Hidup 'single' itu gak mikir

By 10:14:00 AM

Foto diambil dari sini
Beberapa waktu lalu saya bertemu teman lama. Tidak lama-lama. Dalam pertemuan yang sebentar itu, si teman menanyakan apa yang harus dipersiapkan kalau mau  melanjutkan sekolah ke jenjang S3. Kira-kira begini jawaban saya:

S3 itu bukan sekolah yang bisa terukur kapan selesai, walaupun bisa direncanakan dan ditargetkan. Tentang kemampuan akademik, saya sih yakin semua orang akan mampu mengatasinya. Tapi ada faktor X, Y dan Z yang tidak bisa ditebak dan kadang kala itu dominan menjadi cobaan dalam perjalanan sekolah. 

Kemudian si teman menjawab "Ya, kaya biaya dan keluarga gitu, ya. Suami, anak. Tapi kan kamu single, emangnya mikirin apa, kok bisa lama gitu?".

Pertanyaan serupa tidak jarang saya dengar. Dari orang yang kenal saya dan orang-orang yang tidak kenal dengan saya. Memangnya single punya masalah apa? mikirin siapa? mikirin apa? 

Saya beneran gak ngerti, bagaimana mungkin beban hidup itu hanya dianggap sebagai beban mereka yang punya pasangan dan anak saja? Sebagai orang yang tidak bersuami dan tidak punya anak, apakah kemudian tidak punya beban hidup? 

Iya, alhamdulillah saya punya orangtua yang masih diberi kecukupan materi oleh Allah, bisa membantu anaknya yang buntu ketika kehilangan pekerjaan dan tidak tahu harus bagaimana memenuhi biaya kuliah. Tapi, di luar urusan finansial, seorang yang single juga tentu punya hal-hal yang harus dipikirkan dan dihadapi. Psikologis? Social challenge? Mind blocking? Love matter? Health issue? Apa lagi? Banyak. Namanya orang hidup, cobaan ya ada saja. Iya, mungkin tidak punya tanggung jawab terhadap insan lain; pasangan dan anak. Tapi bukan berarti yang single tidak punya masalah dan beban. Namanya hidup, ada saja cobaannya. Perlu dipikirkan. 

Saya tidak habis pikir dengan beberapa orang yang meletakkan dirinya di kehidupan paling sulit dan mengecilkan perjuangan kehidupan orang lain. Cuma karena single. Setiap orang punya perjuangan hidup masing-masing. 

Saya salut dengan teman-teman yang sekolah ke luar negeri, punya suami dan beberapa anak, dan mereka tidak memandang saya sebagai "single tanpa masalah". Mereka tahu betapa saya jatuh bangun sekolah. Kami banyak berbagi duka yang kemudian mengajarkan banyak hal. Termasuk bahwa setiap perjalanan S3 itu berbeda-beda cobaannya dan tidak bisa disepelekan. 


You Might Also Like

0 komentar