[curhat] Hi body, how are you?

By 10:18:00 AM

Saya ingin bercerita ringan ya tentang pengalaman menjalani Food Combining (FC) selama dua bulan ini. Karena saya tidak punya kapasitas berbicara hal teknis mengenai kesehatan, tidak pun pernah menuntut ilmu di bidang ini atau yang mendekati bidang ini. Iya, sih, saya anak IPA, tapi hafal aliran darah dari bilik jantung sebelah mana saja, saya tidak. Ya, gitu deh. Tapi saya pencari pengetahuan tentang hidup sehat.

Mungkin ada yang melihat saya terlalu euphoria dengan FC ini, kan baru juga dua bulan, ribet amat mau sharing segala. Ya, they never felt any everyday-bad-headache or lack of sleep for almost every night due to unhealthy body. Saya sih merasa perlu cerita, setidaknya nanti, KALAU ADA, yang baca, mereka bisa iseng browsing lebih banyak tentang FC dan mencari pemahaman mereka sendiri.
Seperti di beberapa postingan sebelum ini, saya pernah cerita kalau FC itu sudah saya kenal sejak sekitar tahun 2001 atau 2002, tapi hanya sampai di situ saja. Pemahaman saya pun hanya sebatas memisahkan protein hewani dan karbohidrat AGAR KURUS IDEAL. Blah. Anak muda, biasalah.
Sampai di tahun 2010 saya mulai kenal nama Dr Tan Shot Yen yang mengenalkan pola makan berbasis makanan mentahan; sayur dan buah. Saya mulai rajin tuh, walaupun pada dasarnya saya suka sayur mentah dan buah. Tapi sejak itu, saya lebih peduli tentang asupan makanan mentah (dan sampah *nangis*). Mulai menghitung sampah apa yang sudah masuk ke dalam tubuh saya per harinya, begitu pula apa saja makanan bermanfaat yang sudah saya makan. Waktu itu, saya terbantu karena seorang teman, Mbak Hani namanya, juga pemakan makanan mentah. Dia biasa membawa satu kotak berisi sayuran yang belum dimasak, dimakan pada saat makan siang atau sebagai camilan. Setiap kali mau makan pun, dia (dengan tidak sengaja) telah mengajak saya untuk berpikir tentang makanan apa yang mau dimakan, bagaimana kandungannya, apa efeknya ke tubuh.

Dua bulan kemarin saya memulai FC setelah saya merasakan kondisi tubuh yang sangat tidak mengenakkan; kepala sering sakit, leher tegang, tidak bisa tidur nyenyak, dan maag rajin berkunjung. Saya pikir, ini sudah tidak betul, I have to do something. Maka, sampailah pada pembicaraan seputar FC dan saya gencar mencari literatur dan informasi tentang FC ini. Maka, dua bulan lalu, mulailah saya dengan pola makan FC.

Hal dasar yang saya ketahui sekitar 13 tahun yang lalu adalah bahwa dalam melakukan FC, kita harus memisahkan protein hewani dan karbohidrat. Selain itu, saya hanya tahu bahwa dengan melakukan pola FC, orang bisa kurus. Other than that, I know nothing about it. Cupet. Sialnya, saya gak mau cari tahu. Beruntungnya, walaupun tidak pernah sempurna, saya dari kecil sering sekali melakukan juklak memisahkan protein hewani dari karbohidrat ini. Sederhana, karena saya tidak selalu makan karbohidrat dalam setiap waktu makan. Sejak kecil. Jadi, tidak sulit bagi saya untuk hanya makan daging merah atau ayam dengan sayuran saja, atau dengan tempe dan tahu saja. Tapi tidak tahu apa alasannya. Atau tidak mau tahu ya *jitak*.
Dua bulan lalu, say amulai mengubek-ubek gudang Mbah Google, mencari tentang apa pun yang berkaitan dengan FC. Follow akun twitter salah satu pelaku FC yang sudah menjalaninya selama lebih dari 12 tahun, mencari video, mencari cart pemakanan, mencari artikel sampai membeli buku. Perkara buku ini, saya sampe nitip sama temen yang mau ke Malaysia hihi. Tidak pernah puas, karena saya selalu bertanya “kenapa?” dan “lalu, bagaimana?”. Selalu. Dari situ, saya ikuti juklak dasarnya, yang kemudian diikuti dengan aturan-aturan turunannya. Semua dipelajari pelan-pelan. Tapi saya sangat ingin mengubah gaya hidup.
Setidaknya satu sampai dua minggu pertama yang saya turuti benar adalah meminum perasan jeruk nipis sesaat setelah bangun tidur, sarapan buah (ini pun sudah dilakukan setidaknya sebulan sebelum mulai FC), memperbanyak makan sayur dan memisahkan protein hewani dari pati.

