Tentang SiMbak

By 11:08:00 AM

Housemate saya dimintain tolong oleh dosennya untuk mencarikan orang yang bisa bekerja di rumahnya. Yah, mencarikan calon TKI untuk sektor domestik lah, gitu. Kita panggil saja SiMbak ya sang calon pekerja ini. Nah, sebelum SiMbak dijemput oleh dosen tersebut, mampirlah di rumah kami dulu. Tadi jam 10 pagi SiMbak sampai rumah ini. Ibu Housemate yang hobi nanya ini mengawali perkenalan dengan serentetan pertanyaan. Diketahuilah bahwa SiMbak ini sudah pernah kerja di Malaysia sebelumnya, tiga tahun dengan majikan yang baik banget. SiMbak bahkan sampai diajak umrah segala :’) Terharu, yah. Lalu berceritalah bahwa SiMbak ini dari Situbondo. Bikin passport dan urus segala dokumen untuk perjalanan dan izin bekerja di Gresik.

Perjalanan yang diperlukan untuk sampai ke Kajang ini dari mulai darat, udara dan laut, lho. SiMbak naik bis dari Situbondo ke Surabaya. Dari Surabaya naik pesawat ke Batam. Dari Batam naik kapal laut ke Johor. Dari Johor naik bis ke Kajang. Sampai Kajang jam satu dini hari, kemudian menginap di PT (kantor agen pengiriman tenaga kerja) Total perjalanan adalah tiga hari. Ternyata SiMbak belum makan sejak kemarin :( Mungkin Surabaya adalah kota terakhir tempatnya makan. Setelah makan di rumah kami, SiMbak pun tidur. Kelihatannya capek sekali. Tidurnya kelihatan pulas.
Di satu sisi, kasihan melihatnya. Pasti capek sekali perjalanan menuju negara ini. Di lain sisi, tetep kasihan. Pertanyaan SiMbak ke Ibu Housemate adalah “Bu, bisa tidak saya kirim semua gaji saya ke Indonesia nanti? Gimana caranya?”. Ibu Housemate yang gesit itu bertanya kenapa harus dikirim semua uangnya, kenapa tidak ditabungkan sebagian. Kata SiMbak, anaknya ada hutang. Saya sempat berpikir, hutang apa sampai-sampai Ibunya harus bekerja di luar negeri dan “mencangkul” untuk membantu membayarkan hutang itu. Ternyata si anak mencicil motor di kampung. Hal paling sedih adalah bahwa si anak tidak bekerja dan motor itu tidak pun dipergunakan untuk mencari uang misalnya dengan mengojek atau apalah. Jadi, kebayang kan?

Media massa banyak menyoroti bagaimana TKI kita diperlakukan di negara-negara tempat mereka bekerja. Pernah berpikir terbalik gak? Bagaimana keluarga mereka bahkan memperlakukan mereka demikian. Entah harus pakai kata apa untuk mendeskripsikan apa yang ada di kepala saya. Hanya saja, stereotipe yang ada di benak kebanyakan orang tentang masyarakat di negara-negara destinasi para TKI bekerja selalu disoroti sebagai penjahat yang memperlakukan TKI kita dengan semena-mena. Mungkin kita perlu melihat juga ke halaman sendiri, bagaimana TKI kita diperlakukan, bagaimana TKI kita digambarkan.

Tidak sedikit teman-teman saya di sini yang melihat para TKI dengan pandangan...errghhh...and whatsoever. Kalau sedang jalan-jalan, lalu melihat sekumpulan TKI sedang tertawa, ngobrol, dengan ciri mereka yang bisa dibedakan dari kumpulan masyarakat lainnya, banyak dari teman-teman saya yang melihat mereka “ih..TKI” atau berkomentar tentang cara mereka berpakaian dan lain sebagainya. Lalu, ketika hal itu dilakukan oleh orang-orang lokal di negara tempat mereka bekerja, kenapa itu jadi dosa besar, kesalahan yang tidak termaafkan. Buat yang sering wara wiri melalui bandara Soekarno-Hatta misalnya, coba deh perhatikan bagaimana TKI kita diperlakukan. Di papan ucapan selamat datang bolehlah mereka disebut Pahlawan Devisa. Tapi bagaimana okmun petugas di bandara memperlakukan mereka? Not even close to what so called as heroes. Sedih.


Di sini saya mau ajak teman-teman, pun diri saya, untuk kembali merenung tentang how do we treat them. Treat di sini gak mesti tentang kita berinteraksi langsung dengan mereka lho. It is also pertaining to how you portray them  from your own perspective. Really, they are humans. Just like us. 

You Might Also Like

0 komentar