I have finished a set of test and documents fulfilment for a certification. It was tiring, indeed. The first thing that I can highlight is that I didn't prepare myself for this in a short period of time. The process itself required many documents including some qualification in English proficiency and Academic Potential score test, and perceptional assessments from several parties involved during my tenure in my current workplace. 

I feel tired and have no expectation regarding the result at the first place. But praise to Allah that I passed that stage and can move to another. Another tourturing process. I have to answer a series of questions coherently. It took my 24 hours to finish the write up. 

Different from the previous process, I feel so nervous and worried about this one. I can't simply say 'I have done my part, let Allah do the rest". I remember, previously I can let myself calm and just give in with the result. But this one, I have my expectation whereby I shouldn't. It's probably because I'm too tired and sleepless, I need a reward. I supposed.

But I am currently trying my best to control my feelings. I want to set myself for whatever the result will be. Be grateful of what I have done so far, what I'm capable of. 

Calm down. Calm down. Calm down.

12 Februari 2020 adalah hari di mana akhirnya saya terbang meninggalkan Kota Kinabalu setelah tinggal di kota itu sejak Desember 2016. Foto di atas adalah pemandangan menjelang detik-detik saya meninggalkan rumah sewaan. 

Mikir untuk berhenti kerja dan pulang ke Indonesia itu pergulatan panjang antara hati dan pikiran. Andai saja orang-orang tahu apa yang saya hadapi dan kenapa saya ambil keputusan ini. Dukungan dari Mas Bromo dalam mengambil keputusan juga patut diacungkan jempol, kalau tidak, mungkin saja saat ini saya ada di keadaan yang semakin tidak nyaman karena alasan A - Z yang tidak bisa saya kontrol. Sedikit cerita, keputusan saya berhenti kerja dan pulang ke tanah air itu ditanggapi dengan berbeda oleh beberapa pihak. Bahkan ada pandangan negatif tentang keputusan itu. Perlu diingat bahwa hidup saya adalah hidup saya, banyak keputusan yang tidak perlu diketahui alasannya oleh semua orang. Saya hanya menceritakan alasan yang sebenarnya pada beberapa orang, semoga mereka berempati dan paham. Lagi, saya tidak bisa kontrol persepsi orang. 

Meninggalkan cerita tidak mengenakkan di atas, saya kembali lagi ke cerita pindahan, ya. Proses packing saya itu sekitar 3 bulan. Walaupun sebenernya ingin lebih awal membereskan barang-barang. Karena yang paling berat adalah bukan membereskan barang yang mau dibawa, tapi membereskan barang yang harus dengan suka rela ditinggalkan 😢

Banyak scenes di mana saya masukkan barang ke kotak, dikeluarkan lagi, dimasukkan lagi saking galau. Barang yang mau dibawa aja atau dikasih ke teman. Barang yang mengandung memori tapi minim guna, harus dibawa atau dibuang atau ditinggal. Aduh! It was unpleasant. 

Belum lagi drama ngirim kotak-kotak berisi entah barang apa aja ke kantor Pos Malaysia. Kami kirim 3 kotak besar. Besar. Sementara keadaannya adalah parkiran itu ada di luar area gedung kantor pos. Jadi, kami harus angkut kotak-kotak itu ke kantor pos; menyeberangi jalan, naik tangga dan cari counter di dalam kantor pos. Belum lagi waktu mau nimbang kotak, timbangan adanya di meja counter dan gak boleh diturunin. Setelah proses timbang, kami harus angkut sendiri kotak-kotak itu ke lorong tempat para paket disimpan sebelum dikirim. Mas Bromo sampe sakit pinggang 2 hari karena itu. 

30 menit sebelum meninggalkan rumah, saya dan Mas Bromo masih harus keluarkan sekitar 3 kilogram barang dari koper-koper kami karena sudah kelebihan berat 😭 Saya tutup mata aja, keluarkan apa yang bisa dikeluarkan. Bahkan sepatu hak tinggi andalan saya sehari-hari. It was insane. 

Sampai di bandara, banyak teman-teman yang melepas kepergian saya dan memberi hadiah yang tidak mungkin saya tinggal. Akhirnya harus beres-beres lagi di bandara sebelum masuk ke Boarding Lounge. 

Rasa capek beberes barang itu lebih ke psikologis berbanding fisik sih, bagi saya. I reluctantly repatriated. Jadi selama proses beberes, packing dan kirim barang tuh kepala sama hati masih belum sinkron.

Ah, memori. 

Picture taken from here

I'm currently in the process of taking certification for lectureship. One of the requirements of the process is perceptional assessment done by students that I have taught. 

During my teaching experience I always try my best to give whatever I have to all my students. I keep on reflecting myself what's good so far and what to improve. I have this self reflection every week, every half of the semester and at the end of semester to make sure that I can fill up the holes and never do the same mistakes in teaching twice. 

