tentang teman perjalanan

By 3:26:00 PM

Baru-baru ini seorang teman menanyakan pengalaman saya piknik ke Hong Kong. Dia berencana pergi ke Hong Kong dan Macau dengan teman-temannya. Itu satu cerita. Kemudian, beberapa hari lalu, tiga orang teman saya mengabari kapan tanggal akad mereka. I’m happy, of course. Tapi kemudian berkaitan dengan cerita pertama, saya menyadari bahwa temen seperjalanan yang berstatus sama, single, sudah menipis. Kalaupun ada, culture of traveling-nya beda.

Nah, saya jadi pingin bahas tentang pengalaman bepergian bersama beberapa orang yang berbeda, apa saja kendalanya dan bagaimana kemudian saya memastikan bahwa orang itu bisa diajak jalan bareng. Tentang kriteria yang biasanya saya ajukan adalah: tempat tujuan dan interest, budget, way of living dan attitude. Gini:

Tempat tujuan dan interest atau kesukaan(?): biasanya saya akan memastikan teman saya ini tipe penyuka apa dari suatu tempat tujuan. Suka hal-hal tradisional, suka alam, suka museum, suka belanja, atau apa? Karena dari hal-hal itu bisa menimbulkan konflik. Misal, satu orang suka museum dan yang lainnya tidak, akan ada saat di mana satu atau beberapa orang tidak menemukan kesenangannya dari perjalanan ketika mereka tidak dapat memenuhi keinginan berkunjungnya atau bahkan terpaksa mengunjungi suatu tempat tanpa mereka suka. Kalau ada yang suka mall, sementara yang lainnya suka berpetualang, ya sama saja, kasihan, khawatir tujuan perjalanan tidak terpenuhi. Sejauh ini saya punya teman-teman yang bisa diajak jalan, tapi tidak semuanya bisa disatukan dalam perjalanan yang sama. Jadi, biasanya saya akan pergi dengan tujuan akademik dengan A, B atau C, untuk jalan-jalan kota dengan D atau E, untuk jalan-jalan sejarah dan museum dengan F atau G, dan untuk jalan-jalan pulau dengan H, I atau J. Kira-kira begitu. Saya sih merasa harus tahu karakter dan kesukaan teman jalan agar tidak ada konflik. Karena perjalanan semenyenangkan apapun, kadang bisa timbul konflik ketika semua pejalan-jalannya mulai lelah.

Budget: pernah saya membatalkan beberapa kali perjalanan karena perkara budget. Budget yang saya ajukan dengan budget yang diajukan teman tidak matched. Masalahnya, budget ini perkara kemampuan. Ada yang sanggup tinggal di hotel bahkan bintang 4, sementara rekan seperjalanannya hanya mampu membayar hanya sampai hotel bintang 1. Kalau dipaksakan, mungkin akan ada yang “tersiksa” harus membayar lebih dan broke, atau harus ngikut dengan hotel sederhana tapi penuh complaints. Beda cerita, kalau yang budgetnya tidak berlimit bisa menyesuaikan dan merasa fun saja dengan akomodasi apa adanya. Yang jelas, tentang budget ini memang sensitif, tapi ini penting. Jangan sampai nanti di perjalanan kita saling merepotkan, jadi berhutang, jadi ribut dan lain sebagainya. Karena kadang “worth it” itu nilainya beda, jadi kita harus tahu hal dasar ini bagi setiap individu pejalan. Intinya itu.

Way of living dan attitude: ini berkaitan dengan bagaimana orang tersebut bisa hang out with another friends, bagaimana orang tersebut bisa mandiri di jalan, bagaimana orang tersebut less complaining, bagaimana orang tersebut bisa menghargai budaya yang berbeda ketika berjalan, bagaimana orang tersebut gak ribet soal cari makan, tempat mandi, tempat tidur dan lain sebaginya yang jadi kebutuhan dasar dalam perjalanan. Ketika merasa bahwa orang A itu pengatur berat, dan tidak mau mendengarkan yang lainnya, I prefer not going. Or I do go, alone. It’s better than I sacrifice myself for not angry and not complaint but I would love to slap the friend :D karena ketika berjalan bersama-sama, ini tentang kita sama-sama menikmati perjalanan. Secara rasional dan fun, kita atur dan bicarakan kemungkinan, kesempatan dan kesepakatan untuk berkunjung ke tempat-tempat yang ingin dikunjungi. Kalau ada orang yang dominan, udah males jadinya.

Entah ya kalau ternyata dari beberapa kali perjalanan dengan teman kemudian saya dimasukkan dalam senarai teman-yang-gak-enak-diajak-jalan, I’m fine with that. Karena, dengan memaksakan bersama-sama, rasanya kita sudah memulai perjalanan yang tidak menyenangkan. IMHO.

Seiring pengalaman, akan terjadi seleksi alam kok. Bukan perkara kemudian we lose our friends, but it is how we manage to have friends with less conflicts and stay with more fun. Well, dalam pertemanan juga gitu bukan. At the end of the day, you will find who is the true one, and who is not. 


Jadi, siapa yang akan kamu ajak jalan kemudian?

You Might Also Like

0 komentar