Pementasan Suropati di GKJ

By 9:16:00 PM

Ternyata draft postingan ini sudah lama saya simpan :) tidak sempat menyelesaikannya. Saya coba tulis sedikit :)

Pertama kali saya menonton pementasan teater itu ketika kelas 1 Sekolah Dasar. Ya, more than decade ago :) Almarhum uwa' dari pihak ayah saya menghadahi saya dan keluarga tiket nonton pementasan Miss Tjitjih. Ceritanya horor waktu itu. Tapi saya takjub dengan tatanan panggung dan asap yang muncul dari kedua sisi panggung, pada saat itu. Sejak itu, diam-diam saya menyukai seni. Saya suka menari. Saya suka sastra. Nah, setelah tahunan tidak menikmati acara-acara kesenian, belakangan ini saya jadi sering punya kesempatan untuk menonton. Apalagi setelah tinggal di Jakarta.

Festival Schouwburg X

Mba Denik
Salah satu adegan pertempuran antara Untung Suropati dan Kumpeni

Beberapa waktu lalu, lagi-lagi saya beruntung dapat menonton pementasan sendratari gratisan :) Ini kali pertama saya menonton sendratari. Kali ini adalah pementasan tentang kisah Untung Suropati yang merupakan satu dari serangkaian acara Festival Schouwburg X yang diadakan selama satu bulan penuh. 

Sendratari ini mengisahkan sejarah perlawanan Untung Suropati terhadap Belanda. Dikemas secara apik dengan tarian, dialog dan tatanan cahaya, panggung juga musik yang bahkan sempat mengantarkan saya tidur beberapa saat. Selalu suka musik tradisional dengan sentuhan gamelan dan gendang. Kali ini, pementasan Suropati diimbangi dengan permainan Biola Mas Danis, kakak-nya temen saya, Mba Denik, yang dengan baik hati sudah memberi tiket gratis :) Dulu waktu saya nonton pementasan Diponegoro gratisan juga dari beliau :D Sentuhan tradisional-modern kental sekali pada pementasan ini, seolah Glocalization memang wujud pada era ini.

Mas Danis dan geng seninya ini berasal dari Solo. Saya sempat nebeng pulang bareng mereka seusai pementasan, ngobrol-ngobrol sedikit. Banyak ketawa, karena mereka menggunakan bahasa Jawa yang kebanyakan tidak saya paham. Tapi mereka semua lucu. Guyonannya bener-bener lucu. Ini pun setelah melalui proses penerjemahan lho ya :)

Sedikit cerita mengenai pementasan ini, bisa dibaca kutipan dari Koran Jakarta berikut:

Festival Schouwburg kembali digelar. Ini merupakan hajat dua tahunan dalam memperingati ulang tahun Gedung Kesenian Jakarta (GKJ) yang jatuh pada 5 September. Tahun ini, GKJ telah berusia 25 tahun. Dengan mengambil tema The Legend, Festival Schouwburg akan digelar selama satu bulan penuh dengan menghadirkan para maestro seni yang telah lama menjadi Sahabat GKJ. 
Sahabat GKJ adalah seluruh seniman yang telah lama berkarya dan berjalan bersama-sama dengan GKJ. Mereka adalah para legenda yang menampilkan karya kental akan tradisi Indonesia. Beberapa di antara maestro yang akan tampil selama sebulan ke depan dalam festival ini ialah Kreativitat Dance Indonesia, Kompiang Raka & LKB Saraswati, dan Kelompok Sandiwara Sunda Miss Tjihtjih. 
Satu pementasan luar biasa diadakan pada Jumat (31/8) malam. Kelompok tari Panecwara menggelar pementasannya yang bertajuk Suropati karya maestro legendaris Retno Maruti dan Sentot S. Pementasan sendratari tersebut sekaligus menandai dibukanya Festival Schouwburg yang kesepuluh ini. Cerita mengenai kepahlawanan tidak pernah habis menjadi sumber ide pementasan bagi para pekerja seni. 
Perjuangan panjang yang telah rakyat tempuh dalam meraih kemerdekaan dengan begitu banyak pahlawan yang gugur di setiap zaman patut diharumkan. Di berbagai daerah, selalu saja ada nama yang mengharumkan sebagai bunga bangsa. Suropati salah satunya. Sosok Suropati muncul sebagai pejuang yang hebat, yang bukan saja mampu mengarahkan orang-orang tertindas melawan Belanda, tapi juga tegas pada pendiriannya. 
Keputusannya menghukum Robert, buah hati cintanya dengan Suzanne yang berpihak pada Belanda, adalah bukti ketegaran jiwanya dalam perjuangan. Pentas sendratari yang penuh suasana Jawa ini berhasil memikat penontonnya. Alunan lagu dibalut senandung lirik Jawa yang dilantunkan sinden-sinden bersuara merdu membuat keeksotisan budaya Jawa merasuk ke ruang teater malam itu. 
"Ini merupakan karya kolaborasi pasangan yang tidak usah diragukan lagi dalam dunia tari Jawa klasik. Retno dan Sentot, dalam pementasannya ini, ingin menceritakan kesehariannya, pergaulan, percintaan, dan perjuangan Untung Suropati melawan penjajah," jelas Ruly Nostalgia, pemeran Gusik Kusuma, ketika ditemui seusai pementasan. Tata cahaya sangat berperan aktif dalam pertunjukan ini. 
Sinergi cahaya dengan sendratari yang bergerak secara indah ini mengemas pertunjukan menjadi sebuah hiburan tradisional yang sayang untuk dilewatkan. Retno dan Sentot berhasil mengemas Suropati dengan konsep modern dan sesuai dengan selera masyarakat masa kini. Mereka juga dianggap sebagai koreografer profesional yang mengembangkan tari Jawa klasik yang masih terbilang cukup kuno menjadi memukau dalam setiap pergelarannya. 

Sumber:  Koran Jakarta 


Karena sudah terlalu lama, saya juga sudah lupa detil cerita pada pementasan ini :) tapi yang membekas dari menonton sendratari kali ini adalah bahwa ini kali pertama saya nonton di Gedung Kesenian Jakarta, bertepatan dengan perayaan 25 tahun Gedung ini resmi berdiri. Kemudian hal lainnya, tentu saja selain mendapat tiket gratisan :), bahwa saya bertemu dengan Nungki Kusumastuti, seorang penari yang saya kagumi sejak saya kecil :) Dulu hanya bisa melihat beliau di layar televisi, hari itu saya bisa berdiri di sebelahnya dan berfoto bersama. Saya bukan tipikal orang yang senang berfoto dengan artis, tapi bertemu Mba Nungki ini spesial buat saya :) What a happy life...

Untuk informasi, Festival Schouwburg ini diadakan dua tahun sekali, jadi mari kita tunggu 2014 untuk pementasan lainnya :) 

You Might Also Like

0 komentar