Berapa jumlah lipstik yang kamu punya?

By 8:51:00 AM


Berapa jumlah lipstik yang kamu punya?
Coba melipir ke sini sebentar, Kak.

Bagi kaum hawa, lipstik itu kadang menjadi camilan yang menjebak. Kenapa menjebak? Terkadang kita, atau mungkin saya tepatnya :)), menemukan shade lipstik yang 'ih, kok lucu banget' atau 'aku belum punya warna ini' dan itu terjadi ratusan kali dengan berbagai merek dan varian harga dari yang sangat terjangkau sampai yang harganya cukup untuk makan dua minggu. 

Kalau mampir ke beberapa toko yang ada kosmetikya, ada aja keisengan yang membawa kaki ke arah etalase berisi lipstik dengan berbagai pilihan. Diambil satu, oles ke tangan, kadang ada juga yang langsung oles ke bibirnya, setelah lipstik itu dicoba oleh beratus bibir sebelumnya >.< Kemudian tulisan 'Diskon' atau 'Beli satu gratis satu' makin membuat tangan dan mata bekerja beriringan mencari dan mencoba lipstik demi lipstik yang terkadang shade-nya beda setengah jengkal dengan lipstik yang sudah ada di rumah dan di dalam tas. 

Gambar di posting-an ini adalah lipstik yang saya punya per hari ini. Sembilan lipstik mungkin jumlah yang sedikit dibanding beberapa teman saya yang hobi nyemil lipstik. Tapi mungkin juga terlalu banyak bagi mereka yang tidak terlalu pusing dengan warna baju dan kerudung harus sesuai dengan warna bibir. Mungkin mereka cenderung membeli lipstick dengan warna natural, mirip warna bibir. Jadi satu pengulas bibir saja akan cukup sampai si lipstik itu habis dan minta diganti. Sementara di kubu lain, bahkan sampai harus mencampur beberapa shades lipstik untuk mendapatkan warna yang sesuai mood hari itu. 

Nah, sebelum hari ini, sebelum bulan lalu atau dua bulan lalu mungkin, jumlah lipstick yang saya punya lebih dari ini. Bahkan ada yang hanya dipakai sekali sejak dibeli. Sejak mulai belajar tentang minimalism, saya belajar untuk lebih berkesadaran dalam melakukan sesuatu, termasuk keputusan membeli dan menggunakan sesuatu. Salah satunya tentang alat make up.

Beberpa kali sebelum mulai belajar tentang minimalism, saya sudah biasa melakukan penyortiran barang-barang di rumah; baju, sepatu, make up, dan bahkan hadiah pernikahan yang sudah dua tahun tidak pernah tersentuh sama sekali (tanpa mengurangi rasa hormat terhadap yang memberi). Nah, dari proses penyortiran itu, ada yang saya jual atau diberikan ke teman. Baik banget deh teman-teman yang mau menerima barang saya dan memakainya. Jadi lebih bermanfaat. Nah, ini juga yang saya lakukan dengan lipstik .

Saya lihat satu-satu setiap lipstick yang ada, dibuka, dan dicoba sembari bertanya kepada diri sendiri kamu suka warnanya? kapan terakhir kamu pakai lipstik ini? apakah akan dipakai lagi? apakah warna ini bisa diwakilkan lipstik yang lain? Sampai akhirnya saya putuskan lipstik ini tetap ada di meja rias saya dan yang itu harus dilungsurkan. Saatnya mencari orang yang mau menampung dan segera eksekusi niatnya, jangan sampai lipstik-lipstik itu kembali ke meja rias saya. 

Nah, setelah proses penyortiran dan perpisahan dengan lipstik-lipstik itu, sekarang proses yang menurut saya lebih berat; re-set mindset. Membeli barang dengan berkesadaran itu kadang mudah dan kadang sangat berat karena melibatkan emosi 'aku suka banget', misalnya. Tapi saya cukup bangga dengan diri ini, ada satu set lipstik yang buat saya sih harganya lumayan tapi shade-nya saya sukaaaa banget. Sejak pertama lihat lipstik itu, mungkin tiga atau empat bulan lalu, saya selalu mengalihkan pikiran dengan 'bulan depan aja, deh'.  Ketika mulai sering membaca tentang minimalism, ditambah lagi getol belajar financial planning lagi, saya berpikir secara berbeda, tidak mengalihkan tapi mencoba memutuskan dengan berkesadaran. Lipstik saya masih banyak, warna ini memang bagus dan mungkin lebih tahan lama, tapi lipstik yang di rumah juga warnanya mirip, habiskan dulu, nanti beli lipstik itu kalau memang sudah tidak punya lipstik lagi. 

Kadang harga lipstik yang menurut saya ada di kategori murah, makanya kaya cemilan >.<, dulu bisa aja beli sekaligus dua, dan minggu depannya ada shade lain kemudian beli lagi. Tapi apa yang terjadi? Kebanyakan hari-hari saya akan pakai lipstik yang itu lagi, itu lagi. Dan jumlah lipstik yang ada di rumah mulai tidak lucu lagi. Walaupun, lagi-lagi, tidak sebanyak kamu punya, mungkin. Nah, keputusan membeli karena warna lucu dan harga murah ini mulai saya olah lebih baik lagi sehingga berujung pada keputusan yang lebih berkesadaran. 

Beberapa hari lalu teman kantor bikin pengumuman bahwa W*tson sedang ada diskon sampai 50%. Para wanita di kantor saya bersorak riang dan heboh menyusun rencana untuk ke sana melihat 'camilan' yang bisa dibeli. Kepala saya langsung berproses, saya tidak perlu apa-apa, walaupun diskon, saya tidak perlu barang apa-apa. Tidak perlu ke sana. Nah, salah satu teman minta saya antar ke sana, mau  beli lipstik katanya. Pergilah kami. Sampai di sana, proses melihat, memilih, mencoba masih berlangsung. Tapi setiap kali mencoba, kepala saya kembali mengingat tiga lipstik di dalam tas dan enam lainnya yang tersimpan manis di rumah. Jadi tidak sampai ada pergolakan batin antara 'duh, lucunya, murah pula, beli gak ya?'.

Selain itu, kalau dihitung-hitung, misal aja satu lipstik harganya Rp. 100.000, kalau sebulan kamu membeli 4 lipstik, pernah kah terpikir bahwa uang sebanyak itu bisa kamu investasikan untuk hari tuamu? Nah, jadi lebih mikir untuk nyemil lipstik, kan? 

Jadi, berapa jumlah lipstik yang kamu punya? kamu suka semuanya? kapan terakhir kamu pakai? Yuk, kita sama-sama menjadi individu yang berkesadaran dalam mengambil keputusan jangan sampai terjebak sama shade lipstik atau diskon lagi ;) karena warna yang lucu saja tidak cukup untuk memutuskan membeli lipstik :D

You Might Also Like

0 komentar