Lontong Kupang dan Alarm tubuh

By 7:52:00 AM

Sejak dua minggu lalu, kadar asupan sayur mentahan saya agak berkurang. Lebih banyak makan sayuran matang. Ada cheating lucu di sana sini juga; keripik, coklat. Setelah itu saya melakukan detoks buah selama 3 hari. Di hari kedua badan saya agak anget dan keringat dingin, efek detoksifikasi. Itu termasuk ringan sih sepertinya, karena menurut yang saya baca, efek dari detoksifikasi itu bisa sampai mual-mual atau sakit kepala hebat. 

Setelah detoks, beberapa hari kemudian saya pergi ke Surabaya, ada acara keluarga selama 4 hari. Saya masih mengusahakan minum perasan jeruk nipis di pagi hari dan mencari buah untuk sarapan. Tapi, namanya lagi pulang ke negara asal, saya kangen ini itu. Jadi kadar buah sarapannya sedikit, lanjut berbagai makanan. Hari ketiga adalah pernikahan saudara saya, di sana banyak hidangan yang bikin kangen. Comotlah sana sini. Mayoritas protein hewani. Terakhir adalah lontong kupang dan sate kerang.

Sekembali ke Kajang, saya terkena diare. Serius diarenya, plus sempat muntah satu kali. Diare ini bikin saya agak kaget, karena saya merasa walaupun makan agak kacau, tapi masih dalam kadar yang gak brutal sih sebetulnya. Tapi ternyata alarm tubuh saya sudah menguing-nguing. Saya diare sejak pukul 11 malam sampai paginya. Tidak panik, saya tetap minum air putih sebanyak mungkin. Setiap ada kesempatan saya minum. Apalagi setelah buang air, saya minum agak banyak, tapi diusahakan tidak lebih dari 250mL sesuai kemampuan tampung ginjal. Pagi pukul 5 saya mulai makan buah, untuk menggantikan sari makanan yang sudah lenyap dan cairan yang mengalir deras. Sedih deh. Siang hari saya terserang demam ditambah agak menggigil pula. Tapi saya berusaha tetap tenang dan melakukan langkah-langkah dasar mengatasi diare dan demam. 

Dalam kondisi sedemikian, saya tetap memperhatikan bagaimana sistem tubuh saya bekerja. Pertama yang saya lakukan adalah evaluasi makanan, kemudian memenuhi asupan cairan dan energi. Dari daftar makanan besar sampai kecil yang saya makan, makanan baru dan "aneh" yang sempat diasup adalah lontong kupang plus tiga tusuk sate kerang. Saya browsing dan ngobrol dengan beberapa teman tetang lontong kupang ini, ada beberapa kasus yang mengalami keracunan setelah memakannya. Anggap saja itu, karena saya tidak menemukan asupan lain yang asing.

Saya tidak gegabah mengambil obat untuk menghentikan diare, kasihan tubuh...racun perlu dibuang, kenapa harus dimampatkan? Makan siang saya tetap masak nasi coklat seperti biasa, saya tidak memasak bubur, karena dalam pengetahuan saya, yang terpenting adalah proses mengunyahnya agar nasi tercampur dengan air liur sehingga bisa dengan mudah dicerna karena sudah ada kandungan enzim yang disumbangkan oleh air liur. Kemudian saya memasak sayur dalam bentuk capcay, tidak pun terlalu matang. Ada juga selada mentahan untuk asupan basanya. Saya juga tidak lantas meminum obat penurun panas, saya yakin asupan makanan hari itu baik, ditambah sayuran mentahan dan minum berkala dalam jumlah cukup. Untuk tahap awal, insyaAllah langkah itu tidak salah.

Diare reda sebelum tengah hari, sementara demam berlangsung sekitar 3 jaman. Petang itu saya mulai berkeringat, lebih segar. Saya sempatkan mengunyah sayuran segar di sela-sela waktu istirahat itu.

Alhamdulillah, semakin segar menjelang malam. Pagi ini pun sisa lemas saja :)

Kemudian cerita ke teman, katanya badan saya termasuk bagus menghadapi kondisi krisis itu, karena biasanya orang keracunan akan dehidrasi dan terkapar lemas. Si teman berpendapat bahwa pola makan saya yang cukup terjaga selama ini membantu melewati kondisi krisis itu dengan cepat. Pun saya tetap kembali pada kerja tubuh dan berusaha mengikutinya, sehingga tidak asal makan untuk penyembuhan. Semoga gak pernah mengalami ini lagi...

Menurut Mbak Dyah, teman saya, seiring usia sebaiknya kita tidak makan makanan yang "aneh", kasihan tubuh harus belajar mengenal lagi dan mikir gimana cara mengolahnya. Iya juga sih, apalagi sekian puluh tahun saya banyak makan makanan yang tidak dikenal tubuh, udah kerja bakti dia dengan produksi enzim berlebihan cuma biar makanan itu bisa diolah. Kapok deh :D

You Might Also Like

0 komentar