Melankolis

By 6:00:00 PM

Foto dari Google Image
Semakin tua, saya semakin sering mencari tau tentang personaliti diri sendiri. Semakin saya paham, semakin saya sebel dengan diri saya :)) Gak lah, becanda. Tapi, setiap kali saya mengalami ini itu dalam hidup, terutama yang kurang menyenangkan atau kurang menguntungkan, ini menjadi titik di mana saya kembali membuka catatan-catatan lama tentang bagaimana diri saya sebenarnya. Iya, saya tau, saya ini bukan orang yang menyenangkan. Sering disebut judes, ketus dan lain sebagainya. Tapi di sisi lain, orang-orang yang selalu enggan menemani hari-hari saya akan datang satu per satu di kala mereka butuh orang yang akan dengan rela mendengarkan cerita mereka berulang-ulang dan berhari-hari; iya, saya.

Banyak catatan saya tentang diri yang introvert dan melankolis ini. Saya penyendiri, suka bekerja sendiri, berpikir analitik dan mendalam, suka membuat rencana, suka rutin, tidak suka ada dalam keriuhan, tidak bisa menyampaikan pendapat dalam forum besar, tidak suka menjadi sorotan. Di sisi lain saya akan dengan mudah mengingat hal-hal yang sifatnya spesial seperti hari lahir dan momen-momen yang saya anggap penting. Banyak poin-poin tentang orang introvert dan melankolis yang nyata ada dalam diri saya. Semakin hari, semakin saya ketar ketir mengatasi diri sendiri karena kendala yang saya hadapi di depan mata semakin kompleks.

Pernah ada yang bertanya kepada saya “nanti kamu mau jadi pemimpin yang seperti apa?”. Tidak pun terbayang dalam diri saya akan jadi pemimpin. Apalagi memikirkan jadi pemimpin yang seperti apa. Yang saya tau, saya akan kerjakan semua pekerjaan yang diberikan kepada saya dengan baik. Sebaik yang saya bisa lakukan. Itu saja. Makanya, ketika ada di posisi di mana saya harus berhadapan dengan banyak orang dengan posisi tinggi, saya terkunci. Kepala saya beku, bibir saya kelu, badan saya entah apa rasanya. Saya paksakan diri menghadapi hari demi hari, tantangan demi tantangan.

Kebayang kan ketika saya terpaksa “memimpin” dan berada di antara para pemimpin dan mengeluarkan segala isi kepala yang disebut usulan dan gagasan? Mau pingsan aja rasanya. Tidak jarang saya berpikir untuk lari. Berhenti. Menghilang. Tapi saya bukan pengecut. Mungkin pemalu. Mungkin tidak percaya diri. Tapi saya bukan pengecut. Saya selesaikan apa yang saya mulai. Saya kerjakan kewajiban saya walau terseok.


Betapa si melankoli ini tersiksa dengan apa yang menghimpit hari-harinya. Tapi saya harus berdiri tegak. Raut muka mungkin tidak disembunyikan. Tapi saya tidak boleh patah semangat, apalagi hati. Saya harus berjalan terus sampai garis finish. 

You Might Also Like

0 komentar