Melawan Pesona Kopi

By 4:06:00 PM ,

Foto diambil dari Google Image

Saya tidak tahu kenapa pesona kopi sungguh susah dilawan. Bahkan melihat gambar kopi di dalam cangkir saja sering kali membawa langkah kaki saya menuju secangkir kopi nyata yang siap dinikmati oleh lidah. Padahal, jujur saja, saya bukan penikmat kopi yang bisa membedakan mana kopi enak dan biasa saja, mana arabica dan robusta, mana kopi yang kualitasnya juara atau biasa saja. Saya penikmat kopi...sachet, hahaha! 

Apakah kopi membuat saya terhindar dari rasa kantuk? Tidak. Sering kali setelah minum kopi, apalagi yang dalam kemasan kaleng atau kotak, saya malah mengantuk dan kemudian benar-benar tidur. Dulu, ya. Kopi pernah jadi teman setia ketika kerja hingga larut malam, bahkan sampai pagi lagi. Tapi itu dulu. Ketika sebungkus kopi dengan krimer dan gula baru saya kenal sedap rasanya. Tapi kemudian, kopi menjadi candu yang tidak bisa saya jelaskan kenapa. Oh, iya. Saya suka merasa pening kalau belum minum kopi. Kemudian kaki ini membawa saya ke tumpukan kopi di lemari atau ke toko serba ada dan membeli satu kotak atau satu kaleng kopi dengan aneka rasa. Kadang saya hanya perlu minum seteguk, lalu sudah, terbayar. Tapi sering kali saya memanjakan lidah, menghabiskan kopi-kopi itu walaupun rasa ingin sudah sirna dalam sekali teguk.

Tiap hari begitu. Begitu lagi. 

Sampai di satu titik saya merasa kecanduan. Kemudian saya berhenti. 

Hari-hari pertama melepaskan kopi itu rasanya seperti sedang putus cinta. Sakit kepala. Mual. Merindu. Mencari. Namun tidak boleh mencari. Dilarang merindu. Candu. Saya tahan hingga rasa yang membuat diri tidak nyaman itu hilang. Kemudian mulai saya bisa hidup normal. Tidak dihantui rasa mencari-cari. Bisa tidur lebih nyenyak tanpa banyak mengigau. Bruxism yang saya derita pun konon banyak berkurang.  

Tapi, jika sekali saja saya kembali lagi kepada cinta lama. Saya terperangkap. Kejadian serupa berulang lagi. Saya mencari. Saya merasa butuh. Saya merindu aroma yang penuh candu itu. 

Lucu. Benar-benar seperti patah hati, jatuh hati lagi, patah hati lagi. Begitu terus.

Sampai suatu hari, saya menemukan candu yang murah dan menyenangkan. Kopi buatan toko serba ada dengan harga murah namun cita rasanya tidak kalah dengan secangkir kopi di kedai waralaba. Enak. Bikin kangen. Manis. Meninggalkan kenangan di lidah. Candu. Membuat kembali lagi membeli keesokan harinya. 

Sampai hari kelima, saya menyerah. Tubuh saya tidak lagi berbisik, tapi berteriak. Ternyata kopi sungguhan yang biji-bijinya terlihat di bagian atas mesin itu tidak kuat saya cerna berlebihan. Alarm tubuh menjerit. Bibir saya kering. Kulit kering. Sariawan. Dan sakit kepala yang tak tertahan jika tidak mengulangi kenikmatan rasa kopi itu di hari esok. 

Saya putuskan berhenti (lagi). Kali ini, pengalaman lepas dari kopi yang paling berat. Serius. Hari pertama lepas dari kopi itu saya mengalami sakit kepala yang cukup mengganggu. Bahkan hari itu saya sampai muntah akibat rasa pening dan mual. Seperti pengalaman proses melepas kopi sebelum-sebelumnya, saya mudah mengantuk. Biasanya pukul 19 saya sudah mulai merasakan kantuk yang tidak tertahan. Kali ini, rasa itu saya alami tidak hanya malam hari, tapi juga pagi hari sekitar pukul 10 atau 11, dan ini berlangsung selama 5 hari. Iya, saya banyak tidur dan badan lemas sekali. Hari ke-6 mulai saya merasakan badan lebih segar ketika bangun tidur. Saya juga sudah tidak lagi mengantuk di pagi hari. Kantuk malam juga mulai bergeser ke pukul 20-an. Kualitas tidur sangat baik. 

Sampai hari ini sih saya masih agak ketakutan mengingat sakit kepala hebat di hari pertama melepas kopi itu. Sampai-sampai, kalau melihat kopi saya beberapa kali memalingkan muka haha. Lebay. Semoga aja pengalaman melawan pesona kopi kali ini benar-benar memutus keinginan saya untuk kembali minum kopi sebagai konsumsi harian. Padahal, kalau mau dibilang kecanduan, harusnya saya lebih kecanduan dengan teh. Sejak kecil, air yang disajikan di rumah saya adalah air teh tawar. Jadi, minum teh itu ya sudah jadi kebiasaan. Tapi melepas minum teh itu jauuuuh lebih mudah daripada melepas kebiasaan minum kopi. Kenapa, ya?

Iya, sih..ada yang bilang, asalkan tidak berlebihan, kan tidak apa-apa mengkonsumsi teh dan kopi. Tapi, saya mulai paham tubuh ini. Saya mulai sering bisa mendengar alarm-nya berbunyi. Jadi ukuran banyak atau sedikitnya kopi, tetap saya hindari apabila itu sudah menjadi rutin; misal harian, dua hari sekali, tiga hari sekali. Saya lebih suka menjadikannya minuman rekreasional yang sama seperti jadwal rekreasi saya; jarang. 

Jadi, ya begitulah. Perjalanan saya cinta dan keputusan menjauhkan diri dari pesona kopi. Semoga tetap sehat. Aamiin. 

You Might Also Like

0 komentar