Sahur: FC, yay or nay?

By 9:24:00 AM

dari Instagram @bebydebear

Ini tahun kesekian saya berpuasa dengan pola Food Combining. Jujur, semakin ke sini komitmen saya semakin menurun terhadap pola makan yang sebetulnya sudah terpatri di benak saya sebagai pola makan yang tepat, setidaknya bagi kesehatan saya sendiri. Tahun ini saya sudah minum obat batuk karena sebelumnya makanan saya kacau parah dengan pembelaan "mumpung lagi mudik". Tapi karena saya sampai tidak bisa tidur nyenyak akibat si batuk, jadilah minum obat. Obat pertama yang saya minum di 2017. Baagi saya, ketika sudah sampai tahap minum obat, artinya saya betul-betul tidak komitmen menjaga kesehatan tubuh. Tahun lalu, saya sekali minum obat flu waktu sedang liburan ke Hong Kong dan lagi-lagi saya makan segala jenis makanan, sementara sebelumnya saya kurang tidur akibat kejar setoran kerjaan, dan si flu ini pun menang. Ish. Tapi, sejak FC, saya sudah tidak pernah lagi tuh minum obat secara rutin; terutama obat maag. Dulu kala, tiap hari saya minum obat maag, dan tiap bulan saya belanja obat-obatan. Di tahun 2015 kalau tidak salah, saya menemukan tas obat saya di lemari, di pojokan dan  rata-rata sudah expired!

Sejak mengenal FC, apapun asupan saya selalu saya analisis, entah itu makanan baik atau tidak. Ketika asupannya makanan baik, biasanya ketika makan saya berbicara kepada tubuh sendiri "semoga kamu sehat ya" dan saya tahu asupan itu adalah yang terbaik, minimal yang bisa saya berikan untuk tubuh. Tapi, ketika asupannya yang cuma enak sampai di lidah saja, biasanya rasa bersalah itu selalu ada, selalu. Tidak jarang dalam diam saya meminta maaf pada tubuh "sekali ini saja ya, saya sedang pingin", walaupun diulang lagi dan lagi. Iya, saya bandel. Tapi semua kenakalan biasanya dibayar kontan.

Bagaimana tidak, setiap kali saya melenceng dari pola makan sehat ini, saya kemudian akan dibayar dengan sakit/rasa tidak nyaman yang sepadan; minimal tidak bisa tidur nyenyak atau tidak lancar buang air. Kalau dulu buang air besar itu tidak rutin tiap pagi, selama masih bisa dilakukan tiap hari, saya anggap itu wajar. Sama seperti batuk dan flu di "musim"nya, saya anggap itu hal biasa, orang lain juga pada batuk-flu, kok. Tapi sejak saya memahami pola hidup Food Combining berikut cara kerja tubuh, saya tahu kenapa saya sakit. Sejak itu pula, saya tidak lagi menyalahkan hal lain, termasuk cuaca, melainkan menyalahkan diri sendiri yang alpa dalam memperlakukan tubuh dengan baik. 

Walaupun saya bandel, di kepala saya tetap menerapkan konsep hidup Food Combining. Minimal, jeleknya, saya "bayar hutang" setiap kali sudah menyiksa diri dengan mengkonsumsi makanan dan minuman yang sulit cerna dan berdampak buruk bagi tubuh saya; teh tarik, kopi susu, roti-rotian dan makanan minuman enak lainnya. Bagaimana saya bayar hutang? Biasanya saya akan minum jus sayur yang dibuat dengan 4-6 jenis sayuran, atau menambah asupan lalaban saya sebagai penebus segala kenikmatan lidah semata itu. Di pagi hari, sebisa mungkin saya selalu memulai sarapan dengan buah, walaupun kemudian saya ingin nakal dengan sarapan nasi lemak, misalnya.

Nah, bulan puasa kali ini bagaimana? Masih nakal? Dikiiiit hahaha. Tapi saya berusahaa banget untuk sahur eksklusif buah-buahan dan berbuka diawali dengan buah (potong atau dibuat smoothie) atau jus sayur. Minimal, aktivitas harian saya tidak terganggu dengan proses cerna yang berat dan ketika berbuka, perut tidak kaget tiba-tiba menerima asupan yang sulit/berat cerna.

Saya cerita dulu tentang manfaat sahur buah secara eksklusif, ya. Ini menurut pemahaman saya yang dangkal aja, sih. Mudah-mudahan tidak salah dalam menyampaikan, ya. 

