Maling Kondang: After the show

By 10:23:00 AM


Melanjutkan cerita ini

Akhirnya nonton juga pementasan Maling Kondang. Lagi-lagi dengan tiket Balkon seharga IDR 100.000, perut saya dikocok habis hampir tiga jam penuh oleh orang-orang yang super duper mantap dalam menyindir pemerintah dan isu-isu sosial yang sedang wara wiri di Indonesia. Isu politik yang lagi tren di media massa dalam negeri hampir semua 'diusik', membuat kita tertawa sekaligus ingin menampar pemerintah atas apa yang terjadi di tataran orang-orang pemerintahan. Korupsi, ketidaktegasan, permainan politik, sandiwara-sandiwara yang wara-wiri di gedung yang penuh orang-orang terhormat, tidak lupa bercerita tentang kesetiaan kepada negara, rasa cinta tanah air dan senggolan budaya dicampur menjadi satu adonan ciamik pada pementasan ini. Sedikit sinopsis dari laman tetangga tentang pementasan ini, seperti berikut:

Dikisahkan seorang bernama Malin Kundang yang pulang ke kampung halamannya setelah ia sukses dan kaya-raya. Dengan uangnya yang melimpah ia hendak membangun kampung halamannya, mencalonkan diri menjadi pemimpin, dan ingin membangun monumen dirinya. Banyak yang bangga dengan kesuksesan Malin, tetapi ibunya malah mempertanyakan asal muasal uang itu didapat. Inilah pertanyaan dasar yang retoris sekaligus menjadi titik pijak untuk mempertanyakan etika yang kini sudah langka. Ibu Malin menantang anaknya bersumpah, bila semua kekayaan itu didapat dari korupsi, ia akan mengutuknya menjadi batu.
Sumber dari sini.

Pada pementasan ini digambarkan bagaimana keangkuhan, kelicikan dan tidak ada hati-nya seorang koruptor. Ingin dipuja, merasa memiliki dunia dan lupa bahwa Tuhan itu selalu ada. Di akhir cerita masih ada pula yang menggelitik, kelicikan Malin ketika harus menjadi batu sempat pula dia tawarkan kepada orang lain untuk menggantikannya kemudian diberi imbalan. Melenceng dari cerita aslinya, tapi memperlihatkan bagaimana seorang koruptor masih bisa bernegosiasi dengan hukum pada akhir masa persidangan. Harusnya Malin yang menjadi batu, malah orang lain dia bayar untuk menggantikan. Harusnya koruptor yang masuk penjara, malah orang lain dibayar untuk bisa membebaskannya, atau setidaknya memberikan beberapa hari 'libur' sebagai tahanan. Alangkah lucunya negeri ini :)

Butet dan Djaduk itu memang lah pasangan yang ah, entah bagaimana saya harus menuliskannya. Selalu suka karya-karya mereka. Menyentil. Menusuk sekaligus. Harga IDR 100.000 itu tidak mahal untuk asupan seni seperti ini, karena seharusnya mungkin lebih mahal dari ini. Tapi bersyukur selalu ada harga tiket balkon yang sesuai kantong :D Dengan harga segitu, saya bisa melihat penampilan artis-artis ibu kota seperti Oppie Andaresta, Nirina Zubir, Ernest Prakarsa dan beberapa lainnya. Lebih dari itu, nilai seni dan kandungan pesannya itu jauh dari harga tiket yang saya bayar :) Lain kali, mau nonton dengan saya? just poke me ;)


Info:
Maling Kondang di Youtube
Info Maling Kondang


You Might Also Like

2 komentar