Menjadi seorang introvert

By 10:02:00 AM

Foto dari Google Image
Jarang ada teman yang percaya kalau saya ini introvert. Orang yang pertama kali ketemu akan mengira saya extrovert karena bisa banyak berbicara dan (katanya) peramah. Tapi di lain kesempatan, saya dikira judes tak terkira karena cenderung diam tidak bersuara. Tidak banyak teman, atau orang, yang bisa menangkap atau mengerti bahwa saya ini introvert. Bahkan teman dekat dan keluarga saya sendiri. 

Tidak jarang saya ditodong untuk mengemukakan pendapat di dalam forum dan saya kelabakan mengeluarkan apa yang ada di dalam pikiran. Kemudian dianggap pemalu dan tidak bisa berpikir hanya karena waktu itu saya tidak bisa menyampaikan apa yang saya pikirkan. Di lain waktu, saya bisa jadi penceramah hebat tentang A, B atau C dengan satu orang teman yang bisa membuat saya nyaman untuk berbicara.
Foto dari Google Image
Ketika saya diam atau tidak aktif dalam berinteraksi, banyak alasannya. Tidak melulu tentang tidak nyaman atau kesal. Ada kalanya energi saya habis terserap orang-orang di sekitar yang sangat aktif. Bisa juga karena terlalu banyak orang, sehingga saya tidak bisa mengemukakan pendapat apa-apa. Tapi bukan berarti saya tidak peduli. Bahkan sering kali saya terlalu detil memperhatikan orang-orang di sekitar sampai kelelahan. Saya jaraaang bisa menunjukkan rasa sayang dan kangen atau cinta saya kepada orang-orang di sekitar. Cara saya menunjukkannya biasanya dengan membuatkan makanan, menyiapkan bekal dan perlengkapan yang dibutuhkan, ingat hari ulang tahun bahkan setelah bertahun-tahun tidak bertemu, kirim text untuk menanyakan apa kabar di waktu-waktu yang tidak disangka-sangka. 

Tidak jarang juga saya dianggap tidak peduli karena jarang menelepon atau melakukan video calling. Saya tidak nyaman melakukannya, saya gugup tidak tahu harus bercerita apa dan bersikap bagaimana. Jadi, kurangnya aktivitas menelepon dan video calling itu bukan karena saya tidak peduli. Tapi karena saya tidak bisa. Pernah saya mencoba, lebih dari dua minggu juga berlangsungnya. Saya setiap hari menelepon. Normatif saja. Tapi jadinya aneh. Bahkan dengan pacar sendiri pun, kalau bertelepon banyakan diam daripada berbicara. Mungkin nyamannya begitu. 
Foto dari Google Image
Ada kalanya saya hanya tidak mau berbicara dengan siapa pun. Ketika ada yang menelepon, saya biarkan telepon itu berbunyi hingga mati, karena saya yakin nanti orang itu akan kirim text kepada saya. Kalau memang sangat penting, dia pasti akan menyampaikan bahwa ada hal urgent dan sangat penting, tidak bisa melalui text. Kemudian saya akan siap untuk menerima panggilan itu. Other than that, if you can text, just text since I have no energy to talk with you. I don't hate you or ignore you, I just cannot talk to people at the moment. 

Saya suka ketemu orang. Bahkan biasanya saya yang mengusulkan untuk bertemu dan berkumpul bersama-sama. Walaupun saya tahu, setengah pertemuan itu saya akan sangat letih menyerap energi-energi orang di sekitar. Walau bahagia, saya tidak bisa membohongi diri saya bahwa durasi sekian jam itu terlalu lama untuk berkumpul dengan ramai orang. Bahkan beberapa waktu lalu ada business trip selama 7 hari, saya kelelahan di hari ke-4. Saya sekamar dengan 2 kolega lainnya, pergi ke seminar yang sama, pergi makan sama-sama dan satu hari penuh kegiatan dilakukan bersama selama 7 hari. What I was thinking is laying on my bed and watch an old movie in my own room without anyone else there. Terlalu sering dan terlalu lama berinteraksi dengan banyak orang itu melelahkan. Belum lagi kalau energi negatif yang beterbangan :(

Foto dari Google Image
Believe me, I can live alone in my home without talking (to people). I once stayed in 5th floor apartment, I mostly just stay home during off time. I experienced the whole week not texting, not calling, not talking. I was just spending my time alone, peacefully. Watching old movies which I have watched for hundred of times. Cooked and ate anything I have in the fridge. And it was a OK.  
Foto dari Google Image
Dan tidak apa-apa kalau tidak semua orang paham apa yang saya rasakan ini. Tapi juga sama halnya bukan masalah menjadi orang yang seperti saya. 

You Might Also Like

0 komentar