Image result for student cartoon
Picture taken from here

I texted one of my favourite students few days back. I informed him that I am leaving the faculty soon. I asked him to drop by into my office if he could before my departure. I did not expect that it would be today that he surprisingly appeared in front of me and saying "you said that I can drop by if I can, so I have time now". I suddenly cried. Aside of the fact that I am a crybaby person, I am touched that he meant what he said. 

I have been teaching him for numbers of semesters. He is the only student in his batch and he managed to finish the whole journey perfectly with distinction result. What a tough journey, I could imagine. He is a good student. One of the best that I have ever taught. 

I remembered during our classes, I always enjoyed the discussion part as I will learn something new or got new information from him. In that case, delivering some knowledge have made me earned some as well, even more that what I have given.

Having the student standing in front of me with sincere face and heart will, I melted, I cried. I am happy and touched. I know I must have done something good that I got this wonderful treatment from my student. I do not know whether I deserved this. But thank you. 

I just hope that he, and the rest of my students, will get the best experience and job for their future. My heart and prayers will go with you guys.

Best of wishes.

Picture taken from here

I still remember the first day I landed in this city. It was early in the morning, while people were enjoying their sleep, I believe, I landed with mixed feeling; happy, nervous, excited, curious and tired. I put so much hope in this city. The hope that I really wish could bring me somewhere good, better. 

I still remember the day when I found a tiny house to rent nearby Airport. The place where I finally decided to stay all this while. The house that witnessed so many things in my life here both private and professional. I utilised the house not only as shelter, but also the place to share a lot of memories and finish up my working tasks, sadly. Yes, I am a bad employee, I brought my work home many times >.<

After all three years (plus) in this town, I have finally decided to leave with half of my heart still stay here. I have A to Z reasons to leave, yet stay. But leaving is the ultimate decision to be taken for the betterment of everyone. Especially me myself. 

It is now the time for me to count day by day towards the departure. It's sad. Yet excited. And nervous. 

Well, every good thing must come to an end. 


Image result for buntu
Picture taken from here
I remember the day when I sent an application with full of hope. God give me a beautiful answer for me to start a new journey somewhere I never imagine I could be. Until, I don't know when, everything started to going grey, blue, sometimes I couldn't even tell. I feel like every single thing is going wrong, unpleasant. Is it that I did not try hard enough. Or is it just like this and I cannot help myself to accept it? 

Then I realize that I want to go. I desperately want to leave the place where I am currently standing. But where?

Image result for reading habit
Pic was taken from this link
Sometimes, some people will tell story about their past achievements. I used to..I was a...I did...and so forth. This is the time when I throw back my memory to 2013 or 2014 when I could read while in the bus or angkot. I have never imagine that I could finish two or three novels/books in a month. For some people this might be nothing, but for me, it was such an achievement. However, tiresome work life has brought me to the point that I left all my books in the shelf unattended. I slowly feel that my knowledge is getting lesser and lesser. The brain is getting empty each day. Until now. At this present moment. Hence, I drag myself to listen to this Kepo Buku podcast and found myself thirsty of reading books. 

You know what I do next? Typed in Google Search: How to cultivate reading habits *laugh*. Yes, I am that pathetic. 

After I read several articles and tips, I decided to write this post *LOL*. Anyways. I would try myself to start reading as my habit. I will start with reading the latest book that I bought, On Anarchis by Chomsky. I bought the book at Big Bad Wolf Kota Kinabalu couple of months ago. I will put the deadline of reading this book for 1 week. Today is 20/08/2019, so I plan to finish it the latest on 26/08/2019. Let's see!


Image result for flu
Gambar diambil dari sini

Awal tahun 2019 dimulai dengan flu berat. Berhari-hari demam ditambah batuk dan pilek bersamaan. Ambruk rasanya badan. Dari situ mulai perbaiki lagi pola makan pelan-pelan, tapi jujur, gak maksimal. Dua hari lalu saya mulai bersin-bersin. Tiba-tiba saja tenggorokan agak nyeri. Wah, akan sakit lagi, nih, pikir saya. Betul saja. 

Beginilah kalau mengabaikan alarm tubuh. Nakal. 

Image result for love
Gambar diambil dari sini

Belakangan ini saya sangat sensitif tentang banyak hal. Tentang perlakuan orang ke saya, maupun perlakuan orang ke orang lainnya. Saya pun bukan orang baik. Jauh dari baik. Saya menyebalkan. Mungkin itu sebabnya tidak punya banyak teman. Tapi belakangan ini saya terlalu capek menghadapi orang. Saya terlalu capek memikirkan semua orang; perasaan mereka, nasib mereka, masa depan mereka. 

