[Seri Adaptasi] Repatriation

By 1:02:00 PM

Repatriation itu sederhananya gini, kita pergi dari kampung halaman dan menetap di tempat baru. Di sana kita banyak belajar tentang budaya tempatan, beradaptasi dengan lingkungan. Kemudian kita kembali ke rumah sebelumnya di kampung, dan merasakan hal yang serupa ketika kita merantau. Dengan tidak sadar, kita merasakan rasa makanan yang mulai berbeda, lingkungan yang tidak sama, kebiasaan yang tidak serupa, bangunan yang tidak biasanya dan lain sebagainya. Kita ternyata harus beradaptasi lagi dengan lingkungan rumah sendiri. Begitulah sederhananya.

Sebagian temen-temen yang rajin ngintip jinjinger mungkin sudah tau bahwa saya sedang sekolah dan belum kelar :D Sebelumnya saya tinggal di Kajang, Malaysia selama 4 tahun, kemudian memutuskan pulang pada tahun 2011 dengan beberapa pertimbangan. Dua tahun di “rumah” sendiri, ternyata tidak membuat saya menjadi lebih cepat menyelesaikan sekolah. Mungkin ada yang bingung, konon sekolah, tapi kok pulang, tapi ngomongin menyelesaikan sekolah, iki piye maksude, gitu? Saya sekolah full research, jadi tidak perlu setiap hari masuk kelas, tidak pun ada kelas hehe. Karena kelas saya ya di lapangan, di mana-mana, di jurnal-jurnal, atau di halaman putih MSword. Jadi kalau pun saya pulang ke Indonesia, ya bisa saja mengerjakan, kalau memang bisa dikerjakan :D
Ketika pulang, saya belum selesai turun lapangan. Turun lapangan ini yang biasa disebut dengan fieldwork, peneliti mengumpulkan data dengan berbagai teknik. Kalau saya melakukan Focus Group Discussion dan Interview. Mulai turun lapangan itu tahun 2012, bulan Februari, masih ingat :) Satu bulan di Kajang, keliling Lembah Klang mencari informan, dapet sih tapi tidak mencukupi. Pulang lagi ke Indonesia, kemudian ada kesempatan libur kerja agak panjang, saya balik lagi untuk melanjutkan, begitu terus sampai seluruh kebutuhan lapangan selesai terpenuhi. Akhirnya kerja lapangan berakhir di 2013 awal. Lupa tepatnya kapan. Bagian selanjutnya adalah membuat transkripsi hasil kerja lapangan. Transkripsi itu kira-kira begini, hasil wawancara disalin dalam bentuk tulisan, semua yang terdengar ditulis. Agak terlambat melakukan transkripsi, seharusnya begitu selesai wawancara, lanjut disalin. Tapi karena kesibukan, atau sok sibuk hehe, saya menyerah. Transkripsi selesai sekitar bulan Agustus 2013. Sejak bulan itu, baru mulai analisis. Ya, sekolah saya lama...mulai Agustus 2009 :)

