#thepowerofRM5

By 8:27:00 AM

Pernah tau tentang #thepowerof20ribu yang digagas oleh Ippho Santosa? Pernah coba? Colek deh tautan ini, atau ini, ini juga dan di sini ada beberapa tips untuk menabung. Seru, ya..banyak cara untuk menabung. Tinggal maunya aja. Sama seperti banyak tips untuk sehat, tinggal komitmennya aja #jleb.

Pada dasarnya, dari kecil saya sudah sering diajari bagaimana cara mengurus uang. Ibu saya selalu meliterasi saya dengan contoh keuangan keluarga. Dari piyik, Ibu saya suka ngasih liat slip gaji Ayah, "nih, gaji Papa segini, buat makan segini, buat sekolah segini....". Dari kecil saya sudah diajari sistem amplop. Jadi di awal bulan, uang dimasukkan ke dalam amplop-amplop yang sudah diberi label tujuan pemakaiannya; Listrik & Air, Makan, Belanja bulanan, Transport Papa dan seterusnya. Saya juga biasa diajak Ibu ke bank, dikenalin sama produk-produk perbankan. Mbuh ah :)) 

Foto dari sini
Kelas 2 SD, kalau gak salah, saya sudah dapet uang bulanan. Satu gepok uang 100-an jadi jatah bulanan saya dan kakak saya. Uangnya masih lurus-lurus, seneng deh. Tapi, sebetulnya anak-anak di keluarga saya tidak dibiasakan jajan. Ibu dan Ayah saya selalu wanti-wanti "jajan itu kalau lapar, kalau gak lapar, uangnya disimpan aja, ditabung, makan di rumah." Jadi tiap sarapan, saya di-satpam-in sama Ibu untuk menghabiskan sarapan hahaha. Pulang ke rumah juga biasanya udah ada makanan untuk makan siang. Setiap hari saya dapet uang jajan 100 Rupiah. Tapi saya jaraaaaang banget jajan. Paling-paling beli makanan kalau hari olahraga, karena biasanya laper. Jadi, ketika mulai dikasih uang segepok yang merah cakep itu, saya malah makin enggan jajan hahaha. Dulu saya suka kumpulin uang bulanan itu, kalau sudah mencapai 50.000 Rupiah, saya tuker ke Ibu untuk dapat uang yang ada gambar Pak Harto-nya :D Tentu saja uangnya yang masih lurus, gak kusut. Disimpen di sela-sela buku ^^ 

Foto dari sini
Beranjak SMA, uang saku makin banyak karena termasuk uang makan siang untuk kelas tambahan dan ongkos ke sekolah juga ke tempat les. Saya mulai tuh pakai sistem amplop. Waktu kuliah juga begitu, uang bulanan ditransfer oleh orang tua. Saya bikin rincian kebutuhan bulanan, dan uang yang diperlukan itu saya ambil semua lalu dimasukkan ke dalam amplop. Sisanya, saya biarkan di tabungan, buat kalau pingin jalan-jalan sama temen atau pingin beli sesuatu. Tapi sistem amplop itu kemudian mulai saya tinggalkan, biar gak banyak cash di rumah *macem banyak aja uangnya*.

Ketika mulai kerja, saya bikin dua akun bank. Satu akun digunakan untuk terima gaji, dan yang satunya untuk menabung. Biasanya begitu terima gaji, 1/3-nya langsung saya transfer ke rekening tabungan. ATM-nya saya simpan di rumah, biar gak gatel hahaha. Saya mulai kenal TRM (Tabungan Rencana Mandiri). Ah, itu kaya nabung di celengan sih, kalau pingin bunga bank mah gak pake TRM :p Cuma prinsip saya, daripada gak nabung? Mendingan uangnya "disembunyiin" di TRM aja. 

Saya tipikal royal, suka membelikan barang atau mentraktir untuk orang lain. Sering kali THR atau uang tabungan saya terkuras untuk kasih sayang ke orang-orang terdekat. Gak salah memang, tapi kadang-kadang saya gak berhitung. Jadi, udah nabung, ada label-nya tuh tabungan, eh kepake. Karena buat saya, bikin orang lain happy itu anugerah. Saya sentimentil, kadang malah suka terlalu memaksakan diri untuk membuat orang lain bahagia, gak baik juga, kan? TRM dan menabung di rekening terpisah, tuh cukup membantulah. 

Saya masih konservatif soal menabung. Saya cuma tau produk perbankan tuh tabungan, deposito, jenis-jenis TRM gitu. Walaupun dari kecil Ibu saya mulai kenalin tentang investasi...Mbuh, saya gak ngerti :D Mumet, lah. Sistem amplop aja, wis :)) Sampai pada tahun 2011, saya mulai dikenalkan tentang financial planning. Buku pertama yang saya baca adalah bukunya Ligwina Hananto yang berjudul Untuk Indonesia yang Kuat. Dari situ saya bercermin, udah usia sekian dan saya belum punya bekal untuk hari tua. Kalau sakit, bayarnya gimana? Kalau kerjanya gak di tempat yang bisa ngasih uang pensiun, kalau nanti tua dan gak bisa kerja lagi, saya makan apa? Banyaklah pertanyaan saya dan ketakutan akan masa depan. Iya, sih, Tuhan akan selalu kasih jalan bagi makhluknya yang berusaha. Belajar tentang mengatur keuangan ini dan melakukan pengaturan keuangan ini adalah salah satu caranya, menurut saya. 

Dari membaca buku itu, mulailah saya lebih cermat membagikan uang ke dalam pos-pos yang lebih solid; kebutuhan bulanan, tabungan & investasi, asuransi. Semua dimulai dari angka yang kecil. Mungkin menurut orang lain "ah, receeeeh", tapi buat saya mah mendingan mulai dari receh daripada gak mulai sama sekali, kan? :) Ternyata, sekecil apapun pendapatan kita, sebetulnya pos-pos itu selalu bisa terisi. Karena menabung itu gak mesti sejuta sebulan. Asaaaaal...disiplin dan sadar pentingnya mengatur keuangan. Investasi itu gak perlu lima juta sebulan. Dari receh ajah..Nah, makanya kemudian saya kepikiran untuk memulai #thepowerofRM5 ini. Dari receh, ajah ;)

Foto dari sini
Saya baru kepikiran untuk mengikuti jejak the-poer-of itu semalam. Ceritanya saya habis beli makanan, lalu dapet kembalian yang ada RM 5-nya. Sudah lama saya gak pernah dapet RM 5 di tangan. Biasanya recehan RM 1 atau uang puluhan. Belum kepikiran mau dilabeli apa nih pos the-power-of ini, yang penting mulai dulu. Label bisa kemudian, kan?

Yuk, bang bing bung kita nabung!

You Might Also Like

0 komentar