Pernah ngeluh juga?

By 4:38:00 PM

Siang ini obrolan menghangat dengan pertanyaan “pernah ngeluh juga?” ketika tema adaptasi mulai muncul di tengah-tengah kopi siang.

Siapa yang tidak pernah mengeluh ketika menemukan banyak hal yang tidak dikenal di sekelilingnya? Siapa yang tidak pernah mengeluh ketika melihat banyak hal baru yang membingungkan? Mungkin mengeluh ini levelnya beda-beda. Ada yang ngomel sendiri. Ada  yang curhat. Ada yang menyimpannya di dalam kepala, berbicara sendiri. Tapi disadari atau tidak, keluhan pasti saja ada ketika kita memasuki satu lingkungan baru.

Tulisan ini konteksnya adalah mahasiswa asal Indonesia yang sekolah di Malaysia. Seperti biasanya, saya banyak belajar dari pengalaman sendiri dan dari pengalaman orang banyak di sekeliling saya selama merantau ini.

Oke, sebelum meneruskan obrolan tadi, saya ingin sedikit bercerita mengenai obrolan dengan housemate beberapa waktu lalu. Si housemate sedang berada dalam kondisi jenuh. Secara mental, dia letih. Letih menghadapi banyak hal baru bersamaan, dia merasa menghadapinya sendirian. Kemudian saya mengulas pelan-pelan apa yang dihadapinya. Tentang bahasa, angkutan umum, keadaan pertemanan, tugas, kelas, cuaca dan lain halnya. Saya menyinggung sedikit bahwa betapa seringnya dia mengeluh dan ngomel tentang keadaan yang tidak bisa diperbaiki dengan mengeluh. Tentang jadwal bis yang kadang ngaret. Tentang tugas yang astaghfirullah. Tentang teman yang sibuk sendiri-sendiri. Tentang makanan yang tidak seperti seleranya. Tentang sikap orang lokal yang tidak disukainya. Kalau disenaraikan, bisa berlembar-lembar, mungkin. Karena intinya adalah di rantau ini, dia tidak akan menemukan apa pun yang identik dengan apa yang dikenalinya. Tidak bahasa, tidak cuaca, tidak lingkungan, tidak pun makanan. Tidak ada. Jadi saya minta dia berdamai dengan keadaan. Kurangi mengeluh dan ngomel, karena ini bukan budayanya. Belajar untuk paham alih-alih mencibir. Biar hati lebih adem. Kepala lebih ringan. Psikologis tidak sakit.

Nah, kembali lagi ke pertanyaan “pernah ngeluh juga?”, jawaban saya tegas, lugas, PERNAH. Seingat saya, satu semester pertama di sini, sekitar empat bulan dalam kalender akademik, betapa saya sering mengeluh dan menangis. Saya tidak bisa tidur, terlalu panas. Saya kembung, karena kipas di langit-langit membuat tidak nyaman. Tapi kalau kipas dimatikan, saya tidak bisa tidur. Kipas dinyalakan pun sebetulnya tidak terlalu membantu. Saya tinggal di asrama yang lantainya hanya diplester, sedih deh. Langit-langit kamar rendah. Tinggal di dalam kampus itu minim hiburan. Kuliah saya malam, susah bis. Bisa pulang dengan jalan kaki, tapi jalannya gelap dan sepi sekali, saya takut. Saya tidak bisa makan menu berat di kantin, tidak bisa terima rasanya, biasanya hanya makan kudapan saja. Ah, banyak. Serius. Sama saja. Makanya, saya memaklumi keluhan-keluhan mereka yang masih di semester pertama. Tapi, memasuki semester kedua atau bahkan tahun kedua, dan masih ngeluh, itu keterlaluan. Setidaknya bagi saya.

Dulu, saya merasa beruntung karena satu kamar dengan seorang teman dari Bandung yang penyabar dan periang. Dia hampir tidak pernah mengeluh, walaupun saya tau dia tidak suka makanan yang dijual di kantin, tapi dia bisa makan sampai habis tanpa sepatah kata pun mengeluarkan keluhan. Dia bisa ke toilet walaupun kondisinya tidak terlalu baik. Dia yang tidak pernah mencuci baju, melakukannya tiap minggu tanpa mengeluh, malahan menjadikan itu hal becandaan “di sini akhirnya gw ngerasain nyuci baju pake tangan hahaha”. Bisa lho ketawa. Kenapa saya mengeluh? Keluhan saya mulai diredam.
Kemudian, bersyukur lainnya adalah keluarga saya di sini terdiri dari sederet teman-teman yang sangat peduli satu sama lain. Dua orang teman punya mobil, termasuk roomate saya ini. Sebisa mungkin kalau mau makan ke luar dari kampus, semua diangkut dalam dua mobil itu. Kami berteman sekitar 10 orang, masuk ke dalam mobil Kancil imut-imut. Kalau tidak bisa ikut salah satunya, biasanya dibelikan makanan. Hal ini berlangsung selama kami sama-sama sekolah di Kajang. Sama-sama tahu bahwa makanan kampus belum bisa diterima oleh lidah, jadi ketika ada yang berkesempatan makan pecel lele atau sate padang atau menemukan jenis makanan enak lainnya, pasti saling membelikan. Ketika ada yang kesusahan; entah sakit atau urusan lainnya, pasti semua turun tangan. Berada di keluarga yang seperti ini membuat saya bisa bertahan dengan senang hati. Padahal waktu itu saya mengalami masa yang sulit, setidaknya sulit bagi saya. Mereka membantu saya setiap saat.