Dua hal yang saya suka dari penelitian adalah bagian menjalankan kerja lapangan dan analisis data. Seperti jatuh cinta, tidak ingin menyudahi prosesnya, mencium bau data, memandanginya, mengelusnya, mengukur setiap inci detailnya, menggairahkan. Tapi di sisi lain juga perlu kondisi fisik dan psikologis yang pas, yang tidak tertekan, yang fokus, yang memang jatuh cinta. Akhirnya saya putuskan untuk cuti dari pekerjaan dan kembali ke sini, ke Kajang. Target saya dalam 3-4 bulan ini bisa menyelesaikan semuanya di sini. InsyaAllah kali ini bisa. Tetap doakan ya :)
Tapi cerita lainnya yang ingin saya bagi adalah tentang kembali berhijrah. Kajang ini seperti rumah kedua bagi saya. Selalu rindu, selalu cinta. Entah ya, tapi banyak ilmu baru saya dapat di sini. Setidaknya, kewarasan saya pernah terselamatkan di sini. Ketika kembali ke sini, rasanya seperti berhijrah kembali ke rumah. Pertama kali datang ke Kajang dulu saya tinggal di asrama kampus, satu semester. Kemudian pindah ke sebuah kost di daerah Sungai Tangkas selama tiga semester. Mulai 2009 saya pindah ke flat dan berbagi rumah dengan beberapa pelajar lainnya. 2011-2013 saya bolak balik ke Kajang dan menumpang di rumah teman di perumahan terrace Taman Tenaga. Kedatangan kali ini saya menyewa kamar, berbagi dengan dua pelajar lainnya, di flat Taman Tenaga. Kagok, kalau kata orang Sunda. Masuk lagi ke “keluarga” baru, suasana rumah baru, aturan baru, karakter baru, seperti serba baru. Kajang dan Bangi pun, daerah seputaran tempat tinggal dan kampus, banyak berubah. Dulu mau cari makanan enak, sesuai lidah saya, saja susah. Daerahnya sepi. Sekarang makanan berlimpah, masakan Indonesia banyak, ruko-ruko berjejeran di mana-mana. Urusan kampus pun banyak perubahan, tentang cara pembayaran uang sekolah, tentang pengurusan visa, tentang sistem dan lainnya. Seperti kena virus culture shock lagi :)

Cerita sedikit, eh banyak deng, setiap kali saya datang ke sini untuk sekolah, selama 1 minggu – 1 bulan, biasanya saya mengalami masa ini, masa transisi. Tubuh selalu kelelahan. Ini mungkin berlebihan. Gini, kehidupan di Jakarta, tempat saya bekerja dan tinggal mungkin sementara ini, sudah mulai membuat saya terbiasa dengan berangkat kerja pagi dan pulang sore atau bahkan malam. Dengan macetnya, rencana yang matang atau harus digagalkan karena tidak mau mengacaukan jadwal yang lainnya. Makanan bisa membeli yang bersih atau berdebu, tinggal pilih saja, atau mau masak alakadarnya juga kadang-kadang jadi pilihan. Tidur di rumah mungil sendirian, malam dengan pendingin ruangan. Di sini, di Kajang, setiap hari, kecuali minggu, kehidupan saya di kampus, di perpustakaan. Menunggu bis yang datangnya tidak sesering Kopaja 57. Panas menggelegar. Jenis makanan yang tidak semua bisa saya pilih karena preferensi rasa. Jarak ke pusat keramaian yang cukup lumayan. Tidak bisa lincah ke sana ke mari seperti di Jakarta. Sebetulnya dua skenario kegiatan hari-hari itu biasa saya jalankan. Tapi kalau harus dihadapkan dengan situasi itu dalam waktu singkat, kemudian pindah ke situasi lainnya lagi tidak lama kemudian, badan letih rasanya. Panasnya udara tidak sama. Satu ketika panasnya masih bisa diterima, lain tempat panasnya bikin murka. Udara sejuk dari pendingin ruangan bisa menyebabkan perut kembung setelah dua minggu lebih selalu hidup dengan kipas angin berkekuatan maksimal. Gitulah. Perubahan-perubahan singkat ini tidak bikin mengeluh, tapi bikin mikir. Kadang badan pun tidak bisa berbohong ketika merasa letih dengan perubahan singkat.

Makanya, repatriation ini pun mulai menyita perhatian saya. Motivasi dan keinginan kuat itu penting banget untuk bisa menghadapi situasi lama berwajah baru ini dengan santai. Euphoria ketemu makanan yang lama tidak dimakan, keinginan mencoba ini dan itu, pergi ke sini dan ke situ, menyapa si ini dan si itu. Semua ingin. Excitement yang tidak berhenti. Sementara rutinitas menunggu di depan. Begitu deh rasanya. Bagi saya sih tidak sederhana. Mungkin bagi sebagian teman-teman bisa “dibawa santai aja”. But I simply cannot. Ini seperti penelitian saya tentang bagaimana seseorang beradaptasi. Setelah lama merantau, kemudian kembali lagi ke rutin yang lama, itu butuh proses adaptasi kembali. Repatriation.

You Might Also Like

0 komentar