(Tidak) Pulang Kampung

By 4:50:00 PM

Foto diambil dari sini
Saya sudah tinggal di Malaysia sejak Agustus 2007. Sampai 2016 saya menetap di Semenanjung, di Bangi tepatnya. Penerbangan dari Kuala Lumpur International Airport ke Jakarta banyak setiap harinya, jadi kalau perlu pulang atau teringin pulang ke Indonesia, lebih mudah akesnya, harga tiket pun terjangkau. Pengalaman pulang kampung ini berbeda ketika saya pindah ke Kota Kinabalu. Sejak Januari 2017, penerbangan langsung Kota Kinabalu (BKI) - Jakarta (CGK) sudah tidak ada lagi. Dengan begitu, pulang kampung tidak lagi menjadi mudah, pun tidak lagi murah. Walaupun penerbangan langsung BKI - CGK tidak tersedia setiap hari, paling tidak dalam satu minggu itu adalah beberapa hari yang bisa dipilih untuk jadwal pulang kampung; penerbangan langsung, cepat dan harga terjangkau. Sejak Januari itu, mau atau tidak, harus transit dahulu di Kuala Lumpur atau Singapura sebelum terbang ke Jakarta. Selain waktu yang lebih panjang, biaya yang dibutuhkan untuk pulang kampung juga jadi dua kali lipat *nangis di pojokan*.

Dulu, waktu masih tinggal di Semenanjung, saya jarang pulang untuk merayakan Idul Adha. Biasanya karena sebelumnya sudah pulang lama untuk merayakan Idul Fitri dengan keluarga, selain itu juga karena memang tidak ada libur yang panjang pada perayaan Idul Adha. Tapi ada jugalah sesekali saya pulang. Nah, sekarang pengalamannya berbeda. Karena Mas Bromo belum bisa punya visa tanggungan, jadilah kami masih tinggal terpisah. Perayaan-perayaan atau kalau ada hari libur yang agak panjang ini bikin hati galau; ingin pulang, bisa atau tidak, ya? Seperti akhir bulan ini, tanggal 31 Agustus yang jatuh pada hari Kamis adalah hari kemerdekaan Malaysia, sementara 1 September yang jatuh pada hari Jumat adalah hari raya Idul Adha, nah! Kebayang dong bagaimana berbinarnya setiap generasi pekerja Senin-Jumat melihat tanggalan berwarna merah di hari Kamis dan Jumat? Tapi kemudian, selain kerjaan memang sedang menumpuk, tiket pulang di tanggal cantik itu pun selangit harganya. Barulah merasakan 'aku ingin pulang, tapi apa dayaku tidak mungkin mewujudkan', ini. Gitu deh, nasib perantau...

Inti dari postingan ini sebenernya cuma mau curhat menye-menye aja dikit :))
Lagi pingin pulang, kangen sama suami XD 

You Might Also Like

0 komentar