lima puluh ribu rupiah

By 8:34:00 AM

Saya sedang ada di Kajang, menuntut ilmu lagi :) dua bulan ke depan akan jadi waktu yang sangat singkat untuk menyelesaikan tujuh sampai delapan bab agar bisa submit disertasi secepatnya :) a very long way to go. Kalau kata Arkarna sih So little time so much to do :) Tidak seperti biasanya, keberangkatan saya ke negeri jiran ini penuh dengan rasa was-was, pasalnya seorang teman menitipkan herbal sebanyak 60 botol, Habbatus Sauda namanya, ekstrak kurma Nabi. Saya diyakinkan oleh teman itu bahwa aman membawanya, karena Habbatus Sauda itu bukan kategori obat-obatan, dan dia pun biasa membawa sampai lebih dari 200 botol. Okelah, for the sake of helping each other, saya beranikan untuk membawanya. 

Nah, pengalaman baru terjadi di gate pertama bandara Soetta. Saya diminta membuka koper yang memang sengaja tidak saya gembok karena yakin pasti akan diperiksa. Mulai deh drama bahwa itu tidak boleh dibawa, bawaan terlalu banyak, harus kena cukai, harus ada surat pengantar dan lainnya. Saya tantangin saja untuk langsung masuk cukai. Kalau pun harus bayar kan jelas, apa yang harus dibayar. Tapi seperti mengulur waktu, mereka itu yang serombongan di area scanning machine mencoba bernegosiasi dengan saya. Muncul kalimat "Mba maunya berapa?" lha, saya lagi ditanya begitu, saya jawab saja "aturannya harusnya berapa? kalau memang ada cukainya kan berarti ada aturan harga kan?" setelah panjang dilempar sana sini, saya diminta menghadap atasan mereka yang sedang sibuk. Makan lontong kari --' Kemudian satu petugas konon menelepon bagian bea cukai, dan katanya tidak ada orangnya di tempat. zzz...Saya sudah malas dan akhirnya nanya "jadi kalau di sini bayarnya berapa?" kemudian muncul angka IDR 200.000. Bah! Saya bilang lah, saya ini mahasiswa, ini hanya barang titipan, sekolah saja dibayarin, bagaimana bisa bayar segitu besar. But well, uang IDR 200.000 itu seperti sedikit ya, tapi untuk hal-hal kaya begini, itu besar lho. Bayangkan kalau yang kena adalah orang yang memang tidak punya uang? Criminal! 

Sempat salah satu petugas bilang "biasanya sih memang boleh mba dibawa, tapi kalo lagi apes ya kena" saya langsung nyamber "saya apes dong ya" dia seperti merasa bersalah dan berusaha untuk memperbaiki omongannya, but I didn't work at all. not a bit. Harusnya memang tidak ada kata apes, semua kan berkaitan dengan aturan. Sayang sekali saya tidak benar-benar tahu aturannya.

Anyway, akhirnya saya bilanglah ke Atasan mereka yang lagi makan lontong kari itu "Pak berapa nih" kemudian dijawab "ya udah, kamu adanya berapa?" saya kemudian bilang "ini saya punya IDR 300.000  IDR 150.000 untuk airport tax" dan si kepala dengan lontong kari menjawab "ya sudah 50:50 saja". WHAT THE! Bisa lho dia bilang 50:50. Saya bilang "yaelah, tega banget Pak, saya gak megang uang lagi dong" lalu dia senyum dan bilang "terserah kamu aja deh", saya sodorkan IDR 50.000, dan dia bilang IYA TIDAK APA-APA. Dan kalau kalian melihat mukanya, andai saja kalian melihat....sedih melihat muka yang seperti saya-terima-berapa-saja itu. CK! ini wajah Indonesia lho! Jangan salahkan stereotype di luar sana kalau setiap individunya pun berperilaku seperti itu. 

Saya yakin dalam satu hari entah berapa orang seperti saya yang kena, bahkan lebih dari sekedar lima puluh ribu mungkin. Bisa jadi yang kena pun adalah orang yang memang tidak punya uang. Bisa banget! 

Setelah memberikan uang, saya minta dong surat yang menyatakan bahwa ini sudah aman kondisinya, kata si bapak tidak perlu, sudah aman. Saya mengernyit, lalu saya bayar itu buktinya apa. Dia memastikan bahwa pasti akan aman, kan dimasukkan ke bagasi. Seperti terhipnotis, saya baru ngeh permainan ini. Sedari tadi saya hanya memposisikan diri sebagai "oke gw bawa barang banyak dan MUNGKIN memang salah, walaupun ini bukan obat-obatan". I was like giving cynical smile. Sedih. Sedih banget. 

Ya, itulah sedikit pengalaman baru. Mungkin kita harus lebih aware dengan aturan ya, sehingga ketika kita ada di posisi benar, kita akan bisa dengan lantang melawan. Saya pun konfirmasi dengan seorang teman yang mengerti mengenai ini, dia jelas menyatakan bahwa tidak seharusnya saya kena seperti itu, pungli atau pungutan liar katanya. My bad, tha I know nothing about the policy. And I am truly very sorry that I got involved in such a corruption. 

Go for Indonesia Jujur dan Indonesia tanpa korupsi!

You Might Also Like

0 komentar