[curhat] Perjalanan Menuju Sehat 3 -- LUNAS

By 10:28:00 AM

Lupa kalau saya punya niatan nulis tentang perjalanan sehat ini. Kemarin habis pindahan rumah, selama itu juga makan saya kacau, ampun deh *tutup muka*. Iya, saya jadi suka minum kopi dan nyemil lagi :D Tapi tetep berusaha memenuhi kebutuhan makanan untuk tubuh. Tapi ya itu, cheating kok tiap hari :))

Tulisan ini dibuat dalam waktu lebih dari seminggu, on off, jadi ada editan di tengah-tengah :D
Tadi malam habis ada obrolan ringan yang bikin sakit kepala di rumah. Perkaranya, adik dari Ibu housemate kena kanker paru-paru stadium 4. Usianya masih awal 40an. Kemudian Ibu housemate juga cerita kalau dia punya penyakit jantung, diabetes dan darah tinggi yang dipercayainya sebagai penyakit yang diturunkan oleh orangtuanya. Sedih dengernya. Usia Ibu housemate itu sepertinya awal 50 atau akhir 40an ya (gak pernah nanya). Kalau lihat bagaimana beliau menjalani hari-harinya, emang agak serem sih. Beliau suka bekerja sampai pagi, sesiangan kadang tidur (membalas yang semalam), kadang beraktivitas seperti biasa sehingga bisa dipastikan beliau memiliki waktu tidur yang kurang. Dalam sehari, beliau bisa menenggak kopi hitam plus dua sendok makan gula sebanyak dua mug besar untuk bisa terjaga di malam hari dan mengerjakan disertasinya. Camilannya bisa setoples emping atau kerupuk. Suka sekali ikan asin. Suka menenggak jus dalam kemasan yang manisnya alaihim. Suka makan buah-buahan yang dianggapnya obat diabetes dan lain sebagainya dalam jumlah banyak dan waktu yang tak terkira. Gitulah. Dari gaya hidup seperti itu, kemudian saya berpikir, mungkin saja secara genetika memang ada potensi penyakit diturunkan, tetapi gaya hidup kita, terutama tentang makanan, cara makan dan waktu makan itu sangat berpengaruh terhadap tumbuhnya penyakit-penyakit itu.

---update tentang obrolan dengan Ibu housemate, tadi pagi dapat kabar bahwa adik beliau meninggal dunia. Kita kirimkan doa, ya. Jadi kejadian terakhir yang diceritakan adalah bahwa Almarhum dibawa ke rumah sakit, sempat tidak mau makan dan akhirnya diberi susu. Sejak diberi susu, jadi diare. Kondisinya memburuk dan tidak lama kemudian meninggal dunia. ---

Dari obrolan itu, saya teringatlah ke nenek dan ayah saya. Nenek saya mengidap diabetes. Sejak SMA, saya sudah punya ketakutan dengan penyakit itu. Karena yang saya dengar dari dulu, pasti akan nurun, entah itu ke anak atau cucunya di kemudian hari. Ibu saya alhamdulillah sampai sekarang termasuk sehat. Nah, makinlah ketar ketir apakah saya nanti akan kena diabetes juga? Ini menakutkan, serius. Setidaknya untuk saya.

Ayah saya punya riwayat kolesterol yang tinggi, asam urat, reumatik dan sekarang ada masalah dengan tulang belakangnya. Saya ingat, suatu hari ayah saya mengeluh, lebih kurang begini: hidup kok gini banget ya, iya sih masa muda udah dipuas-puasin makan makanan enak, daging-dagingan segala macem, sekarang cuma bisa makan timun aja sama kerupuk. Sejak pensiun, ayah saya seperti ditimpa berbagai penyakit. Padahal, saya yakin sekali bahwa penyakit kita itu sudah pelan-pelan ditumpuk sejak dulu. Kebetulan aja terasa semua bertepatan saat ayah saya pensiun. Jadi, secara fisik dan mental jadi rentan. Nah, sejak saat itu ayah saya menjaga sekali makanan yang diasupnya. Daging per harinya hanya boleh diasup tidak lebih dari 80gr. Sayuran hanya boleh tomat dan timun saja. Tentang tulang belakang yang bermasalah, saya gak bisa jelasin, takut pemahaman saya salah, tapi intinya tulang belakang ayah saya lurus, sementara umumnya kan agak melengkung ya. Nah terus na ni nu na ni nu jadi ada bantalan tulang yang menggesek syaraf. Ah gitu deh. Jadi gaya hidup harus berubah. Cara bangun dari tidur. Cara duduk. Cara berjalan. Bayangkan berpuluh tahun kita hidup dengan satu cara A-Z, tiba-tiba harus diubah. Bukan hal gampang.