Bergaul dengan orang lokal adalah “senjata” lainnya untuk bisa bertahan di rantau dan juga beradaptasi dengan budaya yang dianggap asing itu. Melalui interaksi dengan orang lokal, saya paham banyak konteks yang salah diterjemahkan sebelumnya.

Contoh 1:
Ketika kata “Indon” digunakan, saya sempat merasa “dilecehkan” pada awal-awal masa merantau. Sepengetahuan saya, Indon itu berkonotasi merendahkan. Orang lokal terbiasa menyingkat Indonesia dengan sebutan Indon, itu hal dasar yang harus diketahui. Kemudian, kenapa muncul konotasi “buruh, pekerja kasar dan TKI” dari sebutan itu? Sejak tahun 60an, orang-orang yang datang ke Malaysia adalah mereka yang bekerja pada sektor-sektor non-formal itu. Jarang sekali orang Indonesia datang untuk tujuan sekolah atau pekerjaan-pekerjaan profesional, walaupun ada. Nah, tidak bisa disalahkan bahwa kemudian ketika “orang Indon” merujuk pada mereka yang bekerja di sektor non-formal itu. Karena mereka yang wara-wiri di lingkungan sekitar adalah orang-orang migran asal Indonesia yang bekerja di sektor itu. Sayangnya, konstruksi itu tidak berkembang. Padahal semakin ke sini, pendatang dari Indonesia tidak hanya datang untuk bekerja di sektor non-formal, tapi lebih beragam; menjadi pekerja profesional, ekspatriat, sekolah (bahkan sampai tingkat Ph.D dan dengan biaya sendiri). Tapi kita gak bisa juga marah, kembali lagi ke sejarah kedatangan masyarakat Indonesia ke Malaysia; bekerja sebagai pekerja di sektor non-formal, dan inilah yang terus kuat membentuk stereotype.
Gini, kurang sering apa orang-orang Padang dibilang perhitungan? Tapi apakah kamu pernah menemukan teman-temanmu berdarah Padang yang tidak perhitungan? Tapi stereotype itu turun temurun “diwariskan”, jadi tidak bisa menyalahkan juga kalau pandangan itu salah, karena stereotype itu muncul karena beberapa pengalaman yang kemudian digeneralisasikan, dan gitu deh.

Contoh 2:
“Mau makan sih” ajak seorang teman yang merupakan warga lokal Malaysia. Pernah saya di posisi “apaan sih ni orang, ngejek-ngejek”  ketika mendengar orang lokal mencoba berbahasa Indonesia atau menggunakan gue, lo, sih, dong, bisa dan lain sebagainya. Mereka hanya bisa merujuk sinetron, itu pun tidak bisa tau apakah penggunaan “sih” di “mau makan sih” adalah tepat atau tidak. Tapi maksud baik mereka adalah mencoba untuk mengakomodir pendatang, sehingga mereka mencoba menggunakan bahasa Indonesia.  Berbicara dalam bahasa Melayu itu tidak mudah, lho. Saya dari kecil sudah mengenal bahasa Melayu melalui acara tv. Kebetulan di daerah saya tinggal waktu kecil itu bisa nangkep siaran Malaysia. Jadi bahasa Melayu itu bukan hal baru. Tapi untuk bisa menyampaikan maksud dalam bahasa Melayu, itu sama aja susahnya kaya menyampaikan ide dalam bahasa Inggris. Orang lokal tau betapa susahnya berbicara bahasa Melayu itu, makanya mereka berupaya berbicara dalam bahasa Indonesia; entah itu secara penuh ataupun hanya logat saja. But they have tried. Itu bukan melecehkan atau mengejek, lho. Jangan tersinggung.
Ya, memang ada aja yang menggoda dengan menggunakan logat kita berbahasa Indonesia, tapi coba liat lagi deh temen-temen yang sekolah di sini, tidak jarang mereka juga melakukan hal yang sama. Jadi, jangan marah atau kesel. We do the same thing.

Dengan berteman dengan orang lokal, saya belajar mengenal budaya tempatan. Bahasa, makanan, adat istiadat, norma dan lainnya. Pemahaman dengan berinteraksi langsung ini banyak untungnya, berbanding menduga-duga, salah pula :D

Saya suka jalan-jalan, maka ketika punya uang dan waktu luang, saya sempatkan untuk mengunjungi kota-kota di beberapa negeri di Malaysia. Sering juga sendiri. Kesempatan ini membuat saya banyak belajar, dari mengamati. Tidak tau mendalam, tapi setidaknya tidak sok tau lagi :D

Kadang temen-temen yang ngeluh ke saya berhenti mengeluh karena saya cenderung “membela” orang lokal. Padahal bukan membela. Tapi karena saya setidaknya sedikit lebih tau berbanding temen saya yang masih dihujani stereotype, sehingga tidak bisa berpikir objektif dan tidak membuka diri terhadap budaya yang baru di lingkungannya.

Jadi, jangan heran kalau ketika ketemu hal baru di rantau, kamu akan ngeluh. Wajar. Itu bagian dari proses adaptasi. Tapi mungkin bisa diminimalisir dengan kurangi keluhan, kurangi tuduhan dan bukalah diri terhadap budaya lain.


Gitu dulu kali ya. Saya mau belajar lagi :)

You Might Also Like

2 komentar