Tentang nikmat mana lagi yang kau dustakan

By 11:13:00 AM

jinjinger.com
Berbicara dengan sesama pejuang akademik itu selalu melegakan. Lega karena kemudian semangat dan kepercayaan diri itu tumbuh lagi. Lega karena sebenarnya kita, saya, adalah orang yang beruntung. Sangat beruntung.

Sekali saya berbicara dengan dua orang yang belum tahu apakah pendidikannya akan diselesaikan atau tidak. Mereka mendapat beasiswa, yang satu dari pemerintah Indonesia dan yang satu lagi dari pemerintah Amerika Serikat. Luar biasa. Sampai detik ini saya selalu iri dengan mereka yang entah itu pintar atau beruntung sehingga mendapatkan beasiswa. Saya masih memimpikan itu. Namun ketika mereka tidak bisa, entah belum bisa, menyelesaikan pendidikan dalam waktu tiga tahun, maka pulang ke negara asal adalah pilihan terakhir. Sayangnya, itu yang harus mereka pilih. Kemudian ketika saya tanya "akan diselesaikan, kan?" mereka menjawab "ingin sekali, tapi ikuti jalan hidup sajalah, kumpulkan uang dulu".

Lain waktu saya berbicara dengan orang yang berhasil menyelesaikan pendidikan Strata Tiga dalam waktu tiga tahun saja. Luar biasa. Pesan yang disampaikannya adalah "ada waktunya kamu harus tega sama diri sendiri, bersusah-susah dahulu, nanti ada saatnya kamu akan menikmati hasilnya". Teman ini mendapat beasiswa pemerintah. Bagaimana dia memanfaatkan setiap detik untuk menyelesaikan pendidikannya tepat waktu itu menampar saya. Lain lagi teman yang bersekolah dengan biaya hasil keringat sendiri. Segala pekerjaan dilakoni di benua tetangga itu. Dia berhasil menyelesaikan studi tepat tiga tahun. Dia bilang "aku cuma tidur maksimal 5 jam sehari, sisanya kerja dan menulis". Saya tahu bahwa dia adalah orang yang keras dan akan mewujudkan apa yang telah dikatakannya.

Saya bukan orang yang bisa kena dengan pernyataan "kasihan orangtuamu, sayang dengan uang yang sudah dikeluarkan bla bla bla". Walaupun itu benar, tapi itu bukan cara memotivasi diri.

Kemudian saya ingat bahwa sekolah ini saya yang menginginkan, saya yang memutuskan. Sejauh ini, saya tidak pernah berhenti di tengah jalan untuk sesuatu yang saya inginkan dan saya kejar. Apapun hasilnya, saya selesaikan sampai titik. Tapi yang saya tahu tentang perjalanan saya ini, 2,5 tahun ke belakang, saya banyak menyerah dengan diri saya. Kalau ketika menyerah itu saya nyaman, mungkin tidak akan apa-apa, ya. Tapi nyatanya, itu bukan saya. Saya tidak nyaman. Lebih dari dua tahun saya selalu dihantui dengan hal yang harus saya selesaikan segera; sekolah.

Saya terbiasa meneruskan pekerjaan hingga selesai, namun kemarin-kemarin saya banyak menyerah ketika pemikiran mulai kusut. Saya terbiasa memuaskan penasaran saya, namun kemarin-kemarin saya banyak menyerah ketika saya mulai bingung. Tapi itu bukan menyerah dan memberi titik. Saya tahu. Saya hanya malas untuk melawan rasa malas itu. Saya malas bersitegang dengan diri saya yang 'keukeuh'. Saya sering memutuskan untuk tidur daripada pusing. Saya sering memutuskan untuk bekerja daripada berkutat dengan data penelitian. Padahal, saya hanya perlu duduk dan menulis hingga selesai.

Tapi rasanya sekarang tidak ada pilihan lain. Saya adalah orang yang sangat beruntung berbanding teman yang kehabisan beasiswa dan entah bisa sekolah lagi atau tidak. Saya orang yang beruntung berbanding teman yang harus bekerja banting tulang untuk bisa sekolah lagi. Saya orang yang beruntung berbanding mereka yang punya banyak hal yang harus dipikirkan selain dirinya dan sekolah. Saya sangat beruntung. Sangat. Orangtua saya selalu mendukung dengan caranya. Bahkan di usia pensiun dan masa tuanya, mereka masih bersedia merogoh kocek terdalam untuk saya menyelesaikan sekolah.

Maka nikmat mana lagi yang kau dustakan?
Hanya perlu berusaha dan berdoa. Lawan malas dan ketidakyakinan.
Sekarang tidak ada lagi alasan. Saya hanya perlu memikirkan sekolah. Hanya itu.
Bisa!

You Might Also Like

0 komentar