Ukuran 2009

By 10:47:00 AM

Suatu hari seorang teman bercerita kalau dia sangat ingin kurus, singset, langsing dan menggemaskan *ini saya tambahin biar drama*. Kemudian dia ceritalah jenis diet penurunan berat badan apa saja yang sudah dilakukannya, pake bawa nama dokter gizi yang dia bayar mahal segala. Semuanya berujung sama; kelaperan, lemes, hobi ngidam pingin makan ini dan itu dan merasa tersiksa. Akhirnya? Menyerah. Kurus? Nggak. Malahan akibat dari pernah menjalankan program penurunan berat badan itu, dia jadi kalap di kemudia hari. Seperti balas dendam. 

Hari lainnya seorang teman bercerita pingin sehat. Tapi kemudian di ujung cerita dia tekankan bahwa sehat itu artinya badan dia kurus seperti jaman SMA. What? Okelah, ikuti saja alurnya. Na, ni, nu...dia akhirnya bercerita gak makan anu, anu, anu, anu dan memaksakan diri makan anu, anu, anu supaya kurus dan sehat. Tapi ketika jalan sama saya, dia memesan makanan yang aduhai kombinasinya. Mumpung lagi jalan-jalan, katanya begitu. Jadi pingin sehat itu gimana maksudnya? Bingung :D

Beberapa hari kemarin seorang teman mengeluh bahwa badannya sekarang mekar merona. Halah. Bahagia, katanya. Iya. Tapi kemudian dia bahas soal pil yang ampuh menurunkan berat badan dalam waktu seminggu. What? Bim salabim? 

Dari semua teman yang cerita tentang ingin kurus atau bahkan ingin gemuk, biasanya saya bilang "yang penting sehat, kalau badan sehat, nanti timbangan menyesuaikan sesuai kebutuhan tubuh". Entah bagaimana cara teman-teman saya itu menerjemahkan perkataan saya. 

Bicara tentang "tubuh sehat akan mencari sendiri berat idealnya", pengalaman ini saya rasakan. Sejak (mengaku) mengikuti pola makan Food Combining, saya rasakan bahwa tubuh saya mengecil. Berat badan turun di 2-4 bulan pertama, saya lupa pastinya, sekitar 6 kilogram. Sejak itu, angka diam di situ. Tapi, saya rasakan bahwa tubuh saya mengecil walaupun si angka timbangan diam saja. Ini kalau berbicara tentang timbangan ya. 

Ketika melakukan Food Combining, saya membiasakan untuk menyadari berapa banyak makanan yang baik dan kurang/tidak baik yang masuk ke tubuh saya. Kadang ada kalanya saya cheating tiap hari; misal setiap sore saya makan 1-2 biskuit, atau beberapa sore saya minum 1/3 sachet kopi, atau setiap makan siang saya makan kerupuk dalam jumlah agak banyak. Iya, saya masih belum patuh benar, makanya saya menulis "(mengaku) mengikuti pila makan Food Combining". Tapi di luar cheating kecil yang rutin itu, saya kenceng makan sayuran mentahan dalam jumlah yang banyak dan tidak melanggar aturan dasar pemisahan karbohidrat dan protein. Sayur mentah dalam sehari saya asup dalam bentuk potongan dan jus, bisa 3-4 jenis. Buah di pagi hari minimal 2 jenis, bisa sampai 4 kalau memang tersedia, dan bagian sarapan ini saya usahakan betul tidak dilanggar. Dalam kurum waktu 8 bulan (mengaku) melakukan Food Combining, mungkin kurang dari 4 kali saya sarapan berat, tapi sebelumnya tetap jeniper dan buah, seadanya. Bagi saya, ini prestasi dalam proses meningkatkan kesehatan. Seberapa sadarnya saya tentang apa saja yang masuk ke dalam mulut, itu penting. 

Dulu, saya juga tipe pemakan sayuran dan buah. Teman-teman dekat juga tau bagaimana saya menjaga asupan makanan. Tapi ternyata caranya salah dan lagi, saya ini jago nyamil yang kriuk-kriuk, jadi ya gitu deh :D Sejak mencoba mengikuti pola makan Food Combining, saya bener-bener memikirkan apa yang masuk ke dalam mulut. Apakah makanan ini akan enak di lidah saja, atau enak sampai di usus besar? Apakah makanan ini akan lumat di mulut, tapi menjadi kerak di usus besar? Apakah makanan ini seksi di lidah tapi susah untuk diserap? Apakah padu padan makanan ini enak di indra pengecap saja atau aman sampai proses akhir pencernaan? Itu bikin saya mikir. Makanya, ketika saya makan makanan/minuman yang tidak bermanfaat, saya pastikan akan memakan/meminum sayuran segar dalam jumlah lebih banyak dari apa yang saya makan. 3 minggu lalu saya makan ayam goreng kriuk di salah satu restoran makanan cepat saji ternama. Saya pesan 2 sayap ayam dan 1 botol air mineral. Di dalam tas, saya sudah membawa satu kotak berisi dua sayuran mentahan. Jadi, walaupun saya makan makanan yang kurang sehat, saya imbangi dengan asupan enzim dari sayuran mentah. 

