2019

By 11:25:00 AM , ,

Picture is taken from here

Hallo!

Akhirnya nulis lagi. Di draft ada beberapa calon posting-an yang tersimpan rapi lebih dari setahun lamanya. Satu tulisan penuh tentang usia 35 pun tidak dipublikasikan. Masih saya simpan di draft. Okay, biarkan saja begitu adanya. Mari memulai hal baik di 2019! 

Beberapa waktu lalu sempat ngobrol dengan seorang teman, saya mengutarakan bahwa sudah sekitar 2 tahun ini hidup saya sibuk dengan pekerjaan. Saya sampai lupa mengurus diri sendiri. Saya sampai lupa untuk punya pencapaian. Selain pekerjaan, tentunya. 

Tahun-tahun sebelumnya tujuan saya adalah menyelesaikan studi S3. Setiap awal tahun punya harapan bahwa studi saya akan selesai. Sampai akhirnya benar-benar selesai di awal tahun 2016 dan secara resmi lulus pada bulan Juni 2016. 

Pada saat menyelesaikan studi, saya pun sempat kehilangan motivasi. Melakukan hal yang sama setiap hari selama beberapa tahun membuat kreativitas saya buntu. Sampai satu titik saya menemukan pola hidup Food Combining dan Yoga yang membawa saya pada satu tujuan hidup; sehat.

Sekolah selesai, kemudian saya dapat rejeki pekerjaan di Kota Kinabalu, alhamdulillah. Kemudian tenggelam dengan segala deadline setiap harinya. Banyak pekerjaan yang numpuk seperti pakaian belum disetrika *LOL. Sampai pada titik saya dipercaya untuk duduk di satu posisi yang membutuhkan komitmen tinggi, kedisiplinan, dan segala derivasinya untuk dapat menyelesaikan semua pekerjaan dan dalam waktu bersamaan memimpin pasukan kerja. Sangat melelahkan, terutama psikologis. 

Tepatnya sebulan lalu, saya tidak lagi menduduki posisi panas itu. Alhamdulillah. Tapi, walaupun ini adalah hal yang sangat saya inginkan, lepas dari jabatan itu, ternyata Post Power Syndrome juga mampir di diri saya. Tidak parah, tapi ada. Kebiasaan bangun tengah malam membuka e-mail, tidur tanpa berhenti berpikir, cuti dengan masih bekerja, selalu dipanggil untuk rapat ini dan itu, selalu harus "tampil" yang hilang dari hari-hari saya ternyata sempat membuat saya mengalami disorientasi seketika. Ada rasa sedih ketika rutinitas setahun ke belakang hilang. Ditambah saya tidak punya teman bercerita di sini (saya tinggal berjauhan dengan suami), jadi untuk bisa cerita bertatap muka atau sekedar duduk sama-sama untuk menikmati secangkir kopi usai kerja itu tidak ada. 

Kemudian saya bangkit dengan segenap tenaga dan rencana akademik saya. Cita-cita lama yang terkubur karena kesibukan mulai saya gali semula. Menata rencana di 2019 harus menghasilkan apa saja. Tapi kemudian ada yang hilang, diri saya. Saya kehilangan diri saya. 

Beberapa bulan terakhir sering kali saya merasa nyasar entah ke mana. Bukan saya yang biasa. Saya biarkan rumah tidak disapu, pakaian tidak disetrika, diam seharian di atas kasur menikmati video-video YouTube di kala libur akhir pekan. Samapai-sampai saya kesal sendiri. Karena saya tau, rumah rapi dan bersih itu adalah surga buat saya. Pulang kerja dengan rumah rapi dan tidak berdebu itu bikin hati nyaman. Tapi kemarin itu ada masanya saya sangat jauh dari diri saya yang begitu. Saya jarang masak, beli makan di luar, makan semaunya. Kemudian mudah sakit, mudah capek dan tidak bergairah melakukan ini dan itu. I was in a mess situation. 

