Apakah kamu hitam manis?

By 3:47:00 PM

Beberapa waktu lalu membahas tenggorokan yang seret gara-gara minum sirup setengah gelas. Sudah lama sekali saya tidak minum sirup, di rumah ada sirup, entah punya housemate yang mana hehe, isenglah bikin segelas...Tegukan ke sekian, tenggorokan saya tidak enak rasanya. Mungkin dari gula yang ada di sirup itu, jadi alarm tubuh langsung nguing-nguing, protes. Ceritalah kepada seorang teman tentang pengalaman saya itu. Kemudian kami membahas sesering apa mengkonsumsi minuman selain air mineral. Bahasan pun mengarah pada minuman berkarbonasi, teh dan kopi.

Minuman berkarbonasi. Sejak ada kisah bahwa minuman berkarbonasi bisa dipakai untuk membersihkan lantai yang kotor, termasuk kloset, saya sudah sangaaaat jarang sekali meminum itu. Kebayang minuman itu masuk ke lambung, kemudian...gak bisa bayangin *tutup mata*. Tapi dari dulu saya bukan penggemar minuman jenis ini sih. Kalaupun minum, biasanya karena ini sepaket dengan makanan cepat saji yang saya beli. Seringnya, saya menukar minuman berkarbonasi ini dengan jenis yang lain; teh kemasan atau air mineral. Jadi, saya sebetulnya sudah lama sekali meninggalkan minuman  jenis ini, bahkan tidak masuk dalam senarai minuman rekreasional. 

Teh. Hitung mundur sejak Agustus tahun lalu, ketika pertama kali saya menjalani FC. Sejak itu, kekerapan saya minum teh (seduh atau kemasan) bisa dihitung. Kurang dari 10 jari tangan, deh. Teh yang saya pesan sendiri di tempat makan sepertinya gak lebih dari 2 kali, itu pun gak pernah habis. Teh yang dapet nyeruput dari gelas tetangga mungkin 3 atau 4 kali. Entah, tapi meninggalkan teh cukup mudah bagi saya. Padahal, kalau sedang panas terik, minum es teh manis itu syurga syekali :D Saya juga dulu sering beli teh bunga krisan dalam kaleng, segerrr. Padahal, dulu keluarga saya menjadikan teh itu minuman harian. Di rumah pasti ada teko berisi teh. Jadi seharian, bisa saja kami hanya minum teh, dan itu adalah minum. Padahal *tutup muka*. Sejak gak tinggal sama orang tua, semakin berkurang kebiasaan minum teh. Walaupun kalau makan ke kedai makan atau duduk-duduk cantik, saya bisa dipastikan  memesan minuman berbasis teh. Tapi sekarang, minuman itu jadi masuk senarai rekreasional yang jarang banget saya sentuh.

Kopi. NAH! Ini minuman yang agak susah saya lepas. Bukan karena dia bikin saya terjaga, tidak sama sekali. Kopi tidak bikin saya terjaga. Bahkan, seringkali saya tidur setelah minum kopi :D Saya melihat kopi sebagai ritual minum yang "cool". Nonton film serial yang sarapannya diawali dengan kopi, ngobrol-ngobrol di kedai kopi, bertamu disuguhi kopi, melihat pemain film menyeruput kopi...itu "cool". Gak ngerti di sebelah mana "cool"nya *LOL. Kadang saya bisa cheating setiap hari. 1 sachet kopi saya bagi 3 - 4, jadi bukan 1 sachet untuk sekali minum lagi. Mendidihkan air, menuangkan bubuk kopi instant ke cangkir, menyeduhnya....itu menyenangkan :D Padahal setelahnya saya akan beser dan berhutang minum air mineral 3x jumlah air kopi yang saya minum sebelumnya :)) But it was fun! Kalau sudah cheating kopi, selain membayar minum air mineral, saya juga membayar "hutang" dengan menambah porsi sayuran mentahan, untuk nyumbang enzim dan kondisi alkalin.

Nah, saya dan teman yang diajak ngobrol ini akhirnya sampai pada satu pertanyaan "kenapa sih kita susah move on dari kopi?". 

Apakah karena kamu hitam, maka kamu manis? 

You Might Also Like

0 komentar