Nah, beberapa minggu lalu, seperti yang saya ceritakan sebelum ini, saya rajin mengalami sakit kepala, leher tegang dan sulit tidur nyenyak. Akibatnya seharian saya ngantuk. Badan cepat letih. Endesbre. Nah, dari gejala-gejala yang dialami itu, mulailah saya meneliti diri sendiri; apa yang biasa kerasa, apa yang biasa saya makan, apa yang biasa saya lakukan. Obrolan dengan Mbak Dyah beberapa waktu lalu tentang Food Combining (FC) bikin saya ngubek-ngubek gudang mbah google untuk cari any possible reading materials that I can refer. Kenyataan-kenyataan tubuh yang tidak pernah saya ketahui bikin saya merasa tertampar. Banyak hal baik yang saya lakukan untuk mendapatkan tubuh sehat, tapi banyak juga hal tidak baik yang mengimbanginya.

Di rumah orangtua saya selalu ada menu lengkap setiap makan: karbohidrat, protein, sayur, buah dan disempurnakan oleh KERUPUK :D Pagi sarapan, siang makan lengkap, malam kadang makan ringan saja, di sela-sela itu mungkin sekarung kerupuk dan gorengan dimakan :D Saya hobi mengudap. Di rumah itu selalu ada kriukan. Mulai dari kerupuk kampung sampai camilan ber-MSG yang bikin mabok. Banyak sehatnya, tapi pendamping tidak sehatnya juga bejibun :D Ibu saya jago masak pulak. Makanan manis hasil tangannya enak kayak syurga dunia, sungguh!

Kalau lihat postur, saya dan ibu bertubuh sintal (emoh dibilang gendut hahaha), adik bongsor agak gedelah, kakak saya gemuk sekali, ayah saya kecil. Kami sekeluarga kompak punya penyakit maag :D Rutin juga olahraga; rutin niatnya. Saya sih gak terlalu gimana sama bentuk tubuh, gini aja udah bikin #MasBromo klepek-klepek, kok. #eh. Tapi saya bener-bener serius pingin sehat lebih lama. Ringkih banget dan ngeselin banget kalau kurang tidur lalu sakit. Maag dan migraine datang sesuka hati. Duh, gak enak banget.

Jadi, saya memutuskan mulai melakukan Food Combining sejak 1,5 bulan lalu (sudah dua bulanan sampai dengan tulisan ini diposting). Ini pun terjadi setelah saya membaca sana sini, dan paham bagaimana tubuh bekerja, bagaimana enzim dihasilkan, bagaimana efek dari pemakanan saya sebelum ini. Saya manggut-manggut sambil ngeri sendiri dengan cara pemakanan saya selama ini. Wajar aja sih, I don’t know. Biasanya saya atur makan sesuai apa yang saya tau, biasanya juga alasannya tidak tentang bagaimana tubuh ini bekerja mencern makanan itu, tapi lebih kepada jeruk baik, apel baik, bayam baik. Jadi, apapun makanan baik yang saya makan, kalau dimakan dengan cara yang salah, ya efeknya tidak kelihatan. Gitu kali ya :D

Saya sih masih mencoba mendisiplinkan aturan dasar FC dulu sampai sekarang, banyak turunannya masih saya pelajari. Sudah 1,5 bulan ini saya biasakan untuk minum jeruk nipis yang diperas ke air hangat, diminum pada setelah bangun pagi. Setelah itu saya sarapan buah mulai pukul 7 hingga pukul 11, kadang bisa dua kali sarapan, kadang hanya sekali. Bergantung, apakah saya masih lapar atau tidak. Seperti di postingan sebelumnya diceritakan juga bahwa sejak pengalaman diet mayo, saya memang jadi terbiasa sarapan buah, dan ini dilakukan sampai sekarang :) Kemudian saya makan berat di antara pukul 11:30 – 20:00. Sebaiknya sih makan di pukul 12, tapi kadang sudah lapar :D jadi saya masih nakal makan sebelum itu. Tapi masih masuk juklak sih. Dalam makan besar ini, saya mencoba dengan sangat, mematuhi juklak untuk memisahkan protein hewani dengan karbohidrat. I did it, most of the time :D Saya banyakin sayuran mentahnya. Biasanya saya bawa dua kotak makanan berisi sayuran dan satu kotak berisi kudapan; kacang atau buah. Setelah waktu makan besar berakhir, saya hanya minum air mineral saja. Tapi memang tidak pernah lapar ya.

