Curhat Tante Dosen:

By 1:33:00 PM

Marking students exam paper | naddyadelegend
Gambar diambil dari sini

Ini adalah minggu ke-5 perkuliahan daring berlangsung sebagai efek dari merebaknya virus Covid-19. Pasti bosen dan parno ketika di mana-mana bahasannya adalah seputar Covid-19, ya? Kali ini tulisan saya lebih ke curhatan seorang dosen yang terbangnya masih rendah banget dan ilmunya masih cetek banget. 

Tidak sedikit mahasiswa mengeluh bahwa kuliah daring tidak efektif, tidak paham, capek, banyak tugas, stress dan lain sebagainya. Kadang-kadang pingin bilang "sama!". Tapi selalu saya urungkan. Minimal say tidak mengatakannya di depan mahasiswa. Kalau dosennya aja udah ngeluh di depan mahasiswa tentang ribet dan konsumsi banyak energi banget kuliah daring ini, lalu siapa yang akan kasih semangat dan mengisi energi positif untuk mereka?

Jadi, sebesar apa pun keinginan saya untuk bilang "saya juga capek, stress" tapi alhamdulillah selalu bisa saya urungkan. Syukur.

Saya, dengan segala keterbatasan dan kekurangan berusaha untuk memfasilitasi mahasiswa sebisa mungkin. Minimal bahan bacaan ada, latihan harian ada baik itu dalam bentuk forum wajib, forum tanya jawab bebas maupun kuis atau latihan-latihan kecil. Selain itu saya juga membuka kelas virtual, mungkin tidak setiap minggu, tapi setidaknya dua minggu sekali. Mahasiswa tidak saya wajibkan untuk hadir, tapi saya sarankan jika mereka bisa. Selama jam perkuliahan, saya pastikan standby agar mahasiswa bisa bertanya apa yang tidak mereka paham. Bahkan di luar jam kelas pun dengan senang hati saya menjawab. Tugas dan soal-soal test yang saya berikan dipastikan bisa dikerjakan mandiri. Atau kalau pun tugasnya adalah tugas kelompok, saya selalu pastikan mahasiswa bisa mengerjakannya tanpa perlu saling jumpa. Masih banyak hal lagi yang saya usahakan untuk berikan pada semua mahasiswa saya, semampu saya.

Tapi di sisi lain, perlu diketahui, dan saya yakin semua pun mengetahui, bahwa kelas daring ini berat. Ya, berat. Dosen harus bisa menyediakan fasilitas cukup. Tapi di lain sisi mahasiswa pun harus proaktif, belajar mandiri dan kreatif pun dituntut pada keadaan ini. 

Untuk mengadakan satu kelas, saya harus bisa memfasilitasi mereka melalui group WhatsApp supaya semua informasi tersampaikan, memfasilitasi mereka dengan materi dan teman-temannya melalui LMS (Learning Management System) yang ada, dan bahkan melayani interaksi one-to-one karena tidak semua mahasiswa nyaman bersuara di group chat. Belum lagi menyiapkan kelas virtual, memanfaatkan fasilitas dan waktu yang ada. Setelah itu masih harus alokasikan waktu untuk "mengejar" mahasiswa yang tidak mengerjakan tugas atau mengisi forum. Capek? Banget. Tapi itu konsekuensi saya sebagai dosen. 

Lagi-lagi, kelas daring itu berat, apalagi bagi mahasiswa yang belum pernah mengalaminya. Mereka belum bisa membedakan pola belajar di kelas dan belajar secara daring. Belum lagi yang terbawa susasana dengan stay at home mode, jadi serasa lagi liburan. Kelas mulai jam 7.30 pagi, ada diskusi dan sebagainya, si mahasiswa baru nongol di group chat jam 10..39 pagi dengan mengucap selamat pagi dan mengatakan "baru bangun, nih". Sementara dari sisi saya, dosennya, persiapan matang sudah saya lakukan, alokasikan waktu saya, siapkan mental saya, siapkan serangkaian pengetahuan yang ingin disampaikan agar mereka tidak sia-sia "masuk" kelas. Rasanya hancur hati saya. 

Terbaru ini saya koreksi tugas-tugas mereka. Empat orang jawabannya identik. Kebetulan tidak sampai 50% jawaban mereka salah. Jadi semakin remuk rasanya hati saya. Untuk membuat soal itu bukan suka-suka hati saya mau buat seperti apa. Ada pertimbangannya, ada kalkulasinya. Mahasiswa boleh buka buku dan sumber lainnya, boleh mengambil jawaban dari sumber mana saja dengan catatan harus diberi sumber rujukan. Tapi ketika ada jawaban yang identik sampai ke titik, koma dan spasi-nya, rasanya hancur. 

Ketika saya berusaha menyiapkan kelas sedemikian rupa agar mereka dapat manfaat, agar mereka belajar. Bahkan untuk mengerjakan tugasnya sendiri saja mereka tidak jujur. Sedih rasanya. 

Memang saya bisa saja menggagalkan mereka. Tapi apa iya perilaku seperti ini harus selalu ada di setiap sesi mengajar? 

PR besar buat saya sebagai seorang dosen untuk bisa membantu mereka membangun tanggung jawab, disiplin dan terutama sikap jujur mereka. Lagi-lagi, saya hanya bisa memfasilitasi. Membantu. Kalau pada akhirnya usaha saya tidak membuahkan hasil, ini adalah PR lainnya. Belajar menerima bahwa tidak semua bisa terjadi sesuai harapan. 

Kalau di masa depan ada mahasiswa saya yang membaca tulisan ini, saya hanya berharap semoga apa yang pernah saya sampaikan di kelas-kelas kalian sedikit saja bisa memberikan manfaat bagi kehidupan kalian.

You Might Also Like

0 komentar