Perbedaan Mentega dan Margarine

By 11:48:00 AM

Foto dari sini
Oleh Poetri FCI
........
Mentega atau Butter atau Booter
Terbuat dari susu atau produk susu (hewani) yang sedikitnya mengandung 80% lemak susu. Lebih mudah meleleh bial diletakkan di suhu ruang dan rasanya gurih. Warnanya kuning pucat, berdasarkan rasanya dibedakan menjadi mentega tawar (unsalted butter) dan mentega asin (ditambah garam, Salted Butter). Memilikijumlah lemak jenuh tinggi dan kadar kolesterol tinngi, didasarkan pada bahan bakunya yaitu lemak hewani. Tingginya kadar lemak jenuh berhubungan dengan kadar kolesterol LDL (kolesterol jahat) yang ada di tubuh. Contoh mentega (saya sebut merk disini agar tidak salahpilih lagi) Wijsman (hanya salted butter, boookk endang iniihhh endes utk kue dan diolesin ke martabak manis duuhh) Elle&Vire, Orchid, Blue Triangle, Anchor, Golden Fern. Gampangnya, yang harganya mehong alias mihil alias ekspensip... Yang sok sok-an pakai mentega harga mahal awas loh ya, kan ker alias kantong kering

Margarine
Terbuat dari minyak nabati, dari minyak kedelai dan di Indonesia umumnya dari minyak sawit. Konsistensinya lebih spreadable alias mudah dioleskan di bahan pangan, tidak mudah meleleh di suhu ruang. Sedikit bahkan tidak mengandung kolesterol didasarkan pada bahan pembuatnya yaitu minyak nabati sehingga free kolesterol tapi yang terkandung ada fitosterol. Fitosterol adalah bentuk kolesterol di lemak nabati. Jadi ibu ibu yang tergiur iklan minyak goreng free kolesterol, anda sedang diputar putarkan saja pemahamannya karena mmg minyak goreng tidak mengandung kolesterol, kandungannya adalah fitosterol. Nah ilmu lagi kan huehehehee, ilmu buat ngalahin iklan.
Back to margarine, pembuatannya didasarkan pada sejarah yaitu para tentara perang dunia yang menginginkan perbekalannya dilengkapi dengan minyak tapi bukan dalam bentuk cair shg mudah dalam perjalannya. Maka dibuatlah margarine, lemak dalam bentuk padat. Umumnya yang digunakan adalah minyak kedelai, diubah konsistensi cair ke padat dengan proses hidrogenasi menggunakan H2 yang mengubah struktur molekul lemak minyak kedelai dari bentuk cis menjadi bentuk trans. Bentuk trans ini membuat minyak nabati menjadi padat dan tidak leleh saat di suhu ruang.

Hanya saja timbul permasalahan, karena lemak yang bisa diterima tubuh adl lemak bentuk cis, lemak bentuk trans itu terlalu besar molekulnya sehingga susah masuk ke dalam sel tubuh selain itu susunan asam lemak tak jenuhnya yang lebih kokoh susah untuk dihidrolisis ataupun diurai oleh tubuh sehingga menyebabkan flog atau penyumbatan di pembuluh darah. Selain itu,lemak trans menurunkan kolesterol HDL (kolesterol baik) dalam tubuh dan meningkatnya LDL membuat percepatan penyakit stroke dan jantung semakin mengintai.

Semakin banyaknya info seputar isu lemak trans membuat produsen berusaha membuat margarine free lemak trans. Konon di Indonesia (konon loh ya, ga tau bener atau tidaknya) margarine yang dibuat di Indonesia dari minyak sawit yang sekali lagi konon tidak mengalami hidrogenasi parsial tapi melalui proses emulsi dari hasil blending minyak dengan pengemulsi lain sehingga terbentuk konsistensi yang diinginkan seperti margarine trans. Walaupun tidak mengandung, konon loh ya, lemak trans, tetap saja kandungan asam lemaknya banyak, bahaya kolesterol pun tetap sama, mengintai.

Di Indonesia, lemak trans banyak ditemukan pada bentuk margarine putih atau yang biasa disebut shortening, biasanya digunakan industri pangan untuk biskuit.

Bagaiamana cara untuk mengetahui satu makanan kemasan menagndung lemak trans? Biasakan baca komposisinya, umumnya lemak trans disamarkan dengan sebutan partially hidrogenated vegetables oils atau minyak nabati terhidrogenasi parsial,shortening ataupun lemak terhidrogenasi.

Yang membuat saya miris adalah banyak ibu ibu yang menggantikan minyak goreng, MSG dan garam dengan margarine utk menumis atau ditambahkan pada makanan keluarga kemudia klaimnya adalah makanan sehat bebas minyak, bebas MSG dan bebas garam. Ini seperti lepas dari mulut buaya masuk ke mulut singa. Ada juga yang lagi2 kemakan iklan, karenadikatakan margarine banyak mengandung vitaminA padahal vit A ditambahkan pada pembuatan margarine untuk membuat warnanya lebih diterima masyarakat. Biasanya karotenoid sbg pewarna yg ditambahkan adalah betakarotin alias prekursor vit a.

Demikian kuliah singkatnya. Bahaya atau tidaknya, banyakan bahayanya yah hehehe...yang suka baking baking, ynag perlu diperhatikan bukan hanya free gluten saja loh ya tp incaran shortening, mentega dan margarine.

........


Tulisan ini diambil dari Group Facebook Food Combining Indonesia (FCI). Beberapa bagian yang tidak termasuk dalam informasi perbedaan Mentega dan Margarine saya hilangkan. 

Semoga bermanfaat. 

You Might Also Like

0 komentar