Mengapa mengeluh?

By 11:03:00 AM

Foto dari sini

Ada satu masa di mana saya muak teramat sangat karena di sekeliling saya selalu mengeluh. Setiap hari. Dari pagi. Seperti tidak ada yang bisa disyukuri hari itu. Seperti tidak ada yang bagus dari apapun yang dilihat dan dialaminya. Kemudian, karena saya muak, saya mulai banyak cerita ke pasangan tentang ini dan itu yang dikeluhkan oleh orang-orang di sekitar saya. Tanpa sadar, saya juga sudah menjadi pengeluh. Oh!

Kalau sedang ngobrol, entah kenapa sering kali saya berpandangan berseberangan dengan mereka. Lebih positif, kalau boleh saya bilang begitu. Sampai pernah mereka berkata "ah, ngobrol sama Beby mah positif terus, gak seru." Saya lalu berpikir, apa yang seru dari mengeluh? Mengeluhkan apapun, bahkan sejak bangun tidur. Mumet, gak?

Terburuknya, saking saya muak, saya gak sadar juga sudah mulai "tercemar" dengan kebiasaan mengeluh itu. Saya mulai keluhkan hal-hal yang gak perlu. Ini salah, itu salah, ini beda, itu gak betul dan lain sebagainya. Hujan di-aduh-kan, panas  pun sama saja. Jadi apa yang benar dari hidup?

Bis datang terlambat, tidak pun sampai 15 menit, sudah mengeluhkan supirnyalah, perusahaan pengangkutanlah, pemerintahlah, negaralah. Satu-satunya yang gak salah adalah dirinya. Iya, cuma orang yang mengeluh itu yang tidak pernah salah, karena semua di sekitarnya salah, tidak benar, tidak tepat, tidak pantas. 

Kadang ada teman yang ketika hanya ngobrol berdua dengan saya, dia bisa memberikan repson-respon positif terhadap sekitarnya. Tapi ketika ngumpul sama pengeluh lainnya, dia akan ada di garis paling depan bersuara. Capek, ya? Asap hitam di mana-mana. Akhirnya, saya memutuskan untuk menghindari orang-orang yang sedang mengeluarkan asap hitam. Saya tinggalkan seketika, atau saya fokus pada hal lain sehingga tidak perlu mendengar ocehan mereka, atau saya memilih untuk benar-benar tidak berinteraksi lagi dengan mereka.  Sederhana, saya tidak mau menghisap asap hitam itu, saya tidak perlu. 

Saya juga sering mengeluh, tapi apa iya harus tercemar lagi dengan keluhan-keluhan orang lain sehingga menjadi orang yang negatif, sampai lupa ada hal positif di antaranya? 

Iya, sih..kadang kita hanya perlu mendengarkan, tapi kalau yang didengarkan adalah keluhan-keluhan yang tidak ada habisnya, kapan bisa jadi lebih bijaksana menghadapi sekitar yang gak selalu sesempurna harapan, ya? 

Dan, tulisan ini juga isinya tentang keluhan saya mengenai orang-orang di sekitar yang suka mengeluh. Mbulet. Haha. Pengingat saja buat saya pribadi, belajar untuk berpikir lebih positif itu tidak rugi, malah perlu dilatih demi kesehatan jasmani dan rohani. Ketika mengeluh, kesal dan marah, badan jadi asam...Kalau badan selalu asam, bisa-bisa jadi sakit-sakitan, deh. Duh, ah! 

Hayuk, kita belajar melihat sesuatu dengan lebih arif. Jangan lihat sisi jeleknya dulu, masih ada sisi baik yang bisa dikomentari, tho?  

You Might Also Like

0 komentar