Yakin sama?

By 11:56:00 AM


Saya mulai suka jalan-jalan tuh sekitar tahun 2006 atau 2007 lah, lupa. Kendalanya standar, gak punya uang atau gak punya waktu :D Sejak saya sekolah di Malaysia, kebetulan juga sempat bekerja, jadi agak longgar tentang keuangan. Uang dari orangtua juga cukup, apalagi setelah diirit-irit, malah bisa nabung buat jalan-jalan. Waktu? Lumayan banyak. Libur semesteran ada. Bahkan sejak ambil S3, waktu saya jadi banyak luang ahahah males nesis juga kali ya :D Sempet pulang ke Indonesia dua tahun, selain dapet pacar juga dapet kerjaan. Alhamdulillah. Walaupun belum mapan kerjanya, tapi ada aja rezeki untuk jalan-jalan :D Sampai sekarang, kepala saya masih penuh sama keinginan ke sini, ke situ. Banyak maunya!

Temen-temen ingin ke mana?
Oh, ke Korea.
Apa? Keliling Eropa? Waaaah seru pasti yaa
Dataran Tiongkok? Bisa belanja-belanja ya, kak!

Omong-omong, pernah kepikiran melakukan persiapan untuk jalan-jalan di luar tiket, visa, uang sangu dan itinerary, gak? Yakin budayanya sama? Yakin tidak akan menemukan kejutan-kejutan seru selama jalan-jalan? Hihi...

Dari yang saya baca, banyak pejalan-jalan yang cenderung hanya menyiapkan persiapan fisik saja untuk bepergian. Fisik itu bukan tentang badan saja, lho ya. Tapi berhubungan sama dokumen, akomodasi, uang saku dan sejenisnya. Saking semangatnya, paling-paling cari informasi tentang what-to-do dan where-to-go saja. Tidak semua memang, tapi banyak juga yang lupa tentang mencari tahu bagaimana sih budaya di sana? Aturan dan norma apa yang berlaku, dan bagaimana jika melanggar? Makanannya gimana ya? Oh, bawa bekal saja. Wah..gak pingin coba makanan khas, kah? Gak pingin tau orang lokalnya seperti apa? Kira-kira akan ada kesulitan apa ya? Ah, tenang..temen seperjalanan kan jago Bahasa Inggris :D Atau menyerahkannya kepada Travel Agent? :D

Ada persiapan mental, di luar persiapan fisik yang sebaiknya dilakukan oleh para pejalan-jalan. Ya, memang sih, seringnya kita mengunjungi suatu tempat itu dalam waktu yang singkat. Tapi bukan berarti tidak ada hal-hal di luar kebiasaan yang akan dialami kan? Bisa jadi setelah makan bubur untuk sarapan kemudian kamu diare :D atau tiba-tiba kamu bermasalah ketika ingin menawar barang, atau malah ditolak supir taksi atau dimarahi penjaga restoran karena berbagi satu menu dengan temanmu. Persiapan mental ini luas, tapi intinya bertujuan untuk mempersiapkan diri dalam menghadapi hal-hal yang berbeda ketika berhadapan dengan satu budaya baru, sehingga bisa menerima, memaklumi, paham dan bahkan beradaptasi dengan budaya yang dianggap asing itu.

Ketika bertemu budaya yang baru dan dianggap asing, kita mengalami apa yang disebut dengan gegar budaya (culture shock). Gegar budaya ini tidak hanya dialami oleh mereka yang akan tinggal lama di suatu tempat baru. Konon, gegaar budaya baru akan dialami setelah seseorang tinggal di satu tempat selama 1-3 bulan, bergantung sesering apa interaksi dia dengan lingkungannya. Tapi ternyata, mereka yang menyebut dirinya turis pun bisa mengalami gegar budaya ini. Walaupun mungkin efeknya tidak seperti orang-orang yang tujuannya bermigrasi ya.

Rasa bingung, cemas atau takut yang kemudian membatasi gerak selama berjalan-jalan juga merupakan bagia dari gegar budaya.  Bingung bagaimana mau bertanya jalan anu. Harus naik apa kalau mau ke tempat anu. Dan anu-anu lainnya ^^

Apa aja sih persiapan mental yang bisa dilakukan sendiri? Banyak :)
Bisa dimulai dengan kemauan untuk tahu tentang budaya itu.
Zaman internet ini sangat memudahkan untuk mencari informasi. Carilah info tentang tempat tujuan dengan sebanyak-banyaknya. Cari tahu budaya lokal, bahasa yang digunakan, kebiasaan mereka, bagaimana bersopan santun. Bagaimana gerak tubuh yang sopan dan tidak, jadi jangan sampai salah. Bagaimana panggilan kepada orang lokal; seperti Aa, Mas, Mbak, Teteh, Kakak dan lainnya. Cari tahu juga jenis makanan mereka seperti apa. Pelajari kalimat-kalimat umum yang biasa digunakan dalam bahasa lokal. Masih banyak lagi, hal-hal yang kadang terlewat untuk disiapkan.

Hal yang tidak boleh dilupakan dari suatu perjalanan adalah bahwa kita memasuki area budaya baru. Saya sudah lama tinggal di Cirebon, budaya Sunda dan Jawa Tengah adalah ya ekstraknya di sana :D Tapi ketika berkunjung ke Jogja selama 13 hari, tahun lalu, saya menemukan banyak hal yang I took it for granted. Saya tidak cari tahu, padahal saya tahu bahwa saya harus mencari tahu. Mumet gak? :D Saya pernah ke Jogja beberapa kali, I thought I knew the culture, in fact I didn’t. Waktu ke Jogja itu, ada beberapa hari saya jalan sendiri keliling dengan naik-turun kendaraan umum, duduk di alun-alun dan Malioboro sendiri, ngobrol sama orang lokal. I learnt a lot! Beberapa kali gagal paham waktu dikasih tau arah, salah pesan minum, yah..sepele sih, yet It was a lesson. Tapi saya juga tahu bahwa persiapan mental saya tidak mantap waktu itu, alasan sibuk kerja, tidak sempat lagi browsing :P

Ini, tiba-tiba saya ingin nulis tentang persiapan sebelum bepergian karena baru baca-baca lagi beberapa artikel tentang gegar budaya. Kebanyakan dari mereka yang bepergian ke budaya lain tidak menyiapkan diri secara mental untuk menghadapi budaya tamu. Sebagai akibatnya, sering nyela karena bahasa aneh, konflik dengan orang lokal, belanja dengan harga lebih mahal, tidak punya teman, ketika susah tidak ada yang bantu, susah cari taksi dan lain sebagainya.

Jadi, let’s try not take everything for granted, most importantly when it deals with culture. None of the culture in this world is the same. Even similar is not identical :)

Kapan kita jalan-jalan lagi?


You Might Also Like

0 komentar