Sering kali saya mengorbankan perasaan, pikiran dan waktu saya hanya untuk membuat orang merasa bahagia, tidak kesepian dan aman. Tapi tidak jarang saya mendapatkan perlakuan sebaliknya. 

Kisah saya tidak didengarkan. Jeritan saya tidak diperhatikan. Keluh kesah saya seolah menjadi beban. Bahkan untuk menghargi sekalipun mereka lupa.

Atau saya yang sebetulnya seperti itu dan mereka hanyalah cerminan dari diri saya.

Ibu saya bilang pagi ini "istighfar, hidup sudah susah, jangan ditambah susah". Kemudian saya tertegun. Betapa saya suka mengeluh dan tidak bersyukur. Betapa saya kerap menuntut balas atas apa yang saya berikan kepada orang.

Hari ini, pagi ini betul-betul sebuah tamparan. 
Kamu jauh dari individu yang sempurna. Jangan terlalu banyak mengeluh. Jangan menuntut atas apa yang pernah kamu berikan pada orang lain. 

Image result for timbangan badan
Gambar dari sini
Pernah ada yang coba pola makan ini dan itu yang beredar di media sosial atau yang booming dijalankan banyak orang? Saya pernah! Mulai low carbsno carbsno saltno ini dan no itu :)) 

Pernah ada yang getol olahraga untuk menguruskan badan? Untuk mengecilkan bagian tubuh tertentu? saya sering! NIAT doang :)) 

Well, saya mau cerita sedikit tentang apa yang AKAN saya lakukan di awal 2019 ini, mungkin kalian mau ikutan?

Pengantar Cerita

Sejak awal 2017, pola hidup saya berangsur-angsur bergeser dari pola hidup yang sudah saya yakini memberi manfaat luar biasa pada kualitas kesehatan dan kehidupan saya ke pola hidup yang duh, gak tau harus cerita gimana >.< Dulu saya rutin menjalani yoga dan melakukan pola makan Food Combining dan alhamdulillah hidup saya jauh lebih berkualitas sejak 2014. Ukuran tubuh cakep, dari L ke XS, senang bukan kepalang. Kulit wajah jauh dari jerwat. Siapa yang tidak bahagia?

TAPI, sejak awal 2017 saya mulai lepas kontrol tentang asupan makanan dan kebiasaan melakukan yoga setiap hari. 

Dimulai dari secangkir teh tarik sehari sekali, dua kali sehari, tiga kali sehari. Kopi tarik, ditambah es batu, enak ya? Tentu enak! Kamu suka? Belum lagi makan semaunya. 

Malahan belakangan, seingat saya mulai 2018, asupan sayur dan buah jauuuuuuuh berkurang. 

Hasilnya? Sejak akhir 2018 saya mulai sering sakit-sakitan. Awal 2019 saya menyerah pada tujuh jenis obat untuk flu dan batuk yang saya derita. 

Mungkin ada yang bilang 'ah, cuma flu dan batuk, biasa itu!'
Buat saya tidak!

Coba bayangkan, setelah sekian lama lupa rasanya demam sampai mengigil dan sekujur tubuh sakit, akhirnya saya merasakan lagi. Menelan makanan pun sudah tidak sanggup. Jangankan makanan, minum air pun sakit :( It was awful.

Saya KAPOK sakit. Sangat.

Apa kata timbangan?

Setahun terakhir saya suka pakai celana palazzo yang bagian pinggangnya berkaret. Ukuran celana yang besar dan pinggang elastis membuat saya lambat menyadari bahwa bentuk tubuh saya sudah berubah. Melebar.

Nah, sampai pada satu titik saya beranikan diri menimbang dan timbangan itu menunjukkan angka 58 kilogram.

Seingat saya, tidak pernah saya seberat itu. Pantesan rok batik buatan Ibu saya tidak muat lagi dan kebaya favorit saya juga sempit luar biasa.

Ini sudah alarm tubuh yang bunyinya tidak henti-henti. MAYDAY! 

Apa yang saya lakukan?

Saya tau, untuk keadaan psikologis sekarang, saya perlu support system untuk  melakukan perbaikan pola hidup. Mungkin ini yang disebut A LA SAN. Bodo amat! haha.