Biasanya, sesaat pagi setelah bangun, saya akan memanaskan air. Sembari menunggu air matang, saya shalat subuh dulu. Begitu matang, langsung saya tuang dalam gelas, dicampur dengan air bersuhu normal sebagai campuran jadi anget, kemudian peras sebuah jeruk nipis ke dalamnya. Diminum selagi hangat, diamkan sebentar di dalam mulut, ditelan pelan-pelan. Dalam waktu kurang dari seminggu, saya tidak ingat pasti berapa hari, saya tidak merasakan sakit kepala dan maag lagi. Padahal, saya masih nakal, minum kopi sekali atau dua. Saya punya masalah dengan badan tidak bermaya, tsaah, di atas pukul 8:30 pagi. Biasanya baru segar dan mulai bisa kerja setelah pukul 10. Sejak rutin minum air perasan jeruk nipis ini, semakin hari semakin berkurang keluhan itu. Entah itu karena perasan jeruk nipis, atau karena saya juga mulai yoga dan menerapkan pola makan FC. Tapi yang jelas, badan jadi lebih segarlah. Atau sugesti ^^

Biasanya, pukul 7 pagi saya mulai sarapan; buah. Kadang saya makan buah dua sampai tiga macam, bergantung yang ada di kulkas. Kadang sarapan satu kali, kadang dua kali, bergantung kondisi lapar :D Dalam satu menu  sarapan, biasanya saya makan minimal dua jenis buah, maksimal tiga. Bergantung apa yang ada di rumah. Awalnya saya akhiri sarapan dengan makan pisang, sesaat sebelum berangkat ke kampus. Tapi, kemudian saya kurangi pemakanan pisang. Saya lebih memilih jeruk, apel, pepaya, jambu, sawo, plum, kesemek, kiwi atau mangga. Mangga jarang sih, mahal hahaha bisa RM 3.50 sebiji, bangkrut :P Kalau pisang, karena kandungannya mendekati karbohidrat, jadi saya pikir lebih baik memilih buah yang lebih manis dan berair saja untuk pagi. Toh siang saya makan karbohidrat juga :) Tapi waktu mau mulai belajar sarapan dengan buah-buahan, sempat takut laparlah, takut perihlah, takut muleslah, banyak deh pertimbangannya. Tapi dua terakhir gak terbukti, kalau gampang lapar, iya sih kadang-kadang. Makanya, kadang saya sarapan dua kali.

Setelah sesi sarapan berakhir, saya biasanya mulai makan siang antara pukul 11 – 13. Sebetulnya pukul 11 itu masih fase sarapan sih, tubuh perlu energi banyak untuk pembuangan, jadi sebaiknya makan segala sesuatu yang sifatnya mudah cerna. Tapi kadang sudah terlalu lapar  dan tidak bawa bekal buah lagi, jadiii gitu deeh :D Ya, itu sering terjadi di awal masa FC, sekitar sebulanan begitu, walau pun tidak setiap hari. Urusan makan siang ini, saya usahakan selalu membawa bekal sayuran mentah ke kampus. Jadi, walau masih jajan di kantin, saya tetap memastikan ada asupan sayuran mentah setiap harinya. Kalau di kampus sampai malam, saya bisa bawa dua sampai tiga kotak sayuran sekalian untuk camilan sore dan makan malam. Ribet? Saya sih merasa tidak ribet. Cuma perlu cuci sayuran sampai bersih, potong-potong dikit, wadahin, kelar. Apa yang susah? :P
Waktu makan ini adalah antara pukul 11:30 – 20:00. Ada kalanya melebihi waktu itu, misalnya ketika diajak teman makan di luar. Sebagai pemula, saya tidak begitu kaku dengan aturan waktu, kadang saya longgarkan, tapi tahu diri. Asupannya ya standar juklak; memisahkan protein hewani dengan karbohidrat atau pati. Ada kalanya saya curang, makan lele goreng garing dengan nasi, tapi bisa dihitung jari sebelah tangan lah dalam sebulan :)