Saya biasa makan siang pukul 11:30 atau pukul 12. Lalu akan lapar pada pukul 4, bukan lapar mungkin, tapi pingin nyemil. Biasanya saya makan keripik (BIG NO! haha) atau kacang atau pisang yang saya bawa. Makan malam biasa dilakukan pukul 6 atau 7.

Makan saya jadi lebih lama dari biasanya, karena saya mengusahakan untuk mengunyah hingga makanan lunak dan bercampur dengan air liur. Berusahaaaa banget. Masih banyak gagalnya sih :D gak sabar pingin menelan. But I try. Selalu berusaha untuk sadar ketika makan. Mengurangi ngobrol. Tapi ada kalanya juga sih, baru kunyah beberapa kali lalu telan, biasanya kalau makan sambil ngomong. Bah, bawel kali saya :)))

Sampai sekarang saya masih rajin mencari rujukan tentang FC. Yakin, masih banyak yang saya gak tau. Jadi terrrruuuuss mencari tau.

Baru banget kemarin saya tahu bahwa sayur sebaiknya jangan dipotong-potong dari rumah, karena guratan pisau bisa membuatnya teroksidasi, gitu deh, saya gak berani jelasin jauh, takut salah. Intinya, dari gesekan pisau dan udara yang bebas, kandungan sayur dan buah yang dibiarkan lama-lama itu bisa jadi kurang baik. Jadi sejak kemarin, saya usahakan bawa sayur masih utuh seperti tomat dan timun, kecuali selada dan brokoli, biasanya sudah disiangi dan dipotong dari rumah. Lalu lagi, baru tau kalau air mineral yang diberi lemon atau jeruk nipis bisa membantu memberikan kondisi basa pada tubuh. Jadi, sudah dua hari ini saya melakukannya.

Masih makan kerupuk? Masih :D Tapi sudah berkurang lah. Masih makan coklat? Masih :D menghabiskan sisa yang ada di kulkas, hohoho. Tapi saya sudah mengurangi jajan-jajan, sih. Tidak menambah stock makanan sampah lagi. Pelan-pelan lah, memperbaiki.

Adakah efek yang dirasakan? Ada!

Seminggu setelah rajin minum jeruk nipis peras di pagi hari, saya ngeh kalau saya gak gampang sakit kaya biasanya. Udara di sini panas mentrang-mentrang, sementara saya seharian di dalam ruangan berAC. Berangkat ke kampus pagi, sore atau malam pulang. Sebelum minum jeruk nipis ini, akhir pekan itu biasanya udah capek luar biasa, kadang malah di hari Rabu sudah mulai tidak enak badan. Kemarin pindahan rumah, seminggu penuh capek luar biasa, fisik dan mental, alhamdulillah saya gak sakit. Adalah sekali sekala bersin, tapi hanya sampai situ aja. Sebelumnya, saya yakin kegiatan fisik yang seperti itu bakal bikin saya tumbang. Dari situ saya yakin bahwa minum jeruk nipis peras sesaat setelah bangun tidur, benar-benar memberi cinta kepada liver :) Jadi lebih sehat.

Sampai semalam, saya masih baca-baca tentang bagaimana melakukan FC yang benar. Terpikir untuk membeli blender/juicer bulan depan, semoga ada rejeki ya :D Beberapa hari kemarin saya cheating habis-habisan; makan es krim, makan nasi lemak dan paru untuk sarapan, makan kudapan penuh MSG, hasilnya? Diare :))) Iya, saya nakal banget.

Udah deh, ini tulisan kayanya udah mulai jump here and there, intinya, saya berpikir bahwa memahami fungsi tubuh itu penting, bagaimana organ bekerja, apa efeknya, bagaimana menjaga agar tetap berjalan demikian. Dengan begitu, saya memutuskan bahwa FC ini adalah cara yang tepat untuk menjaga tubuh agar bisa bekerja dengan baik sesuai dengan SOPnya. Gak mau bikin tubuh saya ngambek :)



Oia, jarum timbangan sudah bergeser ke kiri sebanyak lima angka ^^ 
Bonus yang menggembirakan.

You Might Also Like

0 komentar