Mesin mogok

By 12:32:00 PM

Hari ini saya bikin nasi goreng. Kangen nasi goreng sambal terasi dengan minyak yang agak banjir. Dimakan dengan nugget sayur yang saya bikin sendiri.

Dulu saya suka sekali menu ini. Dimakan dengan tempe goreng hangat dan kerupuk aci. Beuh. Porsinya kecil sebetulnya, sepiring pun tidak menggunung. Tapi, setelah makan setengah porsi, saya merasa mual dan agak pusing. Ini pasti alarm tubuh sedang bunyi, terlalu banyak minyak di dalam nasi. 

Pikir punya pikir, dulu saya bisa bikin nasi goreng endang bambang seperti ini dua sampai tiga kali seminggu. Apalagi kalau keluarga atau teman ketagihan, makin senenglah bikinnya. Plus telur dadar. Mual? Tidak pernah kayanya. Ada yang aneh? Ya, dulu badan saya terbiasa mengolah makanan seperti itu. Bekerja keras. Mungkin awalnya mual itu ada, tapi saya abaikan. Sampai akhirnya alarm tubuh sudah tidak terdengar lagi oleh saya. Saya cuekin habis-habisan. Gorengan. Kerupuk. Segala macam yang mengandung minyak hap hap saya makan. Apa kabar kalau ternyata "mesin" tubuh saya "mogok"? Duh, jangan sampe deh.

Sejak menjalani Food Combining (FC), tubuh saya lebih peka. Kalau saya makan makanan yang mengandung MSG, biasanya saya merasakan ketidaknyamanan di tenggorokan. Kalau saya nakal minum kopi, walau sedikit, besok pagi pasti akan ada lendir. Bukan jadi penyakitan, tetapi alarm tubuh saya kembali berfungsi, menolak makanan atau minuman olahan atau perasa artifisial yang sebetulnya berat diolah oleh tubuh. Kebayang gak misalnya kita punya satu liter enzim untuk 100 tahun, dengan catatan makanan yang diasup benar kombinasinya, tidak ada makanan olahan dan dimakan pada waktu yang benar. Kemudian kita makan sembarangan, semua yang namanya makanan ya dimakan saja, walhasil tubuh harus memakai enzim harian lebih banyak dari biasanya. Cadangan enzim untuk 100 tahun ini pasti hanya akan ada untuk waktu kurang dari yang telah ditentukan. Kelihatan kan bagaimana mengatur pola makan itu membantu memperpanjang waktu kerja organ dengan baik dan meminimalkan penggunaan enzim sehingga cadangannya tidak cepat menipis. Ini tidak bicara tentang ajal dan takdir kematian, ya :) Kalau meninggal karena memang harus meninggal, bukan karena tersiksa penyakit (yang kita bikin sendiri), bukankah lebih baik?

Maka, begitu selesai makan nasi goreng itu, saya langsung ambil semangkuk brokoli, disiram air hangat sebentar, lalu dikudap. Saya sudah mencuci beberapa jenis sayuran juga, sedang direndam cuka apel tuh di dapur, untuk dibuat jus nanti. 

Jangan sampai alarm tubuh tidak terdengar ya, teman-teman. Sehat, sehat, sehat :) 

You Might Also Like

0 komentar