Rumah Bag. 1

By 6:05:00 PM


Sebagai anak perempuan, pernah suatu ketika memimpikan ada seorang laki-laki yang jatuh cinta pada saya dan menjanjikan sebuah istana sederhana namun penuh bahagia di dalamnya. Sang pria dengan hati nya berlutut dan mengajak saya membangun istana itu sama-sama dengan menyodorkan bebatuan mengkilat penuh harga untuk dilingkarkan di jari manis. Semakin dewasa, kalau tidak mau dikatakan tua, mimpi-mimpi lucu bak Cinderella itu mulai bergeser kisahnya. Sampai pada suatu ketika, seorang laki-laki duduk di hadapan mengajukan niatnya untuk sama-sama mencari tempat untuk membangun istana itu. Rumah, kata kuncinya

Tiga tahun berlalu, fondasi pelan-pelan terus dibangunnya, pun oleh saya, setiap hari. Kepercayaan, bahan bakunya. Pada satu titik di mana fondasi itu mulai siap untuk terus ditanami dinding, si pria bertanya bahan baku apa yang saya inginkan untuk kami sama-sama terus membangun rumah itu hingga atapnya. Batu berkilau itu sudah lama tidak ada di benak saya. Dengan hati-hati saya bertanya "Tafsir Al Mishbah, boleh?", dengan yakin ia mengangguk dan kemudian memenuhinya sebulan  yang lalu. 

Saya menerima bahan baku untuk membangun rumah impian saya, rumah impian kami. Semoga bisa berdiri kokoh dengan rahmat Illahi dan dikaruniai kebahagiaan berlimpah sehingga rumah itu kelak nyaman untuk ditempati. Ini tugas besar, untuk sama-sama memanfaatkan bahan yang sudah tersedia untuk menjadi dinding, jendela, pintu dan atap yang melindungi kami. Semoga selalu dalam ridha Allah. Semoga ketidak sempurnaan kita selalu disempurnakan dalam niat baik berdua. 

Bismillah, semoga dilancarkan dan dimudahkan.

You Might Also Like

0 komentar