I have never expected that students will like me as a person or perhaps as an academician. What I always worried about is that they learn nothing from my class. That's why I take this teaching thing super duper seriously. Yes, money is the reward, but beyond that I feel like having a huge responsibility to deliver knowledge and make sure it's delivered well. 

So, when I know that my students will assess me, I worried in regards to my pedagogical skills. Did I teach well? Did I deliver material enough and clear? Do students get benefit from my class? And thousand of thoughts. 

But when your students texted you and said "Bu, sudah saya isi, ya. Semangat Ibu!" or another text said "Bu, semoga urusan Ibu dimudahkan ya" or "Semangat, Ibu da best", I feel like crying. Literally. 

I see the students sincere in helping me get through the certification process. They are not only willing to assess me, spent their time to read the assessment's questions, but also they know how important this is for me. I feel touched and loved. 

Thank you students. 
Picture taken from here

It's not because I have to do my work at home. It's because sometimes I'm procrastinating, in some other time I really have tons things to do within a short period, and sometimes it's something between those two. 

I easily get mad, tired, eventualy starting to feel the anxiety within myself. Panic attack caused me tired all day long, tense and affect my health condition; gastric, breathing difficulties, headache and sleepless. 

But starting last year, once I finished my tenure as a Dean, I starting to calm myself down when I face the panic or anxiety situation. I leave my desk. Sometimes with the laptop on with many windows actively opened. I lay down on my bed. Or even just sleep for an hour or two. Or go outside and buy some snacks. Or cooking. I do whatever I want except doing my work. 

Lately, when the Covid-19 made me fully stay at home. Share the same space for both professional and social life. And new things are coming at the same time. Sometime I feel like I have no other life than work, eat and sleep. Then repeat. 

When my brain is processing things, but my body is crying and my emotion is jumping from level 12 towards 0, I decided to take a break. Make a stop. 

I once neglected my phone all day long. I only sleep, eat, slep, eat and keep on the same thing for 24 hours. I forget about my professional life. I enjoy my own life. Myself. 

Re-engaging with my feeling, with my thoughts. Collecting my self esteem and hopes. Finding the strength within.

All in all, take a break is not a sin. You deserve it. I deserve it. 
Marking students exam paper | naddyadelegend
Gambar diambil dari sini

Ini adalah minggu ke-5 perkuliahan daring berlangsung sebagai efek dari merebaknya virus Covid-19. Pasti bosen dan parno ketika di mana-mana bahasannya adalah seputar Covid-19, ya? Kali ini tulisan saya lebih ke curhatan seorang dosen yang terbangnya masih rendah banget dan ilmunya masih cetek banget. 

Tidak sedikit mahasiswa mengeluh bahwa kuliah daring tidak efektif, tidak paham, capek, banyak tugas, stress dan lain sebagainya. Kadang-kadang pingin bilang "sama!". Tapi selalu saya urungkan. Minimal say tidak mengatakannya di depan mahasiswa. Kalau dosennya aja udah ngeluh di depan mahasiswa tentang ribet dan konsumsi banyak energi banget kuliah daring ini, lalu siapa yang akan kasih semangat dan mengisi energi positif untuk mereka?

Jadi, sebesar apa pun keinginan saya untuk bilang "saya juga capek, stress" tapi alhamdulillah selalu bisa saya urungkan. Syukur.

Saya, dengan segala keterbatasan dan kekurangan berusaha untuk memfasilitasi mahasiswa sebisa mungkin. Minimal bahan bacaan ada, latihan harian ada baik itu dalam bentuk forum wajib, forum tanya jawab bebas maupun kuis atau latihan-latihan kecil. Selain itu saya juga membuka kelas virtual, mungkin tidak setiap minggu, tapi setidaknya dua minggu sekali. Mahasiswa tidak saya wajibkan untuk hadir, tapi saya sarankan jika mereka bisa. Selama jam perkuliahan, saya pastikan standby agar mahasiswa bisa bertanya apa yang tidak mereka paham. Bahkan di luar jam kelas pun dengan senang hati saya menjawab. Tugas dan soal-soal test yang saya berikan dipastikan bisa dikerjakan mandiri. Atau kalau pun tugasnya adalah tugas kelompok, saya selalu pastikan mahasiswa bisa mengerjakannya tanpa perlu saling jumpa. Masih banyak hal lagi yang saya usahakan untuk berikan pada semua mahasiswa saya, semampu saya.

Tapi di sisi lain, perlu diketahui, dan saya yakin semua pun mengetahui, bahwa kelas daring ini berat. Ya, berat. Dosen harus bisa menyediakan fasilitas cukup. Tapi di lain sisi mahasiswa pun harus proaktif, belajar mandiri dan kreatif pun dituntut pada keadaan ini. 

