Tentang berdamai

By 7:26:00 PM


'Berdamailah dengan hati', kata-kata itu pertama kali saya dengar entah ratusan tahun lalu ketika saya berada di titik terendah. Sulit untuk bisa paham kata-kata itu. Setidaknya bagi saya. Bahkan sampai sekarang, saya masih berjuang untuk memahaminya.

Belakangan ini, saya kembali dihadapkan dengan 'berdamailah dengan hati' scene. Bisa ditebak, saya yang keras kepala susah payah kembali bergulat tidak hanya dengan kepala, tetapi juga dengan hati. Dua cara menentukan jalan ke mana yang berbeda antara berpikir dan merasa.

Kadang merasa disudutkan dengan 'berdamailah dengan hati'. Kadang merasa disiram penyegar jiwa. Kadang berpikir bahwa 'hey, kamu egois'. Kadang berpikir bahwa 'kapan lagi saya memikirkan diri sendiri'.

Ingin bisa mengolah kerusuhan di depan mata dengan memadukan hati dan pikiran dalam satu hasil tenunan cantik nan nyaman dikenakan oleh siapa saja. Tapi, toh menyenangkan hati semua orang itu tidak selalu bisa dilakukan, bukan?

Kadang ingin tutup mata dan telinga saja, masa bodoh dengan perasaan orang lain. Tetapi ketika pintu tega saya tutup, kemudian sang rasa bertanya 'apa iya, kamu bisa?'. Nyata-nyata sesakit-sakitnya tusukan di dada akibat sang bambu runcing, pada akhirnya saya menyerah untuk rela disiksa. Pasti logika sudah mengutuk kebodohan empati yang diasah terlalu tajam sehingga mengalahkan isi kepala.

Saya lunglai. Tak berdaya.
Sudah terbaca akhir kisahnya. Saya menyerah.
Atas nama 'demi kebahagiaan bersama'.
Padahal saya terluka.


You Might Also Like

0 komentar