[curhat] I am a stranger, but I am not an alien

By 10:06:00 AM

Sudah dua bulan ini saya mengikuti pola makan Food Combining (FC), ingin bercerita tentang pengalaman kehidupan bersosial saya selama FC.

Nah, pengalaman menarik dari mengikuti FC ini adalah tentang hubungan sosial. Di sini saya gak bakal nyentuh gimana saya melakukan FC ya, tapi lebih menyentuh social effect-nya dalam interaksi sehari-hari. Saya biasanya memang bawa bekal, setidaknya sayur dan buah, walaupun tidak tiap hari. Sejak FC, saya usahakan setiap hari membawa sayuran mentah ke kampus atau dalam bepergian. Kalau sedang jalan-jalan, pasti minim sayuran segar, kan. Makanan yang ditawarkan di rumah makan cenderung berbasis protein hewani. Saya makan, itu. Tapi saya juga perlu sayuran segar untuk tubuh saya. Jadilah saya selalu bawa jinjingan yang isinya kotak-kotak makanan. Bahkan sejak 2010, saya sudah rajin membawa sekadar timun, wortel, tomat atau buncis setiap kali pergi, atau ketika nonton di bioskop. Daripada membeli popcorn, saya lebih memilih nyemil wortel *krauk krau*. Nah, dalam pengalaman sosial ini, efek dari pola makan FC memberikan pengalaman yang lumayan menyebalkan untuk seorang newbie seperti saya :) Iya, saya bukan orang yang menyenangkan kalau disindir-sindir apalagi diejek-ejek seolah-olah saya ini aneh.

Ketika akan makan di kantin, tidak jarang orang-orang mengira saya diet untuk upaya pengurusan badan. Bukan satu atau dua orang yang becanda seolah-olah saya anti nasi, pantang makan nasi, nasi itu haram atau sejenisnya. Kadang-kadang kesel juga. Kadang saya jawab celotehan mereka, kadang diam. Tapi lama-lama ah sudahlah, they just don’t know what am doing to my body. Saya mau makan, titik.

Kadang ketika saya masih ambil coklat atau kopi sebagai menu cheating, beberapa kali diolok-olok konon hidup sehat, tapi nyemil, tapi ngopi bla bla. Ah, biarin aja. Toh emang saya sedang cheating. Kadang malah saya bilang kepada teman-teman bahwa “this is my cheating day”, terserah mereka ngerti atau nggak. Tapi tetep aja digituin ya nyebelin rasanya :D

Kejadian lain lagi ketika diajak makan oleh salah satu teman. Beberapa kali teman itu menanyakan kepada saya, “mau makan apa?” karena saya dianggap gak bisa makan sembarangan. Iya, saya gak bisa makan sembarangan seperti memadukan nasi dengan ayam goreng, but I can eat the fried chicken alone, and am fine. Itu saya jelaskan berkali-kali, tapi yang muncul malah kata “Vegetarian”. No, I am not. Saya sampai agak keras ngomong “saya makan segala, saya makan daging”. Karena saya yang sensitif ini jadi merasa tidak enak; dijamu kok bikin repot.

Ada juga teman yang keberatan kalau saya bawa-bawa kotak makanan berisi sayuran. Si teman khawatir kalau-kalau tidak boleh membawa makanan dari luar ke dalam tempat makan itu. It’s not a problem. Not at all. Kalau tidak bisa dimakan bersamaan dengan menu di piring saya nantinya, then I will eat the vegetable later on. Simple kan? Tapi tatapan yang melihat saya aneh karena membawa kotak makanan itu mengganggu sekali.

Kadang pingin bilang “hey, it might be strange to you about how I eat, but I am not an alien”. The thing is, no one would be eager to ask me what am I really doing. They don’t know and never will.
Bersyukur saya masih bisa dan mau makan dengan orang lain, kapan saja, di mana saja. Hanya saja, saya tidak berkompromi banyak dengan apa yang saya makan berikut waktu makannya. Kalau tidak bisa ngeteh bareng, saya bisa pesan air putih. Kalau sedang mau daging, saya tidak pesan nasi. Kalau saya pingin nasi goreng, saya tidak akan pesan telur. Gampang. Kenapa malah lingkungan saya yang menyulitkan saya?

Saya memang pernah berusaha menularkan pola FC ini ke beberapa teman, cerita sedikit, kemudian ekspresi teman berubah. Iya, sih, respon pertama adalah ribet. Respon selanjutnya, entah. Tapi yang jelas, saya cukup tau diri, I am not credible at all to tell anyone about healthy living. Am not a doctor. Barely know how to live healthy. Toh saya punya riwayat maag yang aduhai. Saya ada di titik “I dont care about what you eat, as long as it has nothing to do with me”. Kalau sampai ada yang merasa malu dengan apa yang dimakannya ketika di depan saya, itu bukan urusan saya. Serius. I dont care. Kalau ditanya, saya jawab. Tapi kalau berkampanye, siapa saya?

Saya juga bukan pengikut pola FC yang fanatik. Saya kompromis. Adanya sayur dimasak, I eat. Adanya nasi putih, I eat. Adanya gorengan, I eat. Tapi saya juga tidak bisa meninggalkan sayuran mentah, karena saya butuh anu anu anu di dalam sayuran itu untuk tubuh saya.

Jadi, ketika cara makan saya tidak mengganggu yang lain, saya masih suka kesal kalau mereka-mereka di sekitar saya hobi mengomentari. Toh saya selalu berusaha mengakomodir setiap satu dari mereka. Makan di mana saja, hayuk. Serius. Saya malah yang ber-trick dengan diri sendiri. Apa yang bisa saya makan. Bagaimana saya makan.


There, I am a stranger to you about the way am consuming food, but I am not an alien. 

You Might Also Like

0 komentar