Tubuh sehat itu tidak hanya "gw gak pernah sakit kok" atau "saya sehat ah, hasil lab aman, kok" atau "gw gak pernah kok punya kolesterol tinggi atau asam urat" tapi di hari lain hobi ngeluh cepet capek, perlu dipijet, sakit kepala yang dianggap sudah biasa, itu gak sehat namanya. Ada juga teman yang merasa "gw jarang sakit kok" padahal pola makannya amburadul. Ya, mungkin dia lupa bahwa di tubuh ada alarm yang mungkin sudah sering diabaikan sehingga dia tidak tahu kapan tubuh meringis atau bahkan berteriak. Menjaga kesehatan dengan cara yang tepat dan holistik itu adalah mutlak untuk kualitas hidup yang lebih baik. Tidak mau juga umur panjang tapi sakit-sakitan. 

Kadang kita lupa bagaimana memperlakukan tubuh, Makan gorengan seplastik, makan sayur selembar atau dua lembar, kita menganggap sudah "berbuat baik" kepada tubuh. Selalu minum jus buah yang ditambah gula dan es, kita merasa sudah hidup sehat. Makan buah banyak setelah makan, itu dianggap pola hidup sehat dan menjaga kesehatan badan. Tiap hari makan nasi pakai protein hewani dan ditutup segelas yogurt atau susu murni, oh tidak, ternyata kita menumpuk penyakit. 

Dulu, saya tipe peminum susu. Selain karena susu memiliki rasa yang enak, saya juga percaya pada tulisan yang ada di kemasan susu; tentang susu menyumbang kalsium bagi tulang. Belum lagi belanjaan bulanan saya adalah makanan-makanan pabrikan dengan label "vegetarian", "sehat", "alami", "natural" "tidak berpengawet" atau "tidak ada pewarna tambahan" padahal jelas-jelas itu pabrikan. Oh tidak. Jadi sebelah mana sehatnya? Alih-alih sehat, saya malah mudah terkena flu dan batuk, bahkan maag. Serem. 

Setelah mencoba konsisten menjalani pola makan Food Combining, saya merasa kualitas kesehatan saya membaik. Dulu, saya mengabaikan pusing karena kopi, sekarang kalaupun minum kopi, jumlahnya sedikit sekali dan saya tahu itu hanya enak di lidah saja. Jadi, setelah ngopi 1/4 mug, saya biasanya langsung guyur dengan jus sayur. Makan makanan yang digoreng pun jumlahnya lebih sedikit, karena tempe goreng lebih dari 4 potong akan membuat saya mual. Makan kerupuk terlalu banyak pun bikin saya puyeng. "Ih, tubuh kamu sensitif banget, malah rusaklah kalau gitu". Lho, justru ketika kita tau tubuh bereaksi terhadap makanan dan minuman yang kita asup, makan alarm kita bekerja dengan baik. Lalu apa yang harus dilakukan? STOP makan dan minumnya. Asup panganan yang sifatnya alami, mentahan lebih baik, sayuran adalah yang paling ideal. 

Nah, kembali lagi ke ukuran dan timbangan. 8 bulan melalui fase ini, saya mendapat bonus ukuran tubuh yang berangsur mengecil. Hari ini saya memakai baju yang dibeli sekitar tahun 2009 dan sempat tidak pernah dipakai lagi karena tidak cukup. Hari ini, baju hitam itu nyaman sekali dikenakan. Saya dalam kondisi sehat, tidak tertekan pola diet karena saya tidak sedang menguruskan badan, saya bisa makan apa saja dengan mengikuti pola makan yang bisa membantu saya menjaga kondisi homeostasis tubuh. 

Pahami kerja tubuh, kerja sistem cerna dan efek padu padan makanan terhadap sistem cerna, insyaAllah badan sehat dan bonus badan ideal mengikuti. 

Sehat terus ya...


You Might Also Like

0 komentar