1. Support system
Jadi, saya bikinlah gerakan #menujusehat2019 di group WhatsApp geng ngopi dan rumpi :))
Sederhana aja, saya ajak mereka untuk melakukan squat, push up, sit up dan plank setiap hari. 

Hari 1-7 10 x squat, sit up, push up dan 10 detik plank. Cemen? Bodo amat!
Poinnya adalah MULAI. 

Kemudian dua (sampai tiga) kali seminggu saya seret teman saya untuk jalan sore sama-sama. Targetnya juga cetek, dimulai dengan 3000 langkah ;) 

Nah, si squat dan teman-temannya akan terus meningkat jumlahnya di minggu-minggu seterusnya. Setiap anggota group yang partisipasi akan update di group kalau mereka sudah melakukan gerakan-gerakan itu komplit satu paket. 

Mungkin ada yang bohong? Ah, itu sih komitmen masing-masing aja. Mau bohong tiap hari juga silakan aja :)) Khasiatnya kan masing-masing yang akan merasakan. Tapi dengan adanya update setiap hari, dan sharing tentang efeknya, lama-lama semua pada berkomitmen kok. Lihat aja ;)

Begitu juga dengan jalan sore (atau pagi), setiap minggu akan naik 1000 langkah. 

2. Atur asupan dan pola makan
Untuk makanan, saya kembali beli buah dan sayur untuk memastikan 70% asupan harian berbasis kaya serat. 

Saya usahakan kembali lagi ke pola Food Combining. Pelan-pelan mulai dari memisahkan karbohidrat dan protein, plus asupan basa berlimpah.

Sarapan? Iya, pelan-pelan, ya :D 

Selain itu, saya mengurangi makan nasi putih dan gula.
Saya hanya memberi jatah diri makan nasi putih dan minum minuman bergula dua kali seminggu. 
Bukan cheating, tapi memang itu aja  jadwalnya. 

Itulah sedikit dari usaha saya #menujusehat2019 
Kamu mau ikut?

Nanti saya tulis perkembangannya ya ;)

Berapa jumlah lipstik yang kamu punya?
Coba melipir ke sini sebentar, Kak.

Bagi kaum hawa, lipstik itu kadang menjadi camilan yang menjebak. Kenapa menjebak? Terkadang kita, atau mungkin saya tepatnya :)), menemukan shade lipstik yang 'ih, kok lucu banget' atau 'aku belum punya warna ini' dan itu terjadi ratusan kali dengan berbagai merek dan varian harga dari yang sangat terjangkau sampai yang harganya cukup untuk makan dua minggu. 

Kalau mampir ke beberapa toko yang ada kosmetikya, ada aja keisengan yang membawa kaki ke arah etalase berisi lipstik dengan berbagai pilihan. Diambil satu, oles ke tangan, kadang ada juga yang langsung oles ke bibirnya, setelah lipstik itu dicoba oleh beratus bibir sebelumnya >.< Kemudian tulisan 'Diskon' atau 'Beli satu gratis satu' makin membuat tangan dan mata bekerja beriringan mencari dan mencoba lipstik demi lipstik yang terkadang shade-nya beda setengah jengkal dengan lipstik yang sudah ada di rumah dan di dalam tas. 

Gambar di posting-an ini adalah lipstik yang saya punya per hari ini. Sembilan lipstik mungkin jumlah yang sedikit dibanding beberapa teman saya yang hobi nyemil lipstik. Tapi mungkin juga terlalu banyak bagi mereka yang tidak terlalu pusing dengan warna baju dan kerudung harus sesuai dengan warna bibir. Mungkin mereka cenderung membeli lipstick dengan warna natural, mirip warna bibir. Jadi satu pengulas bibir saja akan cukup sampai si lipstik itu habis dan minta diganti. Sementara di kubu lain, bahkan sampai harus mencampur beberapa shades lipstik untuk mendapatkan warna yang sesuai mood hari itu. 

Nah, sebelum hari ini, sebelum bulan lalu atau dua bulan lalu mungkin, jumlah lipstick yang saya punya lebih dari ini. Bahkan ada yang hanya dipakai sekali sejak dibeli. Sejak mulai belajar tentang minimalism, saya belajar untuk lebih berkesadaran dalam melakukan sesuatu, termasuk keputusan membeli dan menggunakan sesuatu. Salah satunya tentang alat make up.