Untuk mengadakan satu kelas, saya harus bisa memfasilitasi mereka melalui group WhatsApp supaya semua informasi tersampaikan, memfasilitasi mereka dengan materi dan teman-temannya melalui LMS (Learning Management System) yang ada, dan bahkan melayani interaksi one-to-one karena tidak semua mahasiswa nyaman bersuara di group chat. Belum lagi menyiapkan kelas virtual, memanfaatkan fasilitas dan waktu yang ada. Setelah itu masih harus alokasikan waktu untuk "mengejar" mahasiswa yang tidak mengerjakan tugas atau mengisi forum. Capek? Banget. Tapi itu konsekuensi saya sebagai dosen. 

Lagi-lagi, kelas daring itu berat, apalagi bagi mahasiswa yang belum pernah mengalaminya. Mereka belum bisa membedakan pola belajar di kelas dan belajar secara daring. Belum lagi yang terbawa susasana dengan stay at home mode, jadi serasa lagi liburan. Kelas mulai jam 7.30 pagi, ada diskusi dan sebagainya, si mahasiswa baru nongol di group chat jam 10..39 pagi dengan mengucap selamat pagi dan mengatakan "baru bangun, nih". Sementara dari sisi saya, dosennya, persiapan matang sudah saya lakukan, alokasikan waktu saya, siapkan mental saya, siapkan serangkaian pengetahuan yang ingin disampaikan agar mereka tidak sia-sia "masuk" kelas. Rasanya hancur hati saya. 

Terbaru ini saya koreksi tugas-tugas mereka. Empat orang jawabannya identik. Kebetulan tidak sampai 50% jawaban mereka salah. Jadi semakin remuk rasanya hati saya. Untuk membuat soal itu bukan suka-suka hati saya mau buat seperti apa. Ada pertimbangannya, ada kalkulasinya. Mahasiswa boleh buka buku dan sumber lainnya, boleh mengambil jawaban dari sumber mana saja dengan catatan harus diberi sumber rujukan. Tapi ketika ada jawaban yang identik sampai ke titik, koma dan spasi-nya, rasanya hancur. 

Ketika saya berusaha menyiapkan kelas sedemikian rupa agar mereka dapat manfaat, agar mereka belajar. Bahkan untuk mengerjakan tugasnya sendiri saja mereka tidak jujur. Sedih rasanya. 

Memang saya bisa saja menggagalkan mereka. Tapi apa iya perilaku seperti ini harus selalu ada di setiap sesi mengajar? 

PR besar buat saya sebagai seorang dosen untuk bisa membantu mereka membangun tanggung jawab, disiplin dan terutama sikap jujur mereka. Lagi-lagi, saya hanya bisa memfasilitasi. Membantu. Kalau pada akhirnya usaha saya tidak membuahkan hasil, ini adalah PR lainnya. Belajar menerima bahwa tidak semua bisa terjadi sesuai harapan. 

Kalau di masa depan ada mahasiswa saya yang membaca tulisan ini, saya hanya berharap semoga apa yang pernah saya sampaikan di kelas-kelas kalian sedikit saja bisa memberikan manfaat bagi kehidupan kalian.

It's 3.30pm
I have tons of works to do. But I'm tired. I'm bored. 

I kept on doing home chores that actually can be done later. Procrastination, people say. I don't deny on it. Yes, I'm procrastinating my works. 

Fhhh...

Let me just enjoy this instant coffee and fried banana. Then I will to the tasks.

Adios.
Red Hello How Are You Text Effect Plaid Texture Font Art Font For ...
Picture taken from here

"Just curious, why have you texted? is that all?"

I texted one of my mentees couples week ago. Just to check in, how is he doing. We used to discuss about many of things during my tenure as his mentor. I was just in a sudden have a thought about him. So, I texted. 

I think it's because usually our relationship much more education-related matter. I took care of his study and something related to it. So, most of our texts are related to it, business matter. He laugh though that he asked me that question, it's simply because he doesn't really text and rarely got messages from others. 

But this thing happened not only once. I experienced it few times. The question of "why you texted me?" came after I asked "how are you?". 

Is it weird that you text person that you know without no intention towards business matter or can-you-help-me kinda thing? Just text because suddenly you were on my mind, and I was wondering how are you. That's all. 

Well. 

Feeling Tired and Fatigued with COPD
Picture taken from here
I don't know if it's just me, with weird personality, or everyone experience to feel so helpless and tired every one and another day in their life. 

Once I woke up, a never ending list of what to do today are there on my mind. As I finished folding my blanket, one by one to do list are queuing. I feel like screaming and saying STOP, I AM TIRED. 

In between the work a lot more things are jumping in here and there; bills, bills, bills, people's feeling, how's my parents, how's the friends and family, how are my students etc. Last weekend I have no energy to even do my other to do list. I shut my self down. Did not really replying texts from students or colleagues. I am tired like hell. 

I'm crying. I AM TIRED.