di sini? Tidak. Berlanjut. Sampai kapan? Entah. Besok. Lusa. Bahkan sudah ada janji untuk saling bercerita lagi di kota lainnya. Tunggu saja.

Ada janji lain setelah pemenuhan janji menyeberang dari Pulau Jawa ke Pulau Sumatera ini. Nanti akan saya ceritakan, ya.
Life, indeed, a never ending story. Live with it. 

Adios!

You Might Also Like

0 komentar