Cheating? Iya. Masih. Saya sudah meninggalkan teh dan minuman kaleng lainnya. Coke? Jarang sekali minum. Tidak pun sebulan sekali. Dalam satu semester kuliah bisa dua sampai tiga kali, tidak pun satu kaleng. Karena punya maag, saya sangat menghindari itu. Jadi menghilangkan Coke dan minuman berkarbonasi lainnya bukan hal yang sulit. Kopi? MASIH. Saya gak ngerti kenapa keukeuh minum kopi. Padahal sebelum FC, setiap kali minum kopi, kepala saya pasti pusing bahkan bisa sampai muntah. Tapi, sensasi minum kopi itu menyenangkan. Sekarang, saya tidak pernah simpan sachet kopi lagi di rumah. Saya beli yang kalengan saja. Atau beli di vending machine. Itu pun jarang sekali saya habiskan. Ketika minum, selalu mikir “efeknya tidak baik nih, nanti pipis terus, dehidrasi, tulang keropos idiiih”. Seperti sekarang, di kamar saya ada satu kaleng kopi yang sudah dua hari duduk di meja. Belum diminum. Tiap kali ingin saya buka, rasanya kok piye ya :D


Saya juga masih mau dengan senang hati makan sama teman di luar. Makan ayam panggang, misalnya. Saya hanya perlu meminta salad segar dalam jumlah banyak dan tidak memilih karbohidrat sebagai pendamping si ayam montok. Lain waktu, saya pesan sup buntut di kedai langganan, tidak memesan nasi. Tapi, saya membawa satu kotak sayuran untuk menemani. Saya juga pilih-pilih, kalau memang bisa membawa bekal sayur, I will do that, kalau tidak, ya sudah.

Tentang waktu makan dan mengunyah. Kalau makan sama teman, biasanya saya bilang “gw makan lama ya, kalau nanti lo udah selesai dan mau pergi duluan, silakan ya” dengan begitu, saya bisa membuat suasana nyaman. Setidaknya, tidak ada yang merasa harus menunggu saya yang berusaha mengunyah sebanyak 30-70 kali. Selain itu, saya berusaha makan di saat yang tepat, tidak kelaparan, dengan makanan yang tidak terlalu panas atau tidak terlalu pedas. Dengan begitu, setidaknya saya bisa mencapai jumlah kunyahan yang mendekati angka 30. Gak muluk-muluk deh sampai 70, belum sanggup. Kadang rahang capek :D *alasan. I keep in mind bahwa saya perlu mengunyah banyak untuk memberikan kesempatan pada enzim berproduksi, jadi makanan saya bisa diolah dengan baik. Itu saja yang ada di kepala saya. Selain juga mencoba menikmati makanan.

Sejauh ini sih, baru itu yang saya lakukan. Masih belajar. Memahami buah apa yang boleh dipadu padan. Sayur apa yang paling baik (yang mana semua sayuran baik) dan bagaimana cara makannya. Bagaimana cara minum. Bagaimana cara mengunyah supaya makanan bisa bercampur dengan air liur dengan baik. Endesbre endesbre.

Hal penting yang saya pelajari dari FC ini adalah bahwa selama ini saya jahat sama tubuh saya. Terlalu sok tau. Padahal saya tidak paham fisiologis tubuh. Tidak paham bagaimana setiap organ bekerja. Melihat manfaat dari makanan/minuman sebagai hal yang terpisah, tidak dilihat secara holistik terhadap kinerja tubuh; organ, enzim, dan lain sebagainya. Misal, saya tau makan buah itu baik, saya makan, tapi waktu dan cara makannya salah. Efeknya? Diolah tubuh jadi sampah, organ bekerja megap-megap karena sebelumnya saya makan ayam dan nasi yang membutuhkan jeniz enzim berbeda dan masa cerna yang berbeda dengan buah yang dimakan setelahnya. Ih, kesian ya tubuh saya. Serius.


Gitu dulu deh curhatnya :D Kapan-kapan lagi ya ^^

You Might Also Like

0 komentar