Nah, kembali ke obrolan dengan teman, saya mengatakan "Kayanya udah beberapa waktu ke belakang ini saya gak pernah belajar hal baru, saya gak ada tambahan ilmu. Yuk, kita belajar sesuatu sama-sama, biar semangat. Sharing tiap hari." Sempat ingin kembali menekuni lagi ilmu kesehatan holistik, tapi saya ini sok tau. Mentang-mentang sudah sempat mendalami ilmu itu, mau ngulang lagi dari nol kok males :)) Walaupun dalam kepala saya masih ada konsep itu; percaya bahwa tubuh dapat menyembuhkan dirinya sendiri, maka perlakukanlah dengan baik, saya memilih pola hidup Food Combining untuk itu. Kemudian dari obrolan dengan teman itu, saya mulai cari-cari hal yang bisa mulai saya pelajari dan dalami, tapi tidak mengesampingkan apa yang sudah saya lakukan sebelumnya; menjalankan pola hidup Food Combining dan melakukan Yoga secara rutin. Sampailah saya pada postingan-postingan dan tulisan-tulisan tentang #minimalism dan mulai mempelajarinya. Beruntungnya, teman saya ternyata sudah lebih dulu baca-baca tentang #minimalism ini, jadi saya banyak belajar dari dia. 

"Minimalism is a tool that can assist you in finding freedom" kutipan ini saya ambil dari   https://www.theminimalists.com/minimalism/, bisa dirujuk di sana. Nah, ketika berbicara tentang minimalism, hal yang ada dalam pikiran saya adalah kesehatan, keuangan dan kenyamanan. 

Kesehatan:
Seperti saya sampaikan tadi bahwa di kepala saya masih melekat konsep Food Combining dan Yoga sebagai bentuk latihan harian yang sangat bermanfaat bagi kesehatan. Dengan menjaga diet dan mengolah tubuh secara rutin dan benar, tubuh lebih sehat dan psikologis juga lebih baik. Kenapa minimalis? Karena dengan menjadi mindful dalam menjalankan pola hidup sehat, sesuai yang saya paham, konsumsi makanan di luar konsep sehat akan jauh lebih berkurang. Ber-yoga pun bisa dilakukan di rumah saja. Ujungnya bukan hanya menyehatkan tubuh dan mental, tetapi juga keuangan. Nah, 2019 ini saya akan pelan-pelan kembali kepada pola hidup Food Combining dan melakukan Yoga secara rutin demi tujuan hidup lebih sehat dan bebas dari biaya rumah sakit/obat-obatan. 

Keuangan:
Lebih mindful memilah mana yang keinginan dan keperluan dapat membantu dalam menekan pengeluaran yang bocor tidak karuan. Ngopi-ngopi pulang kerja, walau cuma di kedai kopi, adalah salah satu bocor halus dalam kasus saya, selain camilan >.< Nah, ada lagi! Impulsive shopping. Err..Alasan stress dan lelah bekerja atau memanjakan diri setelah bekerja bagai quda sudah tidak boleh lagi dipakai untuk beli barang-barang yang tidak dibutuhkan; baju, sepatu, tas. STOP!

Dengan begitu, menentukan tujuan finansial sangat penting untuk memastikan pengaturan keuangan sudah benar sesuai keperluan. Tujuan utama saya tahun ini adalah memenuhi Dana Darurat dan lebih fokus dalam persiapan Dana Pensiun. Jadi, tahun ini akan dimulai dengan memperbaiki bocor-bocor halus pengeluaran bulanan supaya dananya bisa dialokasikan ke dua tujuan finansial ini. Impulsive shopping, bye!

Kenyamanan:
Berhubungan dengan impulsive shopping di atas, jadi saya mulai melakukan decluttering di rumah. Dimulai dengan lemari pakaian. Saya coba menerapkan Konmari Method. Dalam Konmari Method ini ada beberapa kategori untuk dirapikan; (1) pakaian, (2) buku, (3) kertas-kertas, (4) lain-lain, dan (5) barang-barang yang punya nilai sentimental. Dengan merapikan barang-barang tersebut, kita akan lebih mindful dalam memahami barang mana yang dibutuhkan dan mana yang tidak. Berawal dari situ, rumah akan berisi barang-barang yang memang akan kita pakai atau barang-barang yang memberikan kesenangan/kenyamanan. Ini butuh waktu untuk mewujudkannya. Makanya, ini adalah salah satu target yang ingin saya capai di 2019. 

Bagaimana proses saya menjalani ketiga hal di atas? Tidak tahu. Ya, tidak tahu. Hari ini adalah tanggal 8 Januari 2019, sejauh ini saya sudah memulai semuanya, pelan-pelan. Nanti, di tulisan berikutnya saya akan berbagi bagaimana proses saya menjadi lebih minimalis seiring dengan waktu. Saya juga ingin berkomitmen untuk nulis minimal satu postingan setiap bulannya untuk berbagi tentang proses belajar saya menuju pribadi yang lebih minimalis. 

Semoga istiqamah. Aamiin!
Cheeers!


You Might Also Like

0 komentar