Enggan

By 4:00:00 PM

Foto dari sini

Tujuh tahun menapaki jenjang pendidikan terakhir saya telah membawa saya ke pola kehidupan yang baru. Banyak hal yang saya lalui. Banyak orang yang datang dan pergi. Ada yang kembali, pun tidak pernah wujud lagi. Tujuh kali sekian ratus hari dengan emosi naik dan turun, harapan ada dan tiada, membawa saya pada pengalaman dibutuhkan dan ditinggalkan. Entah diabaikan. Dari setiap detiknya, cuma saya yang tahu bagaimana sepinya kesepian dan bagaimana sakitnya sendirian. Semua hanya akan bilang "lo bisa, kok" atau "ah, lo terlalu sensitif" tanpa paham apa yang saya bisa dan apa wujud kesensitifan saya. Bayangkan bagaimana sakit kebingungan menyeberang dengan penuh kerikil tajam di depan dan jarak pandang yang tidak karuan. Tidak tahu harus kemana berpegang. Sementara orang di ujung jalan saya hanya bisa berteriak "ayo..ayo..ayo" tanpa sungguh-sunggu melihat ke arah saya. 

Ada kala orang datang berbondong-bondong dengan gundukan masalah seolah saya ini tempat pembuangan sampah akhir yang setelah dikosongkan keranjang warna-warninya, mereka bisa meninggalkan begitu saja tempat itu karena bau. Saya ingat beberapa nama (saja) yang datang dengan uraian air mata dan lupa kembali ketika senyumnya sudah menyeringai bahagia. Semua orang sibuk menentukan ingin berbelok ke mana, saya maklumi kebingungan dan kegembiraan mereka menemukan atmosfir dengan warna baru di depannya. Tapi tentu saja mereka tidak lupa untuk membuang sampah-sampah hitam yang mengganjal di hatinya kepada saya. Lagi. Iya, tempat pembuangan terakhirnya. 

Sekitar yang sepi penuh kerikil menyesatkan membuat saya jalan perlahan dengan perisai diri yang tidak bisa dilihat oleh orang lain. Kalau ada yang memaksa mengintip, saya akan berusaha bersembunyi. Tidak nyaman rasanya terlihat secara telanjang penuh kebingungan. Malas saja. Karena toh kalau pun saya berkisah, respon mereka tidak jauh dari kata 'sabar'. Karena mereka semua di jagad raya (merasa) tahu bahwa saya akan mampu melewati semak belukar penuh duri-duri yang bisa menghujam kapan saja. Saya mulai menyimpan rapat-rapat banyak hal, karena toh ketika mulai membuka kancing baju, tidak ada yang benar-benar mau melihat apa isi di balik kain yang mulai compang-camping termakan waktu itu. Karena mereka terlalu sibuk dengan warna-warni atmosfir yang ingin dijelajahi. Saya bisa pahami. Manusiawi.

Daftar penduduk di hati saya semakin menyusut. Saya pun semakin banyak menyimpan arsip-arsip kisah kehidupan di laci paling bawah di kamar belakang sehingga tidak mudah terjamah. Jadi, jangan bertanya kenapa dan kenapa dan kenapa karena ketika kamu bertanya kapan dan kapan dan kapan, tidak ada solusi atas pertanyaan itu. 

Saya hargai bahwa setiap orang punya pilihan rasa sesuai selera masing-masing tanpa mau berbagi. Begitu pula dengan saya. Jadi, ketika kalian bisa menyimpan bahagia sendirian, kenapa saya dituntut untuk membuka kotak kebahagian saya? Biarkan saya menikmatinya sendiri, mengunyahnya perlahan dan meresapi setiap ujung rasa di panca indera. Yang jelas, saya tidak memperlakukan kalian sebagai tempat pembuangan akhir. Tapi saya juga enggan untuk terbuka karena ternyata tidak banyak dari kalian yang mampu merasakan kabar bahagia :)

Selamat bersenang-senang dengan piring kebahagian masing-masing, ya. 

You Might Also Like

0 komentar