Jadi, sepengetahuan saya, tubuh itu selalu perlu nutrisi baik. Selalu. Dengan begitu, kita harus selalu bisa memastikan asupan makanan kita ya kaya nutrisi, sesuai yang dibutuhkan tubuh. Dalam piring ada nasi, ayam atau ikan dengan aneka sayuran, baik? Iya, baik. Semua kebutuhan nutrisi ada. Tapi kemudian kita lupa, bahwa untuk menyerap nutrisi itu, tubuh harus mengolah makanan dan minuman yang kita asup, kan? Jadi, selain mencukupkan nutrisi untuk tubuh, pastikan juga sistem cerna bekerja tidak terlalu berat karena satu harian dalam bulan puasa kita hanya akan dapat asupan makanan di pagi hari di kala sahur dan baru kemudian dapat pasokan lagi saat berbuka. Selama jeda yang panjang itu, kita tidak mungkin diam saja, kan? Jadi, kebayang tidak, kalau tubuh kita sibuk mengalokasikan energinya untuk mengolah makanan sahur yang memberatkan sistem cerna, sementara seharian kita juga butuh energi untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan lain? Bisa tekor energi! Cepet lemas. 

Padahal, saat berpuasa itu adalah kesempatan baik banget buat tubuh "beristirahat" dan "memperbaiki diri". Konon, saat tubuh berpuasa terjadi perbaikan sel-sel tubuh dan detoksifikasi terjadi. Proses ini butuh asupan yang baik, sangat baik malahan. Dalam masa bersamaan juga butuh energi untuk proses itu. Jadi, kita si pemilik tubuh, sebisa mungkin memenuhi keperluan tubuh; penuhi nutrisinya dan ringankan kerja sistem cernanya. Makanan apa yang bisa memenuhi kedua hal tersebut dalam waktu bersamaan? Makanan hidup! Buah dan sayuran segar, jawabannya. 

Untuk pencernaan di pagi hari yang sedang bekerja keras setelah proses metabolisme dan dilanjut dengan proses pembuangan, buah adalah pilihan yang paling tepat. Karena buah lebih mudah dicerna, sementara kandungan nutrisinya cukup untuk kebutuhan tubuh, seratnya sudah tentu sangat diperlukan dan gula buah  baik sebagai sumber energi. Untuk memastikan asupan kita cukup untuk kebutuhan harian tubuh, pastikan konsumsi buah minimal 3 jenis dengan warna yang berbeda untuk memastikan keberagaman unsur di dalamnya. Makan sampai kenyang atau sesuai porsi tubuh masing-masing. 

Kalau buah tidak ada? Bisa diganti makanan tingkat kedua yaitu sayuran. Buat salad dengan aneka sayuran segar juga sangat baik untuk tubuh. Hanya saja, serat sayuran lebih kasar berbanding serat buah-buahan sehingga proses cernanya agak lebih berat, walaupun jauuuuuh lebih ringan berbanding makan makanan berat seperti nasi dan lauk-pauknya. 

Buah dan sayur sedang tidak ada? Bisa ganti dengan telur rebus. Masa cerna telur rebus sekitar 1,5 jam, tidak terlalu memberatkan sistem cerna dan kandungannya juga cukup untuk kebutuhan energi. Ingat, hanya direbus tanpa diberi apa-apa lagi, ya. 

Tapi, dari ketiga pilihan menu sahur (dan sarapan) di atas, buah adalah yang terbaik. Kembali lagi ke dua keperluan dasar tubuh; makanan bernutrisi dan sistem cerna yang ringan kerjanya. 

Dulu, waktu masih tinggal dengan keluarga, saya sahur lengkap menu karbohidraat + protein + sayuran dan kadang diakhiri dengan susu. Saya rasakan setiap puasa, badan saya mudah lemas. Bangun tidur capek, bau mulut tidak segar dan jam 2 siang sudah mulai nyeret-nyeret kaki saking lemasnya. 

Kemudian jadi anak kostan, males beli atau menyiapkan makanan sahur, kadang saya hanya minum susu atau bahkan minum air putih saja. Saya merasa bahwa kalau saya tidak makan banyak, kok badan jadi lebih enak. Walaupun kemudian biasanya ada saja sariawan atau batuk uhuk uhuk. Kenapa? Sepemikiran saya sih, sistem cerna saya ringan karena tidak ada asupan kompleks, tapi di lain sisi, nutrisi tidak terpenuhi. Jadi, pada akhirnya badan mudah sakit. Buka puasa? Kalap! 

Nah, ketika mulai belajar tentang sistem kerja tubuh, sitem Sirkadian, saya mulai paham kenapa saya mengalami ini dan itu. Pertama kali saya sahur buah, saya agak pesimis, tapi saya pastikan bahwa saya paham tujuan pola makan ini apa. Eh, saya jauh lebih segar sepanjang hari! Bahkan masih bisa yoga segala tuh selama puasa :D Tidak ada tuh nyeret-nyeret kaki sampai menjelang buka puasa. Paling ada rasa haus, lapar tidak terlalu mengganggu. Mulut beraroma segar. Bangun tidur tidak lemas. 

Jadi, gitu deh sedikit cerita tentang sahur eksklusif buah dari saya. Bahasa yang gampang aja, ya. Kalau mau mencoba, jangan lupa pastikan buah yang dimakan beraneka ragam, ya! Semoga selalu sehat..

Selamat puasa!

You Might Also Like

0 komentar