Beberpa kali sebelum mulai belajar tentang minimalism, saya sudah biasa melakukan penyortiran barang-barang di rumah; baju, sepatu, make up, dan bahkan hadiah pernikahan yang sudah dua tahun tidak pernah tersentuh sama sekali (tanpa mengurangi rasa hormat terhadap yang memberi). Nah, dari proses penyortiran itu, ada yang saya jual atau diberikan ke teman. Baik banget deh teman-teman yang mau menerima barang saya dan memakainya. Jadi lebih bermanfaat. Nah, ini juga yang saya lakukan dengan lipstik .

Saya lihat satu-satu setiap lipstick yang ada, dibuka, dan dicoba sembari bertanya kepada diri sendiri kamu suka warnanya? kapan terakhir kamu pakai lipstik ini? apakah akan dipakai lagi? apakah warna ini bisa diwakilkan lipstik yang lain? Sampai akhirnya saya putuskan lipstik ini tetap ada di meja rias saya dan yang itu harus dilungsurkan. Saatnya mencari orang yang mau menampung dan segera eksekusi niatnya, jangan sampai lipstik-lipstik itu kembali ke meja rias saya. 

Nah, setelah proses penyortiran dan perpisahan dengan lipstik-lipstik itu, sekarang proses yang menurut saya lebih berat; re-set mindset. Membeli barang dengan berkesadaran itu kadang mudah dan kadang sangat berat karena melibatkan emosi 'aku suka banget', misalnya. Tapi saya cukup bangga dengan diri ini, ada satu set lipstik yang buat saya sih harganya lumayan tapi shade-nya saya sukaaaa banget. Sejak pertama lihat lipstik itu, mungkin tiga atau empat bulan lalu, saya selalu mengalihkan pikiran dengan 'bulan depan aja, deh'.  Ketika mulai sering membaca tentang minimalism, ditambah lagi getol belajar financial planning lagi, saya berpikir secara berbeda, tidak mengalihkan tapi mencoba memutuskan dengan berkesadaran. Lipstik saya masih banyak, warna ini memang bagus dan mungkin lebih tahan lama, tapi lipstik yang di rumah juga warnanya mirip, habiskan dulu, nanti beli lipstik itu kalau memang sudah tidak punya lipstik lagi. 

Kadang harga lipstik yang menurut saya ada di kategori murah, makanya kaya cemilan >.<, dulu bisa aja beli sekaligus dua, dan minggu depannya ada shade lain kemudian beli lagi. Tapi apa yang terjadi? Kebanyakan hari-hari saya akan pakai lipstik yang itu lagi, itu lagi. Dan jumlah lipstik yang ada di rumah mulai tidak lucu lagi. Walaupun, lagi-lagi, tidak sebanyak kamu punya, mungkin. Nah, keputusan membeli karena warna lucu dan harga murah ini mulai saya olah lebih baik lagi sehingga berujung pada keputusan yang lebih berkesadaran. 

Beberapa hari lalu teman kantor bikin pengumuman bahwa W*tson sedang ada diskon sampai 50%. Para wanita di kantor saya bersorak riang dan heboh menyusun rencana untuk ke sana melihat 'camilan' yang bisa dibeli. Kepala saya langsung berproses, saya tidak perlu apa-apa, walaupun diskon, saya tidak perlu barang apa-apa. Tidak perlu ke sana. Nah, salah satu teman minta saya antar ke sana, mau  beli lipstik katanya. Pergilah kami. Sampai di sana, proses melihat, memilih, mencoba masih berlangsung. Tapi setiap kali mencoba, kepala saya kembali mengingat tiga lipstik di dalam tas dan enam lainnya yang tersimpan manis di rumah. Jadi tidak sampai ada pergolakan batin antara 'duh, lucunya, murah pula, beli gak ya?'.

Selain itu, kalau dihitung-hitung, misal aja satu lipstik harganya Rp. 100.000, kalau sebulan kamu membeli 4 lipstik, pernah kah terpikir bahwa uang sebanyak itu bisa kamu investasikan untuk hari tuamu? Nah, jadi lebih mikir untuk nyemil lipstik, kan? 

Jadi, berapa jumlah lipstik yang kamu punya? kamu suka semuanya? kapan terakhir kamu pakai? Yuk, kita sama-sama menjadi individu yang berkesadaran dalam mengambil keputusan jangan sampai terjebak sama shade lipstik atau diskon lagi ;) karena warna yang lucu saja tidak cukup untuk memutuskan membeli lipstik :D