Dua Muka Dua

By 7:54:00 AM

Gambar dari sini 
Saya ini jagonya menghilang. Kalau ada orang yang memanfaatkan saya, menyebalkan, tidak menyenangkan, dan lain-lain hal yang tidak membuat nyaman, saya tidak segan-segan mencoret nama dia dari daftar teman atau kenalan saya. Iya, instead of facing them, I prefer to just let go of them. I don't want to waste my energy for that. Tapi...saya akhirnya menuai apa yang selalu saya lakukan. Ketika saya terjebak untuk menghadapi orang yang super menyebalkan, dan tidak ada jalan untuk kabur atau berbalik badan, saya jadi kecapekan sendiri. Tapi pun harus tetap maju ke depan melewati hari-hari. 

Saya terlalu naif mungkin. Daripada ribet bermuka dua, sok peduli, sok sibuk ini itu, sok bersahabat, kalau tidak suka ya sudah, tidak suka saja. Tidak perlu berurusan dengan orang yang memang selalu memberi kesan negatif dan menyusahkan hati. Tapi dalam konteks interaksi tertentu, ternyata saya terjebak dengan permainan be nice in being not nice

Begini. Saya belajar sesuatu ketika mendapati seseorang mampu "menerkam" orang lain di depan para penonton dengan cara yang sangat manis. Namun mematikan. Saya juga belajar sesuatu ketika "dilahap" di meja sidang tetapi dirangkul di luar konteks itu. Bagi saya, itu ja hat. Dan saya tidak tahu bagaiamana seseorang bisa melakukan itu.

Saya naif mungkin. Saya selalu berusaha menjalankan tugas saya dengan baik. Menegur dengan baik. Mengajar dengan baik. Saya elakkan penggunaan kata 'bodoh', 'pemalas', dan sejenisnya karena saya tau mereka-mereka yang sedang belajar itu sedang berproses. Kalau salah, beri tahu kalau memang salah, betulkan. In a good way

Bisakah begitu?

Tidak perlu berpura-pura membela atau peduli ketika sedang berdua tetapi "melumat" bulat-bulat ketika ada penonton bertebaran memerhatikan. It's just not right. Or not nice?

Well, iya mungkin. Saya naif. 

You Might Also Like

0 komentar