Ransum dan gegar budaya

By 4:13:00 PM

sumber ini
sumber ini
Tadi saya pergi ke supermarket, dan menelusuri rak bagian camilan. Berdiri sejenak memandangi beberapa kudapan yang dulu sering saya bawa atau saya titip ke teman untuk membawakannya ketika ke Malaysia. Kudapan-kudapan inilah yang menjadi teman saya. Kalau saya pulang ke Indonesia, biasanya koper hanya penuh berisi saos sambal, kecap, bumbu masak, kornet, abon, kudapan seperti pilus, kacang atom, beng-beng, gerry chocolatos dan yang lainnya. Ini berlangsung hingga saya kembali ke Indonesia, selalu itu barang-barang yang saya bawa merantau. Empat tahun di Malaysia tidak selalu menjadi waktu-waktu yang menyenangkan. Jauh dari rumah, rindu makanan dan teman, juga rasa melankolis lainnya kerap muncul. Satu semester pertama adalah masa sulit untuk saya adaptasi dengan makanan di Malaysia. Bahkan pernah mengalami berhari-hari hanya makan kudapan saja karena tidak bisa memakan masakan lokal. Ayam goreng yang harum tidak pun bisa membangkitkan selera makan. Pasar malam yang penuh dengan makanan unik tidak membuat saya menjadi lahap menikmati setiap satunya. Gegar budaya namanya. Saat-saat ketika kita mengalami rasa tidak nyaman terhadap lingkungan yang baru. Efeknya ada berbagai, kalau saya lebih pada tidak selera makan dan rindu pacar :)) It was long-long-long time ago :) Anyway, ini cerita impulsif. Kamu kalau merantau apa yang dirindukan? 

You Might Also Like

0 komentar