What do you think?

By 9:38:00 AM

Beberapa hari lalu ada seorang teman yang nanya tentang "gaya hidup" yang saya jalanin belakangan ini. Dia ngeh kalau saya sering bawa bekal ke kampus dan mayoritas isi kotak yang dibawa itu adalah sayuran. Sekali atau dua kali adalah dikomentarin "makan timun aja?" Padahal dese belum ngintip isi kotak seluruhnya. Anyway.

Nah, si temen ini curhat lah, cerita bahwa dia udah kegemukan. Iya, kelihatan banget dari kancing baju yang hampir lepas dan celana yang jadi ketat banget. Diawali dengan dia tanya bagaimana pola makan saya. Saya ceritalah tentang Ritme Sirkadian. Gak ribet, saya cuma menyampaikan bahwa saya makan berdasarkan cara kerja tubuh. Terus si temen ini cerita tentang pola makannya. Gini: Pagi hari dia minum minuman nutrisi *konon*, terus jam 10 dia akan makan biskuit oat tiga keping, siangan makan ngurangin nasi tapi menu lengkap sayur dan protein hewani, sore makan buah biasanya, malam dia makan kurangi porsi dan kalori. Dari situ aja "kepercayaan" kami berdua sudah beda.

Kemudian si temen nanya apa isi kotak makan siang saya hari itu. Saya tunjukinlah. Kebetulan saya lagi males masak, jadi hanya bawa roti gandum (iye, gluten, hiks), thousand island salad dressing secuprit dan sayuran satu kotak gede. Lagi pingin makan sandwich karena beberapa hari sebelumnya saya sempat beli Subway and I liked it. Dia tanya "makan itu saja?" saya jawab "iya". Dia bingung kenapa saya gak bawa ayam dimasak apalah atau protein hewani lainnya. Saya jawab "I separate carbs from animal protein". Terus dia bilang "you are vegetarian?" dan saya pun langsung jawab cepat "nope". Dia meneruskan analisisnya terhadap pola makan saya, "so, you never eat rice. when the last time you eat rice?". Saya jawab "I take rice, almost all the time. I only separate the animal protein intake with carbs." Dia paham "when you eat carbs, you don't take any protein?" dan saya jawab "yes, but I can eat tempeh or tofu as the substitution or any other peas or mushroom for protein intake".  

Foto dari sini
Kemudian dia tanya, kalau saya pergi ke Nando's, apa yang akan saya makan. Saya jawab "I will take 1/4 of chicken and grilled veggies", ditanya lagi "so you won't take fries?", saya jawab "no, because I take animal protein". Dia mulai ngeh. Tapi dia bingung lagi, karena saya sempat bilang suka Subway dan kemudian saya bilang memisahkan karbohidrat dari protein hewani. "How can you eat Subway, then? you eat bread and veggies and chicken inside" dan saya jawab "I didn't take any  meat or chicken for my Subway, veggies only" dan dia pun manggut-manggut. Kemudian dia tanya lagi "when you eat ayam penyet, what will you order?" saya jawab "ayam, tofu and tempeh with extra veggies". Dia manggut-manggut lagi, dan tetep nanya "no rice? half portion of rice?" saya jawab "no, because..." kemudian dia teruskan "no rice with ayam, right?" dan saya senyum. Baru dia tanya alasannya kenapa gak boleh gabungkan karbohidrat dengan protein hewani. Saya jelaskan aja sederhana bahwa enzim untuk mengolah kedua jenis itu berbeda, kalau satu enzim diproduksi, enzim yang lain akan berhenti diproduksi, jadi makanan gak terolah dengan baik.

Kemudian si temen memberi contoh menu McD-nya. Dia biasa GCB, Grilled chicken burger. Dia biasanya minta gak pake saus atau mayo, hanya sayuran saja. Menurutnya menu itu lebih sehat berbanding burger lainnya atau Big Mac. Dia tanya apakah menu itu udah sehat. Saya jawab tidak. Terus dia bilang "not from your perspective, but about the healthy food, it is enough right?" saya jawab "I cannot say yes or no because our frame of reference about being healthy is different" tapi si temen keukeuh seperti ingin di-iya-kan bahwa makanan dia sehat. Susah sih, ya. Karena dasarnya adalah pemahaman tentang suatu hal, kalau pemahamannya aja beda, cara pandang kita juga beda, kan? Saya bilang "fast food is fast food, nothing is considered healthy from fast food" dan dia jawab "but they use chicken not the processed one" dan saya keukeuh kalau itu gak sehat dari segi makanan dan kombinasi. 

Terus dia tanya soal keju dan susu. Apakah saya masih konsumsi. Saya jawab tidak, sebagai makanan dan minuman harian. Tapi dalam waktu cheating ada saya konsumsi. Dia bilang "you have to drink milk, you need the calcium, osteoporosis" dan saya bilang bahwa itu susu keluarnya dari pabrik, gak tau isinya apa, tubuh saya juga gak akan bisa memproses. Alih-alih dapet kalsium, malah osteoblast saya lepas semua yang ada, malah osteoporosis, kan. Dia bilang "it's not a fresh one, kan? factory punya product.

Saya akhiri dengan, saya patokannya bagaimana tubuh bekerja. Jadi, makanan yang (dianggap) sesehat apapun, kalau sudah melalui proses masak, apalagi memang makanan prosesan pabrik, dan cara makannya salah, ya tetep gak sehat. Sementara teman saya masih merujuk pada kalori dan mitos-mitos makanan A, B dan C itu sehat, terlepas dari bagaimana cara makannya. Obrolannya jadi gak nyambung terus kalau tujuannya menyamakan persepsi.

Gitu, deh. 

Sekarang sih saya udah gak rewel sama cara orang mau hidup sehat dan nurunin berat badan. Mau ribet ngitung kalori, mau beli makanan jadi atau masak sendiri, mau campur semua makanan sehat jadi satu. Terserah, sih. Tapi kalau ngajak diskusi, apalagi rujukannya pola makan saya, ya gak nyambung. Saya juga gak mau maksain paham saya ke paham orang lain, bikin ribet. Jadi pola makanmu adalah caramu, dan pola makanku adalah caraku. Masing-masing aja :) 

Semoga tetep sehat. 




You Might Also Like

2 komentar

  1. Bener juga sih hehehe, jadi kapan kita makan-makan? *loh* :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. wahahaha...udah lama yak gak kopdar. kita agendakan, Om. Sekalian nyerahin kartupos :)))

      Delete